Bagi orang lain, mendapat warisan adalah jalur cepat menjadi kaya. Namun, berbeda dengan Budiman. Warisan yang ia dapat, malah membuat hidupnya nelangsa karena mendapat warisan toko kelontong yang mau bangkrut karena hutang warga yang tak kunjung dibayar.
Lelah menagih dan kesal setiap hari ditipu janji manis, Budiman justru berharap warung itu bangkrut saja. Ia ingin menutupnya dan bekerja sebagai karyawan biasa, hidup tanpa pusing memikirkan hutang orang lain.
Namun, takdir berkata lain.
Saat ia benar-benar mencoba menghancurkan warung peninggalan orang tuanya dengan menjual murah semua, menolak pembeli, bahkan membiarkan stok habis, sebuah suara aneh tiba-tiba muncul di kepalanya:
[ Sistem Kompensasi Finansial 'Makin Bangkrut Makin Kaya' Resmi Diaktifkan! ]
Bagaimanakah kisah Budiman yang berusaha bangkrut tetapi tak kunjung sukses? Ikuti alur cerita ini yah ....
#kehidupandidesa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Ekspansi Besar-Besaran
Budiman mengernyit kesal, matanya sampai berkedut menatap deretan teks emas yang masih mengambang di udara. Dada pria itu naik-turun menahan dongkol yang sudah sampai ke ubun-ubun.
'Sembilan belas kabupaten dan kota?! Kau kira membangun ruko itu seperti membalik telapak tangan hah? Sistem gilo?!' makinya dalam hati.
Namun, misi dari Sistem sudah mutlak. Mau tak mau, dana tujuh belas setengah miliar rupiah dalam bentuk valuasi saham digital itu harus segera diputar menjadi aset nyata berupa cabang Budiman Mart di seluruh penjuru Sumatera Barat. Mulai dari wilayah pesisir di Pesisir Selatan, dataran tinggi Bukittinggi, perbatasan dengan Provinsi Sumatera Utara, Riau, Jambi, hingga menyeberang lautan ke Kepulauan Mentawai.
"Uda ... Uda tidak apa-apa?" suara Anto memecah keheningan, membuyarkan tatapan kosong Budiman pada langit-langit kantor.
Budiman menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Dia memperbaiki posisi duduknya, menatap Anto dan Elimar dengan pandangan yang mendadak dingin dan penuh perhitungn. Jiwa pemberontaknya bangkit lagi.
"Anto, Imar. Sini kalian," panggil Budiman, melambaikan tangan.
Kedua anak buahnya itu melangkah mendekat dengan ragu-ragu, takut kalau sang kakak sekaligus bos mendadak mengamuk lagi.
"Sistem, eh maksud Uda, tuntutan pasar memaksa kita untuk melakukan ekspansi massal," ujar Budiman serius.
"Kita harus membuka cabang Budiman Mart di seluruh kabupaten dan kota di Sumatera Barat. Totalnya ada sembilan belas wilayah."
"Sembilan belas, Da?!" Imar terpekik, matanya membulat.
"Itu terlalu luas, Da! Sepertinya, modal kita tak cukup kalau buka toko standar seperti ini."
"Soal modal, kalian tidak usah pusing. Biar itu jadi urusan Uda dengan investor," potong Budiman sombong, padahal batinnya menangis darah mengingat dana belasan miliar yang dipaksakan oleh Sistem.
"Tugas kalian sekarang adalah melakukan riset wilayah. Tapi ingat, jangan pakai logika orang normal."
Anto dan Imar saling pandang, mulai mencium gelagat aneh kembali.
"Maksudnya bagaimana, Da?"
"Cari wilayah yang paling sepi, paling terpencil, paling jarang dilewati kendaraan, dan kalau bisa yang penduduknya paling sedikit di kabupaten dan kota tersebut! Jangan ada yang berani survei ke dekat pasar, pusat kota, atau area wisata. Cari lokasi yang kalau orang mau belanja ke sana harus berpikir mending ibadah haji dulu karena saking jauhnya!"
"Tapi, Da ... kalau kita buka di tempat sepi, nanti tidak ada yang belanja. Kita bisa rugi bandar tiap bulan hanya untuk membayar sewa ruko dan listrik," protes Anto yang mulai paham pangsa pasar semenjak menjadi GM di Budiman Mart.
"Justru itu tujuannya, Anto gilo!" sentak Budiman hampir keceplosan. Dengan cepat ia menutup mulut dan meralat kalimatnya dengan dehaman keras.
"Ehem ... maksud Uda, itu adalah strategi blue ocean. Kita menjemput bola ke daerah yang tidak tersentuh korporasi besar."
Imar manggut-manggut, mulai mengagumi "kejeniusan" kakaknya ini.
"Ooh ... kini lah paham Imar, Da. Jadi kita menyasar pasar pelosok ya, Da?"
"Benar. Tapi itu baru tahap pertama," Budiman menyandarkan punggungnya ke kursi dengan senyum licik yang perlahan merekah.
"Ada satu aturan mutlak lagi untuk seluruh cabang baru ini."
Budiman mengetuk meja kerja dengan jarinya. "Jika harga murah kemarin malah membuat pembeli di internet menjadi gila dan mendatangkan suntikan dana dari luar negeri ... maka untuk seluruh toko fisik yang baru nanti, kita akan tingkatkan semua harga barang menjadi sepuluh kali lipat dibanding harga pasar!"
Ruangan itu mendadak hening. Anto bahkan sampai lupa cara bernapas selama beberapa detik.
"S-sepuluh kali lipat, Da?" bisik Imar memastikan dia tidak salah dengar.
"Jadi ... kalau harga mi instan biasanya tiga ribu, di toko baru kita dijual tiga puluh ribu?"
"Tepat sekali! Sabun, beras, minyak goreng, semuanya naik sepuluh kali lipat!" seru Budiman bersemangat, matanya berbinar-binar penuh kemenangan prematur.
'Hahaha! Rasakan itu, Sistem keparat! Tempatnya sudah di pelosok sepi, harganya mahal tidak masuk akal pula!'
'Orang Minang itu terkenal paling jeli dan penuh perhitungan kalau soal uang! Mana ada yang mau beli barang mahal sepuluh kali lipat di pelosok pula?!'
'Dengan begini, kas operasional awak akan terkuras habis untuk biaya sewa ruko tanpa ada uang masuk sepeser pun! Awak pasti miskin total dalam waktu satu bulan! Hahaha!'
Budiman tertawa histeris di dalam batinnya, merasa telah menemukan celah mutlak untuk menumbangkan Sistem.
[ bersambung ]