NovelToon NovelToon
Gelora Cinta Dalam Dendam

Gelora Cinta Dalam Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:772
Nilai: 5
Nama Author: yourladysan

Rencana pernikahan Amaia dengan putra kedua keluarga Tedjakusuma berakhir sangat jauh dari impian indahnya. Pembatalan pernikahan dan menghilangnya sang calon suami membuat Amaia merasa sangat kecewa. Sementara di sisi lain, Widitama si putra tertua mengajukan diri untuk menggantikan sang adik sebagai suami untuk Amaia.

Amaia yang selama ini hanya menganggap Widitama sebagai kakak, harus pura-pura menerima pernikahan untuk mencari tahu kebenaran tentang pembatalan pernikahannya. Satu rahasia besar yang Amaia lewatkan adalah Widitama sudah lama mencintainya. Bisakah Amaia mengungkap kebenaran dan menerima perasaan Widitama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yourladysan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fakta-Fakta Baru

Seolah bisa membaca isi pikirannya, Amaia terkejut saat pria itu berkata, "Saya ingin menghancurkan Ferdian Tedjakusuma, Mai Kecil."

Keheningan menerpa di antara keterkejutan pasca pengakuan Widitama. Pikiran Amaia berkecamuk sesaat, berusaha sekeras mungkin untuk menerka maksud dari penuturan tadi. Amaia menatap suaminya yang masih berdiri di depan papan kaca dengan beberapa foto serta gambar garis-garis yang saling terhubung. Wajah tegas Widitama menyiratkan bahwa tak ada kebohongan yang terlontar dari kalimat tadi.

"Saya hampir tak pernah menceritakan ini pada pada orang lain. Tapi karena kamu setuju diajak bekerjasama, saya katakan padamu sekarang. Inilah rencana saya dan kalau kamu tetap ingin melanjutkan, saya bantu kamu mencari tahu apa yang kamu inginkan," kata Widitama.

Amaia masih belum tersadar dari rasa tak percaya. Berapa banyak hal yang sebenarnya yang tidak ia ketahui?

"Tapi kalau kamu ingin mundur ...."

"Sebentar," ucap Amaia memangkas kalimat Widitama. "Aku masih terlalu bingung dengan semua ini, Mas. Kenapa kamu menghancurkan ayahmu sendiri? Apa karena kamu bukan anak kandungnya?"

"Alasan saya nggak sesederhana itu. Intinya, saya punya rencana dan dendam pribadi. Kamu cukup tau tentang itu saja. Sekarang, kita bahas tentang keluargamu dan keluarga Tedjakusuma," jawab Widitama.

Perempuan berpinggang kecil itu menggeleng. "Aku mau tau semuanya. Kita sepakat untuk bersekutu dan aku nggak mau ada satu hal pun yang terlewat. Termasuk rencana kamu."

Seringai menyebalkan Widitama terlihat. Amaia memutar bola mata dengan malas karena suaminya selalu terlihat menjengkelkan kalau sudah menyeringai atau tersenyum mengejek. Pria itu berjalan mendekati lemari pendek di pojok ruangan. Ia menarik satu berkas dari sana dan melempar pelan ke tengah meja kosong.

"Apa ini?" tanya Amaia.

"Sesuatu tentang saya. Kamu lihat saja dulu."

Amaia mengambil benda itu cepat-cepat dan mengeluarkan isinya. Lembaran kertas itu berisi laporan hasil pemeriksaan DNA yang menunjukkan probability of paternity antara Widitama dan Ferdian. Telapak tangan kanan Amaia seketika membekap mulutnya sendiri ketika melihat hasil itu.

Saking kaget, Amaia menjatuhkan kertas ke meja. Kedua matanya membulat kaget saat menatap sang suami.

"Jadi, kamu bukan anak angkat Om Ferdian?" Amaia terbisa memanggil Om alih-alih papa.

"Hasil yang sudah jelas, kenapa ditanyakan lagi?" Widitama mengambil kertas tersebut dan memasukkan kembali ke dalam amplop berkas. "Sudah, cukup. Informasinya segitu saja dulu."

"Nggak. Aku mau tau semuanya."

"Saya rasa itu nggak terlalu penting sekarang. Kamu mau mengorek informasi tentang saya lebih jauh atau mau tau tentang apa yang sebenarnya disembunyikan oleh keluarga Tedjakusuma? Mana yang lebih penting?" Sepasang kaki Widitama melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Amaia otomatis mundur sampai pinggangnya membentur tepian meja. Ia setengah duduk di sana sambil berpegangan erat pada tepi meja tersebut. "Kamu nggak tertarik pada saya kan sampai segitu ingin tahu tentang kehidupan saya?"

"Aku cuma nggak mau ada yang ditutup-tutupi. Kita akan bekerja sama." Amia mengalihkan tatap ke arah lain.

Jari-jari panjang Widitama meraih dagunya. Sementara telapak tangan kiri lelaki itu betumpu pada meja sehingga dai sedikit menunduk untuk mendekatkan wajah dengan Amaia.

Menyaksikan bibir Widitama dari jarak yang sangat dekat, Amaia meneguk ludah pelan. Teringat kejadian semalam saat dirinya membalas pagutan menuntut dari bibir pria itu. Hampir kehilangan fokus, Amaia nyaris mengangkat tangan untuk menyentuh bibir sang suami.

Akan tetapi, dia buru-buru menyadarkan diri.

"Nggak seru kalau saya memberitahu langsung." Widitama berbisik pelan di telinga Amaia. Sapuan napasnya menyentuh permukaan telinga gadis itu dengan lembut. "Jadi, kita mulai saja dari kamu. Hal-hal yang nggak kamu ketahui."

"Oke." Amaia akhirnya menyerah.

Ia tak tahan berada dalam posisi dan jarak sedekat itu. Aroma maskulin Widitama menyesakkan indra pembau dan hal itu memicu ingatan Amaia pada kejadian semalam. Telapak tangannya yang lembut mendorong kedua bahu Widitama agar menjauh.

"Kasih tau aku apa yang kamu ketahui tentang rencana keluarga Tedjakusuma," kata Amaia.

Widitama tampak tak mau bertindak usil lagi. Sorot matanya berubah penuh keseriusan. Pria bertubuh kekar itu menunjuk foto Ferdian Tedjakusuma.

"Kamu tau niat mereka terhadap keluargamu tidak pernah benar-benar tulus." Widitama memulai. "Yang dia inginkan hanyalah apa yang selama ini sudah diwariskan oleh Erwin Airlangga padamu dan Bu Atika."

"Mas, apa yang kamu ...." Amaia masih setengah tak percaya.

Suaminya bergerak lagi ke lemari pendek. Kali ini mengeluarkan sebuah alat perekam suara berupa bolpoin berwarna gelap. Ia menekan tombol di atasnya. Terdengar suara yang sangat familiar di sana.

"Kamu harus menikah dengan Amaia, Rakha. Kalau kamu bisa mendapatkan kepercayaan dia dan ibunya, semua warisan Erwin akan jatuh ke tangan kita." Itu suara Ferdian.

"Baik, Pa. Tapi aku ...."

"Nggak ada tapi-tapian." Ferdian terdengar membentak. "Hanya kamu dan Widitama yang bisa melakukannya. Kalau kamu nggak bisa, katakan dari sekarang! Widitama akan mengambil alih semuanya."

"Papa, nggak bisa begitu!" teriak Raka dalam rekaman itu.

"Kamu tidak berhak mengatur. Widitama akan dengan senang hati melakukannya jika kamu tidak siap. Dengan begitu, Widitama lebih becus mengurus perusahaan dari pada kamu. Bagaimana Widitama?"

Amaia menoleh pada suaminya. Tak percaya sang suami juga terlibat dalam obrolan itu.

"Tentu saja. Saya mampu melakukannya," jawab Widitama.

"Papa cuma kalian berdua sebagai penerus dari semuanya bisnis ini. Jadi, jangan kecewakan Papa," pungkas Ferdian.

Percakapan itu selesai.

Amaia tersenyum pedih. Hatinya terasa retak setelah mendengar rencana Ferdian.

Selama ini, di matanya pria itu sangat tulus dan penuh perhatian. Saat keluarganya kesusahan dan terpuruk, Ferdian selalu menjadi orang nomor satu yang maju untuk memberi pertolongan. Namun, Amaia terlalu naif dan bodoh. Ia tak berpikir sejauh itu karena terbutakan oleh sikap baik Ferdian. Rupanya pria itu bertahun-tahun memakai topeng yang sama dengan istrinya.

"Jadi, kamu juga seperti mereka?" tanya Amaia dengan suara serak.

"Hah, lagi-lagi kamu melayangkan pertanyaan bodoh. Kalau saya seperti mereka, kenapa saya memberitahu kamu semua rencana ini? Kenapa saya nggak diam dan menikmati kebodohanmu dan memanfaatkan kamu demi ambisi papa saya? Pikiranmu itu terlalu pendek, Amaia."

Amaia mengepalkan tangan kuat-kuat. "Kamu selalu menyebutku bodoh! Ya, aku memang bodoh. Sangat bodoh! Puas kamu?!" Kali ini Amaia tak tahan untuk melampiaskan kekesalannya.

"Baru segini saja sudah marah-marah. Bagaimana mau balas dendam?"

"Itu karena kamu menghinaku berkali-kali!"

"Ya, baiklah. Jadi mauamu apa? Mau berhenti?"

Alih-alih meminta maaf, Widitama justru kian bersikap menyebalkan. Amaia ingin sekali menerjang dan menginjak-injak tubuhnya. Tapi itu hanya bayangan liar Amaia. Aslinya, mana berani dia.

"Lalu, bagaimana dengan Kak Rakha? Kenapa akhirnya dia pergi dan menggagalkan keinginan Om Rakha?" tanya Amaia setelah seidkit tenang.

Widitama berpikir sesaat. "Saya juga nggak nyangka dia cukup berani. Tapi ternyata memang ada alasannya. Cinta dan bodoh ternyata beda tipis," ujarnya sengaja mengerling pada Amaia. Jangan-jangan dia menyindir Amaia lagi.

Untuk yang ketiga kalinya, Widitama bergerak ke lemari pendek. Ia mengeluarkan amplop cokelat. Dari dalamnya terlihat beberapa lembar foto. Tangan Amaia bergetar saya menerima benda itu yang disodorkan oleh Widitama.

Dalam foto itu Amaia melihat beberapa foto paparazi yang diambil candid. Meski tak terlalu jelas karena dua orang dalam foto itu memakai makser dan topi, tapi Amaia cukup familiar dengan salah satunya. Lelaki dengan bahu sedikit kurus itu tentu adalah Rakha dan perempuan yang digandenganya jelas buka. Amaia.

Sependek ingatan Amaia, tak pernah sekalipun dia keluar jalan-jalan dengan Rakha dengan style berpakaian seperti itu. Buat apa? Sudah seperti artis saja.

"Edgar diminta oleh ayah saya untuk menyelidikinya," tukas Widitama, "dan itu yang dia temukan."

"Maksud kamu ...." Amaia memberi jeda. Tenggorokannya mendadak sakit dan sulit berucap selama beberapa saat. Rasa pedih dan nyeri kembali menusuk-nusuk rongga dada. "Kak Rakha selingkuh?"

"Tidak." Widitama menjawab cepat.

Amaia mendongak keheranan. Lalu setelah sekian detik beradu tatap dengan suaminya, ia baru sadar akan satu hal. Fakta itu mengguncang Amaia, kakinya seketika terasa lemas, dan ia nyaris tersungkur andaikata Widitama tak segera menahan lengannya.

Jari-jari Amaia berpegangan pada lengan kekar Widitama. Ia meremasnya sedikit kuat saat hatinya tak lagi retak, tapi hancur berkeping-keping.

"Nggak mungkin ...." lirih Amaia.

"Tapi begitulah kenyataannya."

"Jadi selama ini, akulah yang ... aku yang menjadi orang kedua?" Amaia mendongak. Tapi Widitama tak memberi jawaban apa pun. "Itu nggak benar kan, Mas?" Ia mengguncang tubuh Widitama. Namun, suaminya diam saja.

Sekeras apa pun berusaha menolak fakta-fakta baru itu, Amaia tetap tidak bisa menganggapnya bagian dari rencana licik Widitama. Karena Amaia langsung teringat pada kejadian di mana dirinya memergoki Rakha bertelepon dengan seseorang.

Bukankah kini semuanya jelas?

Amaia ditinggalkan karena Rakha memilih perempuan lain yang sanga dicintainya. Selama bertahun-tahun, cinta dan perhatian Rakha hanya kepalsuan.

"Jangan bilang, Tante Sasti dan Denara tau tentang ini?" gumam Amaia setelah kembali berdiri tegak. Widitama mengangguk singkat. Amaia tergelak sumbang. "Sialan!" umpatnya setelah tawa itu reda.

"Percuma kamu mengumpat begitu," kata Widitama, "mari kita susun rencana. Bibirmu tak cocok untuk kata-kata kasar begitu, Amaia."

"Lalu?"

Widitama menyeringai. "Cocok untuk berani mengecup pria lebih dulu." Senyum menyebalkan terlihat di bibirnya setelah berhasil menggoda Amaia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!