Sequel Kembalinya Sang Agen Rahasia & Heroes
Zyan kembali menjalani misi. Kali ini akan menjadi misi terakhirnya, mencari keberadaan Arkan, juniornya.
Siapa sangka kembalinya pria itu ke lapangan malah menemukan konspirasi sejumlah petinggi menggagas Project Black Lock. Diam-diam mereka mengembangkan virus yang diberi nama Regalis-V.
Ada enam target yang sedang dibidik untuk memproduksi Regalis-V. Salah satunya adalah Arsela, anak presiden.
Ketegangan semakin bertambah ketika Zyan tahu target terakhir adalah anaknya sendiri.
Bersama dengan Arkan, pria itu berjibaku, berusaha menyelamatkan target dan menghancurkan Black Lock.
Dalam aksinya, mereka mendapatkan bantuan dari seorang agen tambahan.
Siapakah agen tersebut?
Jangan lupa ikuti medsosku di
FB : Khairunnisa (Ichageul)
IG : ichageul9563
TT : @novelme @ichageul21
Threads : Ichageul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menerobos Blok Kematian
“Berapa yang bisa kamu hadapi?” tanya Kenzo pada Kael.
“Lima.”
“Say again!”
“Ten!”
“That’s my boy. Mateo, bawa profesor ke tempat aman!”
Mateo mengangguk cepat. Dia segera menarik tangan profesor menjauh dari arena perkelahian. Bertepatan dengan itu, ke-30 napi tersebut langsung menyerang. Mateo dan profesor hanya bisa melihat pertarungan dari sudut lorong. Wajah keduanya menunjukkan kecemasan dan ketakutan.
Kenzo menghindari ketiga tiga napi yang menyerangnya sekaligus. Dia menggerakkan tubuhnya ke kanan dan kiri. Kemudian dengan satu gerakan dia menarik kepala salah satu napi kemudian membenturkannya ke tembok.
Dua napi lainnya juga mendapat pukulan dan tendangan dari Kenzo. Yang satu terkena tendangan di dada, punggungnya membentur keras tembok di belakangnya. Satu lagi mendapat pukulan keras di bagian samping wajahnya. Dia langsung jatuh ke lantai dengan kepala pening.
Kael menghindari serangan sambil menarik tangan penyerangnya. Kemudian dia mengayunkan tubuh musuhnya dan mengenai dua orang kawannya hingga terjatuh.
Sergio juga tidak kalah sibuk. Pria itu melayangkan pukulan beruntun pada tiga napi yang menyerangnya. Pukulan kencang Sergio sukses membuat hidung tiga napi tersebut mengeluarkan darah.
Kenzo sedikit menundukkan tubuhnya. Dia melayangkan tinju pada perut dua napi yang ada di dekatnya. Selanjutnya pria itu menghantam bagian lengan dekat ketiak salah satu napi. Terakhir, dia memberikan tendangan berputar pada dua napi lain. Lima napi kembali dibuat terkapar olehnya.
Tubuh Kael dipegangi dua orang napi, sementara satu napi mendekat, siap untuk menghajarnya. Kael merapatkan kedua kakinya, kemudian meloncat sambil melayangkan tendangan pada napi di depannya. Napi tersebut langsung terjungkal.
Selanjutnya dengan gerakan kencang dia melepaskan diri dari pegangan dua napi seraya melayangkan tinjunya. Tubuh salah satu napi terdorong kencang ke belakang. Dia memegangi matanya yang terkena tonjokan. Sementara yang satunya terbanting ke bawah dan siku Kael sukses menghantam dadanya dengan kencang.
Sergio berlari dari kejaran tiga napi. Dia menuju tembok kemudian menggunakannya sebagai tumpuan seraya melayangkan tendangan. Ketiga napi yang mengejarnya terkena tendangan Sergio tepat di wajah masing-masing.
Di tengah perkelahian, terdengar suara dokter Caelen melalui speaker yang terpasang di beberapa lorong. “SIAPA SAJA YANG BERHASIL MENYERAHKAN PROFESOR PADAKU, MAKA AKAN LANGSUNG MENDAPATKAN KEBEBASAN DAN BONUS UANG TUNAI!”
Mendengar pengumuman dari dokter Caelen membuat para napi semakin bersemangat. Mereka terus menyerang tiga pria yang tersasar ke lorong blok mereka.
Kael jatuh tersungkur ketika seorang napi menendang punggungnya. Dengan cepat dia berbalik, tetapi tiga napi sudah berada di dekatnya dan menghajarnya. Menggunakan dua tangannya dia menahan pukulan yang mengarah padanya.
Kenzo yang berada di dekat Kael, langsung menendang salah satu napi yang menyerang anaknya. Hal tersebut dimanfaatkan Kael. Dia menarik kepala salah satu napi yang menyerangnya kemudian membenturkan kepalanya ke lantai.
Untuk napi yang lain, Kael menggerakkan kakinya, menjepit kepala napi dengan posisi seperti gunting. Dengan kekuatan kakinya, dia membanting musuh ke lantai.
Di saat napi yang lain sedang menyerang Kenzo, Kael dan Sergio, dua napi mendekati Mateo dan profesor. Sadar akan tugasnya harus melindungi profesor, Mateo maju ke depan sambil mengepalkan kedua tangannya seperti orang yang hendak bertinju.
Mateo jatuh tersungkur ketika salah satu napi yang dihadapinya tadi melayangkan pukulan padanya. Profesor yang hendak membantu Mateo bangun langsung ditangkap tangannya. Kemudian pria itu diseret oleh napi lain.
Melihat itu, Kenzo berusaha mencegah. Namun dia dihadang dua napi. Dengan kedua tangannya Kenzo menghajar dua napi yang menghalanginya, kemudian dia membentur kepala keduanya hingga jatuh ke lantai.
Profesor ikut terjatuh ketika tendangan Kenzo mengenai punggung pria yang berusaha menyeretnya pergi. Pria itu membalikkan napi yang masih dalam posisi tengkurap lalu menghajar wajahnya beberapa kali sampai hampir kehilangan kesadaran.
Segera ditinggalkannya napi tersebut. Kini Kenzo beralih pada pintu keluar dari blok tersebut. Dia mencari alat yang bisa digunakan untuk merusak panel listrik yang mengunci pintu.
Kael dan Sergio masih menghadapi napi tersisa. Keduanya sekarang berdiri dengan saling membelakangi. Di sekeliling mereka ada tujuh napi yang siap menyerang.
Bergantian Kael dan Sergio melayangkan tinjunya. Kael menarik baju salah satu napi, kemudian menendang dagu pria itu dengan lututnya. Tubuh sang napi langsung terjengkang. Dia tidak bisa bangun ketika temannya jatuh menimpa tepat di atasnya setelah terkena tendangan Sergio.
Tujuh napi yang tadi menyerang, satu per satu mulai berhasil dilumpuhkan.
Sementara Kenzo yang sedang mencari alat, diganggu oleh seorang napi yang berusaha mencegahnya. Napi tersebut memeluk dada Kenzo dari belakang. Kenzo berusaha menggerakkan tubuhnya. Namun napi bertubuh besar dan tinggi itu memeluknya dengan erat.
Kenzo beringsut mendekat tembok di dekatnya. Dengan sekuat tenaga dia meloncat. Kedua kakinya menapak ke tembok di depannya, lalu menjatuhkan tubuhnya ke belakang. Tubuh sang napi langsung terjatuh dengan Kenzo berada di atasnya.
Napi tersebut mengerang kesakitan ketika siku Kenzo mengenai perutnya beberapa kali hingga pelukannya terlepas. Kenzo segera bangun kemudian menendang wajah napi tersebut hingga kehilangan kesadaran.
Baru saja berdiri, dia melihat satu napi menyeret profesor setelah menghajar Mateo. Dia menarik profesor ke dekat pintu. Kenzo segera menyusul. Dia menarik kepala napi tersebut kemudian membenturkannya ke panel listrik.
Dua kali benturan berhasil membuat panel listrik rusak dan pintu yang tadi tertutup langsung terbuka.
“Kael! Sergio!” panggil Kenzo.
Dengan cepat keduanya mengikuti Kenzo yang sudah bersama profesor dan Mateo keluar dari lorong.
Kael langsung memimpin jalannya pelarian. Mereka sekarang sudah berada di bagian laundry. Pria itu mendorong sebuah troli dan memperlihatkan sebuah lubang kecil di sana.
Berturut-turut kelimanya keluar melalui lubang kecil tersebut. Dimulai dari Kael, disusul profesor, Mateo, Sergio dan terakhir Kenzo.
Tubuh kelimanya meluncur kencang sebelum akhirnya masuk ke dalam aliran sungai.
Kael langsung menarik tubuh sang profesor kemudian berenang menuju tepian disusul yang lain.
Ketika mereka berhasil keluar dari sungai, dapat mereka dengar suara sirine dari penjara. Lampu tembak mulai dinyalakan. Kelimanya segera berlari memasuki hutan, menghindari sorot lampu tembak.
Saat sudah masuk jauh ke dalam hutan, mereka berhenti sejenak untuk beristirahat. Mateo langsung terbaring di tanah. Dadanya naik turun dengan cepat. Sementara sang profesor jatuh terduduk sambil bersandar ke pohon.
Kenzo, Kael dan Sergio mencari jalan keluar di mana Hector sudah menunggu mereka.
“Kalau kita lewat jalur ini, ada jalan raya. Aku rasa Hector menunggu kita di sana,” ujar Sergio yang lebih memahami lingkungan sekitarnya.
“Kamu yakin?” tanya Kenzo.
“Ya. Aku sudah ke sini sebelum pelarian kita. Jalur yang kubuat memang akan menuju ke sini. Aku sudah membuat tanda di salah satu pohon,” Sergio menunjuk pohon yang tak jauh darinya.
“Kalau begitu kita pergi saja sekarang.”
“Ayo.”
“Mateo! Profesor, ayo!”
Mendengar teriakan Kenzo, Mateo segera membantu profesor untuk bangun. Baru saja beberapa langkah, terdengar suara letusan pistol memecah keheningan malam.
***
Siapa yg gedeg sama dokter Caelen?😁
iddiiiihhhh Arman ngaamuk....
coba Kamu kerjakan sendiri becus gk nangkep mereka 😏