Liana adalah seorang gadis yang terlahir dari keluarga sederhana, ia adalah seorang gadis yang mandiri dan pekerja keras.
Pertemuan nya dengan Alex membuat nya terpaksa menikah muda meski pun tanpa restu dari mertua nya
(Ayah Alex), menurut sang mertua Liana tidak pantas untuk menjadi menantu nya karena perbedaan status.
Setelah menikah Alex rela meninggalkan kehidupan nya yang mewah, dan bekerja sebagai Sales Marketing demi bisa hidup dengan Liana.
Namun cobaan rumah tangga mereka datang satu persatu menghampiri, mampukah mereka berdua menjalani nya?
Apakah Ayah mertua nya bisa menerima Liana sebagai menantu nya??
Akan kah Liana mendapat Restu dari Mertua nya??
Di saat Liana sedang terpuruk, datang lah Adit seorang pengusaha yang lebih sukses dari keluarga mertua nya.
Akan kah Liana tetap setia hidup bersama Alex meski pun sakit hati?
Atau memilih Adit yang selalu menerima nya apa ada nya??
Yuk baca kelanjutannya!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mery Hakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Hari sudah sore waktu nya jam karyawan pulang termasuk Liana, sebelum pulang ia melihat Hp dulu untuk mendering kan nada dering nya. Ia melihat ada beberapa panggilan yang tidak terjawab, saat di lihat ternyata panggilan masuk dari kakak nya.
Sebenarnya Liana sudah tau hari ini di rumah nya akan ada transaksi jual beli rumah, cuma ia memilih untuk berangkat kerja dari pada harus melihat transaksi tersebut.
"Pulang sekarang mau aku antar" ucap Adit menawarkan
"Enggak usah mas aku bawa motor ko, aku pamit duluan ya mas" ucap Liana sambil berpamitan
"Iya hati-hati jangan ngebut ya" ucap Adit sambil mengingatkan Liana.
Liana pun hanya menganggukkan kepala nya yang sudah memakai helm.
Sebenarnya Adit ingin sekali mengungkapkan isi hati nya, tapi ia tahan karena tak ingin menambah pikiran pada Liana.
"Mungkin nanti aku akan mengungkapkan perasaan ku Liana" gumam Adit dalam hati lalu ia pun masuk ke dalam mobil nya untuk pulang.
Sementara itu Alex yang sangat kangen ingin bertemu Liana tapi tidak bisa, karena harus sibuk dengan beberapa pekerjaannya. Kebetulan sekarang pekerjaan nya sudah beres, ia pun menanyakan beberapa tempat objek wisata pada Agus.
"Gus kau tau tempat objek wisata yang bagus tapi tidak ramai"? tanya Alex sambil melihat layar Hp nya.
"Setau saya tempat wisata yang bagus selalu ramai tuan, memang siapa yang mau berwisata"? jawab Agus yang penasaran karena setau Agus, tuan nya itu tidak pernah tertarik ke tempat wisata mana pun kalau bukan urusan kerja.
"Rencana nya aku ingin mengajak Liana main" ucap Alex sambil tersenyum.
"Baik lah tuan akan saya carikan tempat yang bagus dan tidak ramai" jawab Agus
"Enggak usah gus, aku ini mau mengajak Liana kencan" ucap Alex sambil bangun dari tempat duduk nya.
"Baik tuan, apakah saya harus ikut"? tanya Agus yang berharap akan di ajak main ke tempat wisata.
"Aku ini mau kencan Gus, bukan mau piknik kalau kau mau ikut ajak sana kekasih mu" ucap Alex sambil menepuk bahu Agus.
"Baik tuan, tapi sayang nya saya belum ada kekasih" jawab Agus dengan datar.
"Ooo iya aku hampir lupa kalau kau jomblo" ucap Alex sambil tersenyum sinis meledek Agus.
"Bagaimana aku mau dapat kekasih setiap hari, setiap jam menemani mu terus tuan" jawab Agus dengan datar
"Jadi sekarang kau mau menyalah kan ku hah"? tanya Alex sambil kembali duduk
"Tidak tuan, saya ingin melihat tuan menikah dulu baru saya mencari pacar" ucap Agus meyakinkan diri.
Mereka berdua pun akhirnya tertawa bersama, setelah puas saling meledek.
Dan tak berapa lama Hp Agus pun berbunyi.Agus pun mengangkat telepon itu, raut wajah nya mendadak berubah menjadi serius setelah selesai Alex pun menanyakan nya.
"Telepon dari siapa"? tanya Alex yang penasaran
"Itu dari anak buah kita tuan, mereka memberi kabar buruk" ucap Agus memberitahu pada Alex.
Agus pun lalu menceritakan kejadian keluarga Liana seperti yang di laporkan oleh bawahan nya itu, Alex yang merasa telat baru di beri kabar pun menjadi marah pada Agus.
"Kenapa baru memberi kabar sekarang, harus nya dari beberapa hari ke belakang sebelum mereka menjual rumah nya" ucap Alex sambil marah
"Maaf tuan bawahan kita mungkin tidak mau mengganggu pekerjaan kita, karena beberapa hari ke belakang kita sangat sibuk tuan" ucap Agus sambil membela diri.
"Antar aku ke rumah Liana sekarang" ucap Alex dengan keras.
"Baik tuan" jawab Agus dan menuruti kemauan tuan nya
Sementara Liana yang baru datang ke rumah, langsung di marahi oleh Gilang karena tidak menjawab telepon dari nya.
"Kenapa enggak angkat telepon, di telepon berapa kali juga" ucap Gilang sambil marah.
"Aku sibuk dan Hp nya juga saat jam kerja aku silent biar gak ganggu" jawab Liana menjelaskan.
"Belagu amat baru bisa kerja segitu aja" ucap Gilang yang sedikit meremehkan Liana.
"Ya meski pun hanya segitu setidak nya cukup buat makan kalian, dan jajan serta keperluan si bungsu" jawab Liana dengan tegas
"Memang nya ada apa telpon sampai berkali-kali dan sampe segitu marah nya" tanya Liana
"Tanda tangan di sini" ucap Gilang sambil memberikan beberapa surat pada Liana.
"Surat apa ini" tanya Liana sambil membaca nya.
Ternyata surat perjanjian dari pihak pembeli yang takut suatu saat pihak dari yang punya rumah/penjual akan menggugat.
"Hah" ucap Liana sambil membuang napas nya dalam-dalam lalu ia pun langsung menandatangani surat perjanjian itu.
Setelah menandatangani surat itu Liana pun ke rumah tante nya.
" Liana kalo bisa beresin baju-baju kamu, sama barang-barang berharga peninggalan Mama kamu" ucap tante Amih
"Iya tante, de bantuin yu" ucap Liana sambil mengajak Septi agar menemani nya.
"Baik kak" ucap Septi lalu menyimpan buku yang sedang di baca nya itu.
"kamu mandi aja dulu jangan langsung pergi beres-beres" ucap tante Amih mengingatkan Liana
"Ya udah aku mandi aja dulu ya tante" ucap Liana sambil pergi ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi Liana menangis ia pun mengguyurkan air beberapa kali pada kepala nya, ia berharap bisa mendingin kan kepala nya yang terasa panas.
Setelah merasa cukup ia pun keluar dari kamar mandi, pas membuka pintu ada adik nya yang setia menunggu nya di balik pintu.
"Kakak enggak papa kan"? tanya Septi yang sejak tadi mengkhawatirkan Liana.
"Enggak papa de, kakak akan coba menerima kenyataan pait ini" jawab Liana.
" Kita ke kamar aja dulu yu bantuin aku ngerjain PR, beres-beres nya besok aja" rengek Septi pada Liana.
Liana pun hanya mengangguk saja, lalu ke kamar membantu Septi mengerjakan tugas sekolah nya.
Ketika mereka sedang fokus belajar, tante Amih masuk ke dalam kamar.
"Liana itu ada temen kamu" ucap tante Amih
"Siapa tante"? tanya Liana sambil menutup buku.
"Itu lho yang kemarin-kemarin ke sini bawa banyak makanan" ucap tante Amih menjelaskan.
"Itu pasti mas Alex, kak" jawab Septi
Liana pun langsung keluar menemui nya, dan benar saja apa yang Septi tebak ternyata yang datang adalah Alex.
"Mas tumben ke sini ada apa ya"? tanya Liana sambil menggulung rambut nya dengan handuk.
"Wangi banget baru mandi ya" ucap Alex yang mencium aroma khas Liana.
"Iya, enggak usah macem-macem ini di rumah tante" ancam Liana yang takut Alex mengambil kesempatan mencium nya lagi.
"Iya sayang tenang aja" jawab Alex santai
"Aku buatin minum dulu ya, mau minum teh atau kopi"? ucap Liana
"Apa aja asal buatan kamu" ucap Alex sambil tersenyum.