Dua orang yang dipaksa hidup untuk ambisi orang lain, bertemu di tempat paling brutal: ruang operasi. Tekanan membuat mereka hancur, tapi juga satu-satunya tempat mereka jujur.
Devan Adiguna Handaru, Konsulen Bedah Thoraks dan Kardiovaskular, 35 tahun. Pewaris rumah sakit swasta terbesar. Hidupnya cuma sekitar nama keluarga dan pisau bedah.
Savira, residen muda yang mimisan di tangga darurat. Tapi tetap senyum ke pasien. Hidupnya cuma jaga gawang ekspektasi mamanya.
Mampukah dua orang yang hanya kenal cairan infus dan darah... menambahkan warna untuk hidup satu sama lain? Atau ambisi Chandra Handaru yang akan menghancurkan mereka sebelum cinta sempat tumbuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starry Light, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Dingin
Hembusan angin menyentuh kulit mulus Feli. Gadis cantik dengan dress hitam itu memejamkan matanya. Menikmati suasana rooftop rumah sakit. Sepi. Hanya ada suara kota dari bawah.
Di sebelahnya, Arlo berdecak. Lalu menggelengkan kepalanya. Geli, sekaligus kesal melihat tingkah sang adik. Pandangannya lurus ke dapan, dengan kedua tangan masuk saku celana hitam.
Feli buka mata. Menarik napas dalam-dalam, kemudahan menoleh Arlo yang masih memasang wajah datar.
"Kenapa kakak tidak langsung pulang ke rumah?" suaranya pelan. Kecewa. "Bahkan kakak tidak menemui Papi." pandangannya ke bawah. Ke kemacetan jalan Jakarta meski bukan jam pulang kantor.
Arlo menatap sang adik. Gadis berusia 24 tahun itu baru saja menyelesaikan PPDS. Gelar SPKK di tangannya sudah resmi 2 bulan yang lalu. Selesai dalam waktu 3 tahun. Terlalu cepat. Terlalu cepat untuk orang normal.
Tapi gen kecerdasan keluarga Pratama dan Aditama yang dimiliki Feli. Membuat semua itu terasa wajar. Dari kecil, ia sudah akselerasi. SMA 2 tahun. FK 5 tahun lulus cumlaude. Langsung masuk PPDS tanpa jeda.
Feli bahkan punya produk skincare yang sangat laris di pasaran. Brand 'FELIE BEAUTY' itu launching pas dia umur 22 tahun. Sold out dalam waktu 40 menit. Sampai sekarang antriannya masih panjang.
Statusnya sebagai dokter muda dari keluarga konglomerat, dan visualnya yang ia gunakan sebagai wajah brand membuat produknya meledak dipasaran.
Cantik. Pintar. Kaya. Triple heart.
Arlo kembali menatap lurus ke depan. Ingatannya melayang jauh ke belakang. Ke ruang tamu rumah keluarga Pratama 26 tahun yang lalu. Ke malam yang menjadi alasan ia tidak dekat dengan Darma. Sebuah kenyataan pahit yang ia telan sendiri. Selama 33 tahun.
"Aku sudah memberikan namaku untuknya. Jangan menuntut lebih, Widia. Dan aku harap kedepannya dia tidak mengotori nama itu!" wajah Darma merah padam. Pria 35 tahun marah karena desakan sang istri, yang ingin ia lebih dekat dengan putranya.
"Aku butuh waktu untuk menerima anak pria lain. Bukan berarti aku membencinya, aku hanya butuh waktu." tandasnya.
Arlo masih ingat kata-kata Darma. Setiap detail. Bahkan bagaimana nadanya. Ia tidak lupa. Saat itu ia baru berusia 7 tahun, bersembunyi dibalik pintu, belum tahu artinya.
Tapi semakin bertambahnya usia, Arlo paham jika ia bukan putra kandung Darma Pratama. Ia anak yang tidak pernah di ketahui ayahnya. Surya Aditama, sang kakek menutup rapat rahasia itu.
"Kau putra Darma Pratama. Entah darah itu ada atau tidak dalam tubuhmu. Semua orang akan mengenalmu putra Darma, bahkan sampai akhir hidupmu." suara kakek Surya menggema saat Arlo bertanya siapa ayah kandungnya.
Tepat 17 tahun yang lalu, setelah ia mendapat kartu identitas. Arlo merasa sudah dewasa dan tahu tentang ayah kandungnya. Tapi nihil, bahkan sampai saat ini ia tidak menemukan informasi apa pun.
Tidak ada nama. Tidak ada foto. Tidak ada jejak apapun. Seakan ayah kandungnya itu hantu. Hilang ketika Widia menikah dengan Darma.
Bertanya pada sang ibu, Widia. Wanita itu tetap bungkam. "Darma satu-satunya ayahmu." begitulah jawaban Widia dari tahun ke tahun.
"Kak..." Suara Feli menarik kesadaran Arlo.
Ia melihat jam tangannya, dan menghembus napas pelan. "Ini sudah jam 1. Sebaiknya kamu kembali ke klinik." kata Arlo mengabaikan pertanyaan Feli.
Lagi-lagi menghindar. Lagi-lagi dingin.
"Besok akan ku kirim hadiah kelulusan mu." Ia memutar tubuhnya. Namun saat akan melangkah, suara Feli menghentikannya.
"Kenapa? Kenapa kakak begini?" Suaranya lirih. Matanya mulai berkaca-kaca. 24 tahun selalu diabaikan. Feli merasa sedih dan muak.
Arlo mengepalkan tangannya. Punggungnya masih membelakangi Feli. "Jaga batasan mu, Feli." suaranya datar. Dingin.
Bughh!
Feli melangkah maju dan memukul bahu Arlo.
Matanya menyala. Marah. Kecewa. "KENAPA? APA KAKAK PIKIR AKU AKAN KECIL YANG TIDAK TAHU APA-APA?!" teriaknya dengan napas naik turun.
Arlo akhirnya berbalik. Wajahnya tidak marah. Tidak juga tenang. Hampa. "Bahkan tidak tahu apa-apa lebih baik. Daripada tahu segalanya dan hancur." kata Arlo pelan. Rapuh.
Kata-kata itu lebih tajam. Lebih menyakitkan daripada pukulan Feli.
Arlo mengangkat tangannya. Mengusap lembut kepala Feli. Air mata gadis itu sudah meleleh, membasahi pipi mulusnya. "Terkadang, tidak tahu apa-apa itu berkah hidup. Menyelamatkan mu dari kegelapan." suaranya pelan. Seperti berbisik.
Feli memejamkan matanya. Menikmatinya sentuhan hangat tangan kakak nya ya g sudah lama ia nantikan.
Ia menatap sendu Feli. Dalam hatinya, Arlo menyesal. Kenapa malam itu harus bangun dari tidurnya? Kenapa sangat ingin menyambut kedatangan papinya? Harusnya Arlo kecil sudah biasa jarang melihat papi. Jarang bermain dengan papi yang sibuk dengan profesi nya.
Ya, Arlo sedikit menyesal mengetahuinya rahasia itu. Jika saja ia tidak tahu dan tidak pernah tahu. Mungkin hubungannya dengan Darma tidak akan sedingin ini. Ia tidak perlu bekerja keras, untuk membuktikan dirinya pantas menyandang nama Pratama.
Tidak perlu menjadi yang terbaik di ruang operasi. Tidak perlu membaca banyak jurnal yang membuat matanya pedas. Tidak perlu menahan diri untuk menikmati masa-masa remaja nya.
Arlo menarik tangannya. Tatapan sendu tadi, kini kembali datar ketika Feli membuka matanya.
"Aku harus kembali bekerja." katanya memutar tubuh dan benar-benar pergi meninggalkan Feli sendiri.
Tubuh Feli langsung merosot saat tubuh Arlo menghilang di balik pintu rooftop. Punggungnya bergetar saat tangisnya pecah. Tumpah. Arlo masih sama. Masih dingin dan sangat menjaga jarak.
Statusnya memang saudara. Kakak. Tapi pria itu membangun dinding kokoh yang seharusnya tidak ada dalam hubungan persaudaraan.
Feli memeluk tubuhnya sendiri. Duduk di lantai rooftop yang kotor. Berdebu. Tapi ia tidak peduli. Kepalanya di penuhi banyak pertanyaan.
Kenapa kakaknya bersikap dingin? Kenapa kakaknya menjaga jarak? Kenapa orang papi mami tidak mempermasalahkan sikap Arlo? Kenapa sikap mereka seolah membenarkan Arlo? Memaklumi nya.
Padahal menurut Feli. Sikap Arlo tidak mencerminkan jika mereka adalah keluarga. Arlo terlalu tenggelam dengan dunianya sendiri. Padahal ia punya keluarga lengkap.
Sedangkan di dalam ruangannya. Arlo memijat pangkal hidungnya. Menyesal. Sehat, ia tidak sekeras itu pada Feli. Walau bagaimanapun, Feli adiknya. Seharusnya ia bisa bersikap sedikit hangat.
Arlo membuang napas kasar. Lagi-lagi penyesalan selalu datang terlambat. Kali ini, ia memperdalam luka hati Feli.
Tahun lalu, saat Feli terbang ke Boston menyusulnya. Ia malah menginap di hotel. Membiarkan Feli sendirian di apartemennya. Padahal niat Feli datang menemuinya untuk berlibur. Menghabiskan waktu bersamanya.
Dan apa yang Arlo lakukan? Menghindar. Mengabaikan. Membiarkan Feli sendirian selama 3 hari di apartemen dengan alasan sibuk.
*
*
*
*
*
To be continued