Giwang gadis desa yang menikah dengan pujaan hatinya, tapi dia di tinggalkan suaminya setelah tujuh hari menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Rachman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Seperti sebuah keajaiban untuk Giwang, melahirkan dalam usia kandungan tujuh bulan lebih. Di mana mungkin yang lain anaknya akan membutuhkan NICU tapi Gerhana tidak. Giwang dan anaknya di izinkan untuk pulang. Semuanya di mudahkan Allah untuk Giwang.
Giwang dan anaknya di sambut warga. Warga ikut senang dengan kelahiran anaknya Giwang. Kado-kado memenuhi rumah Ibu Ima dan semua isinya untuk keperluan Gerhana.
Giwang membaringkan tubuhnya ketika tamu-tamu telah pulang. Ibu Ima datang dan membawakan makanan untuk Giwang.
"Makan Nak," ujar Ibu Ima. "Itu daun katuk bagus untuk Asi kamu."
"Terima kasih ya Bu," ujarnya senang.
"Ibu juga terima kasih karena kamu Ibu tidak kesepian dan lahirnya Gerhana akan membuat rumah ini lebih ramai," ujar Ibu Ima tersenyum.
Giwang menyantap makanan yang di berikan Ibu Ima, sembari terus memandang anaknya. "Bu, kalau aku kerja, Ibu bisa menjaga Gerhana?" tanyanya.
"Dengan senang hati Ibu akan menjaga dan menyayanginya," sahut Ibu Ima sembari menggendong Gerhana dan menciumi malaikat kecil itu.
Giwang teringat tentang ijazahnya. "Bu, boleh aku pinjam ponsel Ibu?" tanyanya.
"Pakailah," Ibu Ima menyerahkan ponselnya dan meninggalkan kamar sembari menggendong Gerhana.
"Siti," ujar Giwang.
"Iya Giwang," sahut Siti dari ujung ponselnya.
"Kapan Mas Paijo pulang kampung?" tanya Giwang.
"Mungkin dua minggu lagi, memangnya kenapa?"
"Aku sudah melahirkan," sahut Giwang.
"Apa!" teriak Siti senang.
"Iya jam satu dini hari aku melahirkan bayi yang berjenis kelamin laki-laki," ujarnya senang.
"Bukannya usia kandungan kamu baru tujuh bulan?" tanya Siti heran.
"Iya, aku melahirkan lebih cepat mungkin karena aku banyak gerak makanya anakku minta keluar cepat," jelasnya.
"Aku senang mendengarnya, ingin rasanya aku datang ke sana tapi aku takut si Agung mengintai kami," ujarnya.
"Enggak usah, doakan saja kita bisa segera bertemu dalam kesempatan yang lain."
"Aamiin," sahut Siti.
"Kalau Mas Paijo pulang ke kampung titipkan Ijazahku sama Mas Paijo," ujar Giwang.
"Ok nanti aku akan sampaikan ke Mas Paijo."
Setelah itu panggilan tertutup. Siti membuka pintu rumahnya dan mendapati ada Pakde Adi di depan rumahnya.
"Silakan duduk Pakde," ujar Siti kepada pria paruh baya itu.
Pakde Adi duduk di teras rumah Siti. "Ada keperluan apa Pakde?" tanya Siti.
"Pakde hanya mau tanya apa sebenarnya yang terjadi dengan rumah tangga Giwang dan Agung?" tanyanya.
Ini kesempatan Siti menceritakan derita Giwang ke Pakde Adi. Dia menceritakan keberangkatan Agung setelah tujuh hari menikah tanpa meninggalkan uang untuk Giwang yang menyebabkan temannya harus kembali jualan kue, dan dia juga menceritakan orang kampung mulai menggosipkan Giwang sampai perlakuan Agung ketika Giwang menyusul ke kota semua diceritakannya.
"Ya Allah kasihan sekali hidup keponakanku dari kecil orang tuanya sudah meninggal, hidup di tempat Pakde juga membuat Giwang merana dan sekarang menikah lebih merana," gumam Pakde Adi sedih.
"Apa benar Giwang di kota?" tanya Pakde Adi lagi.
"Iya tapi aku tidak tau dia tinggal di mana dan aku tidak mau bertanya," jelas Siti.
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Pakde Adi lagi.
"Iya dia baik-baik saja," Siti tetap tidak mengatakan tentang kondisi Giwang yang telah melahirkan karena semua itu harus di rahasiakan.
"Sebenarnya kenapa Agung mau menceraikan Giwang?" tanya Pakde Adi lagi.
"Karena Agung mau kaya instan dengan cara menikahi anak pemilik perusahaan," sahut Siti sewot ketika membicarakan Agung.
Pakde Adi mendengus kesal mendengar itu semua.
"Sekarang Giwang tinggal sama siapa?" tanya Pakde khawatir.
"Pakde tidak usah khawatir, Giwang bertemu wanita yang sangat baik di sana, yang mana mau mengizinkan Giwang tinggal di rumahnya," jelas Siti menenangkan pria paruh baya itu.
Pakde Adi merasa lega mendengar itu semua, dia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah amplop diserahkannya sama Siti.
"Apa ini Pakde?" tanya Siti sembari memegang amplop itu.
"Berikan itu ke Giwang, di dalam ada uang lima juta semoga uang itu dapat meringankan beban Giwang," ujar Pakde Adi.
"Baik Pakde, akan aku titipkan melalui Mas Paijo, Pakde tenang saja kami amanah," ujar Siti.
***
Di dalam ruangannya Agung memikirkan arti mimpinya. "Apa arti mimpiku itu," gumamnya bingung. Agung langsung berdiri ketika Pak Wahyu masuk ke ruangannya.
"Iya Pak," ujar Agung.
"Bagaimana perceraian kamu?" tanya Pak Wahyu.
Agung menceritakan kalau dia dan pengacara belum menemukan sosok istrinya.
"Bagaimana bisa menghilang?" tanya Pak Wahyu heran.
"Tidak tau Pak, sepertinya istri saya tau kalau dia mau di cerai," sahutnya.
"Saya tidak akan menikahkan kamu dengan Marina jika status kamu masih menikah dengan wanita itu," ujar Pak Wahyu dengan penuh penekanan.
"Iya Pak," sahut Agung sembari menundukkan kepalanya.
"Malam ini jemput Marina," ujar Pak Wahyu sebelum keluar dari ruangan.
"Untuk apa Pak?" tanyanya bingung.
"Nanti malam minggu, apa kamu tidak ingin kencan dengan Marina?" tanya Pak Wahyu.
"Tentu saya mau, baik saya akan menjemput Marina nanti malam," sahut Agung senang.
Malam harinya.
Marina berdandan cukup cantik dan dia kaget ketika yang datang menjemputnya Agung. Papanya membohonginya dengan mengatakan kalau Adlan yang datang nyatanya hanya karyawan Papanya. Marina ingin masuk kembali ke rumah tapi Papanya telah memegang tangan anaknya.
"Bersikap baik kepadanya atau fasilitas yang Papa berikan ke kamu Papa cabut," bisik Papanya. Marina mendengus kesal. Dengan malas dia melangkahkan kakinya menuju mobil Agung.
"Jaga Marina," ujar Pak Wahyu.
"Iya Pak." Agung membukakan pintu mobil untuk Marina. Gadis itu duduk dengan perasaan malas dan muak tapi demi fasilitas dia mau menuruti kemauan Papanya.
Di dalam perjalanan Agung dan Marina tidak berkomunikasi sama sekali. Agung melirik gadis di sampingnya tapi Marina bersikap cuek ke Agung.
"Kita mau makan di mana?" tanya Agung. Marina hanya melirik Agung dengan tatapan tidak suka tanpa mau menjawab ucapan Agung.
Agung memberhentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Kenapa berhenti di sini?" tanya Marina.
"Mau makan," sahut Agung sembari mematikan mesin mobil. Marina memperhatikan tempat makan yang di maksud Agung.
"Seperti ini kamu bilang tempat makan?" tanya Marina ketus.
"Iya, aku tanya kamu tidak jawab jadi ya aku bawa saja ke sini," sahutnya.
"Aku enggak mau," sahut Marina menolak. "Kenapa enggak mau? makanan di sini enak loh." Agung memberhentikan mobilnya di tempat penjual ayam penyet di pinggir jalan.
"Apa kamu tidak lihat pakaianku!" seru Marina sembari menunjuk pakaiannya.
"Memangnya kenapa dengan pakaian kamu?" tanya Agung bingung.
"Harga pakaianku lebih mahal dari keuntungan pedagang ini," ujarnya sombong. "Kalau mau ajak makan cari yang bagus dan sesuaikan dengan pakaianku," ujar Marina.
Agung melajukan mobilnya dan berhenti di sebuah restoran dan itu atas kemauan Marina.
Aku mau lihat apa kamu mampu membayar makan di restoran ini.
Marina tersenyum sembari turun dari mobil. Dia ingin mengetes kemampuan Agung untuk membayar makanan di restoran paling mewah dan mahal di kota itu.
Bersambung...
Bantu vote ya.
Follow Instagram : anita_rachman83
seputar novel hanya di info di instagram tidak ada di grup.
🌷🌷
Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014!
Visual Giwang
Visual Adlan
Visual Agung yang lagi kerja di bengkel🤭
Visual Marina
Jika kurang setuju dengan visualnya yang author bisa bayangkan sesuai idola kalian Terima kasih.