bersatu demi keinginan orang tua yang ingin menjodohkan anaknya,demi keperntingan bisnis dan pertemanan,yang dimana sepasang kekasih tersebut menerima keinginan orang tua mereka,tapi dengan awal yang berat akhirnya benih cinta akhirnya tumbuh di hati mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Witan Alfariski, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
"Lo kok bisa ngomong kayak gitu" Tanya Sinta
"Kayak lo gak tau saja,siapa ketos kita yang setiap hari selalu keliling seperti satpol PP"
Mendengar penjelasan dari Wanda membuat Sinta menepuk keningnya,mengiyakan jawaban nya.
Sekarang mereka berdua sedang berada di taman belakang sekolah,tempat ini diyakini mereka berdua akan dilewati lisa pagi iniini.
Lagi asik asiknya mengobrol pembicaraan mereka terhenti ketika melihat Clara Cs lewat.
"Gua kesel banget sama mereka,apalagi gua masih dendam,gara gara kejadian dikantin waktu itu" Ujar Sinta sambil memperhatikan mereka dari jatah jauh.
"Gua jadi heran deh,Lisa yang jadi korban,tapi lo yang dendam"
"Heh,lo sebenarnya temannya siapa sih,kok lo malah belain tuh anak lampir sih" Kesal Sinta.
"Bukan begitu maksud nya,ok deh gua minta maafmaaf,gua yang salah,jadi kita harus gimana nih" Tanya Wanda akhirnya mengakui kesalahannya.
"Kalau kita buat perhitungan sama mereka gimana" Ujar Sinta sambil berfikir rencana apa yang akan dia lakukan.
"Boleh juga tuh,jadi kapan kita buat perhitungan sama mereka"
Belum sempat Sinta menjawab pertanyaan Wanda,mereka berdua dikagetkan dengan seseorang yang berdeham dari belakang mereka,dan berjalan kearah mereka.
"Ehemmm,...perhitungan ya,perhitungan seperti apa?" Tanya seseorang tersebut yang ternyata adalah Roy,dengan tatapan mengintimidasi.
"Eh,kak Roy,he he he, bukan apa apa kok,kak, itu tadi perhitungan matematika,iya kan wand" Jawab Sinta cengengesan.
"He he he,iya kak perhitungan matematika" Jawab Wanda sambil menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
"Gua udah berdiri di sana 15 yang lalulalu dan siapa yang seperti satpol PP" Tanyanya lagi.
"Eh,oh itu,anu...kak,itu..." Sinta gelagapan bingung mau jawab apa,matanya melirik Wanda yang hanya diam saja.
"Anu apa..." Tanya Roy dengan nada datar.
Glek....
Sinta menelan salivanya dengan susah payah.
'Matilah gua sekarang,kali ini gua bakalan ngerasa in diposisi Lisa' batin Sinta.
"Ayo,kalian ikut gua" Pinta Roy dengan nada datarnya.
Laki-laki itu berjalan duluan diikuti Sinta dan Wanda.
Baru berjalan beberapa langkah,mereka dikagetkan seperti suara buah jatuh dari belakang,pandangan mereka bertiga teralihkan kearah belakang ,yang dimana disana ada Lisa yang sedang terduduk di tanah akibat jatuh dari pagar sambil meniupin lututnya yang sakit.
"Lisa...." Teriak Sinta,sedangkan Wanda menutup mulutnya tidak percaya.
Mereka berdua langsung berlari menghampiri Lisa membantu nya berdiri.
"Lo gak apa apa,lis" Tanya Sinta khawatir.
Wanda yang mendengar pertanyaan konyol itu langsung menoyor kepala Sinta.
"Lo buta ya,sudah jelas lututnya dia berdarah seperti ini,masih tanya lagi"
Sedangkan Lisa hanya mendengus kesal melihat tingkah laku kedua sahabatnya.
Roy yang dari tadi masih berdiri dari tempat nya,terus memperhatikan interaksi ketiga gadis di hadapan nya.
"Drama nya sudah" Ujar nya dengan nada santai.
Lisa yang dari tadi tidak menyadari keberadaan Roy langsung berkesiap ketika mendengar suara Roy.
"Eh,kak Roy,masih disitu ya" Tanya Sinta cengengesan.
"Ayo,kalian harus tetap menjalani hukuman kalian" Perintah Roy.
"Kak gak lihat teman kita sedang terluka,kita sebagai seorang muslim dan teman yang baik,kita harus saling menolong orang yang sedang kesusahan,benar kan,sin" Ujar Wanda
"Seorang muslim dilarang berencana dan berbuat jahat antar sesama,apalagi untuk balas dendam"
Wanda seakan dibuat mati kutu oleh perkataan Roy.
" Gua bilang ikut gua sekarang " Perintah Roy akhirnya
Berbeda dengan Wanda,Sinta yang masih mempunyai seribu cara untuk membantah perkataan Roy.
"Kak,kalau kita ikut kakak,trus teman kita yang cantik ini,siapa yang ngurusin"
Sedangkan Lisa hanya meringis menahan sakit di lututnya,sembari kesal dengan orang orang yang sedang berdebat di hadapan nya sekarang.
Roy tidak menanggapi perkataan Sinta lagi,tapi dia langsung merogoh sakunya dan mengambil ponselnya seperti berniat menghubungi seseorang.
"Hallo,ren,ke taman sekarang,jangan lupa ajak Arya sekalian" Ujarnya lalu mematikan ponselnya dan dia masukan ke sakunya kembali.
Kurang dari 2 menit mereka berdua sudah datang.
"Ada apa lagi sih,nganggu orang lagi makan saja" Kesal Arya.
Roy tidak menjawab pertanyaan Arya.
"Kalian urus mereka berdua" Perintah Roy sambil menunjuk Sinta dan Wanda dengan dagunya.
"Beres" Rendy berjalan mendekati kedua gadis itu dan menggandeng tangan Sinta sedangkan Arya menggandeng tangan Wanda.
"Lepasin sakit,beg*,pelan pelan dong" Protes Sinta saat Rendy menarik tangan nya dengan kasar,tapi laki laki itu tidak memperdulikan nya dan terus menariknya.
"Lepasin,gua bisa jalan sendiri,gua bukan hewan piaraan lo"kesal Wanda sambil menatap Arya tajam.
"Ih,dede Wanda,galak amat sih,sama abang" Goda Arya dan mampu membuat Wanda memukul Arya.
Setelah mereka berempat lenyap dari pandangan Roy,laki laki itu menghampiri Lisa dengan tatapan yang sulit diartikan,dengan senyum miring di bibir nya.
Sedangkan Lisa memundurkan langkahnya pelan,karena lututnya masih sakit,sehingga dia sangat kesulitan.
"Kenapa,lo mandang gua,seperti itu" Lisa terlihat sangat salting ketika Roy menatap nya seperti itu.
Roy masih menatap Lisa dan mengamati kelompak matanya yang sembab dan sedikit kecoklatan,seperti seseorang yang sedang menangis.
Roy sengaja mengikis jarak diantara mereka, lalu seperti biasa laki laki itu berbicara dengan sedikit berbisik di telinga Lisa.
"Lo masih ingat kan,sama perjanjian kita kemaren,"
Degggg
Jantung Lisa seperti mau copot dari tempat nya ketika Roy mengatakan itu.
"Gua masih ingat,tapi kesepakatan kita gak akan berubah sedikit pun" Lisa menjeda ucapannya,dia jadi inget tentang keputusan dari Wijaya.
"Maksud lo" Tanya Roy sambil menyipitkan matanya.
"Ya,percuma saja,karena bokap gua tidak bisa di bantah ucapan nya" Terang LisaLisa dengan suara serak,dada gadis itu kembali bergemuruh ketika mengingat kata kata Wijaya semalam. Tidak terasa air mata gadis itu kembali menetes.
"Gu...gua..." Ucapan Lisa terpotong.
"Huuuffftttt" Laki laki itu menaruh jarinya di bibir mungil Lisa.
"Gua tau lo gak pernah menginginkan perjodohan ini,sama seperti gua"
Lisa sempat terpana,dengan ucapan dan wajah tampan Roy dari jarak dekat seperti itu,di tambah suara lembut dari laki laki itu,pasalnya laki laki itu tidak pernah berbicara lembut seperti ini sebelum nya.
Lisa tetap diam,hanya dengan air mata nya dia berbicara.
"Please,corporate,Lis,demi orang tua kita,lo gak sendiri,gua juga sama kayak lo" Sambung laki laki itu masih dengan suara lembut,dan untuk pertama kalinya Roy memanggil Lisa dengan namanya.
Tesssss
Air mata kembali menetas di wajah cantiknya.
"Gua mohon sama lo,Lis,mungkin lo bisa menolak keinginan orang tua lo,tapi gua gak bisa,gua gak bisa ngecewain Bunda" Jawab laki laki itu jujur,lalu mengalihkan pandangannya.