NovelToon NovelToon
Sistem 2bit: Dari Sampah Jadi Dewa

Sistem 2bit: Dari Sampah Jadi Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Sistem / Harem / Komedi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: HAMBALANGVERSE

Raka Pratama pernah menjadi kebanggaan keluarganya.

Bakat luar biasa. Masa depan cerah. Tunangan idaman.

Sampai sebuah misi menghancurkan meridiannya.

Kultivasinya mandek. Pertunangannya dibatalkan. Keluarganya membuangnya ke gubuk tua di pinggir desa.

Saat semua orang menganggap hidupnya telah berakhir, sebuah warisan kuno terbangun.

Sistem 2Bit.

Sistem murahan yang mengaku dirinya kelas dua.

Tapi bagi yang sudah kehilangan segalanya, kesempatan sekecil apa pun sudah cukup.

Mereka mengira kisah Raka telah berakhir.

Padahal baru dimulai.


━━━━━━━━━━━━━━━

⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️

Genre:
#Cultivation
#System
#Action
#Fantasy
#Harem
#Revenge
#Survival
#Hambalangverse.


🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Hari ketiga kehadiran Maya di desa membawa suasana yang ganjil. Sejak pagi, Raka merasakan ketegangan halus yang menggantung di udara, bukan karena cuaca, melainkan akibat dinamika antara dua wanita di sekitarnya. Laras bergerak dengan kecepatan tidak wajar, menyapu halaman berulang-ulang hingga debu beterbangan, menata ulang peralatan dapur yang sejatinya sudah rapi, dan sesekali melirik tajam ke arah Maya yang duduk tenang di teras sambil membaca buku kuno.

Maya tampak sama sekali tidak terganggu. Ia tetap duduk di posisinya, membalik halaman buku dengan gerakan lambat dan metodis, sesekali mencoret catatan kecil di tepi kertas. Auranya stabil dan dingin, membentuk kontras nyata dengan kegelisahan Laras yang kian terlihat.

Raka duduk di kursi kayu favoritnya, terjebak di tengah-tengah situasi itu. Hubungan Maya dan Laras memang membaik sejak insiden nasi gosong malam sebelumnya, namun masih ada jarak tipis yang belum sepenuhnya hilang. Maya terlalu tenang, Laras terlalu sibuk mencari kesibukan, sementara Raka sendiri masih larut dalam memikirkan sensasi energi dari latihan malam sebelumnya.

"Kau perlu fokus," suara Maya tiba-tiba memecah keheningan tanpa ia mengangkat pandangan dari bukunya. "Pikiranmu melayang ke mana-mana."

Raka tersentak kecil. "Aku tidak bilang apa-apa."

"Kau tidak perlu berbicara. Napasmu berubah ritme setiap kali kau memikirkan hal lain. Itu adalah kelemahan dasar yang harus segera kau perbaiki."

Laras, yang sedang menyapu tidak jauh dari mereka, mendengus pelan. "Wajar saja kalau napas orang berubah saat berpikir. Itu bukan kelemahan, itu manusiawi."

Maya akhirnya mengangkat wajah. Ia menatap Laras dengan ekspresi datar sebelum senyum tipis terbentuk di sudut bibirnya. "Benar secara biologis. Namun di medan perang, musuh bisa membaca perubahan napasmu. Mereka akan tahu kapan kau akan menyerang, kapan kau berniat mundur, atau kapan kau berbohong."

Laras berhenti menyapu. Jemarinya mengencang pada gagang sapu bambu. "Dan kau bisa melakukan itu? Membaca orang?"

"Tidak selalu seratus persen akurat. Tapi aku bisa melihat pola."

"Pola apa yang kau lihat dariku sekarang?" tantang Laras.

Maya menutup bukunya perlahan. Tatapannya menyapu Laras dari kepala hingga kaki dengan teliti. "Kau menyapu area lantai yang sama sebanyak tiga kali. Itu tanda kau sedang memikirkan sesuatu yang mengganggumu. Kau juga mengerucutkan bibir setiap kali aku berbicara, namun tidak pernah memotong pembicaraanku. Artinya, kau ingin bertanya banyak hal, tapi kau memilih untuk menahan diri."

Laras terdiam mematung. Cengkeramannya pada gagang sapu perlahan mengendur, replaced by a look of genuine surprise.

"Jadi kau bisa membaca pikiran orang?"

"Bukan pikiran. Hanya kebiasaan tubuh." Maya berdiri, meletakkan bukunya di atas kursi. "Setiap orang memiliki pola unik. Jika kau cukup sabar mengamati, kau bisa memprediksi tindakan seseorang sebelum mereka melakukannya."

Raka mendengarkan pertukaran kata itu dengan saksama. Ia tidak ikut campur karena menyadari ini adalah momen pengajaran. Maya tidak hanya berbicara pada Laras, tetapi juga memberikan pelajaran observasi untuknya.

"Kalau begitu," kata Laras tiba-tiba, suaranya terdengar lebih tegas. "Bisakah aku belajar juga?"

Alis Maya terangkat tinggi. Ini pertama kalinya Laras menunjukkan minat langsung terhadap ilmu yang diajarkan wanita misterius itu.

"Kau benar-benar ingin belajar?"

"Aku tidak suka menjadi satu-satunya orang di sini yang tidak punya keahlian khusus." Laras meletakkan sapunya bersandar di dinding, lalu melipat tangan di dada. "Raka punya sistem dan artefak. Kau punya pengetahuan kuno. Bima punya kekuatan fisik yang tidak masuk akal. Aku? Aku hanya bisa memasak dan membersihkan."

Raka membuka mulut untuk membantah pernyataan merendahkan diri itu, namun Maya mengangkat tangan, menghentikan protesnya sebelum keluar.

"Baiklah," kata Maya. "Tapi ingat, ini tidak akan mudah. Observasi membutuhkan kesabaran tingkat tinggi, dan dari pengamatanku, kau bukan tipe orang yang sabar."

Senyum tipis kembali muncul di wajah Laras, sebuah ekspresi langka yang jarang terlihat. "Jika tidak sulit, aku tidak akan tertarik."

Raka menatap sahabatnya dengan tak percaya. Selama ini, Laras selalu menolak terlibat lebih dalam dalam urusan supranatural mereka, bersikeras bahwa dirinya hanyalah orang biasa yang terbawa arus. Namun kini, di hadapan Maya, ia secara sukarela meminta untuk diajar.

Maya menatap Laras dalam-dalam, seolah menimbang keseriusan wanita itu, lalu akhirnya mengangguk. "Besok pagi, sebelum matahari terbit. Kita mulai dengan latihan dasar. Dan Raka..." Ia menoleh ke arah Raka. "...kau akan menjadi objek pengamatannya. Jangan bergerak. Jangan bicara. Biarkan dia mencoba membaca apa yang ada di pikiranmu melalui bahasa tubuhmu."

Raka mengerutkan kening. "Jadi aku dijadikan boneka latihan?"

"Kau lebih berguna sebagai sasaran diam daripada sebagai pengamat yang ceroboh."

Raka ingin membantah, namun urung ketika melihat senyum kecil yang berkembang di wajah Laras. Senyum kemenangan yang jarang muncul itu membuat rasa kesalnya luntur seketika.

Malam itu, suasana di dalam gubuk terasa berbeda. Laras memasak dengan semangat yang tidak biasa, menambahkan berbagai bumbu eksotis yang jarang ia gunakan. Sementara itu, Maya duduk di sudut ruangan, sesekali mengangkat pandangannya dari buku untuk mengamati gerak-gerik Laras di dapur.

Raka duduk di teras, merasakan denyut halus dari artefak di sabuknya. Energi sisa latihan semalam masih mengalir pelan di tubuhnya, membentuk kebiasaan baru yang mulai ia kenali. Ia mulai terbiasa dengan kehangatan yang merambat dari pinggang ke dada, serta kesadaran bahwa ada kekuatan besar yang kini menjadi bagian dari dirinya.

"Malam ini tidak ada latihan?" tanya Raka saat Maya bergabung duduk di dekatnya.

Maya menggeleng. "Besok. Kau perlu istirahat penuh. Latihan besok akan jauh lebih berat."

Raka mengangguk paham. Ia menatap langit malam yang dipenuhi bintang-bintang berkelip. Tak lama kemudian, Laras keluar dari dapur membawa dua cangkir teh hangat dan menyodorkan salah satunya kepada Raka.

"Minum," perintahnya singkat.

Raka menerima cangkir itu. Uap panas mengepul, membawa aroma jahe dan gula yang menenangkan. "Kau menambahkan sesuatu."

"Aku belajar dari Maya." Laras duduk di sampingnya, menjaga jarak satu jengkal yang sopan. "Dia bilang jahe bagus untuk memulihkan tenaga setelah latihan fisik."

Raka menyesap tehnya. Kehangatan cairan itu menyebar ke seluruh tubuh, melonggarkan otot-otot yang tegang seharian.

"Kau mulai dekat dengannya?" goda Raka pelan.

Laras mengangkat bahu, mencoba terlihat acuh. "Dia tidak seburuk yang kukira awalnya. Masih menyebalkan, tentu saja, tapi setidaknya dia tahu apa yang sedang dibicarakannya."

Raka tersenyum lebar. "Itu hampir terdengar seperti pujian jika berasal dari mulutmu."

"Jangan terlalu senang dulu. Besok pagi aku akan mengawasimu ketat. Jika kau melakukan hal konyol, aku akan mencatatnya dan menggunakannya untuk mempermalukanmu seumur hidup."

"Aku janji tidak akan melakukan hal konyol."

"Kau selalu melakukan hal konyol. Itu sifat dasarmu."

Mereka duduk dalam hening yang nyaman, menikmati teh masing-masing sambil mendengarkan nyanyian jangkrik yang semakin nyaring menggantikan kebisingan siang hari. Di kejauhan, kabut putih mulai turun dari puncak Gunung Tidar, menyelimuti desa dengan selimut tipis yang menenangkan.

Besok adalah hari baru, dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Raka tidak merasa takut menghadapinya.

Di dalam gubuk, Maya menutup bukunya. Ia memandang ke arah teras, melihat dua sosok yang duduk berdampingan dalam kedamaian. Senyum tipis menghiasi wajahnya, bukan senyum penuh rahasia atau manipulasi, melainkan senyum kepuasan seseorang yang melihat apa yang dilindunginya mulai menemukan jalannya sendiri.

Ia memejamkan mata, menikmati ketenangan malam. Besok, segala sesuatunya akan berubah. Namun untuk malam ini, kedamaian kecil ini sudah lebih dari cukup.

1
Chen Haoran
Bagus toh sistem nya lucu
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂: Kalau gw tulis sejarahnya sistem 2bit bakalan jadi 10 bab🚬🗿🤣.
thanks udah mampir
total 1 replies
Chen Haoran
menurut ku ini menarik di setiap kata-katanya ada dialog yang interaktif dan tidak kelihatan kaku🙏
Chen Haoran: yap euy
total 2 replies
Chen Haoran
lucu euy sistem nya bisa becanda 🤣
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂: wkwkkw emang novel absurd
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!