NovelToon NovelToon
Calon Suamiku, Pak Perwira!

Calon Suamiku, Pak Perwira!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Slowburn—Romansa Komedi


Naira tidak pernah membayangkan dirinya akan dijodohkan.

Apalagi dengan Arka— seorang perwira muda pendiam yang baru dikenalnya beberapa jam, tetapi sudah membuat jantungnya gugup setiap kali lelaki itu menatap.

Sementara Arka sendiri tidak pernah pandai berbicara manis.

Ia hanya hadir dengan sikap tenang, perhatian sederhana, dan kebiasaan selalu datang tepat waktu.

Di antara suara radio tua, hujan sore, dan telepon wartel yang sering terputus, hubungan mereka tumbuh perlahan.

Canggung. Pelan. Tapi diam-diam menghangatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 04

...~Kaos Basah Arka~...

Naira tersenyum pada Arka sebelum akhirnya berlari masuk ke dalam rumah.

Namun, Om Seno dan Ayah Naira justru terlihat lebih heboh daripada siapa pun.

"Lihat tuh, Yok," ujar Seno sambil tertawa lebih dulu melihat tingkah kedua anak itu.

Arka masih berdiri sambil tersenyum ke arah Naira yang menjauh. Sementara itu, gadis tersebut melangkah terburu-buru seolah sedang dikejar sesuatu. Barang belanjaannya bahkan nyaris dilempar begitu saja ke atas dipan di dekat dapur kotor.

"Kamu kenapa sih?" tegur ibunya yang mulai kesal melihat tingkah putrinya.

Naira menoleh lalu menyeringai lebar.

"Naira bau, Bu. Mau mandi dulu."

Tanpa menunggu jawaban, ia segera masuk ke kamar, mengambil pakaian ganti, lalu menuju kamar mandi.

Di depan cermin, tatapannya jatuh pada bayangannya sendiri. Tangannya masih sedikit gemetar. Entah karena gugup atau karena udara yang terasa dingin.

Ia meraba ketiaknya lalu mencium aroma tubuhnya sendiri.

Seketika wajahnya berubah aneh.

Bibirnya mencebik. Dahinya berkerut.

"Aku bau ketek..." gumamnya pelan.

Lalu ingatannya kembali pada kejadian beberapa saat lalu.

Saat ia berdiri terlalu dekat dengan Arka.

...----------------...

Di halaman rumah Naira, sebuah teko teh masih mengepulkan uap panas. Beberapa cangkir dan piring berisi camilan tersaji di atas meja.

Tiga pria itu menikmati sarapan kecil sambil memperhatikan bagian atap yang akan diperbaiki.

"Bocornya banyak, Om?" tanya Arka.

"Mayan. Bahkan kalau hujan deres, parah. Takut lama-lama merembes dan bikin lembap."

Belum sempat percakapan berlanjut, suara seorang wanita terdengar mendekat dari arah jalan.

"Wah, lagi benerin apa, Mas Doyok?" tanyanya ramah.

Gincu merah menyala menghiasi bibirnya, berpadu dengan bedak tebal yang sedikit berbeda dari warna kulitnya.

"Benerin genteng, Mbak."

Wanita itu melirik ke arah rumah, lalu kepada ketiga pria di hadapannya.

"Tadi saya lihat Naira boncengan sama lelaki," katanya pelan. "Siapanya Naira, Mas?"

Ayah Naira menoleh ke arah Arka sebelum menjawab santai.

"Doain aja biar jodoh."

Raut wajah wanita itu langsung berubah. Ia baru saja menemukan bahan gosip yang menarik.

"Wah, selamat dong."

Senyumnya melebar, memperlihatkan sepasang taring emas.

"Ngomong-ngomong, yang mana orangnya?"

Seno terkekeh.

"Anak saya, Mbak Wati."

Wanita yang dipanggil Mbak Wati menyipitkan matanya. Memastikan pengenalannya pada Seno.

"Ya ampun, Mas Seno!" Ucapnya jauh lebih ramah dengan tawa sopan yang sedikit berlebihan.

Wanita itu langsung mendekat.

"Apa kabar?"

"Kabar baik."

"Kapan pulangnya?"

"Baru kemarin sore."

"Oh..."

Matanya kini beralih kepada Arka.

"Ini anakmu?"

Arka buru-buru berdiri dan mengulurkan tangan.

"Arka."

"Wah, ganteng juga calon suami Naira."

Dua pria paruh baya itu saling bertukar pandang sambil menahan senyum.

Sementara Arka hanya mengangguk sopan dengan senyum tipis di wajahnya.

"Kalau begitu saya permisi dulu."

Begitu wanita itu pergi, tawa kedua pria tersebut justru semakin keras.

Mereka menoleh ke arah Arka.

"Kalau cocok, boleh dideketin dulu."

Arka hanya tersenyum tanpa membalas.

Lalu obrolan berpindah topik pada pembenahan genteng di rumah Naira.

...----------------...

Di dapur rumah Naira, asap dari tungku kayu perlahan naik memenuhi sebagian ruangan.

Aroma ketumbar dan santan samar bercampur dengan asap yang mulai menghilang di balik pintu belah yang terbuka area atasnya.

Ibu Naira sedang menguleni adonan lepet jagung di atas dipan kayu, sementara Naira sibuk memasak.

Di atas tungku minyak tanah, wajan penggorengan terus berbunyi gemericik.

Beberapa potong tempe sedang digoreng hingga renyah.

Naira duduk di kursi kecil sambil mengulek sambal bawang mentah di cobek. Warna merah cabai rawit tampak mencolok. Setelah bumbu dirasa cukup halus, ia menyendok sedikit minyak panas dari penggorengan tempe lalu menuangkannya ke atas sambal.

Satu hingga dua sendok hingga berbunyi 'cessss...' halus. Aroma pedas langsung tercium samar.

"Nai!"

Naira menoleh.

Ibunya masih duduk sambil melipat kulit jagung.

"Sini."

"Ada apa, Bu?"

"Lebih dekat."

Naira mendengus kecil, tetapi tetap menghampiri.

"Ibu penasaran."

"Penasaran apa?"

Ibunya mengernyit.

"Kamu pakai minyak wangi seberapa banyak sih?"

Bola mata Naira bergerak ke kanan dan kiri.

"Kayak biasanya."

"Nggak."

"Serius."

"Ibu nggak percaya."

Ibunya menyipitkan mata.

"Ini nyengat banget. Masa tadi saat asap banyak ngepul kecium wanginya."

Naira ikut mencium bahu kanan dan kirinya.

"Nggak kok, Bu."

"Enggak gimana? Ini udah kayak parfum semprot keliling."

Ibunya bahkan menutup hidung. Mengibaskan satu tangan lainnya.

"Ganti baju sana. Ibu pusing."

Naira kembali mencium dirinya sendiri.

Setelah mandi tadi, memang ia sengaja memakai tawas lalu menyemprot parfum sedikit lebih banyak dari biasanya.

"Nggak ah."

Ibu Naira memicingkan mata.

"Jangan-jangan..."

Naira langsung merasa tidak enak.

"Kamu mandi kembang tujuh rupa, ya?" seru ibunya setengah berteriak.

Naira langsung tergelak.

"Kurang kerjaan."

"Ya siapa tahu habis dibonceng Arka langsung pengen wangi."

Deg.

Naira terdiam.

Desir dadanya lembut namun lebih cepat dari biasanya.

Di saat yang sama, suara dari luar dapur terdengar.

"Ka! Udah siap belum?"

"Udah, Om! Mana kayunya?"

Naira tanpa sadar menoleh ke arah jendela.

Arka sedang menaiki tangga kayu. Duduk di atas tembok rumahnya. Panas terik membuat siluet wajah pria itu kian jelas.

"Wah, Arka pemberani juga."

Ibunya mencolek lengannya.

"Lihat tuh. Kerjaan rumah juga bisa."

"Apaan sih, Bu."

Wajah Naira mulai memanas. Perlahan rona merah dipipinya terlihat jelas.

Ia buru-buru mengalihkan perhatian ke tempe yang sedang digoreng.

Dari luar, suara-suara itu masih terdengar bersahutan.

"Om, paku sama palunya!"

"Bentar!"

"Kayunya mana, No?"

"Iya, iya. Ini aku ambilin! Ukuran yang mana?"

"Yang paling kecil, Pak."

Keributan tiga pria itu membuat suasana dapur terasa berbeda.

Ibunya bahkan beberapa kali terlihat hampir tertawa.

"Bapakmu itu..."

Atau kadang,

"Mereka ribut banget."

Sementara itu, Naira tetap berdiri di depan tungku minyak tanah. Setelah tempe selesai digoreng, ia melanjutkan memanaskan rica-rica sisa semalam.

Lodeh di atas tungku kayu juga sudah matang dan tinggal menunggu bumbunya semakin meresap.

Keributan kembali terjadi dari luar.

"Udah, Ka?"

"Udah, Om."

Naira menoleh ke arah pintu yang mengarah ke halaman.

Arka sedang duduk di atas atap, menerima uluran genteng satu per satu sebelum menatanya dengan hati-hati.

"Liatin aja, mumpung gratis."

Suara ibunya terdengar seperti bisikan.

"Apaan sih! Naira cuma sebel denger mereka berisik."

Ibunya terkekeh.

"Iya, iya. Yang sebel."

Naira langsung mencebikkan bibirnya.

Beberapa menit berlalu, Naira benar-benar tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Ia kembali menoleh ke arah luar.

Kali ini Arka sudah turun dari tangga.

Tatapan mereka bertemu.

Untuk sesaat ia memperhatikan dengan seksama.

Arka tampak berkeringat setelah bekerja di bawah matahari. Kaosnya sedikit basah, terutama di bagian dada dan ketiak. Rambut cepaknya juga lembap, sementara wajahnya tampak mengilap terkena cahaya siang.

Seolah sadar sedang diawasi oleh Naira, pria itu tersenyum.

Deg.

Naira membeku.

Seolah seluruh napasnya berhenti sesaat.

Seolah udara di sekitarnya mendadak menghilang.

...----------------...

1
Ana Dww
Ini adalah karya bergenre Romansa Komedi yang pertama aku buat.

Semoga cerita ini bisa dibaca dengan ringan, canda, dan tawa kepada kalian. Terimakasih atas dukungannya. ❣️

Salam hangat juga dari Arka—Naira, mereka selalu menunggumu membaca cerita mereka.
MayAyunda
keren👍👍
NonaAns
Salting niye 🤭 gemes bgt
NonaAns
Arkanya modus ah wkwkwkw
Ana Dww: Aduuhh, ketahuan dehhh
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍😍
Ana Dww: Terimakasih kak ❣️❣️❣️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!