NovelToon NovelToon
Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Zhao Fei yang dijuluki Yang Mulia Petir Abadi, tewas ditikam murid kesayangannya sendiri setelah 10.000 tahun berkuasa di Alam Dewa.

Namun ternyata hukum karma memberinya kesempatan kedua. Rohnya dikirim ke dunia bawah, masuk ke tubuh seorang pemuda sampah dari keluarga miskin yang tidak punya bakat, tidak punya harga diri, dan tidak ada wanita yang mau menikahinya.

Kekuatan petirnya lenyap. Akar spiritualnya tertidur dan dirinya harus memulai semuanya dari nol.

Tapi dendam seorang dewa tidak pernah padam. Janji pada pemilik tubuh asli pun juga tidak akan diingkari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Kembali ke Sekte

Pikiran pemuda itu kembali melayang ke peristiwa kemarin malam, tepat sesaat sebelum dia melangkah keluar meninggalkan kediaman Gunung Cemara. Ketika tangannya baru saja memegang gagang pintu pagi itu, suara berat Tabib Wen mendadak memanggil namanya dari arah belakang.

"Yang Mulia."

Dia berbalik demi menatap seorang tabib yang kini berdiri di ambang pintu kamar tengah. Wajah pria tua yang biasanya selalu dihiasi oleh ekspresi eksentrik itu kini telah berubah menjadi sangat serius.

"Dalam hitungan beberapa hari ke depan, tensi pertempuran antar-sekte diperkirakan akan berjalan semakin intens. Keberadaan para pembunuh bayaran, seperti kelompok yang baru saja kau hadapi di dalam hutan tempo hari, akan semakin sering memunculkan diri di wilayah perbatasan ini," papar Tabib Wen, memberikan analisis situasi yang matang. "Pihak manajemen Sekte Garuda Putih pasti akan segera melakukan serangkaian persiapan pertahanan yang sangat melelahkan bagi seluruh anggotanya. Bersiaplah untuk menghadapi badai itu."

Zhao Fei sama sekali tidak mengajukan pertanyaan mengenai dari mana sang tabib bisa mendapatkan informasi seakurat itu. Dia hanya menundukkan kepalanya sedikit ke bawah, memberikan isyarat bahwa dia telah memahami esensi dari seluruh peringatan penting itu dengan sangat baik.

Aktivitas lamunan itu seketika buyar saat kesadarannya dipaksa kembali menuju realitas saat ini. Di mana Zhao Fei kini tengah berada dalam posisi tiarap dengan kedua belah telapak tangan yang menumpu kokoh di atas permukaan tanah lapangan yang keras. Bernasib seperti dirinya, puluhan murid tingkat bawah lainnya juga tampak melakukan gerakan latihan fisik yang sama, berbaris dengan sangat rapi di bawah siraman terik matahari pagi.

Permukaan baju bagian belakangnya telah basah kuyup oleh cucuran keringat, sementara beberapa otot di lengan atasnya mulai merasakan sensasi tegang yang lumayan terasa. Kendati demikian, jika dibandingkan dengan intensitas latihan pedang ekstrem yang dia lakukan di hutan Gunung Cemara, menu latihan ketahanan fisik dari sekte ini terasa sangat ringan bagi dirinya.

Akibat beban latihan yang kurang menantang itu, fokus pikirannya kembali melayang bebas memikirkan hal lain.

Tanpa diduga, sebuah tongkat kayu berukuran sedang mendadak memukul bagian betis kanannya dengan cukup telak.

"Fokuskan pandanganmu ke depan, Zhao Fei! Posisi pinggulmu terlihat mulai kendor!" seru Liu Xue yang terdengar dari arah belakang.

Zhao Fei segera menjawab teguran itu dengan mengencangkan seluruh otot perutnya, lalu menegakkan kembali posisi tulang belakangnya agar terlihat sempurna. Dia memilih untuk tidak melayangkan protes ataupun mencari masalah tambahan, mengingat status Liu Xue saat ini tengah bertindak sebagai pengawas kedisiplinan lapangan.

Tepat di sisi kanannya, Xiaopang malah sudah terkapar sepenuhnya di atas tanah dengan posisi telentang. Wajah pemuda itu tampak merah padam bagaikan kepiting rebus, dengan lidah yang hampir terjulur keluar akibat didera rasa lelah yang teramat sangat.

"Zhao... Fei," bisik Xiaopang terputus-putus, mengumpulkan sisa kekuatan vokal yang dia miliki. "Sungguh sebuah... keberuntungan yang sangat besar... karena senior dingin itu tidak sempat mendengar keluhan yang kuucapkan... beberapa saat yang lalu..."

Zhao Fei tidak memberikan jawaban lisan atas keluhan sahabatnya itu. Dia memilih untuk terus melanjutkan gerakan naik turun tubuhnya dengan ritme yang stabil hingga peluit kayu tanda berakhirnya sesi latihan ditiup oleh instruktur.

Setelah seluruh rangkaian latihan ketahanan fisik dinyatakan selesai, Zhao Fei bersama Xiaopang segera pergi ke sebuah kedai makanan sederhana yang terletak di area kantin sekte.

Mereka mengambil posisi duduk berhadapan pada sebuah meja kayu sederhana yang dilengkapi dengan dua buah kursi panjang berbahan bambu tebal. Lalu tepat di atas meja, telah tersaji sepiring besar bakpao hangat isi kacang merah yang masih mengeluarkan kepulan uap manis, berdampingan dengan dua gelas besar susu sapi berbulu yang telah didinginkan. Minuman segar itu tampak sangat menggugah selera, dengan lapisan busa tipis yang menghiasi permukaan gelasnya.

Xiaopang tanpa membuang waktu langsung meraih gelas miliknya, lalu menenggak habis seluruh isi cairan putih segar itu dalam satu tarikan napas yang panjang. Gelas keramik yang telah kosong itu kemudian diletakkan kembali ke atas meja.

Dia menyeka sisa sisa busa susu yang menempel di sekitar bibirnya dengan menggunakan ujung lengan baju latihannya. "Ah... sensasi kesegaran ini benar-benar terasa sangat luar biasa setelah diperas habis-habisan di lapangan!"

Pemuda itu kemudian menyandarkan seluruh bobot tubuhnya pada sandaran kursi bambu, menyipitkan sepasang matanya dengan ekspresi kepuasan setelah dahaganya teratasi.

"Kau perlu mengetahui satu hal, Zhao Fei, selama durasi kepergianmu yang mencapai seminggu lebih itu, ada banyak sekali peristiwa menarik yang terjadi di dalam lingkungan internal sekte kita," ujar Xiaopang, membuka obrolan dengan nada misterius.

Zhao Fei meraih bakpao hangat dari atas piring, lalu mulai mengunyahnya dengan sangat perlahan. "Katakan saja, peristiwa apa saja yang sempat terlewatkan oleh pendengaranku?"

Xiaopang mulai mengoceh dengan sangat bersemangat, menceritakan rentetan kejadian mulai dari seorang murid senior yang ketahuan melakukan tindakan pencurian pil kultivasi di ruang penyimpanan, hingga insiden pertengkaran hebat antara dua orang murid di area kantin yang menyebabkan beberapa kerugian bagi fasilitas sekte. Tidak ketinggalan, dia juga membahas perihal kedatangan seorang instruktur baru yang memiliki tingkat kegalakan jauh lebih mengerikan dibandingkan dengan pengawas lama.

"Tapi, di luar dari seluruh kegaduhan gosip itu, ada satu hal yang paling krusial bagiku," Xiaopang mengubah tatapan matanya menjadi sedikit lebih serius, menatap lurus ke arah wajah Zhao Fei. "Mengenai kondisi kesehatan ibumu... beliau saat ini sudah benar-benar sembuh total dari penyakit parahnya, bukan? Aku sempat mendengar kabar gembira itu secara sekilas dari seorang kurir logistik yang baru saja melewati gerbang depan."

Zhao Fei menggerakkan kepalanya sedikit ke bawah sebagai bentuk konfirmasi. "Benar, kondisi kesehatannya saat ini sudah pulih sepenuhnya."

Xiaopang mengembuskan napas panjang, memperlihatkan raut wajah yang sangat lega atas kepastian informasi tersebut. "Syukurlah kalau memang begitu kenyataannya."

Dia menatap Zhao Fei dengan sarat akan rasa penasaran yang mendalam. "Jadi... setelah urusan keluarga ini selesai, apa langkah serta rencana strategis berikutnya yang akan kau tempuh di dalam sekte ini?"

Zhao Fei tidak segera memberikan jawaban untuk menanggapi pertanyaan dari sahabatnya itu. Sepasang matanya justru bergerak menatap ke arah area kejauhan yang berada di seberang bangunan kantin. Di bawah naungan sebuah pohon rindang yang besar, tampak Liu Xue sedang terlibat dalam sebuah perbincangan serius dengan beberapa orang murid senior dari divisi penegak hukum.

Pakaian jubah yang dikenakan oleh gadis itu terlihat sangat rapi, dengan ekspresi wajah yang tetap mempertahankan karakteristik dinginnya yang khas. Kendati demikian, jika diamati dengan lebih jeli, ada sebersit perubahan kecil pada gestur tubuhnya yang kini terlihat sedikit lebih rileks dibandingkan dengan biasanya. Namun hal itu mungkin saja terjadi hanya karena efek dari jarak pandang mereka yang terbilang cukup jauh.

"Ooooh..." celetuk Xiaopang yang ternyata ikut mengarahkan pandangan matanya menuju titik koordinat yang sama. Sepasang alis matanya tampak bergerak naik turun dengan ritme yang cepat, menampilkan wajah menggoda yang dipenuhi kelicikan.

"Jadi seperti ini rupanya situasi tersembunyi yang sedang terjadi," goda Xiaopang dengan cara yang sengaja dilebih-lebihkan. "Kau sama sekali tidak memberikan tanggapan atas pertanyaan seriusku, karena fokus penglihatanmu ternyata telah melayang jauh menuju ke arah senior berwajah cantik itu."

Zhao Fei baru saja hendak membuka mulut untuk memberikan bantahan atas tuduhan tidak berdasar itu.

Namun, sebelum sepatah kata pun sempat lolos dari bibirnya, tiga orang pemuda tampak berjalan melangkah melewati area meja makan mereka.

Li Wei berjalan memimpin dengan langkah kaki yang teratur, diikuti oleh Wang Hu dan Zhang Ming yang berjalan mengekor di belakangnya.

Zhao Fei segera memosisikan otot tubuhnya untuk bersiaga, mengantisipasi bilamana kelompok antagonis itu berniat untuk kembali menyulut kegaduhan baru di tempat umum seperti ini. Akan tetapi, dugaan buruk itu sama sekali tidak menjadi kenyataan.

Yang terjadi di depan mata justru merupakan sebuah fenomena yang bertolak belakang dari kebiasaan.

Tepat saat pandangan mata Li Wei tidak sengaja bertubruk dengan sepasang mata dingin milik Zhao Fei, seluruh pergerakan tubuh sang murid senior seketika membeku kaku di tempat. Warna kulit wajahnya berubah menjadi sangat pucat bagaikan kehilangan aliran darah. Tanpa diduga, dia segera menekuk bagian pinggangnya untuk memberikan sebuah gerakan membungkuk hormat yang sangat dalam dengan tempo yang cepat, sebelum kemudian melanjutkan langkah kakinya dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi dari biasanya.

Wang Hu dan Zhang Ming yang berada di belakangnya juga menunjukkan reaksi ketakutan yang serupa. Kedua pengikut setia itu ikut membungkuk dalam-dalam ke arah Zhao Fei, lalu berjalan tergesa-gesa tanpa berani memalingkan wajah mereka sedikit pun untuk menoleh ke belakang.

Ketiga pemuda angkuh itu dengan cepat menghilang di balik tikungan koridor bangunan kantin yang ramai.

Adapun Xiaopang menyaksikan seluruh adegan ganjil itu dengan posisi mulut yang terbuka setengah akibat didera rasa terkejut yang luar biasa besar.

"Peristiwa... peristiwa gila apa sebenarnya yang baru saja terjadi di depan mata kita ini?" bisik Xiaopang. "Bagaimana mungkin seorang Li Wei, yang terkenal memiliki watak angkuh sebagai murid senior sekaligus putra dari dewan sekte, bersedia membungkuk hormat setakut itu di hadapan seorang murid rendahan sepertimu? Ini benar-benar tidak masuk akal!"

Zhao Fei meraih potongan bakpao terakhir yang tersisa di atas piring, lalu memasukkannya ke dalam mulut dengan santai. "Aku hanya sempat memberikan sedikit pelajaran kedisiplinan yang berharga kepada mereka saat kami tidak sengaja bertemu di luar area sekte beberapa waktu yang lalu."

Xiaopang masih tetap mempertahankan ekspresi wajahnya yang melotot tidak percaya, memandang sahabatnya seperti sedang melihat makhluk asing. "Memberikan pelajaran? Kepada orang-orang sombong yang memiliki pengaruh besar seperti mereka? Hingga membuat mental mereka runtuh ketakutan seperti itu saat melihat wajahmu?"

Zhao Fei memilih untuk tidak memberikan detail jawaban tambahan. Dia hanya terus mengunyah makanannya dengan tenang sembari menikmati kesegaran sisa susu di gelasnya.

Di tengah kebingungan yang masih melanda Xiaopang, seorang murid dari divisi administrasi tampak berjalan dengan langkah cepat menghampiri meja makan mereka. Pemuda itu mengenakan seragam resmi yang sangat rapi, dengan ekspresi wajah yang terlihat teramat serius tanpa ada gurauan.

"Murid bernama Zhao Fei," panggil pemuda pembawa pesan itu dengan nada formal. "Tetua Utama saat ini memiliki keinginan untuk bertemu secara langsung dengan dirimu di dalam aula utama pertemuan. Beliau mengharapkan kehadiranmu sekarang juga tanpa ada penundaan waktu."

Mendengar pengumuman resmi itu, suasana keceriaan di meja makan seketika menguap. Wajah Xiaopang berubah menjadi sangat tegang dan dipenuhi oleh rasa khawatir yang mendalam atas nasib sahabatnya.

Zhao Fei meletakkan sisa bakpao yang tersisa, lalu menyeka permukaan kedua telapak tangannya pada kain celana latihannya dengan gerakan yang sangat tenang sebelum bangkit berdiri, menegakkan posisi punggungnya.

"Aku akan segera ke sana untuk memenuhi panggilan itu," jawab Zhao Fei.

Murid pembawa pesan itu menundukkan kepalanya, memberikan isyarat bahwa tugasnya telah selesai dilaksanakan, sebelum kemudian berbalik untuk segera pergi dari area kantin.

Zhao Fei menolehkan pandangan matanya ke arah Xiaopang yang masih duduk kaku di tempatnya. "Kau tetaplah tinggal di sini untuk menyelesaikan sisa makananmu. Aku akan pergi menyelesaikan urusan ini terlebih dahulu."

Sahabatnya itu hanya mampu memberikan gerakan kepala yang kaku sebagai bentuk persetujuan yang dipenuhi rasa cemas. "Selalu utamakan keselamatan dirimu, kawan. Hati-hati selama berada di dalam aula agung itu."

Zhao Fei mulai melangkah kaki meninggalkan area kedai bakpao dengan sangat tenang. Langkahnya tidak memperlihatkan adanya ketergesa-gesaan ataupun ketakutan sama sekali, dengan posisi punggung yang tegak lurus mencerminkan wibawa seorang penguasa sejati.

1
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
maaf Thor numpang komen,seorang dewa begitu mudahnya tewas di tikam tanpa ada penjelasan pake pusaka apa...supaya ada alasan logis koq bisa tewas begitu saja 🙏🙏🙏🙏
DanaBrekker: Terimakasih atas masukannya. ikuti terus perjalanan Zhao Fei ya... biar nanti ketemu alasannya 😄👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!