Niat baik tidak selamanya berakhir baik, hal ini terjadi pada rumah tangga Hanna dan Rizal
Malam itu keduanya menyelamatkan seorang wanita yang mendapat kekerasan dari suaminya
Mereka membawa tubuh lemah itu kerumah dan memberikan perawatan hingga wanita bernama Arum itu pulih
Namun nasib buruk menghampiri Hana, wanita yang telah ia selamatkan ternyata menjadi racun bagi rumah tangganya bersama sang suami
Pada akhirnya Rizal terjerat oleh pesona wanita lugu bernama Arum itu, hingga pernikahannya yang telah dikaruniai dua buah hati berakhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Warsih mendekat, ia memeriksa tubuh sang majikan yang tidak bergerak dan sudah terduduk diatas lantai. Hanna memegangi pipinya yang terasa begitu perih
Sepuluh tahun menikah dan hari ini Rizal melayangkan tangannya "Ibu gak apa-apa?"
Warsih membawa pandangannya pada Rizal yang tengah membantu Arum berdiri. Keadaan keduanya membuat Warsih tahu apa yang baru saja keduanya lakukan
"Kamu kekamar dan jangan keluar!" Titah Rizal, Arum mengangguk dan segera berlari masuk kedalam kamar dengan memegangi kepalanya yang terasa begitu sakit
Rizal membawa pandangannya pada sang istri yang belum berdiri, ia tidak sadar melakukannya. Ia hanya tidak ingin menanggung malu dari apa yang akan istrinya lakukan
"Sayang" Rizal menyentuh pundak istrinya namun wanita hamil itu bergeming "Sayang maafkan aku!"
"Ibu"
"Sayang tolong katakan sesuatu!" Rizal benar-benar takut, ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Hanna dan calon anak mereka
Hanna tersadar, ia mendorong tubuh suaminya dengan kasar hingga membuat Rizal tersungkur
Dengan cepat Hanna bangun dari duduknya, rasanya tamparan yang diberikan Rizal tidak ada apa-apanya dari sakit hati yang pria itu berikan
"Kamu menjijikan! Aku benci kamu, aku tidak ingin bersama kamu lagi, tidak akan!" Hanna ingin pergi namun Rizal mencegah
"Tolong jangan katakan itu, aku minta maaf! Aku khilaf!"
"Sudah berapa lama?" Tanya Hanna dengan suara dingin namun Rizal diam
"Katakan sudah berapa lama!" Teriak Hanna
"Dua bulan"
"Artinya kalian melakukan itu sejak pertama kali Arum berada di rumah ini?" Hanna tak percaya ini, dirinya dibohongi dua orang kepercayaannya selama dua bulan lamanya
"Sayang aku khilaf aku minta maaf" Rizal berusaha menyentuh namun wanita itu kembali mundur
"Khilaf kamu bilang? Kamu melakukannya berkali-kali dan kamu bilang khilaf?" Hanna hanya bisa menggelengkan kepalanya
"Bu, sebaiknya ibu tidak terbawa emosi! Takutnya akan menyakiti janinya!" Warsih ikut mengingatkan majikannya itu
"Apa mbok juga sudah tau tentang ini?" Warsih menatap kearah Rizal dan sepertinya Hanna mengetahui semuanya
"Kenapa? Kenapa mbok menutupi semuanya dari aku? Kenapa mbok?" Hanna menangis pilu, sejak tadi ia hanya marah dan berteriak saja dan saat ini hatinya benar-benar terluka
"Maaf Bu!" Warsih menunduk tak berani menatap sang majikan "Bapak mengancam akan menyakiti keluarga mbok dikampung kalau mbok berani bicara!"
Hanna menatap suaminya penuh amarah, bagaimana bisa suaminya melakukan semua ini? Sejak kapan pria lembut ini menjadi seorang monster
"Kamu melakukan semua itu mas? Kamu tega mengancam mbok Warsih agar kelakuan bejat kamu tidak terbongkar!" Hanna menatap suaminya dengan tatapan kecewa
"Maafkan aku, aku menyesali semuanya Hanna! Aku janji ini yang terakhir!"
"Aku tidak akan memaafkan kamu! Aku akan mengakhiri semuanya!" Rizal menggeleng, ia tidak akan sanggup kehilangan Hanna dengan alasan apapun
"Tidak, aku tidak ingin berpisah dari kamu aku mencintai kamu Hanna!"
Hanna tersulut emosi, Rizal hanya memejamkan matanya saat Hanna memukuli dadanya untuk menyalurkan amarahnya
"Aku membenci kamu! Aku tidak akan pernah memaafkan kamu! Tidak akan pernah!" Hanna berhenti saat dirinya merasa puas lalu kembali menangis
"Aku mohon maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya! Aku hanya ingin kamu" Rizal menangis
Tubuhnya luruh, ia tidak sanggup membayangkan akan sehancur apa hidupnya tanpa Hanna
Pria itu bersimpuh dibawah kaki Istrinya sambil meraung tidak ingin berpisah "Hukum aku apapun, Hanna! Tapi aku mohon jangan pernah meninggalkan aku"
Hanna menepis tangan suaminya, wanita hamil itu melangkah cepat menuju luar rumah dan Rizal segera mengejar langkah istrinya
"Hanna!" Rizal dapat mencegat tangan istrinya hingga Hanna berhenti "Jangan pergi! Aku tidak akan pernah melakukan ini lagi! Aku bersumpah!"
"Simpan sumpah kamu itu mas! Karena aku tidak membutuhkannya!" Hanna kembali melangkah, wanita hamil itu memejamkan matanya kuat demi menghalau rasa sakit pada perutnya
"Kamu kenapa? Kita kerumah sakit yaa!" Rizal benar-benar mengkhawatirkan keadaan Hanna yang tengah hamil tua
"Lepas!" Hanna menepis tangan suaminya. Ia memaksakan langkahnya hingga tiba disamping mobil Rizal
Hanna menoleh, ternyata suaminya lupa untuk melepas kunci mobilnya. Hanna berdecih, pria breng___ itu jelas sudah tidak bisa menahan diri
Hanna membuka pintu mobil namun Rizal kembali berhasil mencegah dengan menutup pintu mobil
"Kamu tidak boleh pergi dalam keadaan seperti ini! Ini bahaya untuk kamu dan anak kita!" Ujar Rizal
"Berhenti mikirin aku! Sebaiknya kamu urus tuh simpanan kamu!"
Rizal menjerit saat tulang keringnya ditendang oleh istrinya sendiri. Wanita itu lalu masuk kedalam mobil dan mengemudi meninggalkan rumah
Rizal berjalan pincang demi untuk menyusul istrinya, sial sekali karena mobil lain tengah digunakan oleh Ipul untuk menjemput anak-anak
"Sial, dimana Ipul?" Rizal menendang udara lalu kembali masuk kedalam rumah
Rizal kembali kekamar Arum demi menemukan ponselnya, ia harus mengabari Ipul lalu menyusul sang istri yang tengah marah
Rizal merogoh saku celananya yang sebelumnya teronggok diatas lantai kamar Arum
"Gimana mbak Hanna? Apa dia pergi?" Rizal tidak menjawab, pria itu sibuk mencari nomor sang supir untuk memintanya cepat pulang
"Mas jawab aku!" Arum memaksa agar Rizal menatapnya
"Menurut kamu apa?" Bentak Rizal Apa Hanna akan memaafkan aku dan tetap dirumah ini?" Rizal tengah kesal saat ini dan Arum malah bertanya sesuatu yang membuatnya semakin kesal
"Jika mbak Hanna mengajukan gugatan cerai, apa mas akan menikahi aku?"
Rizal mengerutkan keningnya "Aku tidak akan pernah berpisah dari Hanna! Aku yakin itu"
"Tapi mas!" Rizal memberi isyarat agar Arum diam
"Kamu pulang sekarang juga! Saya butuh mobil!"
Rizal menutup teleponnya setelah mendengar sahutan dari sang supir. Pria itu menunggu dengan gelisah sembari terus menghubungi nomor sang istri
Sementara itu Hanna tengah berada disebuah taman. Wanita hamil itu menangis sambil memandang ke depan dimana terdapat sebuah danau buatan yang indah
Aaaarrrrrggghhh
"Kenapa? Kenapa kamu melakukan ini mas? Kenapa?" Wanita cantik itu luruh, tak peduli pakaiannya yang kotor
"Apa salahku mas? Kenapa kamu tega"
Hanna menghabiskan waktunya disana hingga hari sudah sore. Rizal juga saat ini tengah mencari keberadaan istrinya
"Dimana kamu Hanna? Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi pada kalian?" Bukan hanya Hanna, Rizal juga mengkhawatirkan janin yang ada didalam kandungan istrinya
Dokter mengatakan jika kehamilan Hanna beresiko. Tekanan darah yang tinggi bisa memicu komplikasi pada persalinannya
Hari sudah gelap saat mobil yang dikendarai Hanna tiba didepan sebuah jembatan layang
Wanita itu keluar dari mobilnya lalu menatap padatnya jalanan kota malam ini dari atas jembatan
Tatapannya kosong, rasanya seluruh anggota tubuhnya tidak lagi merasakan apapun. Ia tidak ingin berpikir tentang apapun lagi
Pengkhianatan ini begitu menyakitkan baginya, dirinya salah karena sudah menyelamatkan seorang wanita malam itu
Andai ia mendengarkan Rizal bahwa mereka tidak seharusnya ikut campur dalam masalah orang lain maka semua ini tidak akan pernah terjadi
semoga byk yg baca