Bos mafia yang konon kejam dan tanpa ampun ternyata bisa memiliki sisi lembut dan perhatian. Atau, protagonis wanita selalu dianiaya oleh bos mafia, namun dalam perlawanannya ia secara bertahap dihargai, dan akhirnya meraih kebebasan serta cinta sejati. Bagaimana rasanya dipaksa menggantikan kakak atau adiknya untuk menikahi bos mafia yang ditakuti? Cerita seperti apa yang akan terjalin dalam prosesnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jemari Lembut di Atas Luka
Keheningan subuh menyelimuti kamar utama ketika detak jantung Nicholas yang konstan di bawah dada Elena menjadi satu-satunya melodi yang tersisa. Pria itu masih menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Elena, membiarkan helai rambut hitamnya yang sedikit basah oleh sisa air hujan menyentuh dagu gadis itu.
Untuk beberapa menit yang panjang, tidak ada kata-kata. Nicholas hanya mendekapnya, seolah tubuh kecil Elena adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak tenggelam ke dalam kegelapan dunia yang baru saja dia bantai di Pelabuhan Timur.
Perlahan, Elena mengumpulkan kekuatannya. Dia meletakkan kedua telapak tangannya di bahu Nicholas yang tidak terluka, mendorongnya pelan.
"Nicholas, lepaskan dulu. Darah di bahumu merembes ke gaun fisikku. Aku harus membersihkan lukamu."
Nicholas membuka kelopak matanya perlahan. Mata abu-abu itu tampak berkabut oleh kelelahan, kehilangan kilatan predator yang biasanya membuat orang-orang bersujud ketakutan.
Dia menatap wajah Elena dari jarak sedekat ini, meneliti sepasang mata abu-abu kecokelatan yang memancarkan kekhawatiran tulus sesuatu yang belum pernah Nicholas dapatkan seumur hidupnya sejak kematian ibunya.
Nicholas mengendurkan cengkeramannya di pinggang Elena, membiarkan gadis itu bangkit dari pangkuannya. Elena segera melangkah cepat menuju kamar mandi utama yang berlapis marmer.
Di sana, dia mengambil kotak pertolongan pertama berwarna putih bersimbol palang merah, sebotol alkohol antiseptik, kain kasa steril, dan sebaskom kecil air hangat lengkap dengan handuk kecil yang bersih.
Ketika Elena kembali ke sofa, Nicholas sudah berhasil membuka kancing-kancing kemeja putihnya yang bernoda darah. Pria itu menanggalkan kain yang rusak itu, mengekspos tubuh atasnya yang tegap, dengan otot-otot dada dan perut yang terbentuk sempurna dari latihan militer bertahun-tahun.
Namun, penglihatan Elena langsung tertuju pada deretan tato tribal hitam yang rumit di lengan kanan Nicholas, yang kini bersinggungan dengan luka goresan peluru yang cukup dalam di bahu atasnya.
Darah segar masih menetes perlahan, kontras dengan beberapa bekas luka lama berbentuk lubang peluru dan sayatan pisau yang sudah memutih di punggungnya.
Elena berlutut di atas karpet berbulu tepat di samping sofa, menaruh peralatan medisnya di lantai. Dia memeras handuk kecil setelah merendamnya di air hangat, lalu menatap Nicholas dengan ragu.
"Ini akan terasa sakit."
"Lakukan saja," jawab Nicholas datar, pandangannya lurus menatap dinding kosong, seolah rasa sakit fisik adalah hal terakhir yang bisa mengganggunya.
Elena mulai menyapukan handuk hangat itu ke sekitar luka Nicholas, membersihkan sisa-sisa darah kering dan jelaga mesiu yang menempel di kulit kecokelatan suaminya. Gerakan Elena luar biasa lembut, hampir seperti seorang seniman yang sedang membersihkan kanvas berharga dengan kuas halus.
Setiap kali jemari dingin Elena tidak sengaja menyentuh kulit telanjang Nicholas, pria itu akan merasakan otot-otot di rahangnya menegang secara refleks bukan karena sakit akibat luka, melainkan karena sensasi asing dari sentuhan yang penuh kelembutan.
Setelah area di sekitar luka bersih, Elena mengambil botol alkohol. Dia membasahi selembar kapas dengan cairan bening itu.
"Tahan," bisiknya pelan.
Begitu kapas beralkohol itu menyentuh luka terbuka di bahunya, Nicholas mengembuskan napas berat melalui hidung, tangannya yang berada di atas lutut mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Namun, dia tidak mengeluarkan suara rintihan sedikit pun. Elena menatap wajah pria itu dengan rasa kagum sekaligus ngeri; seberapa sering pria ini terluka hingga bisa menoleransi rasa sakit seperti ini dengan wajah sedatar es?
"Siapa yang melakukan ini padamu di pelabuhan?" Elena bertanya, mencoba memecah ketegangan sambil mulai mengoleskan salep antibiotik dan menata kain kasa di atas luka Nicholas.
"Orang-orang Moreno," sahut Nicholas, suaranya terdengar serak dan rendah di dalam ruangan yang sunyi.
"Mereka membawa senapan otomatis. Tapi Christian dan tim Alpha sudah membereskan mereka semua. Gudang Empat sudah kembali ke tanganku. Dan Marcus Moreno... dia baru saja kehilangan tiga jalur pasokan utamanya di pantai timur malam ini. Dia tidak akan berani menyentuh batas wilayahku lagi dalam waktu dekat."
Elena terdiam, tangannya bergerak memotong plester perekat untuk mengunci kain kasa di bahu Nicholas.
"Apakah hidupmu akan selalu seperti ini, Nicholas? Berada di antara peluru, darah, dan membalas dendam?"
Nicholas memutar kepalanya, menatap Elena yang kini jarak wajahnya hanya beberapa jengkal dari dadanya. Sebuah senyuman sinis yang sarat akan kepahitan muncul di sudut bibir pria itu.
"Ini adalah warisan, Elena. Ketika mendiang orang tuaku tewas, aku tidak mewarisi sebuah perusahaan properti atau saham di Wall Street. Aku mewarisi sebuah kekaisaran berdarah. Jika aku melepaskan senjataku bahkan hanya untuk satu hari, maka esok harinya kepalaku akan dipajang di alun-alun kota oleh musuh-musuhku. Termasuk ayahmu."
Mendengar nama Arthur Vance disebut, tangan Elena yang sedang merapikan plester mendadak berhenti. Dia menundukkan kepalanya, menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca di balik poni rambut panjangnya.
"Aku membencinya," bisik Elena lirih, suaranya bergetar menahan luapan emosi yang selama ini dia pendam sendiri di lantai bawah tanah rumah keluarga Vance.
"Aku membenci Arthur karena dia memperlakukanku seperti sampah yang tidak berharga. Aku membenci Alana karena dia selalu mendapatkan semua kebahagiaan dunia sementara aku harus hidup dalam bayangannya. Tapi... melihatmu membakar berkas utang itu tempo hari... melihatmu melindungiku malam ini... aku menyadari satu hal."
Elena mendongakkan wajahnya, menatap langsung ke dalam manik mata abu-abu Nicholas dengan air mata yang mengambang di sudut matanya.
"Kau bukan monster yang mereka ceritakan di luar sana, Nicholas. Kau hanya... seorang pria yang kesepian di dalam istana batumu sendiri."
Nicholas terpaku. Kata-kata Elena menembus dinding pertahanan terdalam yang telah dia bangun selama tiga puluh tahun hidupnya. Tidak ada seorang pun yang pernah menyebutnya pria kesepian.
Semua orang memanggilnya iblis, pembunuh, psychopath, atau sang penguasa kegelapan. Namun gadis di hadapannya ini, gadis yang dia bawa sebagai sandera pengganti justru bisa melihat melampaui noda darah di tangannya dan menemukan jiwa rapuh yang bersembunyi di balik jas mahalnya.
Nicholas mengulurkan tangan kirinya yang bersih dari noda, jemarinya yang panjang bergerak perlahan menyelipkan sehelai rambut pink lembut Elena ke belakang telinga gadis itu.
Telapak tangan besarnya kemudian menangkup pipi Elena, membiarkan kehangatan kulit gadis itu meresap ke dalam telapak tangannya yang kasar.
"Kau terlalu polos untuk berada di tempat ini, Elena," bisik Nicholas dengan suara yang melembut, kehilangan seluruh aksen dinginnya.
"Seharusnya kau membenciku karena aku telah mengurungmu di sini."
"Aku tidak bisa membenci pria yang ciumannya di dahiku membuatku merasa... aman di tengah badai," balas Elena berani, matanya tidak berkedip menatap Nicholas.
Mendengar pengakuan itu, kilatan aneh kembali muncul di kedalaman mata abu-abu Nicholas. Pria itu menarik perlahan tubuh Elena mendekat, mengikis sisa jarak di antara mereka hingga Elena bisa merasakan embusan napas Nicholas yang beraroma mint dan samar bau tembakau menghujani bibirnya.
"Kalau begitu, jangan pernah berpikir untuk pergi dari sisi ku, Elena Barrett," bisik Nicholas tepat sebelum dia memiringkan kepalanya dan menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang sama sekali berbeda dari ciuman sandiwara di hotel malam itu.
Ciuman kali ini lambat, penuh kelembutan yang menuntut, dan sarat akan perasaan posesif yang tulus. Nicholas melumat bibir bawah Elena dengan kehati-hatian yang luar biasa, seolah gadis di pelukannya adalah barang pecah belah yang paling berharga di dunianya.
Elena memejamkan mata, membiarkan tangannya naik dan bersandar pada dada bidang Nicholas, meremas bahu kokoh pria itu saat sensasi hangat yang membakar mulai menjalar ke seluruh pembuluh darahnya.
Di pagi hari yang sunyi ini, di bawah sisa-sisa rintik hujan, sang pengantin pengganti akhirnya menyadari bahwa dia telah sepenuhnya jatuh cinta pada sang bos mafia yang ditakuti seluruh kota.