Rui Naru sebenarnya capek jadi pewaris yang hidupnya diatur-atur kakeknya. Baru bahagia sebentar saja bisa pulang ke Indonesia untuk memeluk sang bunda, kakek masih saja menjadi bayang-bayang yang terus mengekangnya.
Satu-satunya hiburan buat dia cuma Nuha, cewek polos berkuncir air mancur yang diam-diam dia taksir. Setiap kali bertemu, ada saja kesan yang membuatnya kian ingin mendekat.
Makanya, waktu tahu Nuha lagi diincar dan mau dimanfaatin sama cowok narsistik paling populer di sekolah, Naru enggak bisa tinggal diam lagi. Ini saatnya dia bertindak.
Naru nekat lepas total atribut mewahnya dan menyamar masuk ke sekolah Nuha lewat jalur yayasan ibunya. Dia rela jadi cowok "biasa" demi bisa jagain Nuha dari dekat sekaligus jadi pembatas dari gangguan Dilan.
Bisa tidak Naru sukses melakukan penyamarannya tersebut sampai akhir? Apa sih yang dia cari sebenarnya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Nurhuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Harapan & Kecewa
"Apaan sih, dasar iseng!" ketusnya tanpa menoleh. Mengira itu hanya ulah murid lain yang mau mencari gara-gara, Nuha tak mau menggubris.
"Makanya, banyakin minum susu biar cepat tinggi! Udah SMK aja masih kek anak SMP," cibir suara itu lagi, terdengar sangat usil.
"Hish!"
Nuha menghentakkan kakinya kesal. Begitu ia menolehkan wajahnya dengan cemberut, sosok cowok menyebalkan yang barusan bicara sudah menghilang tertelan angin.
Nuha mengernyit bingung. Saat itulah, indra penciumannya mendadak menangkap embusan angin yang membawa aroma familier. Sepasang mata bulatnya seketika membola sempurna saat memori di otaknya berputar cepat.
Wangi ini ...
Langkah kaki Nuha langsung melesat. Berbekal petunjuk aroma maskulin mahal yang masih tertinggal di udara, ia mengejar bayangan itu hingga menyusuri koridor samping yang sepi.
"Berhenti!"
Teriakan lantang itu memantul di dinding koridor. Naru, yang sedang melangkah santai dengan kaki jenjangnya, seketika terjengit syok. Ia refleks menghentikan langkah dan berbalik badan.
Bruk!
Gadis itu jatuh tersungkur dengan cukup keras di atas lantai tegel. Karena tidak siap mengerem kecepatannya, kakinya tersandung undakan lantai.
"Astaga! Nggak sakit tuh?!" tanya Naru spontan. Nada suaranya sempat meninggi akibat rasa panik yang telanjur lolos sebelum ia sempat menahannya.
"Aku ... aku nggak apa-apa," ringis Nuha kesakitan. Sambil menahan perih di lututnya, ia perlahan mendongak dan mengulurkan sebelah tangannya ke atas, bermaksud meminta bantuan untuk berdiri.
Naru bergeming.
Uluran tangan Nuha membuat gerakannya terkunci di tempat. Tangan kanannya sempat bergerak, namun kemudian mengambang ragu di udara. Kenapa? Kenapa gadis ini sampai mengejarku sefatal ini? Kenapa dia harus mengulurkan tangannya kepadaku?
"Tolongin ..." bisik Nuha,
menatapnya penuh harap.
Naru memejamkan mata sejenak, teringat pada pesan kakek bahwa ia tidak diizinkan berhubungan dengan wanita kalangan biasa seperti yang dilakukan ibunya. Ia menguatkan dinding pertahanan di hatinya yang hampir runtuh. Saat matanya kembali terbuka, binar hangat itu telah lenyap, berganti tatapan datar yang terasa asing.
"Kamu bisa berdiri sendiri."
Deg.
Tangan Nuha yang masih mengambang di udara seketika bergetar hebat. Kata-kata itu rasanya seperti tamparan yang menjatuhkan harga dirinya begitu saja ke lantai. Perasaan malu, rendah diri, dan sedih langsung bercampur aduk menjadi satu, menyumbat tenggorokannya. Apa aku kelihatan sememalukan itu di matanya?
Naru menarik kembali tangannya, memasukkan ke dalam saku celana hitamnya dengan santai. Ia kemudian berbalik badan memunggungi Nuha. "Lain kali, hati-hati. Jangan berlari di koridor," ucapnya dingin.
Kejam.
Di dalam bus menuju tempat studi banding, Nuha menahan tangis. Tidak dapat uluran tangan, tidak juga sebuah nama. Ekspektasinya jatuh berkeping-keping mendapati respon dingin setelah sekian lama menahan rasa 'ingin bertemu' kembali. Benar kata orang, jika terlalu berharap pada sesuatu yang semu, sesakit inilah rasanya.
"Tapi, tunggu dulu ..."
Nuha tiba-tiba tersadar dari lamunannya. "Apa cowok itu sekolah di sini? Dia murid baru? Tapi tadi aku lihat dia ikut masuk ke dalam salah satu bus. Busnya anak-anak TKJ."
"Cieee, itu artinya kamu masih punya banyak kesempatan buat ketemu dia lagi, Nuh!" goda Hawa yang tiba-tiba muncul melayang di dekat langit-langit bus.
"Ah, nggak mau ah! Ogah!" ketus Nuha, cemberut. "Aku nggak mau ketimpa tangga dua kali. Aku juga masih punya harga diri dan rasa malu, YA!"
Tepat saat itu,
kepalanya terhuyung pelan ketika bus yang membawa rombongan kelasnya melambat karena arus jalanan yang padat. Dari arah belakang, bus rombongan kelas TKJ perlahan bergerak menyalip dan mendampingi bus mereka.
Kedua bus itu akhirnya benar-benar terhenti berdampingan saat lampu lalu lintas di depan berubah merah.
Nuha termenung menatap keluar jendela. Detak jantungnya rasanya hampir copot di tempat saat netranya tanpa sengaja berpapasan langsung dengan Naru yang sedang duduk tenang sambil menyandarkan kepala di jok kursi.
Naru sedikit menolehkan kepalanya, membuat Nuha langsung kepergok basah sedang memperhatikannya. Tatapan dari cowok Jepang itu begitu tajam menohok, namun di saat yang sama terasa begitu kosong.
Meskipun jarak memisahkan mereka di balik dua lapis kaca bus, perasaan Nuha seakan terpukul mundur. Wajah Naru di seberang sana tampak begitu datar, lempeng, dan tanpa ekspresi sedikit pun.
Nuha menelan ludah dengan susah payah. Jangankan memasang wajah galak atau grumpy untuk pertahanannya, Nuha bahkan tidak sanggup melakukannya. Ia hanya bisa mendelik dengan tatapan yang menyiratkan rasa takut dan sedih yang mendalam.
Pip! Lampu lalu lintas berganti hijau.
Bus kelas TKJ mulai melaju, perlahan-lahan meninggalkan bus rombongan Nuha yang masih tertahan. Seolah tidak rela jarak memisahkan mereka lagi, Nuha secara refleks menjorokkan tubuhnya maju, menempelkan wajahnya ke kaca demi mengikuti arah bus itu sampai benar-benar menjauh dan hilang dari pandangan.
"Nnnooo ... Jangan pergi ..."
Di saat yang sama,
di dalam bus yang mulai melaju membelah jalanan, Naru perlahan memejamkan matanya rapat-rapat. Sesuatu di dalam dadanya mendadak terasa berdenyut nyeri.
"Rasanya ... nyesek banget.
Baginya, memastikan Nuha tetap aman dari jauh sudah cukup memberikan kedamaian semu. Meski jauh di lubuk hatinya, benih cinta telah ia tanam, tanpa tahu kapan akan menyiraminya.
Dua jam perjalanan yang melelahkan akhirnya terbayar saat empat bus pariwisata berbelok memasuki gerbang megah bertuliskan 'Akademi Media Telekomunikasi.' Sebuah kampus prestisius yang didirikan langsung oleh raksasa industri, Hartono Media Progress.
Para siswa mulai turun dari bus dengan wajah takjub, tak terkecuali kelas Multimedia dan kelas TKJ. Sebagai anak SMK jurusan teknologi, melihat fasilitas kampus sekeren ini rasanya seperti masuk ke dunia masa depan.
Ayo, guys! Kita ikutan foto!" seru Sifa.
Asa dan Fani mulai mengekorinya.
Di tengah lingkaran kehebohan yang berisik, hanya Nuha yang tampak tidak fokus. Mata bulatnya diam-diam bergerak liar. Pandangannya mengarah lurus ke barisan siswa TKJ yang jauh lebih tenang, berusaha keras mencari satu sosok jangkung berambut hitam legam yang sejak di koridor sekolah tadi sukses mengusik seluruh isi pikirannya.
Dadanya mendadak mencelos begitu melihat pria misterius tanpa nama itu berdiri santai di dalam circle Dilan. Dari kejauhan, dia tampak tenang mendengarkan Dilan yang sedang membisikkan sesuatu ke telinganya.
"Kenapa dia bisa temenan sama Dilan?"
Nuha dihantam rasa kecewa yang luar biasa. "Apa dia emang aslinya berandal dan hobi milih-milih temen? Tapi ... kalau dia jahat, kenapa waktu itu dia repot-repot nolongin aku?"
Hawa menyahut santai, "Nolong mungkin cuma niat nolong, Nuh. Kayaknya dia sekolah di sini sengaja buat balas dendam sama kamu deh. Makanya dia sekomplot sama si playboy itu."
"Kok bisa?!" batin Nuha panik.
"Halah, emang apa sih yang kamu ingat dari dia? Cuma dekapan hangat waktu itu doang, kan?" cibir Hawa, memutar bola matanya. "Padahal, sejak pertemuan kalian, kamu cuma ngamuk dan gebukin dia terus-terusan. Tentu aja dia pindah ke sini buat balas dendam. Kesempatan emas banget, kan?"
"Jangan gitu. Jangan bikin aku makin mikir aneh," keluh Nuha, meraba dadanya yang berdegup cemas memikirkan prasangka buruk yang tidak-tidak.
Nuha menangkap sekilas seringai Dilan yang penuh konspirasi. Namun, jantungnya justru berdesir lebih hebat saat mendapati sosok di sebelah Dilan menatapnya dengan begitu dingin. Tatapan Naru terasa jauh lebih menghujam ketimbang seringai licik Dilan yang sudah biasa Nuha hadapi.
Suasana kian menyesakkan baginya ketika para siswi mulai mengerubungi murid baru itu. Pesona Naru tampaknya bersiap menggeser popularitas sang charming boy, Dilan. Anehnya, Naru menanggapi kehebohan itu dengan santai dan ramah, sementara Dilan justru sibuk tebar pesona seolah enggan kalah saing.
"Kayaknya dia langsung jadi idola baru di kalangan ciwik-ciwik. Berat ini, kapten," seloroh Hawa.
"Enggak mungkin."
"Mana ada yang nggak mungkin? Biasanya, cowok populer kayak dia pasti banyak yang suka. Apalagi auranya anak gedongan. Pasti banyak yang nempel."
"Hawa, hentikan ucapanmu."
"Sudahlah, Nuha. Lupain saja dia. Dari tadi kamu mikirin dia terus lho. Lihat saja sekarang, dia bahkan bersikap seolah nggak mengenalmu."
"Kubilang berhenti bicara!" bentak Nuha, mulai tersulut oleh manifestasi pikirannya sendiri.
Hawa memang hanyalah perwujudan dari suara hati Nuha yang sering kali berisik dan tak bisa ditenangkan di dalam kepala. Namun, di saat-saat Nuha nyaris kehilangan kendali diri, Hawa jugalah yang biasanya hadir menjadi jangkar untuk menenangkannya.
Hawa melunak.
"Iya, iya, maafin aku."
Pemandangan kerumunan di depannya kian menyiksa Nuha. Semua ingatan mendadak berputar dan mengumpul jadi satu. Ia tidak menyangka dirinya akan memikirkan pemuda itu sedalam ini. Pandangannya mulai mengabur oleh air mata.
"Aku ... kecewa."
Sepasang mata yang mengembun itu tetap tak lepas menatap Naru, yang kini sama sekali tidak memedulikan keberadaannya.
"Aku sempat memercayai ucapannya," cicit Nuha dengan suara bergetar. "Aku sudah memberanikan diri, bahkan sampai berhasil menjatuhkan Dilan hanya karena berharap bisa bertemu dengannya lagi. Aku mikirin dia sampe bolos sekolah. Aku salah. Aku terlalu naif. Ini memalukan. Aku berharap terlalu banyak."
"Cukup, Nuha! Berhenti mikir!"
"Ayaahh ..."
Jantung Hawa seakan runtuh mendengar satu kata itu terucap. Jika Nuha sampai mulai melihat bayangan almarhum ayahnya, ini bahaya. Tingkat stres yang ekstrem itu akan memicu delusi parah. Sebuah dorongan gelap yang membuat Nuha ingin menyerah dan pergi menyusul sang ayah.
Di luar dugaan, perhatian Muha yang sedang menjalankan tugas dari perusahaan untuk membimbing kegiatan studi banding, justru tersedot oleh sosok lain. Di sebelah si Dilan brengsek, berdiri seorang pemuda yang pernah bertengkar dengan adiknya. Muha sama sekali tak menyangka bahwa pemuda itu satu sekolah dengan Nuha.
"Kamu tidak bisa sembarangan berurusan dengan pria itu, Nuha. Karena dia ... ternyata adalah anak dari atasan Kakak. Yang tidak lain merupakan putra dari pemilik sekolahmu sendiri."
.
.
. Next》Bab 19. Sampai jumpa lagi 👋
🤣🤣 Udah dibangun tegang, romantis, deg-degan, eh ditutup dengan panggilan Bambang.
🤣 malah ngajak tinggal bareng di kos biar bisa nyiksa mentalnya pelan-pelan. Musuh paling bahaya emang yang senyumnya paling kalem. 😭👌
Selama ini dia kebanyakan gaya dan ngerasa semua bisa diselesain pake duit, eh giliran nama bokapnya dibawa langsung ciut. Karma emang nggak pernah salah alamat. 😂🔥
kak nama2 tokoh mu unik2 yx ,,
lanjut kak
Kan dia suka sama Naru.