NovelToon NovelToon
Takdir Baru di Malam Lamaran

Takdir Baru di Malam Lamaran

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Cinta setelah menikah / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Chicklit / Tamat
Popularitas:67.8k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Nadia terbangun kembali di malam lamarannya, tepat saat Bella, adik tirinya, ketahuan bersama Arman, calon suaminya. Semua orang memintanya mengalah demi nama baik keluarga. Namun kali ini Nadia tidak mau menjadi korban lagi.
Ia tahu masa depan Arman: pengkhianatan, kekerasan, dan rahasia kelam yang akan menghancurkan siapa pun yang menikah dengannya. Maka saat Bella merebut Arman, Nadia justru tersenyum dan memilih Raka, paman Arman yang sakit-sakitan tapi berhati teguh.
Bella mengira ia mencuri takdir terbaik. Ia tidak tahu, yang ia rebut adalah awal dari neraka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12 - Surat dari Kelurahan

Nadia mengurus surat pengantar kelurahan bersama Raka keesokan paginya.

Sari ingin ikut, tapi Nadia menyuruhnya membuka warung kecil di depan rumah seperti biasa. Hidup tidak berhenti hanya karena drama keluarga. Justru karena hidup harus jalan, uang belanja tetap perlu dicari.

Kantor kelurahan ramai. Orang-orang mengurus KTP, surat pindah, surat keterangan usaha. Di ruang tunggu, kipas angin tua berbunyi keras tapi tidak banyak menolong panas.

Nadia duduk di kursi plastik, memegang map dokumen.

Raka duduk di sebelahnya. Sesekali ia batuk, tapi hari ini wajahnya lebih segar. Mungkin karena cuaca tidak terlalu dingin, atau karena ia memaksa dirinya terlihat baik agar Nadia tidak khawatir.

"Mas Raka tidak perlu selalu ikut," kata Nadia.

"Kenapa?"

"Dokumenku bisa aku urus sendiri."

"Saya tahu."

"Lalu?"

"Saya calon suamimu. Hadir bukan berarti menganggapmu tidak bisa."

Nadia menatapnya.

"Mas Raka selalu punya jawaban yang membuatku sulit membantah."

"Itu bagus atau buruk?"

"Belum tahu."

Raka tersenyum.

Petugas memanggil nama Nadia. Mereka masuk ke ruang pelayanan. Semua berjalan lancar sampai seorang pegawai perempuan membaca berkas dan mengangkat kepala.

"Ini yang kemarin malam itu, ya?"

Nadia tahu nada itu.

Nada orang yang pura-pura bertanya, padahal sudah menyimpan cerita.

"Yang mana, Bu?"

Pegawai itu agak salah tingkah.

"Ya... yang batal dengan Mas Arman."

Nadia tersenyum sopan.

"Bukan batal, Bu. Diselamatkan."

Raka menunduk sebentar.

Pegawai itu terdiam, lalu batuk kecil.

"Oh. Begitu."

"Iya. Mohon suratnya diproses sesuai dokumen."

"Tentu."

Nadia duduk tegak. Ia tidak marah. Ia hanya memastikan percakapan kembali ke tempatnya.

Ketika keluar dari ruangan, Raka berkata, "Kamu cepat sekali membalik kata."

"Kalau tidak cepat, kata orang lain yang menempel."

"Lelah?"

"Dulu iya. Sekarang lumayan menyenangkan."

Mereka menunggu surat selesai di koridor. Seorang bapak tua duduk di dekat mereka, memegang map lusuh. Ia beberapa kali batuk dan memijat dada.

Nadia memperhatikan.

Napas bapak itu pendek. Bibirnya sedikit pucat.

Raka mengikuti arah pandangnya.

"Kenapa?"

"Bapak itu tidak baik-baik saja."

Belum sempat Raka menjawab, bapak tua itu tiba-tiba terkulai. Mapnya jatuh, kertas berhamburan. Orang-orang di sekitar berteriak.

"Pak! Pak!"

"Panggil petugas!"

"Bawa ke puskesmas!"

Nadia bergerak lebih dulu.

Ia berlutut di samping bapak itu, memeriksa napas dan denyut nadi. Lemah. Tidak stabil.

"Mas Raka, minta orang panggil ambulans atau mobil. Jangan diberi minum dulu."

Raka langsung berdiri.

"Pak, tolong hubungi puskesmas. Ada yang punya mobil?"

Suara Raka tegas. Orang-orang yang panik mulai bergerak. Petugas kelurahan berlari keluar.

Nadia membuka kancing atas baju bapak itu agar napasnya lebih longgar. Ia memposisikan tubuhnya, lalu mulai kompresi dada ketika napasnya hilang.

Seorang ibu menjerit.

"Jangan ditekan begitu! Nanti patah!"

Nadia tidak berhenti.

"Kalau tidak ditekan, beliau bisa meninggal."

"Kamu dokter?"

"Saya sedang menolong."

Raka berdiri di dekat Nadia, menahan orang agar tidak terlalu dekat.

"Beri ruang. Jangan kerumuni."

Ada sesuatu dalam suara Raka yang membuat orang menurut. Bukan keras, tapi jelas.

Nadia terus menghitung dalam hati. Satu, dua, tiga. Keringat turun di pelipisnya. Ingatan kehidupan lalu tentang berbagai pertolongan pertama muncul bersama kemampuan yang sejak kembali terasa lebih tajam. Ia tidak tahu apakah ini hadiah atau beban. Yang jelas, ia tidak bisa diam melihat orang sekarat.

Beberapa menit terasa panjang.

Bapak itu tiba-tiba menarik napas kasar.

Orang-orang berseru.

"Hidup!"

"Ya Allah, alhamdulillah!"

Nadia berhenti, mengatur napas.

Raka jongkok di sebelahnya.

"Kamu baik-baik saja?"

"Aku baik."

"Tanganmu gemetar."

Nadia melihat tangannya. Benar, jemarinya gemetar.

"Adrenalin."

Raka mengeluarkan saputangan bersih, memberikannya. Nadia menerima dan mengusap keringat.

Petugas membawa mobil kelurahan. Bapak tua itu diangkat hati-hati. Sebelum dibawa, ia sempat membuka mata sedikit.

"Terima kasih..."

Nadia mengangguk.

"Jangan banyak bicara dulu, Pak."

Setelah mobil pergi, koridor kelurahan masih ramai. Tapi bisik-bisik berubah. Pegawai yang tadi menyinggung Arman kini menatap Nadia dengan kagum.

"Mbak bisa begitu?"

"Pernah belajar."

"Hebat sekali."

Nadia tidak menjawab panjang.

Surat pengantarnya selesai lebih cepat dari perkiraan.

Saat mereka keluar dari kantor kelurahan, Raka berjalan lebih lambat. Nadia mengira ia lelah, tapi ternyata ia sedang menatapnya.

"Apa?"

"Kamu sering membuat saya merasa tidak mengenal batas kemampuanmu."

"Takut?"

"Tidak."

"Lalu?"

"Bangga mungkin. Tapi rasanya terlalu cepat untuk bilang begitu."

Nadia tertawa pelan.

"Mas Raka boleh menyimpan dulu. Seperti aku menyimpan percaya."

"Baik."

Mereka naik mobil. Namun belum sempat pergi, ponsel Nadia berbunyi. Nomor Sari.

"Mbak?"

Suara Sari terdengar panik.

"Nad, kamu bisa pulang sekarang? Bella dan Bu Ratna datang ke rumah. Mereka ribut dengan Joko."

Wajah Nadia langsung berubah.

"Ribut kenapa?"

"Mereka bilang barang seserahan yang ada di rumahku harus dibagi. Katanya sebagian untuk biaya Bella."

Nadia menutup mata sebentar.

Tentu saja.

Uang dan barang selalu membuat orang-orang itu bergerak lebih cepat daripada rasa malu.

Raka menyalakan mesin.

"Ke rumah Mbak Sari?"

Nadia menatapnya.

"Mas Raka dengar?"

"Cukup."

"Aku bisa tangani."

"Saya tahu."

Mobil bergerak.

"Saya ikut bukan karena kamu tidak bisa," kata Raka sebelum Nadia sempat protes.

Nadia menoleh.

Raka menatap jalan.

"Saya ikut karena mereka harus belajar bahwa kali ini kamu tidak berdiri sendirian."

Nadia diam.

Kalimat itu membuat semua kemarahannya tertata rapi.

Ketika mobil berhenti di depan rumah Sari, suara ribut terdengar sampai jalan.

Bu Ratna berdiri di teras dengan wajah terluka.

"Kami bukan mau mengambil! Kami hanya minta keadilan. Bella juga anak rumah itu. Kalau Nadia mendapat seserahan sebanyak ini, masa adiknya tidak dibantu?"

Joko berdiri kaku di depan pintu, jelas tidak terbiasa menghadapi perempuan menangis. Sari di belakangnya memegang Rani.

Bella duduk di kursi, wajah pucat, tapi matanya mengawasi kotak-kotak di sudut ruangan.

Nadia turun dari mobil.

"Keadilan?"

Semua orang menoleh.

Bu Ratna langsung memasang wajah lebih sedih.

"Nadia, akhirnya kamu datang. Ibu hanya ingin bicara baik-baik."

Raka turun di belakang Nadia.

Wajah Bu Ratna berubah sedikit.

Nadia masuk ke teras.

"Bicara baik-baik biasanya tidak dilakukan dengan membuat kakakku panik."

Bu Ratna berkata, "Kamu salah paham. Bella sebentar lagi juga menikah. Biayanya banyak. Kamu kakaknya. Wajar kalau membantu."

Nadia menatap Bella.

"Bella, kamu ingin aku membiayai pernikahanmu dengan laki-laki yang kamu rebut dariku?"

Bella menunduk.

"Aku tidak bilang begitu."

"Tapi kamu datang ke sini."

Bu Ratna menyela, "Ibu yang mengajak."

"Tentu. Bella biasanya tidak berjalan sendiri kalau ada uang di ujung jalan."

Bu Ratna marah.

"Nadia, jangan menghina!"

Raka maju satu langkah.

"Bu Ratna, barang-barang itu sudah tercatat sebagai hak Nadia dalam kesepakatan tertulis."

"Mas Raka, ini urusan keluarga kami."

"Sebentar lagi Nadia keluarga saya juga."

Bu Ratna terdiam.

Nadia membuka pintu lebih lebar.

"Masuk, Bu. Kita bicara di depan semua orang. Aku ingin dengar bagaimana Ibu menjelaskan bahwa korban harus membiayai pernikahan orang yang mengkhianatinya."

Wajah Bu Ratna pucat.

Di belakangnya, Bella mendadak berdiri.

"Bu, pulang saja."

Nadia menatap Bella.

Bella menghindari matanya.

Untuk pertama kalinya, Bella tahu rasa malu.

Sayangnya, malu itu bukan karena telah menyakiti Nadia.

Melainkan karena ketahuan ingin mengambil bagian yang bukan miliknya.

Joko akhirnya menutup pintu setelah mereka pergi. Gerakannya pelan, tapi kali ini tidak ragu. Ia menatap Sari, lalu Nadia.

"Maaf," katanya. "Tadi aku terlalu lama berpikir."

Sari tampak terkejut. Selama menikah, Joko jarang meminta maaf lebih dulu. Biasanya ia diam sampai masalah dianggap hilang.

Nadia melihat perubahan kecil itu dan menyimpannya. Tidak semua laki-laki langsung menjadi berani. Ada yang harus melihat batas diinjak di depan mata sebelum sadar bahwa diam juga bisa menyakiti.

"Lain kali," kata Nadia, "cukup bilang rumah ini bukan tempat orang mengambil barang tanpa izin."

Joko mengangguk.

Raka berdiri di sisi Nadia, tidak ikut menggurui. Tapi keberadaannya membuat kalimat Nadia tidak terasa seperti teriakan sendirian.

Kali ini.

1
Murni Sumiarti
Bingung
🤣🤣🤣
Endang Sulistia
di bab atas anak sari namanya Rani...trus mereka buka warung ..🤔🤔kok makin bingung ya thor🤦🤦
Endang Sulistia
bingung mbak Lilis apa Bu Lilis 🤦🤦
Endang Sulistia
Arman cucu pak Hendra,trus ortunya siapa ya..🤔🤔
Endang Sulistia
🤭🤣🤣🤣 biar hemat ya
Endang Sulistia
setajam silet ya nad
Endang Sulistia
oke Tante..🤪🤪🤪
Endang Sulistia
🤪🤪🤪🤪
ria sopingi
gw bingung cerita ini, raka adik Hendra tp manggil lilis ibu sementara si Arman manggil ibu katanya keponakan raka hadohhhh
Yan Wui
Kok anaknya sari mana ya kak
chataleya
sakit jiwa nih Arman 🤭
Ari Peny
d sini rada bingung kok sari panggil kak k nadia dan aq penasaran raka kerjanya apa kok uangnya d pakai buat arman
chataleya
dasar Bella.... andalannya cuma tangisan...
chataleya
semestinya keluarga adalah tempat yang teraman bukan membuat rasa terancam. gimana sih pak Darto??!!!
chataleya
sebenarnya Nadia kehilangan. tapi kehilangan kesempatan masuk neraka rumah tangga bersamamu Arman. 🤣 dan kesempatan itu diambil Bella 🤭
chataleya
untung ada mbak sari....👍
chataleya
bagaimana Arman, apa kamu seperti merasa kehilangan sesuatu??? 🤭
chataleya
duar..duar..duar... Shok kan kaliannnn... 🤣🤣🤣 jantung aman kan Arman... Bella... 🙈
chataleya
detik-detik kemerdekaan Nadia 😍
chataleya
aku bacanya seperti sedang menonton film India 🤭 jadi agak greget gitu dengan kelakuan keluarga Nadia 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!