Bima hanyalah "sampah desa" yang ringkih. Digerogoti penyakit jantung bawaan dan paru-paru basah akut, hidupnya dihabiskan untuk merangkak di bawah kaki orang-orang kaya yang arogan.
Puncaknya, di sebuah malam yang diguyur hujan lebat, Bima dihajar hingga sekarat dan jatuh ke dasar sungai.
Namun, maut justru membawanya menemukan batu mustika hitam misterius. Tak hanya sembuh total, fisik Bima bermutasi menjadi sekokoh karang, lengkap dengan kemampuan mata tembus pandang dan medis gaib.
Menariknya, energi baru di tubuh Bima membuat setiap wanita yang ia sentuh bergetar tak berdaya.
Berawal dari pijatan penyembuhan, Bima mulai menaklukkan hati para wanita cantik—
mulai dari Rasti si kakak ipar janda muda, Laras sang kembang desa, hingga Siska, istri pejabat kota—yang suaminya terlibat kasus perselingkuhan. Bersiaplah menyaksikan aksi Danu, si tukang pijat penakluk wanita!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17—Menyembuhkan Pak Tua
Bab 17
“Kamu bagaimana bisa tahu?” Tanya pak darmawan dengan saura naik. Ini semua janggal dia periksa ke dokter manapun gak ada yang tahu tetnang penyakitnya.
Hingga akhirnya dia merasa aneh dan memeriksa di tempat orang pintar, katanya dia terkena guna-guna dan bakal mati dalam waktu singkat. Ini kejadian beberapa tahun.
Maka dari itu dia membentuk tempat ginian. Berharap dia menemukan sesuatu yang gaib, sesuatu yang bisa menyembuhkannya. Dia ogah mati karena santet!
“Anak muda katakan kepadaku, bagaimana kamu tahu?”
"Saya tidak bisa menjelaskan secara rinci, Pak. Yang paling penting, saya datang ke sini juga untuk membantu Bapak," jawab Bima.
Pak Darmawan tertegun, napasnya yang putus-putus kembali memburu. Selama beberapa tahun terakhir, dia telah mendatangi puluhan dokter spesialis terbaik, bahkan hingga ke luar negeri,
Mata keruh Pak Darmawan beralih, menatap lekat-lekat pada bola kuno yang tergeletak di atas meja kerja jatinya.
Di bawah mata batin Bima, bola kuno itu terus memancarkan hawa murni hijau keperakan yang bergerak agresif, mendeteksi sekaligus menekan kabut hitam yang merongrong tubuh Pak Darmawan.
Tiba-tiba, ingatan Pak Darmawan melayang pada sebuah manuskrip legenda kuno yang pernah dibacanya. Otaknya yang cerdas langsung menghubungkan titik-titik misteri ini.
“Hawa ini... getaran ini... persis seperti legenda Mustika Kehidupan!” batin Pak Darmawan bersorak histeris dalam hati.
Itu adalah legenda kuno desa sukamaju yang sangat lama. Cuma beberapa orang sepuh saja yang tahu, beruntung keluarga pak darmawan masih meneruskan legenda itu.
legenda itu menyebutkan bahwa batu Mustika Kehidupan adalah energi dewa yang hanya bisa menyatu dengan tubuh satu pemilik terpilih, pemilik bakal memiliki kemampuan spesial, perubahan fisik, penyembuhan segala jenis penyakit. Dan bola kuno beraksara rumit ini bukanlah jimat sembarangan, melainkan artefak perantara tambahan yang berfungsi untuk menggandakan energi murni sang pengguna.
Pak Darmawan mendongak, menatap Bima dengan pandangan yang kini berubah total menjadi penuh rasa hormat dan ketakutan. Pemuda di depannya ini bukan orang sembarangan. Dia adalah pemilik sah dari energi mustika kehidupan tersebut!
"Anak muda... j-jadi kamu menguasai energi murni itu?" bisik Pak Darmawan dengan bibir bergetar.
Bima tersentak. Energi murni? Jangan bilang bapak ini tahu sesuatu tentang kekuatanya? Tapi Bima memutuskan untuk profesional.
"Jika Bapak ingin sembuh, tolong kunci pintu ruangan ini. Jangan biarkan siapapun masuk atau mengganggu kita selama setengah jam kedepan," perintah Bima tanpa menjawab pertanyaan Pak Darmawan.
Tanpa banyak tanya lagi, Pak Darmawan langsung menekan tombol interkom di mejanya, memerintahkan sekretarisnya untuk mengunci pintu utama dan mengosongkan koridor depan. Setelah memastikan ruangan benar-benar tertutup rapat, Bima berdiri dari kursinya.
"Lepas jas dan kemeja Bapak. Lalu terlentang di atas sofa panjang itu," ujar Bima dingin.
Pak Darmawan segera menuruti perintah itu dengan terburu-buru. Begitu kemeja sutranya terlepas, Bima bisa melihat dengan mata telanjang bahwa kulit punggung pengusaha kaya itu sudah dipenuhi urat-urat hijau kehitaman yang menjalar mengerikan, berpusat tepat di ulu hati dan tulang belakang.
Bima melangkah mendekat. Dia mengambil bola kuno dari meja, menggenggamnya di tangan kiri untuk menyerap dan menggandakan pasokan energi spiritualnya. Sementara itu, telapak tangan kanannya mulai dialiri energi Mustika Hijau yang masif hingga udaranya terasa menghangat.
Glep.
Pak Darmawan menahan napas saat telapak tangan Bima mendarat tepat di punggung atasnya.
Wusss!
"Akhhh-hnghh!" Pak Darmawan spontan melenguh keras. Mata tuanya mendelidiki seketika.
Begitu jari-jari kekar Bima menekan titik saraf di sepanjang tulang belakangnya, Pak Darmawan tidak merasakan sakit hantaman fisik, melainkan sebuah sengatan energi panas yang luar biasa nikmat sekaligus menyiksa. Hawa murni dari jemari Bima merangsek masuk ke dalam pembuluh darahnya, memburu kabut asap hitam kiriman dukun santet yang selama ini bersarang di sana.
"Tahan, Pak. Ini adalah proses penghancuran inti racunnya," desis Bima.
Jemari Bima bergerak sangat lincah dan bertenaga. Dia meremas otot pundak, menekan lipatan saraf ketiak, hingga meliuk turun memijat area belikat Pak Darmawan. Setiap kali Bima melakukan remasan kuat, terdengar bunyi kretak halus dari tulang-tulang Pak Darmawan, disusul oleh hancurnya gumpalan energi hitam di dalam tubuhnya.
Pijatan energi murni yang digandakan oleh bola kuno itu bekerja dengan sangat brutal membasmi ilmu hitam. Pak Darmawan terus mendesah terengah-engah, tubuhnya bergeliat di atas sofa, merasakan sensasi panas-dingin yang silih berganti membersihkan organ dalamnya.
Sesi pijat itu berlangsung intens selama dua puluh menit. Pada gerakan terakhir, Bima menghentakkan dua jarinya tepat di titik saraf punggung bawah Pak Darmawan.
*Plak! Duak!*
"HOEKKK!"
Pak Darmawan langsung bangkit terduduk dan muntah dengan hebatnya. Namun, yang keluar dari mulutnya bukanlah makanan, melainkan cairan kental berwarna hitam pekat yang mengeluarkan aroma busuk yang sangat menyengat hidung—manifestasi fisik dari santet pembunuh yang selama ini mendekam di tubuhnya.
Setelah memuntahkan cairan itu, Pak Darmawan ambruk kembali ke sofa dengan napas memburu. Namun, wajahnya yang semula pucat pasi bagai mayat, dalam hitungan detik langsung berubah menjadi segar, kemerahan, dan memancarkan aura bugar yang luar biasa. Beban berton-ton di dadanya lenyap seketika. Dia merasa tubuhnya kembali muda seperti usia tiga puluh tahun!
Bima menarik kembali energinya, menyeka keringat tipis di dahinya, lalu memasukkan kembali bola kuno itu ke dalam saku celananya. "Kutukan di tubuh Bapak sudah bersih total sampai ke akar-akarnya."
Pak Darmawan buru-buru bangun. Dia menggerakkan kedua lengan dan lehernya, merasakan aliran darah yang mengalir sangat lancar tanpa rasa sakit sedikit pun. Air mata haru menetes di pipinya. "S-Sembuh... Aku beneran sembuh! Ya Tuhan!"
Bima langsung ke poin. “Jadi gimana pak tentang batu ini kira kira laku berapa?”
Dia menggeleng menggelengkan kepala dengan tegas. "Sayang sekali saya tidak bisa membelinya.”
“Lah maksud?” Bima tersentak kaget.
“, bola ini tidak boleh dijual mas Bima. Benda ini adalah jimat pribadi anda dan hanya bisa berfungsi jika dialiri energi dari tubuh anda sendiri. Di tangan orang lain, benda ini hanyalah batu kelereng biasa."
Bima melongo. Memang dia merasa terbantu saat menetralkan kutukan dari bapak ini, namun siapa sangka ternyata hanya dia doang.
Terus darimana bapak ini tahu hal begini?
Pak Darmawan, buru-buru bangkit berdiri.
Dia melangkah ke arah brankas rahasia di balik lukisan dinding.
Pak Darmawan membuka brankas tersebut, lalu mengeluarkan tiga ikat besar uang pecahan seratus ribu rupiah yang masih disegel bank, bersama sebuah kartu emas eksklusif.
Pak Darmawan meletakkan uang tunai sebesar Rp 150 juta rupiah dan kartu itu di depan Bima dengan kedua tangannya yang membungkuk hormat.
“Saya memang menolak membeli, tapi saya kasih hadiah kepada master!”
"Master Bima, tolong terima ini. Ini adalah uang tunai seratus lima puluh juta rupiah sebagai biaya pengobatan dan tanda terima kasih saya yang tidak seberapa," ucap Pak Darmawan tulus.
"Dan ini adalah kartu nama VIP emas milik saya. Siapa pun di kota ini yang berani macam-macam dengan Anda, cukup tunjukkan kartu ini, maka seluruh jaringan bisnis dan hukum saya akan bergerak untuk meratakan mereka."
“Dan satu hal … bola itu harus kamu bawa terus kalau pelengkap kemampuanmu, kamu harus menggunakannya seperti kalung, cari tali dan kenakan layaknya kalung.”
Bima menatap tumpukan uang tunai yang sangat banyak di depannya. Seringai tipis terukir di wajah tampannya. Lalu dia menerima saran tersebut. Bola kecil ini akan dijadikan inti kalung, lumayan juga buat hiasan.
Yah dia mendapatkan lebih dari cukup. Kalau bola ini dijual laku paling 100 jutaan dan dia dapat 150 juta tanpa kehilangan barang apapun, modal pijat pak tua saja.
Lalu Dengan modal pertama sebesar ini, jalan untuk memanjakan Mbak Rasti terbuka lebar.
Janda muda itu harus dimanja karena dia butuh lelaki, lagian dia berhutang budi banyak.
Kok gak mikir konsekuensinya ya..🫣
Bersekutu dengan iblis menjanjikan keuntungan duniawi sesaat, namun selalu berujung pada petaka.
Konsekuensi utamanya meliputi ketergantungan spiritual, hilangnya kendali atas kehendak bebas, tuntutan tumbal nyawa, penderitaan batin, serta kehancuran dan penyesalan abadi di akhir.
Dampak fatal akibat praktik tersebut akan kehilangan Jiwa dan Kebebasan, harga yang harus dibayar untuk bantuan iblis adalah jiwa manusia itu sendiri.
Manusia yang awalnya merasa mengendalikan kekuatan tersebut akhirnya diperbudak dan kehilangan kehendak bebas mereka.
Untuk menghindari fitnah dengan cara membentengi diri dari perbuatan yang mendekati zina, pergaulan bebas dan pacaran.
Dengan melakukan pernikahan, seseorang dapat menyalurkan hasrat biologis secara halal, menjaga kehormatan, dan mencegah timbulnya tuduhan negatif serta prasangka buruk di masyarakat.
Menikah adalah salah satu keputusan terbesar dalam hidup seseorang.
Lebih dari sekadar menyatukan dua insan dalam ikatan resmi, pernikahan memiliki tujuan yang lebih dalam dan bermakna...🤭🤨😊