Semua orang mengenal Bintang Prakasa sebagai pengusaha muda yang sukses, berwibawa, dan nyaris sempurna. Namanya terpampang di berbagai media sebagai pemimpin perusahaan besar yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Dengan wajah tampan, kecerdasan tajam, dan kekayaan yang melimpah, ia menjadi sosok yang dikagumi banyak orang.
Namun tidak ada yang tahu kehidupan sebenarnya di balik senyum tenangnya.
Di balik dunia bisnis yang gemerlap, Bintang adalah pria yang mengendalikan salah satu organisasi paling berpengaruh di dunia bawah. Namanya dihormati sekaligus ditakuti. Satu perintah darinya mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.
Meski memiliki segalanya, hidup Bintang tidak pernah benar-benar damai.
Lima belas tahun lalu, ayahnya meninggal dalam sebuah peristiwa yang dianggap sebagai kecelakaan. Semua orang menerima penjelasan itu, kecuali Bintang. Ia yakin ada tangan-tangan kotor yang terlibat dalam kematian ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Serangan Tengah Malam
Dor Dor Dor
Rentetan peluru terus menghantam dinding rumah tua itu, pecahan kaca berhamburan ke segala arah dan debu beterbangan memenuhi ruangan.
Rangga menarik Rania ke balik tembok.
"Jangan keluar dari sini!" bentaknya sambil mengokang pistol.
Rania mengangguk cepat, jantungnya berdegup begitu keras hingga terasa sakit. Baru beberapa menit lalu mereka hampir mendapatkan jawaban, sekarang nyawa mereka kembali berada di ujung tanduk.
Bintang berlindung di belakang sofa tua bersama pria yang mengaku sebagai ayahnya, tatapannya mengarah ke jendela yang hancur.
"Berapa banyak?" tanyanya sambil memasukkan peluru ke magazin.
"Minimal dua puluh orang." Rangga mengintip sebentar ke luar.
"Leonard benar-benar ingin memastikan kita tidak keluar hidup-hidup." Bintang mengumpat pelan.
"Bukan." Pria tua itu menggeleng.
"Maksudmu?" Bintang langsung menoleh.
"Ini bukan cara Leonard." Pria itu menatap ke arah luar.
"Kau yakin?" Rangga mengernyit.
"Aku mengenalnya lebih lama daripada kalian."
Suara tembakan kembali terdengar.
Dor Dor Dor
Salah satu peluru menghantam dinding tepat di atas kepala mereka. Rania menjerit kecil, Bintang segera bergerak mendekatinya.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya sambil berjongkok di depan wanita itu.
"Aku baik-baik saja." Rania mengangguk dengan wajah takut.
"Kau bohong."
"Aku masih hidup."
Bintang menghela napas panjang dalam situasi seperti ini wanita itu masih sempat membantah.
Suara mesin mobil tiba-tiba terdengar dari luar kemudian suasana mendadak hening. Tidak ada lagi tembakan, tidak ada lagi teriakan dan keheningan itu justru terasa lebih mengerikan.
"Kenapa mereka berhenti?" Rangga menatap Bintang.
"Aku tidak suka ini." Bintang menggeleng.
Perlahan ia berdiri dan mengintip ke luar jendela. Halaman rumah kosong, semua kendaraan menghilang, semua penyerang pergi seolah mereka tidak pernah ada.
"Apa yang terjadi?" tanya Rania sambil mendekat.
"Mereka mundur."
"Begitu saja?"
"Itulah yang membuatku khawatir."
"Kita harus pergi sekarang." Pria tua itu tiba-tiba berjalan ke tengah ruangan.
"Kenapa?" Bintang langsung menatapnya.
Karena untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, wajah pria itu terlihat panik.
"Mereka bukan sedang menyerang."
"Lalu?"
"Mereka sedang menahan kita di sini."
Kalimat itu membuat semua orang membeku.
"Menahan kita?" Rangga mengerutkan kening.
"Mereka hanya ingin memastikan kita tidak pergi sampai waktunya tiba." Pria itu mengangguk.
"Waktu apa?" tanya Rania pelan.
Belum sempat pria itu menjawab, suara ponsel Bintang berdering dan semua mata langsung tertuju ke arahnya.
Nomor tidak dikenal lagi, Bintang menerima panggilan itu.
"Halo."
Suara tawa pelan terdengar dari seberang. Leonard.
"Aku harap kau menikmati pertemuan keluargamu," ucap pria tua itu santai.
"Kalau ini ulahmu—" Tatapan Bintang langsung berubah dingin.
"Tenang. Untuk kali ini bukan aku."
Bintang terdiam.
"Jangan bohong."
"Aku tidak sedang berbohong." Suara Leonard terdengar jauh lebih serius dari biasanya.
"Kalau aku jadi kau, aku akan segera pergi dari rumah itu."
"Kenapa?" Rahang Bintang mengeras.
Karena untuk pertama kalinya, ada nada kekhawatiran dalam suara Leonard.
"Karena mereka sudah datang."
Siulan nyaring terdengar dari luar rumah, semua orang langsung menoleh ke arah jendela,kemudian wajah pria yang mengaku ayah Bintang berubah pucat. Sangat pucat.
"Astaga..." bisiknya.
"Siapa mereka?" Bintang langsung sadar ada yang tidak beres.
Pria itu menelan ludah, orang yang selama ini terlihat tenang kini benar-benar kehilangan ketenangannya.
"Bukan Leonard."
"Lalu siapa?"
Pria itu menatap Bintang, lalu menatap Rania, tatapannya penuh ketakutan.
"Mereka adalah orang-orang yang selama ini berusaha membunuh kami semua."
"Namanya?" Rangga mengangkat pistolnya.
Pria itu membuka mulutnya, namun sebelum sempat menjawab, ledakan besar mengguncang bagian belakang rumah.
BUMMM
Lantai bergetar hebat, langit-langit mulai runtuh. Rania kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh, tetapi Bintang segera menangkap tubuhnya.
"Pegang aku," ucapnya sambil menarik Rania mendekat.
Asap mulai memenuhi ruangan, alarm mobil di luar berbunyi bersahut-sahutan. Di tengah kekacauan itu, sebuah bayangan muncul di ambang pintu depan yang hancur.
Seorang pria tinggi berpakaian hitam berdiri di sana, wajahnya tidak terlihat jelas, namun sesuatu membuat semua orang membeku. Pria itu memegang sebuah foto, foto yang sama dengan foto bayi Rania. Ia mengangkat foto itu perlahan tersenyum.
"Sudah lama sekali aku mencari kalian," ucapnya dengan suara tenang.
Bintang mengepalkan tangannya.
"Siapa kau?" bentaknya.
Pria itu melangkah masuk, tatapannya berhenti tepat pada Rania dan senyumnya semakin lebar.
"Aku?" ujarnya pelan. "Aku adalah orang yang seharusnya menjadi ayah Rania."