Sepuluh tahun lalu, orang tua Halra Wiragata tewas mengenaskan setelah sistem mobil listrik mereka diretas secara sadis oleh Dinasti Joharo. Kini, tepat di usianya yang ke-17, takdir mempermainkan Halra dengan cara yang paling kejam: ia dipaksa menikah dengan Sano Joharo, putra bungsu dari pembunuh orang tuanya.
Terjebak di dalam mansion siber milik Sano yang serba otomatis, paranoia Halra memuncak. Demi melindungi diri dari sang suami yang dingin dan berbahaya, Halra nekat menyewa Tazam, pengawal pribadi tampan untuk berpura-pura menjadi kekasih gelapnya demi memicu kecemburuan Sano.
Namun, permainan api itu justru membongkar konspirasi berdarah yang jauh lebih besar. Saat topeng-topeng mulai runtuh di bawah satu atap, Halra harus menghadapi kenyataan mengerikan: Siapakah yang sebenarnya menjadi tameng terakhirnya, dan siapa musuh dalam selimut yang siap melenyapkannya dari balik server?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellsqueen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelinci merah cantik yang cerdik
Kota Rombright tengah berada dalam puncak musim sosialitanya. Malam ini, kediaman Nathan Greck, miliarder yang dikenal memiliki selera paling eksentrik di negara itu, disulap menjadi istana kaca yang bermandikan cahaya kristal. Ini bukan sekadar pesta dansa; ini adalah arena di mana posisi, kekuasaan, dan rahasia dipertaruhkan. Bagi Sano dan Halra, ini adalah panggung berikutnya.
Namun, malam ini ada sesuatu yang berbeda pada Halra.
Sejak ia mendengar rahasia tentang masa lalu Sano dan Savhelicha dari Soleil, sesuatu di dalam diri Halra telah berubah. Ia tidak lagi ingin menjadi istri yang pasif. Ia sadar bahwa di dunia yang dikelilingi oleh ular-ular berbisa seperti Savhelicha, ia harus menjadi singa yang paling menakutkan.
Saat Halra turun dari limusin, semua mata yang berada di karpet merah seolah berhenti berkedip. Ia mengenakan gaun panjang berwarna merah darah yang terbuat dari sutra satin kelas atas. Desain gaun itu sangat berani; punggungnya terbuka lebar, hanya diikat dengan tali tipis yang melingkari lehernya, memamerkan lekuk punggung yang terpahat indah. Belahan gaunnya yang tinggi hingga ke paha memperlihatkan kakinya yang jenjang, putih, dan mulus. Rambutnya disanggul tinggi dengan aksen elegan, memperlihatkan jenjang lehernya yang jenjang.
Ia tidak terlihat seperti Halra yang dulu. Ia terlihat seperti seorang ratu yang siap membakar tahta siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.
Sano, yang berdiri di sampingnya dengan setelan tuksedo hitam yang sempurna, tampak tertegun. Ia terbiasa melihat istrinya cantik, namun malam ini, Halra memancarkan aura yang begitu dominan dan berbahaya.
"Kau..." Sano menghentikan langkahnya, suaranya rendah dan penuh peringatan. "Kau terlihat terlalu mencolok, Halra."
Halra menoleh, memberikan senyum yang paling menggoda yang pernah ia tunjukkan pada Sano. "Bukankah kau yang selalu bilang bahwa Nyonya Wiragata harus menjadi pusat perhatian, Sano?"
Sano hanya terdiam, matanya menyapu sekeliling dengan tatapan protektif yang posesif. Mereka masuk ke dalam ruangan besar yang sudah dipenuhi oleh kaum elit. Saat mereka melangkah, bisik-bisik mulai terdengar. Para pria menatap Halra dengan kekaguman yang nyaris kurang ajar, sementara para wanita menatapnya dengan campuran rasa iri dan takjub.
Dan di sana, di dekat bar, Savhelicha berdiri dengan gaun hitam yang elegan. Ia tampak seperti bayangan, namun saat ia melihat Halra, matanya menyipit penuh kebencian. Savhelicha tidak menyangka Halra bisa tampil sedemikian rupa—begitu dewasa, begitu glamor, dan begitu dominan.
Halra menarik napas dalam, memantapkan hatinya. Ia sengaja tidak menatap Savhelicha, melainkan beralih kepada Sano. Ia mulai menjalankan rencana permainannya. Halra menyentuh lengan Sano, memberikan sentuhan manja yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Ia tertawa kecil, mendekatkan wajahnya ke telinga Sano, dan berbisik dengan nada yang cukup keras untuk didengar orang-orang di sekitar.
"Sano, kau terlihat sangat gagah malam ini. Aku merasa beruntung menjadi satu-satunya wanita yang bisa memilikimu di ruangan ini."
Sano tersentak kecil karena keterkejutan. Perubahan sikap Halra yang begitu mendadak dan agresif membuatnya kehilangan kendali atas suasana hatinya sendiri. Ia merasa bingung, namun di saat yang sama, rasa posesifnya tersentuh.
Savhelicha tidak tahan lagi. Ia melangkah maju dengan angkuh, memotong jalur mereka. "Pemandangan yang sangat menjijikkan," desis Savhelicha dengan suara tajam. "Halra, kau tampak seperti wanita yang baru saja belajar cara berpakaian. Apakah kau harus memakai gaun sesingkat itu untuk menutupi kenyataan bahwa suamimu bahkan tidak lagi menginginkanmu?"
Suasana di sekitar mereka mendadak hening. Para tamu mulai mengerubung, ingin melihat drama yang akan terjadi.
Halra tidak kehilangan ketenangannya. Ia bahkan tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat elegan dan merendahkan. Ia menatap Savhelicha dari atas ke bawah, seolah sedang menilai barang rusak di pasar loak.
"Savhelicha," ucap Halra dengan nada tenang namun mematikan. "Aku baru saja mendengar cerita tentang bagaimana kau menghabiskan waktumu untuk menjadi pengganggu di rumah orang lain. Kupikir kau akan lebih pintar, tapi sepertinya menjadi istri seorang pria tua yang tidak lagi bisa diandalkan benar-benar menggerogoti sisa kecerdasanmu."
Savhelicha memucat, matanya membelalak. Ia tidak menyangka Halra mengetahui tentang pernikahannya dengan Joharo—atau setidaknya, ia tidak menyangka Halra berani mengungkitnya di depan publik.
"Kau!" Savhelicha hampir berteriak. "Berani-beraninya kau berbicara tentang suamiku!"
"Suamimu?" Halra mendekat, memangkas jarak di antara mereka. "Mari kita jujur, Savhelicha. Kau hanyalah pajangan yang disimpan di ruang bawah tanah, sementara kau terus berusaha mencari validasi dari pria yang sebenarnya sudah membuangmu jauh-jauh. Tidakkah kau lelah? Menggonggong setiap hari, memohon perhatian, dan akhirnya berakhir sendirian saat sahabat-sahabatmu sendiri harus menarikmu pergi karena kau mulai mempermalukan dirimu sendiri?"
Halra menunjuk sekelompok wanita sosialita yang berdiri di belakang Savhelicha dengan tatapan tidak nyaman. "Lihatlah mereka. Mereka bahkan tidak ingin berdiri di dekatmu. Kau sudah kehilangan posisimu, Savhelicha. Kau tidak lagi menjadi ratu di mana pun."
Kata-kata Halra begitu cerdas, tajam, dan tidak terbantahkan. Tidak ada ruang bagi Savhelicha untuk membalas tanpa terlihat semakin hina. Sahabat-sahabat wanita Savhelicha, yang takut reputasi mereka ikut hancur karena asosiasi dengan wanita yang sedang terpuruk itu, segera menarik tangan Savhelicha dan membawanya pergi menjauh dari area dansa.
Savhelicha pergi dengan wajah yang memerah karena amarah yang tidak tersalurkan, meninggalkan Halra yang berdiri dengan anggun di samping Sano.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Sano, yang sedari tadi menyaksikan istrinya memenangkan pertarungan kata-kata tersebut, justru tidak merasa senang. Rasa marah yang tertahan karena tatapan pria-pria di pesta tersebut yang terus mengeksploitasi tubuh istrinya melalui gaun punggung terbuka itu mencapai puncaknya.
Sano melepaskan jas tuksedonya dengan gerakan kasar. Sebelum Halra sempat bereaksi, Sano telah menyampirkan jas itu ke bahu Halra, menutupi punggungnya yang terbuka dengan protektif.
"Cukup," desak Sano dengan suara rendah yang menggetarkan. Ia menarik Halra mendekat ke arahnya, cengkeramannya di pinggang Halra terasa sangat kuat. "Kita pulang sekarang."
"Sano, pesta ini baru dimulai—"
"Aku bilang kita pulang," potong Sano dengan tatapan yang menyiratkan kemarahan yang tidak bisa dinegosiasikan.
Halra tersenyum di dalam hatinya. Ia tahu bahwa ia telah berhasil. Ia tidak hanya berhasil mempermalukan Savhelicha, tetapi ia juga berhasil memancing sisi posesif Sano yang paling liar. Malam ini adalah kemenangan mutlak baginya.
Saat mereka melangkah keluar dari aula pesta, Sano terus memegang erat tangan Halra, seolah takut jika ia melepaskannya sedetik saja, wanita yang kini tampak begitu mempesona itu akan hilang. Halra mengikuti langkah Sano, sadar bahwa sejak malam ini, dinamika hubungan mereka telah berubah selamanya. Ia bukan lagi istri yang diam. Ia adalah lawan yang harus diperhitungkan oleh Sano—dan ancaman terbesar bagi siapa pun yang berani mengusik miliknya.
Perjalanan pulang menuju kediaman Wiragata dipenuhi oleh keheningan yang tegang. Sano tidak bicara sepatah kata pun, sementara Halra menatap ke luar jendela dengan senyum kemenangan yang tersimpan rapi. Ia tahu Sano sedang menahan ledakan emosi, namun baginya, itu hanyalah bukti bahwa permainannya bekerja dengan sempurna.
Di kepala Halra, sebuah rencana besar sedang disusun. Jika Sano bisa menjadi posesif saat ia hanya mengenakan gaun merah, bayangkan apa yang akan terjadi saat Halra mulai mengungkap kebenaran tentang siapa sebenarnya yang menghancurkan masa lalu Sano. Malam ini hanyalah permulaan.
Halra telah menunjukkan taringnya di depan publik dan berhasil memancing emosi Sano. Menurutmu, apa yang akan terjadi di balik pintu tertutup kediaman Wiragata malam ini setelah Sano melihat istrinya menjadi pusat perhatian yang begitu mempesona sekaligus menantang?