Niat baik tidak selamanya berakhir baik, hal ini terjadi pada rumah tangga Hanna dan Rizal
Malam itu keduanya menyelamatkan seorang wanita yang mendapat kekerasan dari suaminya
Mereka membawa tubuh lemah itu kerumah dan memberikan perawatan hingga wanita bernama Arum itu pulih
Namun nasib buruk menghampiri Hana, wanita yang telah ia selamatkan ternyata menjadi racun bagi rumah tangganya bersama sang suami
Pada akhirnya Rizal terjerat oleh pesona wanita lugu bernama Arum itu, hingga pernikahannya yang telah dikaruniai dua buah hati berakhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Sementara itu Hanin tengah mengantar sang keponakan untuk menjalani pemeriksaan rutin. Bayi kecil itu baru saja keluar dari ruang seorang dokter anak
"Hanin" Gadis berhijab yang tengah menggendong seorang bayi perempuan menoleh
"Dokter Rama" Hanin tersenyum pada seorang pria yang menghampirinya "Apa kabar dok?"
"Baik, bagaimana dengan kamu?" Tanya Dokter muda itu pada Hanin
"Baik"
"Dan bagaimana dengan princess cantik ini?" Dokter Rama memandang bayi kecil yang terlelap dalam gendongan Hanin
Hanin hanya tersenyum "Sudah selesai bertemu dokter?"
"Sudah dok"
"Baguslah!" Rama menatap gadis cantik dihadapannya "Besok adalah jadwal terapi Hanna, kamu ingin pergi?"
Hanin mengangguk "Iya dok, dan kebetulan saya sedang tidak sibuk jadi bisa menemani mbak Hanna untuk beberapa hari"
Dokter Rama mengangguk "Kita akan pergi bersama kalau begitu"
"Dokter juga ingin menjenguk mbak Hanna?"
"Bukan, saya hanya ingin tahu bagaimana progres penyembuhannya saja" Jawab Rama
"Kirain dokter kecantol sama kakak saya" Hanin terlihat menggoda dan dokter tampan itu hanya tersenyum
Kamu bawa mobil sendiri?" Tanya Rama
"Saya pake taksi online, soalnya gak ada yang nemenin tadi" Jawab gadis bermata bulat itu
"Kalau begitu biar saya antar saja!" Dokter Rama menawarkan
"Tidak perlu dok, saya tidak ingin merepotkan. Taksi nya juga sudah menunggu diluar" Jawab Hanin dan dokter Rama hanya bisa tersenyum
"Kalau begitu saya antar sampe depan saja" Hanin mengangguk lalu keduanya berjalan menuju keluar
Disana sudah ada mobil yang menunggu, itu adalah taksi online yang dipesan oleh Hanin sebelumnya
Dokter Rama membuka pintu penumpang agar Hanin dapat masuk "Terima kasih dokter"
"Hati-hati dijalan! Kalau ada apa-apa segera kabari saya!" Ujar dokter Rama sebelum menutup pintu "Jangan ngebut yaa pak! Dia keluarga saya"
"Iya mas"
Mobil melaju, namun Hanin bertanya dalam hati apa arti dari perhatian yang dokter Rama berikan
"Apa dokter Rama naksir mbak Hanna yaa? Makanya dia baik banget sama aku dan Eleanor?"
Hanin menggeleng, bukan saatnya memikirkan tentang masalah seperti ini. Sekarang saatnya untuk fokus pada kesembuhan Hanna
***
Singapore
Hanin memeluk sang kakak saat mereka baru saja bertemu setelah beberapa hari. Beberapa bulan sudah berlalu dan selama itu Hanna berada di negara Singapura ini untuk menjalani terapinya dan perubahan itu sangat terlihat
"Mbak Hanna keliatan fresh banget" Hanin memegang kedua bahu kakaknya
"Ini semua karena dukungan kalian, dan tentu saja berkat pertolongan dokter Rama" Hanna tersenyum pada pria yang berdiri disamping adiknya
"Saya tidak melakukan apapun, ini semua berkat usaha kamu sendiri" Ujar dokter tampan itu
"Tidak dok, saya bisa seperti ini karena dokter! Jika dokter tidak ada malam itu mungkin saya sudah menyesal saat ini" Ujar Hanna
Hanna tidak akan pernah melupakan pertolongan dokter tampan ini, andai malam itu dokter Rama tidak ada, mungkin dirinya tidak akan disini dan tidak akan pernah melihat putrinya
"Oh iya, apa Elea gak bisa yaa dibawa kesini?" Tanya Hanna
Ia merindukan putrinya, selama ini Hanin hanya memberikan foto serta video tentang perkembangan putrinya yang semakin hari semakin menggemaskan
"Gak bisa mbak, kalau mbak Hanna mau liat Elea berarti mbak Hanna harus cepat sembuh dan kita bisa pulang!" Ujar Hanin membuat sang kakak mendengus
"Kamu mah, padahal mbak udah kangen banget sama Eleanor!"
"Sabar Mbak!"
"Iya, ya sudah lupakan itu! Ayo kita makan! Mbak udah masak" Hanna terlihat antusias
"Mbak Hanna udah bisa masak?" Tanya Hanin mengingat selama ini sang kakak tidak pernah berada didapur
"Bisa dong, bi Tini ngajarin mbak masak!" Hanna menarik tangan adiknya dan Rama mengikuti dibelakang
Dokter tampan itu hanya tersenyum melihat interaksi dua wanita itu. Entah kenapa ia merasa hangat dan ingin menjadi bagian dari mereka
Hanna begitu antusias menunjukkan hasil masakannya pada Hanin serta dokter Rama. Hanin mulai mencicipi hasil masakan sang kakak
"Waah... Ini enak banget mbak! Aku gak nyangka mbak Hanna jadi jago masak" Puji Hanin lalu kembali melanjutkan makannya
"Beneran?" Hanin mengangguk membuat Hanna bahagia "Kalau gitu makan yang banyak! Ayo dokter!"
Rama tersenyum lalu menerima makanan pemberian Hanna dan mulai memakannya "Bagaimana dokter? Enak gak?"
"Ini enak, sangat enak" puji dokter tampan itu membuat Hanna kian berbinar
"Ayo mbak! Mbak Hanna juga makan" Hanna ikut duduk serta makan bersama, sesekali mereka juga bersenda gurau dan tertawa
Setelah makan siang bersama, ketiganya kini duduk bersantai diruang tengah apartemen mewah itu
"Sebentar yaa aku ambilin cemilan dulu!" Hanna bangun dari duduknya
Setelah Hanna menghilang didapur, Hanin menyenggol lengan dokter tampan yang sejak tadi melirik kearah sang kakak
"Dokter naksir yaa sama mbak Hanna?" Goda Hanin membuat dokter Rama menatap kearahnya
"Kamu bicara apa?" Dokter Rama hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan gadis cantik itu
"Kalau iya juga gak apa-apa kok dok, saya sih setuju saja. Hanya saja tunggu sampai mbak Hanna resmi jadi janda" Ujar Hanin membuat dokter Rama terbelalak
"Kamu jangan ngawur, lagian siapa yang naksir Hanna sih?" Dokter tampan itu terlihat gugup lalu mengalihkan pandangannya kearah lain
"Jangan telat dok, nanti dokter nyesel loh" Rama memilih mengabaikan gadis cerewet ini
Tak lama Hanna datang dengan nampan berisi beberapa cemilan, ada Tini juga yang datang dengan tiga gelas jus jeruk
"Ayo!" Hanna duduk di sofa single sementara Hanin dan dokter Rama duduk di sofa panjang
"Ayo dokter! Jangan malu-malu!" Goda Hanin dan yang digoda malah terlihat cuek
"Kalian memiliki hubungan?" Tanya Hanna tiba-tiba membuat Dokter Rama menyemburkan jus yang tengah ia sesap
"Hati-hati dok!" Hanin dengan sigap mengusap punggung dokter tampan itu untuk meredakan batuknya
"Kok dokter Rama keliatan gugup? Tebakan aku bener yaa?" Goda Hanna sambil menaik turunkan alisnya
"Gak ada yang seperti itu mbak, lagian dokter Rama itu lagi naksir cewek, iya kan dok?"
Rama menatap kakak beradik ini dengan tatapan aneh, mereka memiliki sifat yang sama yaitu menggoda orang
"Lupakan itu, oh iya mbak. Selanjutnya gimana? Mbak akan berpisah kan dari baji__ itu?" Tanya Hanin mengalihkan pembicaraan
"Tentu saja" Jawab Hanna dengan yakin "Setelah pengobatan mbak selesai, maka mbak akan mengakhiri semuanya"
"Itu bagus, aku juga udah muak ngeliat mas Rizal datang kerumah buat nyariin mbak"
Hanin tidak bohong, selama beberapa bulan ini Rizal memang selalu datang kerumah mereka untuk mencari Hanna
Walaupun ia tahu jika Hanna tidak berada dirumah dan tengah menjalani pengobatan. Namun pria itu bersih keras ingin tahu dimana Hanna menjalani pengobatan
ngapain juga ngurusin laki bgitu kl Aku mah bodo amat.
Aku dah ngrasain kok dan gk sebucin itu ma laki.
di khianati tambah sukses bukan mlh Gila Dan gk bisa move on plus plenger.