NovelToon NovelToon
HITAM

HITAM

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:515.3k
Nilai: 4.8
Nama Author: musbich

Tidak pernah terbayangkan jika perempuan urakan sepertiku pada akhir nya bisa menikah dengan lelaki pilihan papa yang katanya tampan, baik dan kaya melintir.

Aku terinspirasi dari pernikahan adikku yang berakhir bahagia karena pilihan papa.

Awalnya semua berjalan sesuai harapan, akad nikah yang sakral, resepsi yang mewah dan perlakuan suamiku yang teramat sangat baik. Tapi itu hanya mimpi selama dua hari di hidupku.

Enrico Putra Deisanto, seorang pengusaha dalam bidang farmasi yang menikahiku saat ini. Dia membawaku pulang ke sebuah rumah megah bak istana dengan puluhan pembantu.

Disinilah kisah hitamku dimulai, aku yang mencintainya pada pandangan pertama harus rela mengubur mimpiku untuk hidup bahagia dengan nya. Akhirnya aku tahu dia menikahiku karena paksaan ibu nya yang sedang sakit parah dan bukan kemauan nya sendiri.

Penderitaanku tak berhenti di situ, dengan santainya dia membawa pulang seorang perempuan yang akan tinggal satu rumah dengan kami. Seorang perempuan yang katanya sangat dia sayangi. Kalian tidak akan bisa membayangkan bagaimana jika seorang suami membawa perempuan lain di depan istri sah nya.

ini kisah saya,
ini cerita saya,
saya pemeran utamanya,

lalu apa posisi perempuan itu?

Aku harap dia hanya pemeran pembantu atau pelengkap latar yang hanya bisa diam, aku tetaplah pemilik suamiku yang sah...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon musbich, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

ENRICO POINT OF VIEW:

🦋🦋🦋

“Kalau begitu jangan bertemu Alina lagi,” kata Chelsea cepat.

Aku terdiam dan mulai menatap nya dalam, apa dia sedang cemburu pada Alina? Tentu saja aku akan jujur pada Alina jika aku sudah menikah. Tapi bukan jujur melalui sambungan telpon saja. Sebagai laki laki aku harus mengakhiri semua nya dengan menemui nya nanti. Entahlah kapan? Karena saat ini dia ada di kota dingin dan membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk pergi menemui nya.

Di lain sisi aku tidak mau Chelsea sakit lagi, akan ku atur pertemuanku dengan nya tanpa menyakiti istriku ini. Dan entahlah bagaimana reaksi Tara nanti nya? Terlebih lagi reaksi Alina.

“Tugasku saat ini hanya mencintaimu, jika kamu menyelingkuhiku maka tugasku selesai,” kata nya membalas tatapan mataku.

Aku tersenyum tipis mendengar pernyataan nya, apa dia sedang mengancamku jika nanti nya aku ketahuan selingkuh? Memang nya aku laki laki tukang selingkuh? Negative sekali pikiran nya padaku.

“Pernikahan adalah suatu hal yang sakral, cukup sekali untuk selama nya,” sahutku.

“Baguslah jika kamu punya pemikiran seperti itu,” sahut nya cuek.

Tidak lama kemudian makanan datang dan kami berdua menikmati makanan dalam keheningan, entahlah kami jadi canggung satu sama lain seperti orang baru pacaran saja.

Setelah menikmati makanan dan duduk cukup lama di sana, kami mulai jalan jalan di sekitar café tersebut. Menikmati pemandangan alam yang lumayan indah dan menakjubkan untukku yang jarang punya waktu menyegarkan pikiran.

“Fotoin aku ya?” pinta chelsea.

“Hem,”

“Eh di sana kayak nya bagus deh,” kata nya dengan senyum manis nya itu.

“Ayo cepetan,” kataku seraya mengarahkan camera ponselku pada nya dan mengambil gambar nya berulang kali.

“Eh, belum siap. Bentar bentar,” celoteh nya seraya membenarkan dress nya.

Sekali lagi aku mengambil gambar nya. Dia berlari kecil ke arahku untuk melihat hasil nya yang ada di ponselku.

“Coba lihat, aduh lengan tanganku kok kelihatan gede banget sih,” keluh nya.

“Ambil gambar nya sekali lagi,” saranku.

“Kalau mau motret kasih aba aba dulu donk,” katanya mulai bergaya lagi.

“Oke, siap ya? Satu… Dua… Tiga…”

Sekali lagi dia berlari kearahku dan melihat hasil nya.

“Jangan potret dari depan, dari samping aja. Nih aku jadi kelihatan tembem kan,” protes nya yang membuatku frustasi.

Mendadak wajahku jadi datar, seribet ini kah ngambil gambar nya? Emang nya dia model? Seenakbnya saja menyuruhku berulang kali mengambil gambar nya, untung aja aku cinta sama dia. Seandainya nggak cinta mungkin uda ku tinggal daritadi. Ternyata semenyebalkan ini istriku.

“Hem, kita ulangi lagi,” jawabku agak malas.

“Bentar, aku rapikan rambutku dulu ya?” katanya sumringah.

“Satu… dua… senyum…” kataku seraya mengambil gambar nya lagi dan untuk kesekian kali nya dia berlari kearahku dan melihat hasil nya.

“Kok kelihatan gemuk sih hasil nya? Ambil foto nya dari bawah donk, biar aku kelihatan kurusan!” keluh nya lagi dan mulai memposisikan diri nya di tempat semula.

Ya Tuhan, hanya untuk mengambil satu gambar aja seribet ini???

“Baiklah, sekali lagi,” kataku yang semakin kesal tingkat dewa.

“Gaya gimana lagi ya?” Tanya nya mulai berpikir.

“Kamu diem aja uda cantik,” celetukku yang membuat nya tersenyum tiba tiba padaku.

“Gimana kalo pura pura candid aja ya?”

“Hem,”

Dan untuk kesekian kalinya dia melihat hasil nya di ponselku seraya mengerutkan dahi nya.

“Hasil foto nya nggak focus, ulangi ya?” pinta nya yang membuatku menggaruk tengkukku, malu banget dilihatin waitres yang ada di sana.

Aku menganggukkan kepalaku malas dan mengambil foto nya lagi. Dia ini beneran ingin foto apa ngerjain aku sih? Dia berjalan kearahku lagi setelah ku ambil gambar nya.

“Kamu niat foto atau ngerjain aku sih?” tanyaku kesal.

“Kamu nggak ikhlas ya fotoin aku? Alfath aja nggak pernah protes kalo fotoin aku,” celetuk nya kesal.

“Iya iya…” jawabku frustasi.

Mana bisa dia bandingin aku dengan laki laki itu lagi? Mengesalkan sekali!

“Tapi ini hasil nya bagus,” kata nya tersenyum memandang foto terakhir yang ku ambil.

“Sekarang foto bareng aku ya?” pinta nya seraya memanggil salah satu waiters untuk ngambil foto kami berdua.

“Hem,”

Waiter tersebut mengarahkan ponsel nya pada kami dan aku terlihat malas karena ulah Chelsea yang minta foto berkali kali.

“Agak mendekat dikit donk, mas,” kata waiters itu mengatur kami berdua. Chelsea menarik lenganku supaya lebih dekat dengan nya.

“Senyum donk mas, jangan kayak foto KTP begitu,” kata waiters itu lagi.

Ya Tuhan, betapa menyebalkan nya waiters ini. Aku mencoba tersenyum lebar meskipun canggung.

Istriku berlari mengambil ponsel nya dan tersenyum melihat foto kami berdua di sana. Dia mulai mengutak atik ponselku, entah apa yang dilakukan nya.

“Kamu apakan ponselku?” tanyaku.

“Aku hanya menaruh foto kita di layar utama ponselmu, jangan di ganti atau diubah,” kata nya memperingati.

“Hem,” jawabku malas.

“Fotoin lagi ya?” pinta nya.

“Bukan nya kamu uda foto berkali kali,”

“Tapi belum foto dengan pemandangan yang di sana,” rengek nya dengan berjalan cepat di depanku menuju view yang menjadi incaran selanjut nya.

“Yang sabar ya, mas,” kata waiters tadi menepuk pundakku.

Aku tak menghiraukan waiters tersebut dan berjalan sedikit cepat untuk mengejar istriku.

🦋🦋🦋

Saat langit sudah semakin gelap, aku dan dia memutuskan untuk pulang. Sepertinya dia sangat menikmati hari ini, terlihat dari senyum nya yang mengembang sepanjang perjalanan pulang.

“Beli martabak buat ibu ya?” pinta nya.

“Mau beli dimana?” tanyaku.

“Itu tuh di ujung jalan ada martabak enak,” katanya seraya menunjuk gerobak penjual martabak di pinggir jalan.

Aku memarkirkan mobilku di pinggir jalan raya, dengan hati hati ku bantu membukakan pintu untuk chelsea dan menuntun nya untuk keluar dari mobil. Keadaan yang sedikit gerimis sehabis hujan deras membuat jalanan becek, heels nya menginjak tanah yang memang sudah berlumpur.

Dengan tangan yang seperti hormat untuk melindungi kepala nya dari gerimis, kami berdua mendekati penjual martabak tersebut. Banyak sekali pembeli yang duduk untuk mengantri membeli martabak tersebut.

Chelsea memesan martabak dan ikut duduk di sampingku. Tapi mataku menatap lurus seorang pemuda dengan dandanan urakan melihat lurus kearah paha chelsea yang memang memakai rok selutut terlihat sangat sexy.

Entah kenapa aku tidak suka dengan cara nya memandang istriku. Aku bisa membedakan antara tatapan mesum dan tatapan biasa saja. Dengan cepat ku tutupi paha chelsea dengan jaket yang ku pakai.

“Lain kali pakailah baju yang lebih tertutup,” bisikku.

Tapi chelsea hanya mengabaikanku dengan bermain ponsel nya. Aku masih memperhatikan pemuda tadi tetap memandangi istriku dengan ekspresi yang sulit ku jelaskan.

Cukup lama aku menahan amarahku ini, entah kenapa rasa nya seperti dia sudah melecehkan istriku meskipun hanya dengan sebuah pandangan. Setelah pesanan sudah kami terima dan kami bayar. Kami berjalan melewati pemuda tersebut dengan ku peluk tubuh chelsea posesif.

“Mas, pacarmu semangatku,” kata pemuda tadi menatapku.

Aku berhenti mulai menatap pemuda tadi dengan tatapan dinginku.

“Apa maksudmu?” tanyaku mencoba tenang.

“Pacarnya sexy sekali,” kata pemuda itu menyeringai.

“Jaga ucapan kamu,” kataku hendak memukul pemuda itu tapi ditahan oleh chelsea.

“Yaelah, gitu aja emosi. Palingan juga pacarmu uda di pegang pegang sama cowok lain, siapa yang tahan lihat body nya, bro,” kata pemuda itu seraya menyentuh pinggul chelsea.

BUGHH!

Sebuah pukulan mendarat di pipi pemuda itu dari tanganku, aku ingin memukulnya lagi tapi di tahan oleh beberapa pembeli yang ada di sana. Pemuda tersebut hanya tertawa seperti orang gila yang sedang mabuk.

“Udah,” kata chelsea seraya menarik lenganku menuju mobil.

🦋🦋🦋

Aku melajukan mobilku menuju rumah dengan keadaan yang cukup hening. Tidak ada kata yang keluar dari mulut chelsea begitupun denganku. Wajahku masih terlihat sangat kesal dengan kejadian tadi. Hingga mobil berhasil memasuki halaman rumah, kamipun masih terdiam.

“Maaf,” sebuah kata meluncur dari mulut mungil nya dengan tatapan bersalah seraya menyentuh lenganku.

“Jangan memakai dress seperti itu lagi,” sahutku cepat.

“Ya, aku minta maaf,” kata nya lagi.

“Aku benar benar benci cara nya melihatmu tadi,” kataku kesal.

“Maafkan aku,” kata nya lagi.

Kami masih berada di dalam mobil dengan hujan deras di halaman. Masih berada dalam suasana canggung akibat memikirkan kejadian menyebalkan tadi.

“Sudahlah, ayo kita masuk,” kataku cepat.

“Enrico,” kata nya menahan lenganku dan ku lihat wajah menyesal nya.

“Aku mencintaimu,” kata chelsea seraya mencium bibirku dalam.

Aku yang masih terbawa emosi membuat nafsuku sangat tinggi saat ini. Aku membalas ciuman nya dengan kasar, menyalurkan hasratku yang tertahan sejak kejadian tadi.

Cukup lama kami berciuman hingga napas kami sudah tak beraturan. Suara decapan kami bersaing dengan suara air hujan yang begitu deras membasahi bumi. Tanganku juga tidak tinggal diam, dengan lihainya tangan ini menelusuri tubuh nya yang indah itu.

“Aku tidak mau berakhir di mobil, ayo kita masuk,” kataku serak.

Jangan lupa like, comment and vote ya 😁🙏

hepi sunday... 🇮🇩

1
Icha
semangat nulisnya thor 💪😍
Aku mampir yahh dengan like dan rate nya, Jangan lupa mampir dan feedback ke novel ku yahh ❤Sabda Rindu❤
Terimakasih ditunggu kehadirannya 🥰
Isma Rismaya
seru
MamaNa Nazwa
mantap,,,hrs tegas celsi
MamaNa Nazwa
kecanduan ya babang enrico
Yunerty Blessa
makasih kak thor buat cerita nya.. mantap sekali.. sukses dan sehat selalu 😘😘
Yunerty Blessa
akhirnya tamat juga.. Enrico hidup bahagia bersama Chelsea dan anaknya.. makasih kak thor buat cerita nya 👍👍
Yunerty Blessa
sabar..tahan dulu..
Yunerty Blessa
dag dig dug nih..
Yunerty Blessa
Enrico lelaki lembik tak tegas 😠
Yunerty Blessa
Alina ditolong malah marah ..abaikan saja Chelsea..
Yunerty Blessa
makin seru nih..
Amora
Kita punya tugas yang sama , chelsea .
Yunerty Blessa
senang mereka bersatu kembali..
Amora
Sabar , entarkan jadi rebutan adek kakak . Ups ... bahkan sudah mulai diperebutkan 😉🤭
Amora
boleh juga di coba dengan ide ini
Amora
anda benar banget 🤤😋
Yunerty Blessa
yah Chelsea kembali bersama Enrico lagi
Yunerty Blessa
terima lah Enrico kembali Chelsea.. sudah cukup juga dia berkorban..
Yunerty Blessa
akhirnya Enrico dan Chelsea buka puasa lagi 🤣🤣
Yunerty Blessa
jujur saja Enrico tentang Alina
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!