Hampir tiga tahun menjalani rumah tangga bersama Lucas Ethan Harrington sang mafia penguasa berbahaya hingga Liora Grace percaya bahwa cintanya akhirnya berlabuh dengan tenang. Namun keyakinan itu runtuh ketika masa lalu Lucas kembali hadir seorang wanita yang pernah mengisi hatinya sebelum Liora.
namun , siapa sangka jika sebenarnya Liora lah orang yang paling berbahaya dan kejam hingga hampir seluruh dunia begitu memburu dan mengharapkan kematiannya.
apa yang sebenarnya terjadi pada Liora ?
bagaimana jika hal yang sebenarnya adalah Liora telah mengulang waktu ? atau adakah seseorang yang sengaja membangkitkan jiwanya?
yukssss baca kelanjutannya 💃🏻🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kode akses
Keadaan menjadi sangat hening hingga beberapa detik .
Lucas masih menatap serius Liora bola matanya membulat sempurna. Tatapan seorang raja mafia yang tak pernah goyah… kini retak oleh satu kalimat.
Fase akhir.
“Lepaskan bajumu,” ucap Lucas dingin, bukan nada lembut seorang suami melainkan nada perintah yang berhak di patuhi .
Liora tidak tersinggung tidak tersentak . Ia hanya menatap Lucas beberapa detik… sebelum mulai melepaskan pakaiannya perlahan, ia mulai membuka kancing bagian atas gaunnya.
Memperlihatkan bahu putih mulus nya yang begitu sexy hingga gaun itu hampir sepenuhnya terlepas dari tubuhnya . sebelum itu arga spontan memalingkan wajahnya begitu juga dengan Pasukannya yang ikut menjauh.
Lucas menelan Saliva nya melihat istrinya yang begitu menggairahkannya sekarang. Namun ia harus menahannya, Liora sedang dalam keadaan yang tidak baik baik saja.
Di bawah tulang selangka kiri Liora—
Ada bekas luka tipis. Nyaris tak terlihat. Garis kecil memanjang seperti jahitan lama yang terlalu rapi untuk kecelakaan biasa.
Lucas menyentuhnya dengan ujung jari.
Kulit itu terasa… hangat bahkan terlalu hangat.
“Apa yang mereka tanamkan?” suara Lucas rendah, berbahaya.
Liora tidak menjawab.
Karena saat itu—
Rasa panas tiba-tiba menjalar dari titik bekas luka itu.Tubuh Liora seketika menegang. Seolah Napasnya terhenti sepersekian detik.
Kemudian—
Denyut.
Satu kali.
Seperti sesuatu yang aktif pada tubuhnya Mata Liora sedikit membesar menahan sesuatu di bawah sana sekaligus keterkejutannya.
Lucas menangkap perubahan ekspresi Liora sekecil apa pun itu .
“Apa yang terjadi?” suaranya tajam dan terlihat waspada.
Liora mengatupkan rahangnya, ia sendiri bingung apa yang terjadi pada kontak di tubuhnya.
“Aku… tidak yakin.”
Namun ia tahu.
Di kepalanya, serpihan memori lain menyala.
Ruang operasi.
Suara mesin.
Layar monitor menampilkan grafik detak.
“Implan neuro-responsif aktif saat subjek mencapai kestabilan emosional dan memori penuh.” ujarnya setelah mengingat.
Arga bertanya tampak ragu “Jika ia memberontak?”
“Fase akhir akan mengurainya dari dalam.” jawab Liora yang menyimpan pertanyaan besar di benak Lucas dan Arga.
Rasanya ini lebih rumit dari misi apapun yang telah mereka lewati.
Napas Liora berubah lebih berat dan tenaga seolah menguap begitu saja .
Lucas langsung memegang bahu Liora menahannya di sisinya .
“Katakan padaku.” ucap Lucas dingin .
Liora menatapnya. Untuk pertama kalinya sejak lama… ada sesuatu yang nyaris menyerupai keraguan.
“Mereka tidak hanya melatihku,” ucapnya pelan. “Mereka memasang pengaman.”
Lucas membeku untuk sesaat.
“Pengaman?” ulang nya lagi .
“Jika aku di luar kendali… atau jika aku mengingat semuanya… sistem itu aktif.” jelas Liora .
Seolah menjawab ucapannya—
Denyut kedua datang.
Lebih kuat.
Liora mencengkeram dada kirinya yang kini nyeri di sana.
Lucas langsung mengangkatnya dalam satu gerakan cepat dan menggendongnya.
“Siapkan mobil! Sekarang!” teriaknya .
Arga bergerak tanpa banyak tanya.Namun sebelum mereka mencapai pintu—
Lampu kembali berkedip dan beberapa kedip sebelum akhirnya mati total. Namun kali ini bukan gelap gulita melainkan merah .
Seluruh sistem darurat mansion menyala dalam warna merah pekat.Suara alarm berbeda terdengar.
Bukan alarm keamanan.
Tapi alarm internal medis.
Liora tahu suara itu.Ia pernah mendengarnya.Di ruang laboratorium.
“Detak terdeteksi tidak stabil.”
Suara mekanis itu bergema melalui sistem speaker mansion.
Lucas menghentikan langkah dan menyadari sesuatu.
“Siapa yang mengakses sistemku?!” geramnya murka setelah ia tahu jika sistem keamanan mansion kini di tembus dan di kendalikan oleh seseorang.
Arga memeriksa perangkat komunikasinya.
“Bos… ada penetrasi jarak jauh. Sumbernya tidak terdeteksi.” lapor arga .
Sosok bayangan itu kembali muncul.
Subjek 01.
Ia tidak menyerang lagi.
Ia menekan tombol.
Liora terlepas dari gendongan Lucas, berdiri sendiri walau sedikit terhuyung dan tidak stabil.
“Aku harus keluar dari sini,” katanya cepat.
“Apa?”
“Jika itu perangkat neuro-implan, mereka bisa melacak sinyalnya. Mansion ini jadi titik koordinat.”
Lucas menatapnya tajam.
“Kau tidak ke mana-mana tanpa aku.” ujar Lucas mutlak.
Denyut ketiga datang.
Kali ini lebih menyakitkan.
Liora menahan erangan nya .Pembuluh di lehernya sedikit menegang ia berusaha menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya.
Visualnya berkedip sepersekian detik.
Sistem di dalam tubuhnya mulai sinkron.
Lucas menyadari sesuatu yang mengerikan terjadi pada istrinya itu —
Tubuh Liora bukan sedang melemah.melainkan Ia sedang… memuat. Seolah sistem yang memuat beberapa hal sebelum akhirnya bisa di tampilkan.
Tatapan Liora berubah.
Lebih tajam dan Lebih fokus.Seperti mode lain aktif.ia seketika menoleh ke arah jendela utara.
“Mereka tidak jauh.” ucapnya.
Lucas mengikuti arah pandang Liora namun yang ia lihat hanyalah
Gelap.
Namun Liora bisa merasakannya.Sinyal ke sinyal.Implan itu bukan hanya bom.
Itu pelacak.
Dan mungkin… pemicu.
“Jika mereka ingin mengurai aku,” bisiknya, “mereka butuh jarak aman.”
Lucas tersenyum tipis.
Senyum kejam seorang pemimpin mafia paling berbahaya.
“Kalau begitu kita yang mendekat.”
Arga menatapnya tidak percaya
“Bos?”
“Siapkan kendaraan lapis baja. Semua unit siaga penuh.” perintah Lucas .
Ia menoleh pada Liora.
“Kau bisa berdiri?”
Liora mengangguk.
Rasa sakit itu berubah menjadi sesuatu yang lebih terkendali.
Ia menatap Lucas.
“Kita tidak bisa ke rumah sakit.”
“Aku tahu.”
“Ada fasilitas bawah tanah di pelabuhan timur,” ucap Liora cepat. “Helix lama. Jika sistem ini masih berbasis jaringan awal, pusat override-nya ada di sana.”
Lucas tidak bertanya bagaimana ia tahu.
Ia hanya memutuskan.
“Kita ke sana.”
beberapa rombongan mereka melesat menembus malam yang tenang.Langit di atas kota gelap tanpa bintang.
Di kursi belakang kendaraan utama, Lucas duduk di samping Liora.Tangannya menggenggam tangan wanita itu seolah memberikan kekuatan pada Liora .
Denyut keempat datang.
Liora menutup matanya.Visual memori menghantamnya—
dimana saat itu Ia terbaring.Tabung transparan di sekelilingnya.beberapa orang yang di beri pertanda Subjek lain di ruangan berbeda… mati satu per satu.
Suara seseorang “Subjek 01 gagal stabilitas emosional.”
“Subjek 09 mengalami degradasi sel.”
“Hanya 17 yang sempurna.”
Sempurna.
Bukan karena ia paling kuat.
Melainkan karena tubuhnya menerima implan tanpa menolak.
Liora membuka mata.
“Lucas.”
“Ya.”
“Jika aku kehilangan kendali—”
“Tidak akan.”
“Kau tidak tahu itu.”
Lucas menatapnya dengan serius .
“Aku tidak peduli.”
Mobil berhenti mendadak hingga ban berdecit .Arga berbicara melalui interkom.
“Bos. Ada penghalang di depan.”
Jalan menuju pelabuhan tertutup kontainer baja.Dan di atasnya—
Sosok hitam berdiri lagi.
Subjek 01.
Sendirian.
Ia melompat turun saat kendaraan berhenti.
Lucas membuka pintu.
“Kau menunggu,” ucap Lucas dingin.
“Benar,” jawab pria itu santai.
Liora turun dari sisi lain mobil.
Denyut kelima datang .Lebih cepat sekarang.
Waktu menipis.
“Kau bilang memperingatkan,” ujar Liora.
“Sudah,” jawabnya. “Sekarang aku memastikan.”
“Memastikan apa?”
“Bahwa kau memilih.”
Lucas mengangkat pistol tanpa bertele-tele.“Kau terlalu banyak bicara.” ujarnya menatap tajam.
Namun Subjek 01 tidak menyerang namun ia tetap menatap Liora fokus .
“Fase akhir tidak akan membunuhmu.” ujarnya.
Hening.
Lucas membeku sepersekian detik.Liora menyipitkan mata.
“Apa maksudmu?”
“Itu bukan protokol pemusnahan,” ucapnya pelan. “Itu protokol pelepasan.”
Udara terasa semakin berat seolah oksigen disana menipis.mengapa semakin banyak yang mereka tahu semakin besar juga resiko keselamatan untuk Liora ?dan Lucas ?
Pria itu sudah amat sangat geram . Bagiamana tidak ? Mafia yang terbiasa mengendalikan seperti dirinya kini tidak bisa berbuat apa apa untuk menyelamatkan nyawa istri nya sendiri
“Mereka tidak ingin menghancurkanmu,” lanjutnya. “Mereka ingin membuka batasan terakhir di otakmu.” lanjut pria itu .
“Kenapa?”
“Karena kau bukan hanya senjata.”Senyumnya tipis bahkan tak terlihat .
“Kau adalah kunci.”
Denyut keenam datang—Dan dunia Liora seakan melambat.
Suara menjadi lebih jelas.Gerakan angin lebih terukur dan Detak jantung Lucas terdengar seperti irama di telinganya.
Ia menatap Subjek 01.
“Apa yang mereka kunci dalam diriku?”
Jawaban itu membuat bahkan Lucas terdiam.
“Kode akses.”
Angin malam berhembus lebih kencang.
Subjek 01 melangkah mundur.
“Dan jika Helix mendapatkanmu kembali…”Ia menatap Lucas sekilas.
“Mereka tidak butuh dunia bawah lagi.”
Kalimat itu jatuh seperti bom yang bisa menghancurkan seluruh isi bumi .
Liora merasakan denyut ketujuh mulai terbentuk.
Waktu hampir habis.
Ia menatap Lucas.
Bukan dengan takut.
Bukan dengan ragu.
Melainkan dengan tekad.
“Kalau begitu kita hancurkan Helix sebelum mereka membuka apa pun.”
Lucas tersenyum.
Senyum yang sama seperti saat ia memulai perang.
“Sekarang kau berbicara seperti istriku.”
Subjek 01 menghilang dalam bayangan lagi.
Bukan kabur.
Melepas mereka lewat.
Liora menekan dadanya.
Denyut kedelapan.
Hitungan mundur semakin cepat.
Sementara itu jauh di suatu tempat—
Di laboratorium tersembunyi—
Seseorang menatap layar monitor dengan grafik yang mulai stabil.
“Subjek 17 memasuki fase integrasi.”
Pria tua itu tersenyum.
“Siapkan aktivasi global.”
rajin update ya thor
ceritanya makin seru