Hidup Luna hancur setelah di jebak dan di hamili oleh kekasihnya - Gandhi. Terlebih saat Mira, Ibu dari Gandhi menolak untuk bertanggung jawab atas kehamilan Luna. Suatu ketika Mira mengetahui Luna adalah anak tunggal dari Adiyatama Erlangga - Pemilik Perusahaan Erlangga Jaya. Ia menyesal telah menolak Luna dan berusaha mendekati Luna supaya Gandhi menjadi penerus Erlangga Jaya jika menikahi Luna.
Luna hancur saat ia diperalat sebagai boneka pemuas nafsu oleh Gandhi. Kemudian Luna mengetahui niat jahat Mira, ia segera melakukan sesuatu agar perusahaan Ayah tidak jatuh ke tangan orang-orang serakah seperti Mira dan Gandhi. Luna mengorbankan Aditya - Sahabat kecil Luna yang sejak dulu menyukainya. Luna melakukan hubungan intim dengan Aditya. Luna menikah dengan Aditya namun Gandhi mengakui bayi yang dikandung Luna adalah anaknya.
Siapakah ayah yang sebenarnya dari bayi yang dikandung Luna?
Apa rencana Gandhi dan Mira untuk mendapatkan Luna?
Bagaimana dengan pernikahan Luna dan Aditya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sity Qhomariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
“Ayah mau bekerja sama dengan orang yang mencoreng nama baik Erlangga yang Ayah banggakan itu?” sindir Luna. Ia melirik Ayah. Ayah semakin terheran. Ia tidak mengerti maksud Luna.
“Maksud kamu?” tanya Ayah.
“Tunggu! Aku baru ingat. Kamu laki-laki yang pernah menjenguk Luna di rumah sakit kan?!” tanya Ibu. Laki-laki itu terlihat gelisah.
“Jadi kamu yang memperkosa anakku!” teriak Ibu. Ia bergerak mendekati laki-laki itu dan menamparnya.
‘PLAK!’
“Kau berani merusak keluarga kami!” bentak Ibu. Ayah berdiri dari kursinya.
“Hubungan kerja sama kita dibatalkan! Aku tidak sudi bekerja sama dengan orang yang merusak keluargaku!” suara Ayah menggelegar. Ia beranjak meninggalkan tempat itu di ikuti oleh Ibu. Luna tersenyum sinis.
“Bagaimana rasanya berurusan dengan keluarga Erlangga, Tante Mira???” ledek Luna sambil berlalu meninggalkan Mira dan Gandhi yang berdiri mematung dengan kaki gemetar. Mira sempoyongan dan berpegangan pada gagang kursi.
“Kenapa kau tidak mengatakan kepada Mama bahwa Luna adalah anak tunggal Erlangga, Gandhi!” teriak Mira tertahan.
“Luna Amaris Erlangga,” gumam Gandhi pelan sampai tak terdengar.
“Maaf, Ma. Gandhi tidak menyadari kalau Luna itu...” belum selesai berkata. Mira sudah memotong pembicaraan mereka.
“Kita kehilangan masa depan, Gandhi!”
“Kita harus merebutnya kembali!” teriak Mira dengan berapi-api. Sorot matanya tajam dan berambisi.
“Anak yang di kandung Luna adalah anakmu. Kita harus merebut hak kita.” Kata Mira sambil tertawa licik. Ia tidak mengetahui bahwa bayi yang di kandung Luna sudah gugur. Ia mengira bisa memanfaatkan Luna untuk merebut perusahaan Erlangga Jaya.
Sementara itu, Luna dan keluarganya sudah sampai di rumah. Luna bersorak dalam hati atas kemenangannya. Ayah terlihat emosi. Ia masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa. Ibu mengikutinya dari belakang.
“Sebahagia itu kah?” kata sebuah suara dari belakang Luna. luna terkejut dan berbalik.
“Adit?”
“Apa yang membuat kamu sebahagia ini?” tanya Adit.
“Aku baru saja bertemu dengan Gandhi.”
“Hah?!”
“Tapi tenang, aku berhasil mempermalukan dia dan ibunya di depan Ayah Ibuku.” Luna tertawa lebar. Adit mengangkat kedua alisnya.
“Ayah membatalkan kerja sama perusahaan dengan Perusahaan milik Ibunya Gandhi. Haha! Aku senang sekali. Akhirnya aku bisa menolak mereka seperti yang mereka lakukan kepadaku waktu itu.” Teriak Luna.
“Hati-hati Luna, aku merasa mereka tidak akan tinggal diam setelah mengetahui bahwa kamu adalah pewaris tunggal dari Erlangga Jaya.” Adit memperingatkan. Luna terdiam sesaat sambil berpikir.
“Tapi mereka gak akan bisa melakukan apa-apa, Dit. Anak Gandhi sudah mati.”
“Iya, tapi orang jahat bisa melakukan berbagai cara. Kamu harus hati-hati.” Ujar Adit serius. Luna tersenyum.
“Terimakasih sudah mengingatkan.” Kata Luna. Adit berbalik.
“Adit?” panggil Luna. Adit menghentikan langkah dan menoleh.
“Terimakasih.” Ucap Luna.
“Tadi kan sudah.”
“Tapi ini lain,”
“Lainnya??”
“Terimakasih karena sudah berubah.” Ucap Luna tulus. Adit bingung. Ia terdiam.
“Kamu sekarang jadi lebih peduli sama aku dan mulai banyak berbicara. Gak seperti dulu yang cuek dan jahilin aku sampe aku nangis.” Luna tertawa. Adit tersenyum tipis.
“Lun?”
“Ya?” Luna menunggu perkataan Adit. Namun Adit terdiam begitu lama. Hingga akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk berbicara. Adit membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan Luna yang bertanya-tanya.
“Adit kenapa sih, bikin penasaran aja.” Setelah berkata begitu Luna masuk ke dalam rumah.
“Kenapa gak di tembak aja, Dit?” ledek Fandra ketika Adit baru saja memasuki rumah.
“Siapa yang mau nembak.” Adit tersipu.
“Mau sampai kapan kamu memendam perasaan. Kamu hampir kehilangan Luna gara-gara dia hamil kan. Sekarang saatnya kamu ambil Luna kembali.”
“Sok tau kakak ah!” sergah Adit sembari meninggal Fandra yang tertawa meledeknya.
“Atau buat kakak aja, Dit!!” teriak Fandra. Adit terdiam tak menanggapi kakaknya. Ia masuk ke dalam kamar. Duduk di tepi tempat tidur, pikirannya kembali melayang ke masa lalu. Ia selalu mengganggu Luna. Sampai tak terhitung berapa jumlahnya Luna menangis dalam sehari karenanya. Lama-lama ia menyukai Luna namun Fandra juga menyukainya. Dulu Adit tak sengaja melihat diary Fandra yang berisi tentang perasaannya kepada Luna. Setelah melihat diary Fandra, Adit menjadi kesal dan ia semakin sengit lagi dalam mengganggu Luna.
“Aku selalu hampir kehilanganmu, Luna.” gumamnya lirih. Adit berdiri untuk mengambil sebuah kotak berisi foto-foto mereka bertiga waktu kecil. Dipandanginya wajah Luna. Kemudian ia melipat pada bagian wajah Fandra sehingga foto terlihat menjadi berdua.
“Begini lebih bagus, Lun.” Katanya sambil tertawa geli.
“Kamu udah banyak perubahan, Dit.” Bisik Luna sambil memandangi foto kecil mereka. Luna menyenderkan tubuh di atas ranjang. Tangannya memegang foto kecil mereka. Ia mengambil kertas yang tersimpan di dalam tas kecil miliknya.
“Aku menyukai Luna Amaris Erlangga” Luna membaca tulisan yang tertera di kertas itu.
“Aku harus mencari tau siapa yang menulis surat ini.” Tekadnya dalam hati. Matanya melirik ke arah jam tangan pemberian Fandra.
Keesokan harinya, keluarga Luna sedang melakukan sarapan pagi. Suasananya begitu tenang dan hening karena tidak ada satupun yang berani membuka mulut. Semenjak kejadian yang menimpa Luna, suasana keluarga menjadi canggung. Mereka jarang sekali berbicara dan berbincang seperti dulu. Luka di hati mereka masih terasa dan membekas. Mereka selalu berbicara di saat benar-benar penting. Hingga akhirnya Ayah membuka pembicaraan.
“Hari ini urus kepindahan kuliahmu.”
“Hah? Maksud Ayah?”
“Kuliah di Jakarta terlalu jauh dan berbahaya. Ayah masih trauma jika kamu harus kembali melanjutkan kuliahmu di sana.” Luna tersenyum mendengar kejujuran Ayah.
“Kenapa kamu malah senyum-senyum.” Tegur Ayah.
“Ayah masih sayang aku ya?” tanya Luna sambil meledek. Ayah pura-pura mengabaikan.
“Mulai dari sekarang kamu harus nurut perintah Ayah!” sahut Ayah.
“Iya, Ayah.” Jawab Luna sambil tersenyum senang. Ia lega karena Ayah masih mengkhawatirkan dirinya. Melihat itu Ibu ikut tersenyum.
Luna melanjutkan kembali kuliahnya di salah satu kampus di Bandung. Ia sudah memberitahu Om Farid dan Tante Silvi jika ia sudah tidak tinggal di sana lagi. Luna mendaftar di kampus tempat Adit dan Fandra kuliah. Itu juga atas saran dari Fandra yang menyarankan agar Luna kuliah di kampusnya supaya lebih mudah menjaga Luna. Ayah menyetujui hal itu. Luna harus benar-benar di awasi agar tidak kembali terulang kejadian yang lalu. Ayah meminta tolong kepada Fandra dan Adit untuk menjaga Luna. Ayah percaya kepada mereka karena ia sudah mengenal mereka sejak Luna masih kecil. Luna harus terus bersama-sama dengan Fandra ataupun Adit. Luna tidak di perbolehkan berjalan sendirian di kampus ataupun di luar. Salah satu dari mereka harus selalu siap mengawasi Luna. Ketraumaan Ayah begitu besar terhadap Luna. Oleh karena itu, ia menjadi lebih memperketat Luna.
“Harus sampai segitunya, Yah?” tanya Luna.
“Dua kali di sakiti laki-laki kamu masih bisa bertanya seperti itu, Luna?!” bentak Ayah.
“Iya, maaf, Ayah.” Luna menunduk.
“Tapi Adit dan Fandra juga laki-laki, Ayah.”
“Ayah percaya mereka. Jika mereka kurang ajar terhadap Luna, Ayah bisa menghancurkan keluarganya.” Luna percaya, Ayah memiliki kekuasaan tertinggi di atas mereka. Ayah bisa kapan saja menghancurkan mereka jika mereka berani mengganggu Luna.
egois pula
baguslah adit gag ngemis²
langsung di ceraiin
udah gag suci
gag tau malu pula
8 like favorite😍 untuk mu😍
intip playboy mengejar cinta❤😘 yuk