Eko Davka terjebak tuduhan memalukan, di tuduh mandul oleh Selvia, istri sahnya sendiri, yang membuat harga dirinya tercoreng. Untuk membuktikan semua omongan itu salah, dia punya satu jalan, memiliki keturunan.
Pilihannya jatuh pada Nayyara, gadis muda yang dia beli seharga 300 juta rupiah dari pemilik klub malam, tempat gadis itu bekerja. Davka mengajukan perjanjian, menikah secara kontrak, Nayyara akan memberinya keturunan, lalu semuanya selesai.
Namun Nayyara menolak diperlakukan sebagai mesin pembuat anak. dia ingin bebas—asal bisa mengembalikan uang yang telah dikeluarkan Davka. Tapi bagaimana? Uang sebanyak itu mustahil dia miliki. Terjepit ketakutan dan keterbatasan, Nayyara akhirnya menyerah dan menerima takdirnya, menjadi istri kedua pria dingin berkuasa itu.
Akankah pernikahan yang dimulai dari paksaan dan perjanjian hanya berakhir saat kontrak selesai? Atau benih-benih cinta justru tumbuh di antara ikatan Davka dan Nayyara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Kelakuannya Selvia yang aneh.
tidak untuk anak dibawah umur !!
"Ahk~~ tuan muda, sakit" Nayyara mengeluh seperti merasa gundukannya sudah lecet, lelaki itu seperti macan yang terus mengigit kasar, tak peduli jika itu jadi lecet dan Nayyara terus mengeluh kesakitan sampai nyaris menangis.
"Ah~ berhenti, sakit tuan muda hiks" Davka terpaksa berhenti dari kegiatannya, dia kesal ketika wajah istri barunya itu sudah basah dengan air mata, sebenarnya dia berharap reaksi balasan yang bagus, namun Nayyara sungguh payah, dia malah terus ketakutan dan menangis, hanya karena tubuhnya di nikmati suaminya.
"Hah sial, kok malah nangis!" Davka melepas celananya, karena dia berharap kegiatan ini cepat selesai, dan tak perlu melihat air mata gadis itu.
"Jangan nangis, aku janji gak akan kasar" Nayyara mengangguk pasrah lalu memejam lagi, lelaki itu membuka lebar kedua kaki Istrinya, tampaklah bagian yang masih rapat yang membuat Davka meneguk gairah lagi.
Sungguh beda dengan wanita di club malam dan milik Selvia yang sudah longgar, dia mulai mengatur posisinya berada di atas tubuh Nayyara. "Ahh~~......" Nayyara menggigit keras bibirnya, rasa sakitnya berkali lipat dari yang tadi, dia sampai meremas seprei karena takut suaminya marah lagi.
'Argh, kenapa ini sakit sekali, aku gak tahan'
Nayyara membatin dengan menahan air matanya, dia meremas makin keras sprei yang sudah berantakan, sungguh dia tak bisa menahannya lagi untuk tak menangis.
"Aish, kenapa masuknya susah sekali?!" Davka merubah posisi sedikit duduk, dia makin melebarkan kedua kaki istri barunya yang hanya diam seperti patung dengan mata memejam rapat.
"Buka ini, cepat taruh kakimu di sini" Nayyara mengangguk patuh, lalu menjepitkan kedua kakinya di pinggul Davka, dia meremas sprei lagi ketika makin kesakitan.
"Ah sakit, tuan muda tolong pelan!" Nayyara tak tahan lagi berteriak karena Lelaki itu terus berusaha mendorong tanpa ragu, kedua mata Nayyara basah, karena menangis.
"Aish tahan sebentar, sial kamu sempit sekali!" Davka hampir putus asa, seumur-umur baru kali ini dia menggarap gadis..
"Ahh!!" Nayyara memekik dan menjambak keras rambut hitam lelaki itu, jika tak dalam posisi ini, mungkin Davka akan ngamuk rambutnya sudah dijambak, namun kesakitannya tadi sudah terbayarkan dengan nikmat yang dia dapatkan, dia sampai mengeram ketika Nayyara seperti mencengkram nya.
"Ssh~~ ini enak sekali" Lelaki itu menikmati posisi ini, yang baru bisa dia dapatkan dari Nayyara, dia tersenyum puas ketika melihat banyak bercak merah di seprei yang sudah berantakan. Lalu Davka mulai bergerak cepat setelah Nayyara mulai terbiasa, dengan dorongan yang makin dalam dan cepat dia terus bergerak, membuat tubuh gadis itu bergerak tak tentu kesana kemari.
Setelah berjalan beberapa menit, rasa nyeri tadi berubah nikmat ketika gerakan Davka makin cepat, di bawahnya Nayyara mendesah keras, meremas makin keras seprei karena takut memeluk leher suaminya, larangan di perjanjian sangat jelas jika dia di larang membalas sentuhan Davka dalam bentuk apapun.
"Ahh aku mau sampai~~" Davka melenguh makin keras, dia terus mendorong cepat membuat tubuh Nayyara bergerak mengikuti, gadis itu mendesah panjang ketika meledak duluan, baru kali ini Nayyara bisa merasakan nikmatnya, setelah tadi dia kesakitan luar biasa.
"Ahh Sel~~~ aku mencintaimu......." Davka mungkin lupa jika yang sedang bersamanya itu bukan Selvia, tanpa ragu dia mengeluarkan di dalam dan jatuh terkulai dengan perasaan puas. Sel? Nayyara terdiam ketika mendengar itu, dia memanggil 'Sel' siapa dia, tapi Nayyara tak berani bertanya atau bicara sesuatu pada Davka, yang sudah hampir terlelap dan menutup tubuhnya dengan selimut.
"Setelah ini kamu keluarlah, aku mau tidur!" Davka berubah posisi memunggunginya dan tak ada suara apapun setelah itu.
Nayyara menatap langit-langit kamar ini yang tinggi, suasana berubah sepi hanya terdengar dengkuran halus pria itu, kamar dengan penerangan yang hanya mengandalkan lampu di meja nakas, setitik air mata meluncur dari mata sembabnya, Nayyara buru-buru menghapusnya, lalu menoleh pada Davka yang sudah tertidur pulas setelah mendapatkan haknya.
Dengan perlahan Nayyara berusaha turun dari ranjang ini, dia tak mungkin tidur di sini dan esok pagi mendapat amukan dari suaminya itu, karena melanggar perjanjian mereka.
*
*
Lima hari kemudian.
Sekarang jarum jam sudah berada hampir di angka sembilan malam sejak Davka pulang ke rumah empat jam lalu, dan sang istri tak ada di rumah ini, padahal tadi siang Selvia bilang sudah pulang ke rumah, setelah lima hari menginap di rumah orang tuanya dengan alasan ibunya sakit. Tapi sekarang entah kemana istrinya itu pergi, malah Davka yang resah menunggu wanita itu di apartemen ini sendirian.
"Kemana saja sih dia? Sampai jam segini masih kelayapan di luar" Lelaki itu sudah lelah sejak tadi mondar-mandir di kamarnya, sambil berusaha terus menelpon istrinya namun panggilannya tak juga bisa tersambung, dan diangkat oleh Selvia.
Setelah mandi tadi Davka kelaparan di rumah ini tak ada makanan apapun, Selvia mungkin tak masak, lalu Davka terpaksa memasak mie instan ala kadarnya untuk mengisi perutnya yang demo sejak tadi, dan dengan dongkol berkali-kali Davka terus berusaha menghubungi sang istri lagi, namun ponselnya hanya berdering tak di jawab si pemiliknya.
"Ya ampun dia ke mana sih? Nggak biasanya sampai malam begini belum pulang juga dan teleponku gak di angkat, kelakuannya makin ameh aja, tahu begini aku pulang ke vila saja tadi, huh~" Lelaki itu ngedumel sendiri ketika ingat saat menginap di vila selama lima hari bersama istri yang lain, Nayyara bisa melayaninya dengan baik, bukan hanya soal urusan ranjang namun juga soal makanan dan kebutuhan lainnya seperti pakaian.
Nayyara meskipun jauh lebih muda dari Selvia tapi dia lebih dewasa dan perhatian, beda dari Selvia yang sering masa bodoh soal makanan apa yang di inginkan suaminya, Davka selama di apartemen bahkan lebih sering pesan makanan delivery, daripada makan masakan dari Selvia
Davka menatap cemas jendela besar kamarnya dan di luar sana hujan cukup deras malam ini, Lelaki ini makin kuatir dengan sang istri yang belum juga pulang.
PIP..... PIP....
Davka mendengar pintu depan apartemen yang terbuka setelah ada bunyi bip tanda ada yang masuk, dan kontan saja Lelaki itu berlari ke ruang tamu.
"Ya ampun Sel, kok kamu baru pulang?!" Davka berteriak lega saat melihat wanita itu baru masuk, dan melepas jaketnya yang basah.
"Eh aku kira kamu belum pulang mas, kok kamu belum tidur?"
"Kamu dari mana saja sih sayang, ini sudah malam gak mungkin aku masih di luar, kamu juga dari sore aku tungguin sampai jam sepuluh malam, malah baru pulang, Lihat sampai jaketmu basah begini" Selvia tersenyum lalu berjalan kedapur setelah meletakkan sepatu di lemari dan tasnya di meja.
"Tadi aku sama Selly dan Dira, kami jalan jalan ke mall, lalu ke SPA sekalian, nggak terasa lupa waktu, lalu saat mau pulang hujan deras jadi kami makan malam dulu di rumah Selly sambil menunggu hujan sedikit reda, maaf ya mas"
"Huft~ aku cemas tadi, biasanya kamu nggak pernah di luar rumah jika sudah malam, ini juga sudah jam sepuluh malam lebih, tumben banget kamu jadi aneh?" Selvia agak gugup dengan ucapan Davka, semoga saja suaminya tak curiga karena sebenarnya tadi sejak siang dia ada kencan dengan Agung, sampai saat ini Selvia masih berusaha membuat dirinya hamil.
"Maaf ya mas, akhir-akhir ini aku kesepian di rumah, kamu sibuk di kantor terus sejak pagi, kemarin malah keluar kota dua hari, aku stres jika di rumah terus sendirian, apalagi kemarin aku habis ngurusin ibuku yang sakit, jadi aku cari hiburan dengan teman-teman ku" Selvia mengalungkan lengannya mesra di leher kokoh Davka, lalu mencium juga bibirnya