NovelToon NovelToon
Benang Merah Arka

Benang Merah Arka

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Xora'

Arka Zayn Albian, remaja kaya raya yang muak dengan tuntutan kesempurnaan keluarganya, memilih melampiaskan rasa frustrasinya di malam kelulusan SMA. Di sebuah club, ia bertemu Astrid, gadis asing yang memiliki beban batin serupa. Terikat oleh rasa frustrasi yang sama dan pengaruh alkohol, keduanya melewati malam bersama yang berakhir dengan kepanikan di pagi hari. Takut memicu skandal besar, Arka memilih kabur dan berharap bisa melupakan kejadian itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xora', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

...----------------...

Suasana di hotel itu terasa begitu kontras dengan hiruk pikuk kehidupan yang biasa aku jalani. Di luar, hujan badai masih menderu, menabrak kaca jendela kamar dengan irama yang brutal, seolah-olah alam sedang memprotes kekacauan yang ada di dalam pikiranku. Karena jalan pulang yang ditutup separuh akibat perbaikan darurat dan banjir lokal, aku dan Astrid akhirnya memutuskan untuk bermalam di hotel ini. Aku memesan dua kamar yang bersebelahan, sebuah keputusan yang saat itu terasa paling logis, namun kini justru membuatku merasa terisolasi dalam kecemasanku sendiri.

Setelah makan malam sederhana yang dipesan melalui room service makanan yang entah kenapa terasa jauh lebih mengenyangkan daripada hidangan mahal yang biasa aku santap bersama Liona kami berdua masuk ke kamar masing-masing.

Begitu pintu kamar tertutup dan aku ditinggal sendirian dengan sunyinya ruangan, pikiranku langsung melayang ke sosok wanita yang kini berada tepat di sebelah dinding kamarku. Dadaku berdesir aneh, detak jantungku seolah berlomba dengan suara petir di luar sana. Aku membaringkan tubuh di atas kasur, mencoba memejamkan mata, namun bayangan wajah Astrid terutama saat dia memamerkan mata heterochromia nya tadi terus menari-nari di balik kelopak mataku.

Belum sempat aku menemukan kedamaian, ponsel di atas meja bergetar hebat. Nama Liona terpampang di layar. Aku merasakan sensasi dingin menjalar di tengkukku.

"Hey, kamu lagi ngapain sih? Masa aku lagi ngambek kamu gak bujuk aku? Hii, ngeselin banget sih!" suara Liona terdengar melengking, penuh kekesalan khas seorang putri yang tidak pernah mendapatkan penolakan.

Aku menegakkan posisi duduk, berusaha mengatur napas agar tidak terdengar panik. "Kan aku sudah bilang tadi, Liona. Aku lagi sibuk. Sekarang aku lagi sama Kak Andra di kantor, banyak urusan mendadak. Maaf ya, enggak bisa telepon lama-lama," ucapku, mengeluarkan kebohongan yang paling pertama terlintas di otak.

Hening sejenak di seberang sana. Suara Liona mendadak berubah menjadi sangat dingin. "Hah? Apa maksud kamu, Arka? Aku sekarang lagi di kantor perusahaan Albian, dan tadi aku tanya ke manajer di sini kalau kamu dari pagi tidak ada di kantor. Sedangkan Kak Andra... aku baru saja tanya manajer di sini kalau kak andra sedang di luar kota, dan akan pulang besok. Jujur Arka, apa yang sedang kamu sembunyikan dari aku? Akhir-akhir ini kamu beda banget."

Duniaku seakan runtuh saat itu juga. Panik menyerangku dari segala arah. "Loh, loh, loh, ngapain kamu di kantor?" tanyaku dengan nada yang sedikit bergetar.

"Aku menemani Ayah untuk urusan bisnis dengan Albian Grup," balas Liona tegas. Dia menghela napas panjang sebelum melanjutkan dengan nada yang begitu serius, "Aku tidak mau basa-basi lagi, Arka. Aku butuh kamu menjelaskan ini semua. Kapan kita bisa ketemu?"

Aku terdiam. Tidak ada lagi celah untuk berbohong. Rasanya, jaring kebohongan yang kubuat sendiri sudah terlalu sesak. "Oke... bisa ketemu di hari Rabu sepulang kuliah?" tanyaku dengan pasrah.

"Bisa," jawab Liona singkat, lalu mematikan sambungan telepon.

Ponsel itu jatuh dari genggamanku. Aku terduduk di tepi ranjang, merenungi betapa rumitnya hidupku sekarang. Di satu sisi, ada Liona, masa lalu yang terikat dengan ekspektasi keluarga. Di sisi lain, ada Astrid, masa depan yang tidak terduga dan tanggung jawab moral yang membebani pundakku. Aku merasa terpojok.

...****************...

Dalam keputusasaan itu, bayangan wajah Astrid yang tertawa di kebun raya tadi kembali muncul. Tanpa berpikir panjang, didorong oleh insting untuk mencari tempat bersandar, aku melangkah keluar kamar dan menuju pintu kamar Astrid.

Aku menekan bel. Hening.

Aku menekan lagi. Tidak ada jawaban.

"Strid, lu sibuk gak? Gue mau ngobrol sesuatu," bisikku pelan.

Masih tidak ada jawaban. Kepanikanku memuncak. Bayangan Astrid yang lemas tadi sore saat mabuk perjalanan membuat ketakutanku menjadi-jadi. "Astrid? Lu ada di dalem? Hey, Astrid!" Aku mulai mengetuk pintu dengan keras. Jantungku berdegup kencang, seolah ada firasat buruk yang merambat.

Tanpa membuang waktu, aku mengeluarkan kartu akses cadangan yang sempat kupinta saat check in tadi. Pintu terbuka dengan bunyi klik yang pelan.

"Astrid?" panggilku saat masuk ke dalam.

Aku terpaku. Pemandangan di depanku membuat napasku tertahan. Astrid sedang duduk di pinggir tempat tidur, menghadap jendela besar yang hordengnya terbuka. Dia menggunakan earphone di kedua telinganya. Rambutnya masih basah, menandakan dia baru saja selesai mandi, namun yang membuat dadaku serasa diremas adalah air mata yang mengalir deras di wajahnya, membasahi tangannya dan baju tidur yang ia kenakan. Dia tampak begitu hancur, begitu rapuh.

"Loh... lu ngapain masuk ke kamar gue, Arka?" Astrid terkejut setengah mati, suaranya parau dan bergetar saat dia menoleh.

"Gak usah mikir yang aneh-aneh," ucapku dengan suara yang melunak, menutup pintu di belakangku. "Gue khawatir. Lu dipanggil dari tadi gak nyaut nyaut."

Astrid melepas earphone nya dengan tangan yang masih gemetar. "Gue gak denger... lagi setel lagu."

Aku berjalan mendekat, mendudukinya di tepi tempat tidur di sampingnya. "Lu kenapa, Strid?" tanyaku pelan, menatap wajahnya yang sembab.

Astrid mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba menghapus jejak air mata. "Gak apa-apa kok, cuma belum lap muka habis mandi," dia mencoba berbohong, namun suaranya justru terdengar seperti sedang menahan isak. Dia menatapku balik dengan mata yang memerah. "Lu sendiri kenapa? Wajah lu kelihatan lesu banget. Nyamperin gue jam segini... pasti ada sesuatu, kan?"

Aku terkejut. Dia memang selalu bisa melihat menembus topeng yang kupasang. "Hmm, kayaknya kita berdua memang lagi di posisi yang sama. Bisa kali kita tukar cerita?"

Astrid tersenyum tipis, senyum yang begitu getir namun menenangkan. Dia menepuk tempat tidur di sebelahnya, memberikan isyarat bagiku untuk duduk lebih dekat. Aku duduk di sana, menatap pemandangan lampu kota yang samar dari balik kaca jendela.

"Gue... gue ngerasa bersalah atas semua ini," suara Astrid pecah. "Gara-gara gue, nyokap gue satu-satunya keluarga yang gue punya meninggal. Dan karena gue juga, nasib lu jadi sial. Lu seharusnya punya masa depan cerah sama perempuan yang jadi pacar lu sekarang, bukan terjebak sama cewek pengidap heterochromia yang hidupnya berantakan kayak gue. Gue ngerasa gak berguna banget, Ka."

Mendengar kata-kata itu, dadaku terasa sesak. "Lu gak salah, Astrid. Justru gue... gue yang bikin hidup lu jadi kayak begini. Kalau bukan karena kebodohan gue, lu gak perlu nanggung beban seberat ini sendirian."

Astrid menggelengkan kepalanya dengan kuat, air matanya kini mengalir lebih deras. "Enggak... lu gak salah, Ka. Lu udah berusaha buat bertanggung jawab atas semuanya."

Aku tidak tahan lagi. Aku meraih tangannya, menggenggamnya dengan erat. "Hey, hey... jangan nangis dong. Ibu hamil itu gak boleh stres. Ini salah kita berdua, jadi kita hadapi semuanya bareng-bareng, ya?" aku mengusap air mata di pipinya dengan ibu jariku.

Sentuhan itu justru membuat bendungan air mata Astrid benar-benar runtuh. "Jangan liat gue... keadaan gue lagi kacau banget sekarang," dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, bahunya berguncang hebat karena tangisan yang tertahan.

"Ngumpet aja di bahu gue," tawar aku. Tanpa menunggu jawaban, aku menarik tubuhnya agar bersandar padaku.

Astrid langsung menempelkan wajahnya di dadaku, membiarkan isak tangisnya membasahi bajuku. "Jangan ngeliat... merem," bisiknya di sela tangisannya.

Saat itu, di kamar hotel yang sunyi dengan latar belakang suara hujan, aku merasakan detak jantungku sendiri yang berpacu liar. Dengan ragu, aku melingkarkan lenganku, memeluk Astrid dengan protektif. Aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya, aroma sabun mandi yang menenangkan dari rambutnya yang basah, dan rapuhnya sosok wanita yang selama ini berusaha terlihat kuat di depanku.

Dalam pelukan itu, aku menyadari satu hal yang selama ini berusaha kutolak, Liona mungkin adalah kekasih ku saat ini, tapi Astrid... Astrid adalah sesuatu yang membuatku ingin menjadi orang yang lebih baik. Aku memeluknya lebih erat, berjanji dalam hati bahwa badai apa pun yang akan datang setelah ini aku akan melewatinya layaknya seorang pria.

"Gue di sini, Strid," bisikku pelan di telinganya. "Gue di sini, dan gue gak bakal ke mana-mana."

Di luar, badai masih terus mengamuk, namun di dalam kamar itu, di tengah tangisan yang perlahan mereda, aku merasa bahwa ini adalah tempat di mana aku seharusnya berada. Bukan di kantor, bukan di tengah kemewahan yang palsu, melainkan di sini, menjaga satu-satunya hal yang paling nyata dalam hidupku yang berantakan. Astrid perlahan mulai berhenti menangis, napasnya kini teratur di dadaku, dan aku hanya bisa memejamkan mata, membiarkan waktu berhenti sejenak untuk kami berdua.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di hari Rabu nanti saat aku harus berhadapan dengan Liona. Namun, saat ini, memeluk Astrid adalah satu-satunya kebenaran yang aku miliki.

Aku ingin sekali rasanya mencium puncak kepalanya dengan sangat lembut, namun saat ini ku rasa aku masih belum pantas.

Astrid tampak tenang, mungkin dia merasa aman. Dan aku? Aku merasa bahwa ini adalah tanda bahwa aku sudah tidak bisa lagi lari dari kenyataan, ini sulit namun aku percaya nanti akan menjadi begitu indah.

Aku terus memeluknya, memperhatikan bagaimana cahaya lampu dari luar kamar menembus gorden, memberikan bayangan yang menari-nari di dinding. Kami tidak bicara lagi. Kadang, di antara dua orang yang sama-sama hancur, keheningan adalah bahasa yang paling jujur. Dan malam itu, keheningan itu mengatakan bahwa kami akan baik-baik saja, entah bagaimana caranya.

"Arka?" suara Astrid memecah keheningan, suaranya serak namun lebih tenang.

"Ya?"

"Makasih ya... udah ngasih tempat sandaran bagi gue."

Aku mengeratkan pelukanku, tidak ingin melepasnya. "Enggak perlu makasih. Gue memang harus ada di sini."

Dan di sana, di bawah langit malam yang pekat, aku benar-benar menyadari bahwa hidupku tidak akan pernah sama lagi. Aku bukan lagi Arka yang hanya mengikuti alur takdir, aku adalah Arka yang siap menulis takdirnya sendiri.

Astrid mengangkat wajahnya sedikit, menatapku dengan mata yang bengkak namun berkilau indah. Dia tidak menarik diri, dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa perlu untuk malu atau berpura-pura. Aku hanya ingin berada di sana, menemaninya sampai pagi menjemput.

...----------------...

1
Atishaa
iiiii gregetannn bangettttt nanggung bangett minn, cepet' update dehh penasaran soalnyaaaa
Atishaa
cara buat malunya bener' di buat sejatuh'nya keren sih langsung di kuras hartanya
Atishaa
keren sih si arka ga langsung marah' malah nyari bukti dulu trus juga percaya sama kakanya coba kalo ga percaya pasti kena marah ayahnya gra' si arka mudah di bodohin cewek
darrel fadilasyah
bagus ceritanya 🔥🔥
Xora'
di baca guysss
Atishaa
kerenn rasaa keselnya juga adaaa
Cliff
/CoolGuy/
darrel fadilasyah
keren banget novelnya bikin penasaran 🔥🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!