Mahesa Bhumi Arka Denta Sikumbang Seorang pengusaha dan pengacara terkenal.Di malam hari dia menjadi Vigilante untuk membalaskan dendam kematian keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senda Gurau Di Depan Rumah Gadang
Hari yang dinanti-nantikan pun akhirnya tiba — hari menjelang kelulusan sekolah yang menjadi puncak dari perjuangan dan ketekunan selama bertahun-tahun menuntut ilmu. Di antara ratusan siswa yang mengikuti evaluasi tahap akhir belajar, nama Erwin Rasyad Chaniago, Bhumi, dan Bayu tercatat menduduki peringkat tiga besar dengan nilai yang jauh melampaui standar rata-rata sekolah. Hasil itu bukan sekadar angka di atas kertas; ia adalah bukti ketekunan mereka yang mampu membagi waktu antara tugas akademik, latihan fisik, serta penguasaan ilmu bela diri yang diwariskan keluarga. Tidak hanya diakui di lingkungan sekolah, prestasi mereka bahkan melambung hingga ke tingkat Provinsi Sumatera Barat, sehingga ketiganya menerima piagam dan medali sebagai murid berprestasi yang membanggakan nama daerah.
Di tengah upacara yang khidmat dan penuh haru, tampak Arlan Rasyad Sikumbang beserta istrinya, Sarlina Wati Chaniago, berdiri di barisan orang tua dengan wajah bersinar bangga. Mereka datang ditemani Ainun Rasyad Chaniago, putri bungsu mereka yang masih belia dan terus menatap kakak-kakaknya dengan pandangan penuh kekaguman. Bagi Arlan dan Sarlina, keberhasilan ini bukan hanya milik Erwin sebagai putra kandung, tetapi juga milik Bhumi dan Bayu, dua anak kembar angkat yang telah mereka rawat dan dididik layaknya darah daging sendiri. Mendengar nama mereka dipanggil satu per satu untuk menerima penghargaan, hati kedua orang tua itu terasa lapang dan tenang, menyadari bahwa beban amanah yang mereka pikul selama ini telah berbuah hasil yang membanggakan.
Sore hari menjelang malam, ketika seluruh rangkaian acara telah usai dan keramaian perlahan mereda, suasana kembali tenang. Angin sejuk khas pegunungan turun berhembus lembut, membawa aroma tanah basah dan bunga liar dari lereng Gunung Singgalang. Di halaman depan Rumah Gadang yang megah dan penuh makna budaya itu, ketiga pemuda itu duduk bersila di atas balai-balai kayu yang sudah lapuk namun tetap kokoh berdiri. Di sanalah mereka sering berkumpul, melepas lelah, dan berbagi cerita tanpa hambatan.
Bayu adalah yang pertama mengeluarkan barang kesayangannya — sebuah gitar akustik berwarna cokelat tua yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun. Tanpa banyak bicara, ia mulai memetik senar-senarnya dengan jari-jari yang terlatih, mengeluarkan alunan nada yang keras, cepat, dan penuh tenaga, persis seperti irama musik cadas yang sering ia dengarkan dan pelajari. Jari-jarinya bergerak lincah melintasi leher gitar, menghasilkan melodi yang terdengar menantang namun tetap enak didengar. Tidak lama kemudian, Bhumi yang duduk di sebelahnya turut mengambil gitarnya sendiri. Gaya permainannya berbeda: lebih lembut, mengalir, dan penuh improvisasi, mirip dengan alunan nada jazz yang santai namun tetap memiliki ketepatan irama yang tinggi. Kedua saudara itu saling melengkapi, seolah dua sisi mata uang yang berbeda namun tetap menjadi satu kesatuan yang utuh.
Melihat kedua saudaranya asyik memainkan alat musik, Erwin Rasyad Chaniago tidak mau ketinggalan. Ia pun ikut memetik gitar, lalu mulai menyanyikan lagu-lagu berirama balada yang populer dari grup band asal Malaysia. Meskipun suaranya terdengar cempreng, sedikit pecah, dan sering disamakan dengan suara kaleng kerupuk yang dipukul-pukul, semangatnya tidak pernah luntur. Ia terus bernyanyi sambil sesekali memperbaiki posisi jari dan mengasah kemampuan memetiknya, berusaha menyamai kehalusan permainan kedua saudaranya. Tidak lama kemudian, para sepupu yang datang berkunjung turut bergabung, menyanyikan lagu-lagu daerah berirama Melayu yang lembut dan syahdu, sementara Erwin, Bhumi, dan Bayu dengan sigap mengiringi setiap nada yang dilantunkan. Suasana sore itu terasa semakin hangat dan akrab, penuh canda dan tawa yang memecah kesunyian.
Namun, suasana santai itu segera berubah menjadi lebih lucu dan kacau ketika Erwin mulai memutar otak untuk mengerjai Bhumi. Dengan senyum miring yang penuh rencana, ia mengubah syair lagu legendaris Isabella menjadi sindiran halus namun menusuk, ditujukan langsung kepada Bhumi.
“Anindya Adalah Kisah Cinta Dua dunia
Mengapa Bhumi Terpisah Tapi Anindya Di Jakarta.Siang Jadi Hilang Ditelan Kegelapan Malam.Alam Yang Terpisah Menyatukan Kisah Cinta....Wuaaaa....”
Semua yang mendengar langsung tertawa terbahak-bahak. Sindiran itu jelas ditujukan kepada Bhumi yang memang sedang menjalin hubungan jarak jauh dengan Anindya, gadis berparas cantik yang tinggal dan bersekolah di ibu kota. Bhumi hanya bisa tersipu malu, memukul pelan bahu Erwin sambil melarangnya melanjutkan, namun tidak mampu menyembunyikan senyum di wajahnya.
Namun, kebahagiaan Erwin tidak berlangsung lama. Bayu yang merasa mendapat giliran untuk membalas ejekan itu segera menghentikan petikan gitarnya, lalu melantunkan lagu Janji Suci karya Yovie & Nuno — namun dengan syair yang sudah diplesetkan sedemikian rupa agar langsung menyasar Erwin.
“Dengarkanlah ,Uni Yunita Pujaanku...(Kata Kak Erwin,Tuh).Hari Ini Akan Kusampaikan, Janji Suci Kepadamu Dewiku...UNI YUNITA,(Kata Kak Erwin Lagi).?”
Mendengar syair itu, seketika suasana menjadi lebih riuh. Semua orang tahu siapa yang dimaksud: Yunita Aprilia Tanjuang, Kembang desa paling cantik kakak sepupu mereka sekaligus putri kepala sekolah tempat mereka belajar, yang kini sedang didekati secara diam-diam oleh Erwin. Di antara kerumunan itu ada Rizky Pratama Tanjuang, adik laki-laki Yunita yang masih duduk di bangku sebelah Mereka. Wajahnya langsung berubah merah padam, terlihat jelas campuran rasa malu sekaligus marah mendengar gurauan yang ditujukan kepada kakak kesayangannya. Ia berdiri dengan gerakan cepat, menunjuk ke arah Erwin sambil berteriak dengan nada kesal namun masih terdengar malu:
“"Koplak bana ang, Erwin! Jan dakaik-dakaik ka Uni den! Indak tau malu bana ang! Awas se ang! Beko den aduakan sado nyo ka Ayah jo Amak. Tunggu se ang(Koplak kau Erwin! Jangan Kau Dekati Kakak Aku!Tidak tahu malu sama sekali! Awas saja kau, nanti aku bilang semuanya sama Ayah dan Ibuku.Tunggu Kau)!”
Ucapan Rizky itu justru membuat semua sepupu yang lain tertawa terpingkal-pingkal, bahkan sampai terkulai di atas balai-balai karena tak sanggup menahan gelak tawa. Rizky semakin merasa tidak nyaman, wajahnya makin memerah, lalu ia berbalik dan berjalan pergi dengan langkah cepat sambil sesekali menoleh ke belakang dengan tatapan masih kesal.
Mendengar ancaman itu, wajah Erwin langsung berubah pucat lalu memerah padam karena malu. Ia tahu betul, jika sampai orang tua mendengarnya, ia pasti akan dimarahi habis-habisan. Tanpa berpikir panjang, ia langsung melompat turun dari balai-balai, lalu berteriak marah namun tetap terasa malu:
“"Bayu! Ang ko adiak sialan bana! Salalu se ang mambukak rasio urang!(Bayu! Kau ini adik sialan! Selalu saja membocorkan rahasia orang)!”
Bayu hanya tertawa lebar, lalu segera melarikan diri mengelilingi halaman rumah sambil terus menerus tertawa cekikikan yang tak tertahankan. Erwin pun mengejarnya sekuat tenaga, meninggalkan gitarnya tergeletak begitu saja di atas kayu. Pemandangan kedua saudara yang saling kejar-kejaran itu kembali membuat Arlan Rasyad Sikumbang yang melihat dari teras rumah hanya bisa menggelengkan kepala sambil tertawa lebar, menyaksikan tingkah anak dan keponakannya yang tidak pernah kehabisan cara untuk menghidupkan suasana.
Di bawah langit senja yang mulai berubah warna menjadi jingga keunguan, di halaman Rumah Gadang yang penuh sejarah itu, hari kelulusan berakhir bukan dengan perpisahan yang sedih, melainkan dengan tawa, gurauan, dan kehangatan persaudaraan yang tak tergantikan. Bagi Erwin, Bhumi, dan Bayu, masa depan yang terbentang di depan masih panjang dan penuh tantangan, namun mereka tahu bahwa selama mereka bersama dan saling mendukung, setiap langkah akan terasa lebih ringan dan penuh makna.