Thalia Amradita menikah dengan Rendra, pria ambisius yang bekerja di perusahaan besar milik Arkana Dirgantara, CEO muda yang dingin, berkuasa, dan sulit disentuh.
Di luar rumah, Rendra tampak sebagai suami sempurna. Ia memperlakukan Thalia seperti istri cantik yang patut dibanggakan. Namun di balik pintu tertutup, Thalia hanya menjadi alat: dipamerkan, diarahkan, dan perlahan kehilangan suaranya sendiri.
Namun, semua berubah ketika Rendra membawa Thalia terlalu dekat ke dunia Arkana. Awalnya demi karier, proyek, dan ambisi. Tapi Rendra tidak pernah menyangka bahwa Arkana justru melihat luka yang selama ini Thalia sembunyikan.
Dari perhatian yang seharusnya tidak ada, tumbuh hasrat yang semakin sulit ditahan.
Thalia tahu ia masih istri Rendra. Arkana tahu ia adalah bos suaminya. Tapi semakin mereka menjaga jarak, semakin kuat pula takdir menyeret mereka ke arah yang paling berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Pengkhianatan
Rumah kembali sepi setelah Rendra pergi ke kantor.
Thalia masih berada di kamar tamu, duduk di tepi ranjang dengan tubuh lelah dan mata yang terasa berat dengan lingkar hitam di matanya. Kebenaran yang terbuka tadi malam membuat ia terjaga sepanjang malam.
"Kalau itu membantu, kenapa tidak?"
Kalimat itu terus berputar di kepalanya, menjadi teror yang tidak memiliki akhir.
Tok... Tok...
Suara ketukan pintu terdengar, sesaat kemudian pintu kamar terbuka, memperlihatkan sosok Bu Ratmi membawa nampan di tangan.
“Nyonya, saya membawa sarapan untuk Anda."
“Terima kasih, letakkan saja di meja,” sahut Thalia.
Bu Ratmi melangkah masuk, meletakkan nampan berisi sarapan di meja yang tersedia, lalu keluar tanpa bertanya.
Setelah pintu tertutup, Thalia menatap menu sarapan yang sudah terhidang di meja, tetapi tidak menyentuhnya meski perutnya kosong. Perhatiannya teralihkan saat dering ponselnya terdengar.
Dahi Thalia berkerut tipis, membiarkan dering ponselnya mengisi keheningan kamar saat nomor yang tidak ia kenal tertera di layar ponsel, lalu menggeser layar untuk menerima panggilan.
“Halo?”
“Selamat pagi. Apakah saya berbicara dengan Nyonya Thalia Amradita?”
Thalia mengeryit, menurunkan ponsel untuk melihat nomor yang tertera sekali lagi, merasa asing dengan nomor itu tetapi merasa familiar dengan suara yang masuk ke telinganya.
“Iya, benar. Maaf, dengan siapa?”
“Saya Miranda.”
Thalia mengerutkan kening. "Miranda…?”
“Kita sempat bertemu di acara perjamuan beberapa malam lalu,” lanjut Miranda dengan nada ramah. “Saya yang bertanya apakah Anda benar-benar menikmati menjadi ibu rumah tangga.”
Thalia terdiam sejenak, dan teringat pada wanita berpenampilan anggun yang tertarik berbincang dengnnya lebih lama setelah ia menyebutkan pernah menjadi seorang konsultan bisnis.
“Oh.” Thalia menegakkan punggungnya. "Nyonya Miranda. Maaf, saya baru ingat.”
“Tidak apa-apa. Kesalahan saya karena menghubungi terlalu tiba-tiba. Saya harap tidak mengganggu.”
“Tidak sama sekali,” jawab Thalia cepat. "Ada yang bisa saya bantu?"
Ada jeda singkat sebelum suara Miranda kembali terdengar.
“Sebenarnya saya menghubungi Anda karena percakapan kita malam itu,” ucap Miranda. “Jawaban Anda tentang dunia kerja membuat saya penasaran.”
"Saya hanya menjawab dari sudut pandang saya saja," jawab Thalia.
“Dan cara Anda menjawab cukup terarah,” sahut Miranda. “Saya sedang membutuhkan masukan pribadi untuk salah satu usaha yang saya tangani. Jika Anda tidak keberatan, saya ingin mendengar sudut pandang Anda.”
“Masukan pribadi?” ulang Thalia.
“Ya. Anggap saja konsultasi ringan. Saya ingin tahu apakah analisis saya tentang usaha itu terlalu agresif atau justru kurang berani.”
Thalia terdiam, penawaran itu datang begitu tiba-tiba hingga ia tidak tahu bagaimana harus bereaksi.
“Kenapa saya?”
"Dari pengamatan saya, jawaban tenang Anda justru memperlihatkan bahwa Anda bisa membaca situasi lebih baik dari kebanyakan orang."
Thalia terdiam. Selama beberapa saat, pikiran tentang Rendra menguap dari kepalanya.
“Jika Anda ragu, kita bisa mulai dari percakapan ringan,” ucap Miranda seolah tahu apa yang Thalia pikirkan. “Kalau ternyata cocok, saya juga bisa mengenalkan Anda pada beberapa orang yang mungkin membutuhkan jasa konsultasi yang serupa.”
Genggaman tangan Thalia pada ponsel mengerat“Jasa konsultasi?”
“Ya. Jika Anda memang berniat membuka jasa konsultasi pribadi, Anda perlu mulai dari jaringan kecil. Misalnya saja, memiliki satu dua klien untuk membangun kepercayaan diri dan portofolio baru.”
“Nyonya Miranda yakin?” tanya Thalia lirih.
Suara tawa halus Miranda terdengar melalui ponsel.
“Saya menghubungi Anda bukan tanpa tujuan, Nyonya Thalia. Saya melihat potensi yang Anda miliki.”
Thalia tersenyum samar. “Terima kasih."
“Jangan berterima kasih dulu. Dengarkan masalahnya, beri pendapat jujur, lalu kita lihat apakah kerja sama kecil ini bisa berjalan.” sahut Miranda diakhiri gurauan ringan.
Thalia menarik napas pelan. Hatinya jelas belum baik-baik saja sejak pertengkaran hebat tadi malam dengan suaminya, tetapi ia juga tidak ingin melewatkan peluang yang datang. Perihal suaminya akan marah atau tidak, akan ia pikirkan nanti.
“Kapan Anda ingin bertemu?” tanya Thalia.
“Sore ini, kalau Anda bersedia,” jawab Miranda. “Saya ada janji di Hotel Arvella menjelang malam. Setelah itu, sekitar pukul lima, saya punya waktu luang. Tempatnya cukup tenang untuk bicara.”
Thalia terdiam sejenak.
Hotel Arvella.
Hotel itu tidak asing. Beberapa pertemuan bisnis Rendra pernah dilakukan di sana dan ia beberapa kali hadir dalam pertemuan itu. Hotel mewah dengan fasilitas lounge yang terkenal ternyaman di kota.
“Kalau terlalu mendadak, kita bisa jadwalkan besok,” tambah Miranda cepat.
“Baik. Saya akan datang."
.
.
.
Thalia tiba di Hotel Arvella beberapa menit lebih awal dari janji yang ditetapkan. Tak sulit baginya untuk menemukan lounge hotel tanpa bertanya. Lounge di lantai dua tampak hangat dengan cahaya keemasan, suara piano mengalun lembut, membuai telinga para tamu yang datang untuk menikmati waktu mereka sebelum makan malam.
Thalia membawa langkahnya mendekat pada seorang pelayan longe yang berjaga.
“Permisi, reservasi atas nama Nyonya Miranda."
Pelayan itu tersenyum, lalu memeriksa daftar dan mengangguk.
“Nyonya Miranda belum tiba. Silakan menunggu di meja beliau.” ujarnya ramah sembari mengulurkan satu tangannya dengan gerakan sopan. "Mari saya antar."
Thalia mengangguk, mengikuti langkah pelayan menuju salah satu meja yang berada dekat jendela.
"Silakan." kata pelayan menarik satu kursi untuk Thalia duduki. "Apakah Anda ingin memesan sesuatu selama menunggu, Nyonya?" tawarnya kemudian.
"Nanti saja," jawab Thalia.
Pelayan itu mengangguk, kemudian mundur dan menjauh. Beberapa menit setelah pelayan itu pergi, ponsel Thalia bergetar. Ia mengeluarkan ponsel dari tasnya, dan menemukan satu pesan dari Miranda.
Miranda: "Maafkan saya, Nyonya Thalia. Saya akan terlambat kerena rapat saya sedikit mundur. Jika bosan menunggu, Anda bisa minta pelayan mengantar ke koridor private room. Saya akan bertemu klien sebentar di sana sebelum menemui Anda."
Thalia mengetik balsan yang segera ia kirimkan. "Tidak apa-apa. Saya tunggu."
Setelah memastikan pesan terkirim, Thalia mengulir ponselnya, membuka file lama yang berkaitan dengan dunia kerja yang pernah ia geluti di masa lalu.
Namun, baru beberapa baris kalimat yang ia baca dari file pribadi miliknya, suara seseorang yang terlalu ia kenal terdengar dari arah pintu masuk lounge.
“Ruangannya sudah disiapkan?” tanyanya.
Thalia membeku. Itu suara Rendra.
Thalia duduk diam tanpa menoleh, tangannya menggenggam ponsel lebih erat, tetapi satu pertanyaan segera melintas di otaknya: Apa yang sedang suaminya lakukan di sini?
Dengan gerakan pelan, Thalia menggeser sedikit duduknya, menoleh sambil memastikan gerakannya tidak terlihat oleh suaminya. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat Rendra berjalan bersama seorang wanita.
Clara.
Tangan Thalia bergetar pelan, berusaha mengenyahkan pikiran buruk yang sempat melintas dengan satu kalimat yang ia sadar itu hanyalah kalimat rapuh: mungkin membahas pekerjaan.
Namun, pemikiran itu sirna saat ia melihat tangan Rendra melingkari pinggang Clara dan berjalan menuju private room dengan diantar pelayan hotel.
. . . .
. . ..
To be continued...