Patah hati setelah memergoki kekasih yang begitu ia cintai berselingkuh di belakangnya, membuat Kanaya menyerah pada keadaan. Dengan hati yang masih terluka dan kecewa, ia akhirnya menerima perjodohan yang sejak lama telah direncanakan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria bernama Rafael. Seorang pria tampan namun dingin, tenang, dan sulit di tebak.
Bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah jalan pelarian untuk mengubur rasa sakit hatinya. Namun, siapa sangka dibalik sikap Rafael yang kaku dan tak perduli, tersimpan ketulusan yang perlahan mampu membuat hati Kanaya kembali percaya pada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor.H.y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Gugup
Suara detak jam di dinding terasa jauh lebih pelan dibandingkan debar jantung Kanaya yang kini memenuhi telinganya. Dengan kedua mata mereka yang saling menatap dalam kesunyian itu.
Rafael adalah orang pertama yang tersadar. Tatapannya perlahan turun, lalu kembali bertemu dengan mata Kanaya. Rahangnya mengeras seolah sedang menahan sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak mengerti.
Kanaya buru-buru mengalihkan pandangan. Pipi putihnya berubah kemerahan.
Posisi Rafael yang masih bertumpu di atas sofa membuat Kanaya semakin gugup. Aroma parfum yang lembut bercampur wangi sabun dari tubuh pria itu memenuhi indera penciumannya, membuatnya semakin sulit berpikir jernih.
Tanpa sengaja, tangan Kanaya bergerak hendak bangun.
Namun ujung jarinya justru menyentuh tangan Rafael yang berada di samping kepalanya.
Sentuhan singkat itu membuat keduanya spontan menarik tangan masing-masing.
Kanaya langsung duduk dengan gerakan tergesa hingga rambutnya sedikit berantakan.
"Ma-maaf.. aku tidak sengaja."
Rafael ikut berdiri, lalu merapikan lengan kemejanya yang sebenarnya sudah rapi sejak tadi.
"Hm.." gumamnya. "Lain kali, kalau jalan itu lihat." lanjutnya, lalu berjalan meraih tas laptop yang berada di kamar.
"Namanya juga musibah, mana ada yang tahu." ujarnya.
"Loh, kamu mau kemana Kak ? Kok tasnya dibawa." tanya Kanaya, saat Rafael mengambil barang-barangnya.
Rafael menoleh ke arah Kanaya, "Ke kamar."
"Emangnya kamu nggak tidur disini juga ?"
Rafael mengerutkan kening, menatap Kanaya yang juga sedang menatapnya dengan muka penasaran, "Kamu pengen banget kita se kamar ? Terus mau peluk-peluk lagi kaya semalam ?"
Kanaya tergelak, "Ya-ya.. Bukan gitu juga. Orang cuma nanya juga" ucapnya sedikit gugup.
"Ya baguslah, kalau kita tidak sekamar. Aku juga senang." lanjutnya.
Rafael menatap Kanaya beberapa saat. Sudut bibirnya terangkat tipis. Ia melangkah mendekati Kanaya satu langkah hingga Kanaya refleks menahan napas.
"Benarkah ?" tanyanya santai. "Tapi kenapa di wajahmu terlihat sedikit tidak rela saat saya akan ke kamar lain."
Kanaya langsung membelalakan mata.
"Ma-mana mungkin aku nggak rela. Justru aku senang, karena kita tidak sekamar. Jadi tidak perlu tidur pake pembatas lagi."
"Hm.."
Rafael mengangguk pelan. Tanpa berkata apa pun lagi, ia mundur selangkah, mengambil kembali barang yang tadi sempat diletakkannya, lalu berbalik berjalan keluar dari kamar Kanaya.
Pintu tertutup perlahan di belakangnya, menyisakan keheningan yang mendadak terasa begitu nyata.
Kanaya yang sejak tadi berdiri mematung akhirnya mengembuskan napas panjang. Tanpa sadar, jemarinya menyentuh dadanya sendiri, merasakan detak jantungnya yang belum sepenuhnya tenang.
"Aneh banget..." gumamnya lirih. "Kenapa aku selalu gugup sih, kalau ada di dekat dia."
Baru beberapa hari mereka bersama, tetapi setiap kali Rafael berada terlalu dekat, suasana selalu berubah menjadi canggung. Pria itu memang sering berbicara datar dan memasang wajah dingin, namun di saat-saat tertentu justru menunjukkan perhatian yang tidak diduganya.
Kanaya menggeleng pelan, berusaha mengusir pikirannya sendiri. Ia melangkah menuju tempat tidur lalu menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuk sambil menatap langit-langit kamar.
* *
Pagi hari menjelang. Sinar matahari yang hangat menyelinap masuk melalui celah tirai, menerangi kamar yang luas dengan cahaya keemasan.
Kanaya mengerjapkan mata pelan sebelum menguap kecil. Sesaat ia masih memandangi langit-langit kamar, berusaha mengumpulkan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali. Setelah beberapa detik, ia menarik selimutnya, lalu turun dari tempat tidur.
Rambutnya masih sedikit berantakan ketika ia berjalan menuju kamar mandi. Pintu dibukanya perlahan, kemudian suara gemericik air mulai terdengar memenuhi ruangan.
Tak lama kemudian, Kanaya keluar dengan wajah yang lebih segar. Ia mengenakan handuk kecil di bahunya sambil mengeringkan rambut yang masih basah. Ia berdiri di depan walk-in closet, memperhatikan deretan pakaian yang tersusun rapi.
Setelah berpikir sejenak, ia memilih kemeja putih lengan panjang yang dipadukan dengan rok plisket berwarna krem serta cardigan tipis berwarna cokelat muda. Penampilannya sederhana, tetapi tetap terlihat anggun.
Selesai berpakaian, Kanaya mengambil tas kuliah dan memasukkan beberapa buku serta laptop ke dalamnya. Ia memeriksa isi tas sekali lagi agar tidak ada yang tertinggal.
Kanaya menarik napas pelan sebelum membuka pintu kamar. Setelah memastikan penampilannya rapi, ia melangkah keluar dan berjalan menyusuri lorong menuju tangga besar di rumah itu.
Satu per satu anak tangga ia turuni dengan hati-hati. Pandangannya sesekali mengamati interior rumah yang megah namun terasa hangat, dihiasi tanaman hijau dan cahaya matahari pagi yang masuk dari jendela-jendela tinggi.
Belum sampai di anak tangga terakhir, seorang wanita paruh baya yang mengenakan celemek bermotif bunga sudah berjalan menghampirinya dengan senyum ramah.
"Selamat pagi, Non Kanaya," sapa Mbok Sum lembut sambil sedikit membungkukkan badan.
Kanaya yang sempat terkejut langsung membalas dengan senyum manis.
"Selamat pagi, Mbok."
"Wah, Nona cantik sekali pagi-pagi begini. Mbok sampai pangling," goda Mbok Sum sambil tertawa kecil.
Pipi Kanaya langsung memerah.
"Mbok bisa saja. Aku biasa aja, kok."
"Sudah mau berangkat ke kampus Non ?" tanya Mbok Sum, dibalas anggukan dari Kanaya.
"Ayo sarapan dulu. Mbok sudah masak sarapan buat Non Kanaya." ajak Mbok Sum, ia menarik tangan majikannya pelan berjalan menuju meja makan.
Begitu sampai, matanya langsung membulat melihat meja panjang yang telah tertata rapi dengan berbagai hidangan yang masih mengepulkan uap hangat.
Di tengah meja tersaji nasi uduk harum dengan taburan bawang goreng, ditemani ayam goreng berbumbu kuning yang renyah, telur balado, tempe orek manis, serta semangkuk sayur lodeh yang menggugah selera. Di sisi lain, Mbok Sum juga menyiapkan roti panggang, selai stroberi, potongan buah segar, dan segelas susu hangat.
Mbok Sum tersenyum bangga sambil merapikan celemeknya.
"Mbok nggak tahu Non Kanaya maunya makan apa, jadi Mbok masak beberapa menu sekalian. Siapa tahu ada yang cocok di lidah Non Kanaya."
Kanaya menatap semua hidangan itu bergantian, lalu tersenyum lebar.
"Mbok... ini banyak banget. Kayaknya cukup buat satu keluarga."
Mbok Sum terkekeh pelan.
"Ayo makan Non, semoga Non Kanaya suka ya masakan Mbok."
Ia menarik kursi dan duduk perlahan.
"Kalau begitu, aku nggak akan menyia-nyiakan masakan Mbok Sum."
Mbok Sum mengangguk senang, lalu saat menuangkan teh hangat ke dalam cangkir di hadapan Kanaya.
Kanaya mengambil nasi uduk, dengan telur balado, tak lupa orek tempe yang terlihat sangat enak di matanya.
Kanaya menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya, tetapi matanya diam-diam berkeliling menyusuri ruang makan yang luas itu. Sesekali ia melirik ke arah tangga, lalu ke lorong yang mengarah ke ruang kerja.
Alisnya berkerut tipis.
"Mbok Sum..." panggilnya pelan setelah menelan makanannya.
"Iya, Non. ?"
"Kak Rafael belum turun ?"
Mbok Sum yang sedang menuangkan teh hangat tersenyum kecil. "Den Rafael sudah berangkat ke kantor dari tadi pagi. Katanya ada beberapa urusan yang harus diselesaikan di kantornya."
Kanaya mengangguk pelan, dan ber "oh" ria. Lalu kembali melanjutkan makanannya.
"Gimana Non ? Enak nggak masakan Mbok ?"
Kanaya mengacungkan jempolnya, "Mantul Mbok. Tapi jangan sering-sering masak beginian deh, nanti aku gagal diet jadinya. Karena jadi nggak bisa berhenti ngunyah ini." katanya, membuat Mbok Sum tersenyum.
"Alhamdulillah, kalau begitu Mbok jadi senang. Kalau begitu Mbok pamit kebelakang lagi ya Non."
"Iya, Mbok."
* *
Selesai sarapan, Kanaya berjalan keluar rumah. Di sana sudah ada Pak Santo yang berdiri di samping mobil tersenyum padanya.
"Selamat pagi, Non Kanaya," sapa Pak Santo dengan sopan seraya membuka pintu belakang mobil.
"Loh, Bapak disini ? Kenapa nggak di kantor mengantar Kak Rafael ?" tanyanya.
Pak Santo menggeleng pelan. "Pak Rafael tadi menyuruh saya untuk mengantar Nona ke kampus."
"Mari Nona, sebelum waktu semakin siang."
Kanaya mengangguk kecil lalu masuk ke dalam mobil. Aroma kulit dan pengharum mobil yang lembut langsung menyambutnya. Ia merapikan rok yang dikenakannya sebelum duduk dengan nyaman.
Pak Santo menutup pintu perlahan, kemudian berputar menuju kursi kemudi. Sesaat kemudian, mesin mobil menyala halus.
Kanaya menahan tersenyum kecil. Perasaannya sedikit menghangat, saat menerima perhatian kecil dari lelaki yang kini menjadi suaminya, walaupun lewat orang-orang di sekitarnya. Membuat perjalanan menuju kampus terasa jauh lebih menyenangkan.
* *
Kanaya baru saja turun dari mobil ketika suara notifikasi terdengar dari ponselnya. Ia menghentikan langkah, lalu membuka layar yang masih menyala.
Sudut bibirnya perlahan terangkat saat melihat nama pengirim di sana.
Keisya.
"Beb.. Hari ini kamu beneran ke kampus kan ?"
"Kalau sudah sampai kampus, aku tunggu di perpustakaan. Aku butuh bantuan buat cari referensi tugas nih."
Kanaya terkekeh pelan membaca pesan itu. Jemarinya segera menari di atas layar.
"Iya.. Aku baru aja turun dari mobil. Tunggu aja di perpus, aku otw. Tapi jangan lupa beliin aku jus dulu, haus nih."
Tak sampai lima detik, balasan kembali masuk.
"Udah. Jus mangga tanpa gula, kesukaan kamu."
Kanaya memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia mengangkat pandangan ke halaman kampus yang mulai ramai oleh mahasiswa yang berlalu-lalang.
Baru beberapa langkah berjalan, suara bariton yang sangat dikenalnya terdengar dari arah belakang, langkah Kanaya terhenti seketika saat sebuah tangan menarik paksa tangannya.
"Kamu..."
* * * *
skrng psah kmar,tar lma2 jg dia dtng sndri.....🤭🤭🤭...
yg ngsih btas spa,yg lmpar bntal spa...
tp gengsi buat ngaku sih.....
Aku udh mmpir....slm knal....
btw,gmna nih mlm prtmanya???
bkln perang atw sling adu punggung???atw yg 1 tdr d rnjang,yg 1 d sofa....🤣🤣🤣