maizy melihat berita tentang sepasang tulang dengan cincin pernikahan yang saling menggenggam romantis, menandakan cinta mereka tidak akan pernah tergerus oleh peradaban. Di bawah reruntuhan istana yang baru saja di temukan arkeolog Jerman, membuatnya penasaran namun harus menutup rasa ingin tahu nya di sekolah
pada perjalanan dia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang anak laki laki yang sangat ia kenali, seseorang yang selalu menghujami nya dengan perkataan dan perundungan. Di sana Paul berdiri dengan angkuh di saat maizy dengan tertatih memungut buku nya..
perdebatan mereka masih berlanjut, sampai kedua nya muak dan memutuskan untuk beradu mulut dan malah membawa petaka. Kedua nya terjatuh dari tangga lantai 3
saat maizy terbangun, apa lah daya nya. dia terbangun di tengah tengah hutan hujan Jerman kuno, di keliling kuil kerajaan yang tidak asing, namun baru pertama kali ia datangi.
ternyata maizy terlempar ke masa lalu dan harus menduduki tahta ratu
apa yang akan dia lakuka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
Debu di perpustakaan Winterhall malam itu benar-benar tidak bercanda. Begitu Ibu Schmidt meninggalkannya sendirian di lorong belakang, Maizy langsung disambut oleh lapisan debu tebal di rak buku-buku tebal abad pertengahan—bagian sejarah yang tadi sempat 'direkomendasikan' oleh Paul si cowok Kanada menyebalkan itu.
Uhuk! Uhuk!
Maizy terbatuk kecil, cepat-cepat menarik kerah seragamnya untuk menutupi hidung. Kacamatanya berulang kali buram karena uap napas dan keringat yang mulai bercucuran di pelipisnya. Rambut coklat pendeknya yang biasa rapi kini sudah agak acak-acakan karena dia terus-menerus bergerak lincah—dan tentu saja, beberapa kali hampir menyenggol tumpukan ensiklopedia berat sampai jantungnya mau copot.
"Sialan kamu, Paul Graxiel Laxsman..." umpat Maizy pelan sambil menggosok rak kayu itu dengan kain lap setengah basah sampai tangannya terasa pegal. "Dia yang enak-enakan rapat pakai AC, aku yang harus kerja bakti sendirian di sini. Ketua Paskibra apanya, tidak punya rasa solidaritas sama sekali!"
Sebagai seorang yang selalu peduli pada orang lain, Maizy biasanya tidak keberatan membantu bersih-bersih. Tapi kalau ditinggal kabur dengan alasan privilese seperti ini, rasa keadilannya benar-benar berontak. Setiap kali dia menggosok debu dengan hentakan kesal, dia membayangkan sedang menggosok wajah sombong Paul.
Satu jam berlalu, dan tangan Maizy sudah berubah warna jadi keabu-abuan karena kotoran. Seragam rapinya kini ketempelan debu di sana-sini, dan kakinya rasanya mau copot karena harus naik-turun tangga kecil demi menjangkau rak paling atas.
Prak!
"Aduh!" Karena terlalu lelah dan dasar sifatnya yang agak ceroboh, Maizy tidak sengaja menyenggol sebuah kotak kardus tua di sudut rak atas saat hendak turun. Kotak itu jatuh dan terbuka, menumpahkan beberapa dokumen usang ke lantai.
Maizy mendesah frustrasi, langsung berlutut di lantai yang kotor untuk memunguti kertas-kertas itu. Namun, gerakannya mendadak terhenti ketika matanya menangkap salah satu lembaran koran kuno dan jurnal akademis yang terbuka di lantai.
Di sana, tercetak sebuah foto hitam-putih dari sebuah situs penggalian. Dan yang membuat jantung Maizy mendadak berdegup kencang adalah gambar ilustrasi di halaman berikutnya: sketsa dua buah cincin dengan ukiran rumit yang sangat mirip dengan berita arkeolog yang dia tonton di TV saat sarapan bersama Paman Michael pagi tadi.
Rasa lelah dan kesalnya pada Paul mendadak menguap, tergantikan oleh rasa penasaran yang luar biasa sebagai seorang ENFJ yang selalu tertarik pada cerita mendalam di balik manusia. Maizy mengambil jurnal tua itu, mengabaikan debu yang mengotori jarinya, lalu mulai membaca baris demi baris tulisan di sana dengan mata berbinar di balik kacamatanya.
Maizy tersentak saat menyadari cahaya matahari yang masuk lewat jendela besar perpustakaan sudah berubah warna menjadi jingga kemerahan, perlahan bergeser menuju temaramnya malam kota Berlin. Dia melirik jam di dinding perpustakaan. Sudah hampir jam enam sore.
Cepat-cepat, Maizy merapikan kembali jurnal tua yang sempat dibacanya tadi ke dalam kotak, lalu meletakkannya kembali ke rak dengan hati-hati.
Setelah memastikan seluruh rak bersih—meski tubuhnya sendiri sekarang sudah super kotor dan lengket—Maizy berpamitan pada Ibu Schmidt yang rupanya sudah bersiap-siap untuk mengunci perpustakaan.
Begitu melangkah keluar dari gedung Winterhall, angin sore Berlin yang dingin langsung menyapa kulitnya, membuat Maizy sedikit menggigil. Rasanya seluruh badannya rontok. Bahunya pegal, kakinya lemas, dan jemari tangannya terasa kaku karena memeras kain lap berulang kali. Sambil berjalan gontai menuju stasiun U-Bahn, Maizy melihat pantulan dirinya di kaca jendela pertokoan yang dilewatinya.
"Ya ampun... berantakan banget," gumamnya miris.
Rambut coklat pendeknya mencuat ke sana kemari, ada coretan debu hitam di pipinya, dan kacamatanya sudah melorot entah untuk yang ke berapa puluh kalinya hari ini. Mengingat semua kemalangan ini berakar dari Paul si cowok Kanada super angkuh itu, Maizy mendengus kesal dalam hati. Awas saja kalau besok mereka ketemu lagi.
Namun, di tengah rasa lelah yang luar biasa itu, ingatan Maizy kembali pada menu makan malam yang sempat dia janjikan pada pamannya tadi pagi.
Königsberger Klopse. Bakso daging saus putih khas Jerman.
"Ah, aku harus cepat pulang dan masak! Paman Michael pasti sebentar lagi pulang dari shif paginya," batin Maizy, mendadak energinya kembali terisi sedikit karena memikirkan pamannya.
Sebagai seorang yang selalu peduli pada orang terdekatnya, Maizy tidak mau Michael yang sudah lelah menyetir kereta seharian harus mendapati rumah yang berantakan atau kelaparan. Dia pun mempercepat langkah kakinya, bersiap menghadapi perjalanan pulang yang panjang sambil membayangkan kehangatan apartemen mereka di Berlin.
Begitu Maizy sampai di depan pintu apartemen, suasana koridor lantai atas terasa sepi. Saat dia memutar kunci dan mendorong pintu, ruangan di dalamnya gelap gulita. Hanya ada bias cahaya lampu jalanan Berlin yang masuk lewat celah jendela.
Paman Michael belum pulang.
Maizy mengembuskan napas panjang, ada rasa lega sekaligus sedikit bersalah karena dia belum sempat menyiapkan makan malam. Dia menyalakan lampu ruang tengah, meletakkan tas sekolahnya di sofa dengan asal, lalu berjalan lunglai menuju cermin di dekat lorong.
"Astaga, Maizy... kamu benar-benar seperti habis ikut wajib militer," bisiknya pada diri sendiri melihat penampilannya di cermin. Pipinya ada bekas coretan debu abu-abu, seragam Winterhall-nya sudah kusut, dan rambut coklat pendeknya benar-benar mencuat ke segala arah.
Tanpa membuang waktu, Maizy langsung melesat ke kamar mandi. Rasa lelah dan lengket akibat debu perpustakaan tadi sore langsung luruh begitu guyuran air hangat menyentuh tubuhnya. Setelah selesai, dia memakai baju rumah yang nyaman—sweater rajut kebesaran dan celana panjang—lalu segera menuju ke dapur dengan semangat baru. Rasa kesalnya pada Paul untuk sementara dia kunci rapat-rapat di dalam laci ingatannya. Sekarang, fokusnya adalah Michael.
Maizy mulai sibuk di dapur. Dia mengambil daging sapi cincang dari kulkas, mencampurnya dengan telur, remah roti, dan bawang bombay yang dicacah halus untuk membuat königsberger Klopse. Tangannya dengan telaten membentuk adonan daging itu menjadi bulatan-bulatan bakso yang rapi. Sambil menunggu kuah kaldu dan saus putih lembutnya mendidih di atas kompor, Maizy sesekali melirik ke arah pintu depan.
Biasanya, jadwal kereta regional dari Hamburg ke Berlin milik Michael sangat tepat waktu karena pamannya itu adalah masinis yang paling disiplin dan perfeksionis. Namun, malam ini sepertinya ada sedikit keterlambatan, atau mungkin Michael sedang mengurus laporan administrasi pasca-shif di stasiun pusat (Hauptbahnhof).
Sambil mengaduk saus putih di panci dengan hati-hati—bertekad kuat agar tidak ada insiden panci terbang lagi seperti minggu lalu—pandangan Maizy kembali tertuju pada televisi kecil di sudut dapur yang sengaja dia nyalakan dengan volume kecil.
Berita tentang penemuan dua kerangka tangan yang saling berpegangan di reruntuhan kerajaan tak dikenal itu ternyata masih disiarkan secara berkala. Di layar TV, para ahli sejarah di Berlin sekarang sedang memperdebatkan asal-usul simbol misterius pada kedua cincin kuno tersebut.
Maizy mematikan kompor setelah makanannya matang sempurna. Dia menopang dagunya di konter dapur, menatap layar TV sambil melamun. Pikirannya mendadak berputar dari romantisnya kisah dua pemilik cincin itu, lalu melompat ke jurnal tua yang dia temukan di perpustakaan sekolah tadi, hingga akhirnya... wajah menyebalkan Paul Graxiel Laxsman mendadak ikut melintas di otaknya.
"Kenapa aku malah memikirkan si beruang kutub Kanada itu, sih? Menyebalkan," gerutu Maizy sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk mengusir bayangan Paul.
Tepat saat Maizy selesai menata piring dan mangkuk hangat berisi Königsberger Klopse di atas meja makan, terdengar suara kunci yang diputar dari luar. Jantung Maizy berdesir lega. Pintu apartemen terbuka, dan sosok tinggi tegap berbalut seragam masinis melangkah masuk ke dalam rumah.
Paman Michael akhirnya pulang.