Awal Judul Ada & Tiada
Berawal dari kesurupan massal di malam puncak penerimaan mahasiswa/i baru menjadi titik awal temu mereka. Saling menyadari bahwa mereka sama, sama-sama hidup diantara mereka yang tiada namun sebenarnya ada.
Kisah tentang perjalanan sekelompok anak muda yang memiliki kemampuan sixth sense, melihat apa yang semestinya tidak terlihat, dan merasakan kehadiran mereka yang tak tersentuh.
Akankah mereka bisa menjalani hidup normal seperti orang lain?
Kisah mereka akan hadir setiap hari pukul tujuh malam. Jangan baca sendiri, siapa tahu kau sedang tak sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Arin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kencan?
"Kau makan sebanyak ini apa kau yakin perutmu tidak meletus?" tanya Awan ke Ochi, ia melihat berbagai macam makanan tersedia di meja makan mereka.
"Memangnya aku bilang mau menghabiskannya sendirian? tunggu disini sebentar." ujar Ochi yang mulai berdiri dari duduknya.
"Hei kau mau kemana lagi si?" tanya Awan sambil berteriak. Awan melihat terus ke arah Ochi yang semakin menjauh, hingga Ochi tiba di kerumunan anak-anak pengamen di dekat tempat penyewaan alat transportasi buatan yang di sewakan untuk pengunjung.
Tangan Ochi bertumpu di lututnya, sesekali senyuman indahnya terukir di wajah Ochi. Awan yang melihat pemandangan itu pun ikut tersenyum tanpa sengaja, dan langsung tersadar akan refleknya itu.
"Haish, kenapa aku jadi tersenyum melihat wanita gila itu? Bisa gila sepertinya aku jika lama-lama terus bersama wanita absurd ini." ucap Awan sambil mengacak-acak rambutnya dan kedua tangannya memegang rambut yang sudah tak berbentuk itu. Keningnya bertumpu di meja makan.
"Kau sedang apa?" tanya Ochi terheran saat melihat Awan duduk dengan posisi yang aneh. Awan yang menyadari Ochi sudah datang pun mendongakkan kepalanya menatap Ochi, lalu bergantian menatap anak-anak kecil yang ada di sekitar Ochi.
"Me, Mereka siapa?" tanya Awan terheran melihat begitu banyak anak kecil dengan pakaian lusuh ada di sekitar Ochi, mungkin lima atau enam orang. Ochi yang ditanya pun hanya tersenyum.
"Teman-teman kecil ku. Baiklah kalian bisa duduk dimana pun kalian mau, ingat ya, habiskan semuanya tanpa sisa, karena kalian sudah bilang Kakak cantik jadi kalian boleh makan semuanya gratis." ujar Ochi sambil terus menyunggingkan senyumannya dan sesekali mengelus pucuk kepala salah satu anak yang duduk di sebelahnya.
Awan yang awalnya kesal dan jengah pun hatinya mulai tersentuh melihat kebaikan dan ketulusan wanita yang kini tengah duduk di hadapannya. Awan tidak menyangka akan menemukan sisi seperti ini dari diri Ochi. Ochi dan anak-anak pun sudah mulai makan segala menu yang tersedia, Ochi terus berbagi tawa dengan anak-anak itu tanpa menghiraukan Awan yang terus menatap Ochi tanpa jeda. Sebenarnya Ochi menyadari tatapan Awan, tapi ia sedang tidak ingin membahasnya saat ini.
"Kakak cantik, apa aku boleh membungkus satu porsi untuk ibu ku?" tanya anak di sebelah Ochi sambil tertunduk sedih.
"Iyah Kak, Ibunya sedang sakit dan kami belum dapat banyak uang hasil mengamen seharian ini." ucap anak-anak yang lain. Ochi yang tak tega pun hanya tersenyum dan menggenggam tangan anak kecil yang tertunduk sedih itu.
"Kau boleh pesan untuk Ibu mu." jawab Ochi sambil mendekatkan wajahnya ke anak itu.
"Kalian juga boleh bungkus makanan untuk keluarga dirumah." ujar Ochi, dan disambut sorak sorai gembira mereka.
"Kenapa Kakak cantik begitu baik kepada kami? Bahkan hanya karena kami memuji Kakak cantik saja." tanya salah satu dari mereka. Awan yang menatap anak yang sedang bertanya pun beralih menatap ke Ochi.
"Karena kalian anak baik, maka kebaikan itu kembali ke kalian, seperti makanan ini. Maka jangan berhenti berbuat baik kepada siapapun walaupun kebaikan kita dibalas kejahatan. Akan ada balasan di waktu lain dan di tempat lain. Kalian mengerti?" ujar Ochi yang begitu antusias melihat wajah anak-anak pengamen itu.
Awan yang mendengar jawaban Ochi pun terenyuh dibuatnya, ia lagi-lagi hanya menatap Ochi tanpa berkedip, sesekali menyuapkan makanan itu ke mulutnya namun matanya selalu curi-curi pandang ke Ochi.
Ochi dan anak-anak pun sudah selesai makan, dan makanan yang dibungkus pun sudah siap, kini anak-anak itu berpamitan dan berhambur pergi setelah berterima kasih ke Ochi, Ochi pun melambaikan tangannya sambil terus menatap anak-anak yang berlari bahagia. Tanpa Ochi sadari, Awan kini sudah berdiri dibelakang Ochi sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana miliknya.
"Sudah selesai?" tanya Awan tiba-tiba hingga Ochi terkejut dibuatnya.
"Ya ampun kau ini, bisa tidak si tidak membuat jantung orang terjun bebas? Kalau jantung ku loncat di pulung orang bagaimana?" ujar Ochi yang terus nyerocos tanpa henti.
"Jadi semuanya berapa Bu?" tanya Awan ramah ke penjual gudeg itu.
"Semuanya Rp 1.550.000 (satu juta lima ratus lima puluh ribu) Nak." jawab penjual itu sambil tersenyum menatap Awan dan Ochi secara bergantian.
"Apa kalian sepasang kekasih?" tanya penjual itu. Ibu penjual gudeg menyadari tatapan Awan ke arah Ochi terus menerus.
"Tidak!" jawab Awan dan Ochi bersamaan.
"Owh, saya kira kalian berdua sepasang kekasih, soalnya si Mas nya ngeliatin Mba nya terus." ucap ibu penjual gudeg itu dengan polosnya, Awan yang mendengar penuturan ibu penjual gudeg pun ternganga dibuatnya.
"Apa? Sa ... Saya? Mana mungkin Bu." jawab Awan terbata, ia mengibaskan tangannya sambil menoleh ke Ochi yang kini sedang menatap tajam Awan.
"Jadian pun tidak masalah, si Mbak nya baik, Mas nya juga baik, ndak masalah toh? Cinta bisa tumbuh belakangan." lanjut ibu penjual gudeg itu sambil memberikan uang kembalian ke Awan.
"Terima kasih Bu, kami permisi." ucap Awan sambil berpamitan ke ibu penjual gudeg itu. Awan bergegas pergi dan meninggalkan Ochi sendirian.
"Ish, kenapa aku ditinggalkan?" keluh Ochi yang kini berlari menyusul Awan. Tangan Ochi meraih tangan Awan hingga membuat Awan berhenti dari langkahnya. Nafas Ochi terengah-engah karena mengejar Awan.
"Apa lagi Chi?" tanya Awan dengan ekspresi jengah.
"Aku ingin beli minuman, kau kan sudah janji akan membelikan apapun yang aku mau. Apa kau sedang mencoba kabur dari hukuman?" tanya Ochi kesal.
"Baiklah, ayo!" balas Awan, Awan menggandeng tangan Ochi sambil berjalan menuju penjual minuman dawet.
"Ingat, beli seperlunya dan jangan berulah lagi." ancam Awan ke Ochi.
Ochi yang diperlakukan seperti itu pun terlintas di fikiran nya untuk mengerjai Awan lagi. Ochi berpura-pura tertunduk lesu dan menampakkan muka bersalahnya.
"Ya sudah aku beli pakai duit ku sendiri saja." lirih Ochi. Awan pun luluh melihat wajah memelas Ochi.
"Baiklah, baiklah! Pak buatkan saja apa yang wanita ini minta." ujar Awan ke pedagang dawet tersebut. Ochi yang mengerjai Awan pun tersenyum sekilas lalu menatap wajah Awan.
"Benarkah?" tanya Ochi dengan muka imutnya. Awan yang kaget melihat wajah Ochi dan dirinya begitu dekat pun hanya kikuk membalas pertanyaan Ochi.
"Hm ...." jawab Awan sambil matanya tak henti menatap Ochi yang hanya berjarak sejengkal saja dari wajahnya.
"Terima kasih." jawab Ochi senang, Awan tidak menyadari akan ada keusilan lainnya dari Ochi.
Es dawet yang dipesan pun sudah jadi, Ochi pun mulai meminum es tersebut, hingga sisa setengah lalu ia sodorkan tangannya ke Awan.
"Kenapa?" tanya Awan kebingungan. Ochi pun yang dibentak Awan berpura-pura sedih kembali.
"Kau marah? Aku kan hanya ingin berbagi dengan mu, apa salah? Ya sudah ku buang saja." ucap Ochi, baru saja ingin membuangnya Awan menahan tangan Ochi.
"Baiklah, tidak baik membuang makanan dan minuman begitu saja. Aku akan meminumnya." ucap Awan ke Ochi. Awan pun menghabiskan es dawet tersebut lalu membuangnya.
"Bukankah kita sepeti sedang berkencan?" ledek Ochi ke Awan, Ochi memang terkenal suka meledek dan menjahili teman-temannya, bahkan banyak pria yang baper dan salah paham karena ulah nya.
"Kencan?" tanya Awan sambil mengerutkan dahinya.
"Dalam mimpi mu!" ucap Awan lagi lalu berjalan meninggalkan Ochi lagi-lagi sendirian.
"Kenapa dia tidak mudah dibujuk? Beda sekali dengan pria-pria lain." fikir Ochi, Ochi pun berlari menyusul Awan.
Bersambung ....
semangat Kaka Arin...lanjuttt yaaa
kalo Ari suka Haura Krn sbg adik saja kan
TPI aku terharu Aldi bisa juga mengikhlaskan Anita dan TDK menganggap Haura bayangan nya Anita...