Blurb
"Yang kubenci selama 6 tahun, ternyata malaikat tak bersayap"
Alina membenci Bu Kirana. Seorang guru SD sederhana yang dinikahi Papa dua tahun setelah Mama berpulang.
Selama enam tahun, Alina menolak kehadirannya. Alina menyia-nyiakan makanan yang Ibu masak, menyebarkan cerita yang menyakitkan, bahkan berteriak di depan semua orang: "Maaf Bu, aku tidak bisa memanggilmu Ibu."
Kirana tidak pernah membalas. Ia tidak pernah meninggikan suara. Ia hanya tetap ada. Memasak makanan yang sama setiap pagi, berjalan kaki menjemput Alina saat hujan, menjahit kancing baju Alina yang lepas sampai larut malam.
Sampai suatu hari, Papa kehilangan segalanya. Mansion dijual, teman-teman menghilang, orang-orang yang dulu memanggil "Tuan Aditya" kini berpaling.
Yang tetap tinggal hanya Kirana.
Perempuan yang diam-diam menjual kalung pemberian Papa, menjual motor tuanya, bekerja tiga waktu dalam sehari... hanya agar Alina tetap bisa makan, tetap bisa sekolah.
Semuanya terlambat Alina sadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: PANGGILAN HATI DAN DUGAAN YANG TERBUKA
...BAB 32...
...PANGGILAN HATI DAN DUGAAN YANG TERBUKA...
Setelah melewati masa kritis selama beberapa jam, kondisi Bu Kirana akhirnya cukup stabil untuk dipindahkan dari ruang gawat darurat ke ruang perawatan intensif atau ICU. Di sana, segala peralatan medis terpasang rapi di sekeliling tempat tidurnya—selang oksigen terpasang di hidungnya, jarum infus menempel di punggung tangannya, dan layar monitor terus memantau detak jantung serta tekanan darahnya setiap saat. Wajahnya tampak pucat pasi, matanya terpejam rapat, dan tidak ada satu pun gerakan yang menunjukkan kesadarannya telah kembali.
Ayah Alina dan Dimas telah lebih dulu masuk menengok, hanya berdiri diam di samping tempat tidur dengan perasaan yang campur aduk antara harapan dan kekhawatiran. Setelah sekitar sepuluh menit, mereka keluar dengan langkah berat, memberi kesempatan bagi Alina yang sudah menunggu di luar untuk masuk bergantian.
“Dokter bilang jangan terlalu lama, Nak. Kondisinya masih lemah,” pesan Ayahnya lembut sebelum melangkah mundur.
Alina mengangguk perlahan, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan yang sejuk dan hening itu. Pintu tertutup kembali, menyisakan dirinya berdua dengan wanita yang selama ini menyayanginya tanpa syarat. Dengan langkah hati-hati, ia mendekati sisi tempat tidur, lalu duduk di kursi kecil yang tersedia di sampingnya.
Matanya berkaca-kaca melihat keadaan Bu Kirana yang terbaring lemah. Perlahan, dengan gerakan yang sangat lembut agar tidak menimbulkan rasa sakit, Alina mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Bu Kirana yang terasa dingin dan lemas. Jari-jarinya menyentuh kulit itu dengan penuh rasa hormat dan penyesalan yang mendalam.
“Ibu… maafkan Alina,” bisiknya dengan suara parau, berusaha menahan isak tangis agar tidak mengganggu ketenangan ruangan itu. “Alina tahu, selama ini Alina sering bersikap kasar, dingin, dan keras kepala, bahkan pernah menolak kebaikan Ibu dengan kata-kata yang menyakitkan. Alina pikir, Ibu hanya ingin mendekat karena rasa kasihan, tapi ternyata Ibu menyayangi Alina tulus seperti anak kandung sendiri.”
Air matanya jatuh membasahi punggung tangan Bu Kirana. Ia menggenggam lebih erat, seolah ingin menyampaikan segala rasa yang selama ini terpendam.
“Alina sudah membaca semua tulisan di buku harian Ibu. Alina tahu, Ibu selalu mendoakan Alina, selalu menunggu Alina, dan berharap Alina bisa memanggil Ibu dengan sebutan yang paling tulus. Hari ini, Alina datang untuk mengucapkannya. Dengarkanlah, Ibu… Alina memanggil Ibu sebagai Ibu. Ibu adalah Ibu Alina juga. Tolong bangunlah, Ibu… Alina ingin meminta maaf secara langsung, ingin mendengar suara Ibu lagi, ingin melihat senyum Ibu yang selalu menenangkan hati Alina.”
Alina terus berbicara, menceritakan apa yang ia rasakan, memohon kesembuhan dengan segenap hatinya, meski ia tahu Bu Kirana belum sadar dan mungkin tidak mendengarnya. Namun baginya, itu adalah cara terbaik untuk meluapkan segala penyesalan dan cinta yang baru ia sadari.
****
Keesokan harinya, Alina sudah memantapkan hatinya. Ia tidak hanya ingin menunggu di rumah sakit saja, tapi juga ingin mencari kebenaran di balik kecelakaan itu. Sejak beberapa minggu terakhir, Farhan memang mengajarkannya dasar-dasar bela diri karate secara perlahan, agar ia bisa melindungi dirinya sendiri jika berada dalam situasi berbahaya. Walau belum mahir dan masih banyak hal yang harus dipelajari, setidaknya ia sudah memiliki keberanian dan ketenangan yang lebih baik dibandingkan sebelumnya. Guru karate sekolah pun menyempatkan waktu untuk melatihnya sedikit, mengingat kebutuhan Alina untuk menjaga diri.
Hari itu, Alina tampak berbeda dari biasanya. Ia mengenakan pakaian yang lebih tertutup—kemeja lengan panjang berwarna lembut, dan rok panjang yang rapi, dan kerudung yang menutupi seluruh rambutnya dengan rapi. Penampilannya terlihat lebih tenang, sederhana, namun memancarkan ketegasan yang tidak pernah terlihat sebelumnya.
Dengan membawa salinan foto dari kejadian itu, Alina berjalan menuju area tempat biasanya Raka berkumpul dengan teman-temannya di luar lingkungan sekolah. Ia datang sendirian, tidak ditemani siapa pun, ingin menghadapinya secara langsung tanpa menimbulkan kesan ingin mencari masalah.
Begitu melihat Alina mendekat, Raka dan teman-temannya berhenti mengobrol. Raka menatap gadis itu dari ujung kaki hingga kepala, matanya terbelalak sedikit terkejut melihat perubahan penampilan dan sikap Alina yang kini terlihat jauh lebih tenang dan percaya diri.
“Wah, ada apa gadis yang dulu begitu angkuh, datang ke sini? Biasanya kamu menghindar kalau melihatku,” kata Raka dengan nada mengejek, namun ada rasa penasaran yang terselip di balik ucapannya.
Alina tidak menjawab langsung. Ia berdiri tegak, menatap lurus ke mata Raka tanpa rasa takut seperti dulu. Ia mengeluarkan ponselnya, lalu membuka foto yang diambil warga itu dan menunjukkannya tepat di hadapan Raka.
“Kamu mengenali ini?” tanya Alina dengan suara tenang namun tegas, tidak bergetar sedikit pun.
Raka melirik layar ponsel itu sekilas, lalu kembali menatap Alina dengan wajah datar. “Apa ini? Foto motor dan pengendara? Kenapa aku harus mengenalinya?”
“Ini adalah rekaman pengendara yang melaju kencang dan menabrak Bu Kirana kemarin pagi. Ia melarikan diri begitu saja tanpa bertanggung jawab,” jelas Alina perlahan. “Motornya berwarna hitam, bentuknya persis seperti motor yang sering kamu kendarai. Jaket dan helm yang dipakainya juga sama persis dengan yang biasa kamu pakai setiap hari.”
Mendengar tuduhan itu, ekspresi Raka langsung berubah. Ia melangkah maju sedikit, nada bicaranya meninggi seolah merasa tersinggung. “Apa maksudmu? Kamu menuduh aku sebagai pelakunya? Jangan sembarangan bicara, Alina! Ini tuduhan yang sangat serius!”
“Bukan tuduhan tanpa bukti,” jawab Alina tetap tenang, tidak tergoyahkan meski nada bicara Raka mulai meninggi. “Banyak orang melihat motor itu, dan ciri-cirinya sangat cocok dengan milikmu. Bahkan goresan kecil di sisi kanan bodi motor itu terlihat jelas di foto ini—goresan yang sama persis yang pernah aku lihat di motormu saat tergores tiang pembatas jalan dua minggu lalu.”
Raka terdiam sesaat, lalu tertawa kecil, namun tawanya terdengar palsu dan tegang. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada, berusaha terlihat santai meski matanya mulai terlihat gelisah.
“Kamu salah lihat. Banyak motor yang bentuknya sama persis. Jaket dan helm hitam juga bukan barang langka, banyak orang yang memakainya. Aku tidak tahu apa-apa soal kecelakaan itu. Seharian kemarin aku ada di rumah, tidak keluar ke mana-mana. Kamu bisa tanya pada orang tuaku kalau tidak percaya.”
“Benarkah? Kalau begitu, kenapa saat aku menyebutkan goresan di motormu, wajahmu terlihat kaget?” tanya Alina terus menekan, menggunakan apa yang ia pelajari dari Farhan untuk membaca reaksi lawan bicaranya. “Kalau kamu tidak bersalah, tidak perlu merasa terancam. Tapi kalau kamu memang tidak melakukannya, tunjukkan saja motormu sekarang. Kalau tidak ada goresan baru atau bekas tabrakan, aku akan meminta maaf padamu dengan tulus.”
Raka terdiam, wajahnya mulai memerah menahan emosi. Ia tidak menyangka Alina yang dulu selalu takut dan menghindar kini berani menantangnya secara langsung. Di dalam hatinya, ada rasa panik yang mulai tumbuh, namun ia berusaha menutupinya dengan sikap kasar.
“Kamu tidak berhak memeriksa barang milikku! Pergilah sebelum aku marah dan mengusirmu dengan paksa!” bentak Raka dengan suara keras, membuat teman-temannya ikut menegang.
Alina tidak mundur selangkah pun. Ia hanya menatap Raka dengan tatapan yang tajam namun tetap tenang. “Aku tidak akan pergi sampai aku tahu kebenarannya. Bu Kirana terbaring lemah di rumah sakit karena menyelamatkan Papaku, dan pelakunya melarikan diri seperti pengecut. Kalau kamu benar-benar tidak bersalah, bantu aku mencarinya. Tapi kalau kamu yang melakukannya, ingatlah—kebenaran akan terungkap pada waktunya, dan hukum pasti akan menemukan jalannya.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Alina memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku, lalu berbalik dan berjalan pergi dengan langkah yang mantap. Ia tahu Raka membantah, namun reaksinya tadi membuat keyakinan Alina semakin kuat—ada sesuatu yang disembunyikan oleh pemuda itu.
Di sisi lain, Raka hanya berdiri mematung, matanya menatap punggung Alina yang menjauh. Tangannya terkepal erat di samping tubuh, dan jantungnya berdegup kencang. Ia tidak menyangka pertemuan ini akan berjalan seperti itu, dan kehadiran Alina kini justru membuatnya merasa terjebak dalam ketakutan yang semakin nyata.
Bersambung...
nanti Alina juga perlahan luluh