NovelToon NovelToon
Nona Kota Di Posko Kkn

Nona Kota Di Posko Kkn

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anshuu_

Alya Mahendra, gadis kota yang harus menjalani KKN di Desa Sukamaju, sebuah desa pelosok yang jauh dari kehidupan nyamannya. Karena tingkahnya yang sering mengeluh dan tak terbiasa hidup sederhana, teman-temannya mulai menjulukinya “Nona Kota.”

Di tengah hari-hari KKN yang penuh tantangan, ada Arga Pratama, cowok dingin dan kaku yang diam-diam sering membantu Alya meski wajahnya selalu terlihat tak peduli. Namun saat konflik mulai muncul di posko, mampukah Alya bertahan sampai akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ternyata Mangu..

Kini jam pertama pun dimulai, dan pelajaran hari ini diisi oleh anak-anak KKN yang mulai mengajar di kelas dua. Suasana kelas langsung ramai oleh suara anak-anak yang penuh semangat menyambut mereka.

Alya juga ikut turun tangan, bantu menghibur dan ngajak ngobrol anak-anak itu biar mereka tetap semangat.

“Buset, dua bocah itu staminanya gak habis-habis,” celetuk Rizki sambil geleng kepala.

“Hahaha betul banget,” timpal Dion.

Sementara Nadia hanya melirik sinis.

“Dasar caper banget.”

“Iya, kelihatan banget,” Laura juga berkomentar pelan, tapi cukup terdengar.

Di sisi lain, Arga berdiri dengan ekspresi datar seperti biasa, tapi auranya terasa beda, Lebih dingin. Matanya beberapa kali melirik ke arah Adrian dan Alya yang terlihat terlalu dekat, meski wajahnya tetap sulit ditebak.

Tiba-tiba, seorang anak kecil bernama Dita menatap mereka dengan Ekspresi polos dari bangkunya, seolah sedang memikirkan sesuatu yang serius.

“Kak Alya sama Kak Adrian pacaran ya?”

“Hah? Darimana kamu tau kata itu?” Alya langsung panik kecil.

Anak-anak lain langsung cekikikan mendengar itu. Adrian buru-buru menganGkat tangan, mencoba menenangkan suasana.

“Adik-adik, kami gak pacaran ya. Kami beda kasta.”

“Beda kasta?” Dita langsung bingung.

“Liat aja,” lanjut Adrian dramatis, “kak Alya itu kayak nona bangsawan, sedangkan aku ini seperti rakyat jelata yang cuma numpang hidup.”

Semua langsung tertawa lagi mendengar jawaban Adrian. TApi Dita belum berhenti bicara, masih terlihat penasaran.

“Tapi Kak Alya cocok sama Kak itu,” katanya sambil nunjuk ke arah Arga.

Reno ikut menimpali, “Iya, Kak itu juga tampan.”

Seketika Alya langsung salah tingkah, wajahnya sedikit memerah dan jadi kikuk sendiri.

Sementara Arga tetap diam seperti biasa… tapi kalau diperhatikan lebih lama, ada sedikit perubahan di tatapannya. Seperti… diam-diam puas.

Setelah bel istirahat berbunyi, anak-anak langsung berhamburan keluar kelas dengan wajah ceria.

Sementara itu, kelompok KKN yang berisi Arga dan yang lainnya ikut keluar, lalu berjalan menuju gazebo kecil yang berada dekat pagar sekolah.

Tempat itu terlihat cukup nyaman untuk beristirahat sebentar setelah mengajar.

“Anjir… gue laper banget.”

Rizki langsung berseru sambil mengusap perutnya yAng dari tadi mulai keroncongan.

“Lo itu ngeluh laper mulu,” sahut Adrian sambil geleng kepala.

“Ya mau gimana lagi, ini kan udah siang.”

Dion ikut duduk santai di gazebo.

“Kayaknya sekolah ini gak dapet MBG deh.”

Tiara menoleh.

“Hm… iya ya. Entah kemana dana itu.”

“Korupsi kali,” timpal Dion santai.

Ucapan Dion langsung bikin beberapa dari mereka tertawa. Tidak lama kemudian, Tiara mengangkat tangannya lalu menunjuk ke arah seberang jalan.

“Di sana ada warung makan. Kita makan di situ aja yuk? Gue juga laper.”

“Nah itu baru ide bagus,” Rizki langsung berdiri semangat.

“Ayok.”

Tanpa banyak protes, mereka semua akhirnya berjalan menuju warung kecil yang letaknya tidak jauh dari sekolah. Di sana terlihat beberapa bapak-bapak sedang makan siang.

“Assalamu’alaikum, selamat siang Pak,” sapa Adrian ramah.

“Wa’alaikumussalam, iya siang,” jawab salah satu bapak di sana.

“Dari mana nih kalian?”

“Habis dari sekolah Pak, tadi ngajar.”

“Ohh begitu… pasti laper itu. Masuk aja sana.”

Adrian tersenyum sopan.

“Oh iya Pak, bapak udah makan?”

“Udah nak, bapak duluan ya.”

“Iya Pak, hati-hati.”

Tak lama bapak-bapak itu pergi dan warung kembali sepi, kini hanya tersisa rombongan anak KKN yang mulai duduk mengisi kursi-kursi kosong.

“Duh… udah adzan dzuhur nih,” gumam Dion.

“Makan dulu aja lah baru sholat,” jawab Rizki santai.

“Anda sangat berdosa sekali,” sahut Adrian, tapi dirinya malah ikut duduk.

Mereka pun langsung duduk, lalu satu pEr satu mulai memesan makanan masing-masing.

“Sama aja kayak yang lain ya Bu… tapi tanpa ikan,” ucap Alya saat giliran memesan.

Mendengar pertanyaan itu, Alya sempat terdiam sebentar sebelum akhirnya menjawab.

“Loh, kok gak pesan ikan Al?”

Alya sempat diam sepersekian detik.

“Hm… gapapa kok. Lagi gak pengen aja.”

Padahal jelas itu bohong.

Di sisi lain, Arga yang mendengar jawaban itu hanya melirik sekilas. Entah kenapa ia langsung paham alasan Alya menolak ikan hari ini.

Beberapa menit kemudian makanan datang.

Suasana meja mendadak tenang, hanya terdengar suara sendok beradu dengan piring. Setelah selesai makan, mereka pun membayar dan seperti dugaan…

Meski sudah selesai makan, mereka tetap mengelUh karena harga makanan di desa itu ternyata masih terasa lumayan mahal.

“Yaudah yuk, kita sholat dulu. Kayaknya di situ ada musholla,” ajak Adrian sambil menunjuk bangunan kecil di dekat warung.

Mereka semua berjalan ke sana.

Saat semuanya mulai bersiap mengambil wudhu, Alya justru masih berdiri diam di tempat.

Adrian menoleh.

“Al, lo gak sholat?”

Semua ikut memperhatikan.

“Lagi halangan ya?” tanya Dion santai.

Alya mendadak kikuk.

Belum sempat ia menjawab—

Arga yang sejak tadi diam tiba-tiba angkat suara.

“Dia Kristen."

Seketika suasana lAngsung hening beberapa detik.

“Buset… baru tau gue,” sahut Rizki spontan.

Alya cuma bisa berdiri kikuk sambil menghindari tatapan mereka. Di saat yang sama, Adrian tibA-tiba menaruh tangan di dada dengan ekspresi dramatis.

“Selain kasta yang berbeda…”

Ia menatap Alya penuh drama.

“Ternyata kiblat kita juga berbeda, Al.”

“Sulit sekali berjodoh denganmu.”

“Hahaha…”

Semua langsung tertawa.

“Ini mah udah mustahil,” timpal Dion.

Tak lama kemudian, mereka semua masuk ke dalam musholla untuk sholat.

Sementara Alya memilih duduk sendiri di teras masjid, menikmati angin siang yang berhembus cukup sejuk sambil melihat jalanan desa yang lengang.

“Assalamu’alaikum.”

Suara seseorang tiba-tiba terdengar.

Alya refleks menoleh.

Di sana berdiri seorang cowok, usianya mungkin tak jauh berbeda dengannya.

“Wa-waalaikumsalam…” jawab Alya sedikit kikuk.

“Anak KKN ya?” tanya cowok itu sambil tersenyum ramah.

“Iya…”

“Udah sholat?”

Pertanyaan itu langsung membuat Alya diam sesaat.

Namun cowok itu malah salah paham.

“Ohh… lagi halangan ya?”

Alya hanya tersenyum canggung.

Cowok itu lalu mengulurkan tangan.

“Kenalin… nama saya Rehan.”

“Alya…”

“Kenapa sendirian di sini?”

“Lagi nungguin teman…”

Alya melirik ke arah dalam musholla.

“Mereka lagi sholat.”

Cowok bernama Rehan itu masih berdiri santai di depan Alya sebelum akhirnya kembali membuka suara.

“Kalau punya waktu nanti sore, kamu bisa ikut pengajian di masjid dekat rumah Pak Kades.”

Alya menatapnya bingung.

“Pengajian?”

“Iya. Acara mingguan. Biasanya banyak warga datang ke sana, lumayan buat kenal sama orang-orang sini.”

Alya hanya mengangguk kecil.

“Iya…”

Rehan tersenyum ramah.

“Kalau begitu saya duluan ya, Mbak.”

Ia lalu sedikit menunduk sopan.

“Assalamu’alaikum.”

Alya refleks menjawab pelan.

“Wa-wa’alaikumsalam…”

Namun suaranya terlalu kecil, nyaris tidak terdengar.

Tanpa Alya sadari, teman-temannya ternyata sudah selesai sholat dan kini berdiri tidak jauh darinya. Beberapa dari mereka sempat melihat interaksi tadi.

“Itu siapa, Al?” tanya Dion sambil menatap arah Rehan pergi.

Alya menoleh.

“Kurang tahu… tadi bilang namanya Rehan.”

Rizki langsung menyeringai.

“Widih… baru aja nongkrong depan masjid udah dapet cowok spek MasyaAllah.”

Soalnya dari tadi mereka sempat memperhatikan penampilan Rehan yang terlihat cukup rapi meski wajahnya tidak terlalu jelas dari kejauhan.

“Emang dia ngapain?” tanya Adrian penasaran.

“Dia ngajakin aku ikut pengajian dekat rumah Pak Kades nanti sore.”

Beberapa detik suasana mendadak Hening.

Sampai akhirnya—

“HAHAHAHA!”

Mendengar itu, satu per satu dari mereka langsung ngakak sampai suAsana mendadak ramai lagi.

“Terus lu jawab apa, Al?”

Alya mengangkat bahu.

“Ya aku iyain aja… bingung juga sih.”

Mendengar itu, gelak tawa mereka malah makin pecah.

“Buset…”

“Belum sehari udah diajak pengajian.”

“Cepet banget adaptasinya.”

Di belakang mereka, Arga hanya berdiri diam sambil menggeleng pelan. Wajahnya memang tetap datar seperti biasa.

Tapi entah kenapa…

Mood-nya mendadak jelek setelah melihat cowok tadi ngobrol cukup lama dengan Alya.

1
Aylnn_
...
Aylnn
Bagus Sekali..
Aylnn
bagus kak..
cintaa
lanjut thor🙏🙏
Aylnn_: Besok sy update yah Kak..🙏🥰
total 1 replies
cintaa
ditunggu kelanjutannyaa 🙏💪
Aylnn_: Sudah update yaa kak..
total 1 replies
cintaa
lanjut thorr tapi banyakin yaa maaf kalo ngelunjakk🙏🙏🙏
Aylnn_: Sudah Update yaa kak, itu saya buat kan 3 bab yahh kak semoga suka🥰
total 1 replies
cintaa
hmm... mana yaa kak lanjutannya🙏🙏
Aylnn_: sudah update ya kak, maaf kemarin² saya sibuk🙏🥰
total 1 replies
cintaa
lanjut thorr💪💪💪💪
Aylnn_: Oke besok pagi yaa kk..
total 1 replies
Muh Adhil
hahah author nya tega banget sama alya 🤣
Aylnn_: Yaa Ampunn..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!