Follow ig author @tulisan_bee 😚
Menggantikan posisi anak majikannya untuk menikah dengan seorang lelaki bangsawan, sungguh tidak pernah terlintas dalam benak Luana Casavia.
Karena lelaki itu menatapnya dengan sorot mata dingin, bahkan ketika ia memasangkan cincin ke jari manis Luana.
My Fake Bride: Jika aku ini palsu, akankah kau bisa mencintaiku meski sedikit saja?
Terima kasih sudah mampir dan selamat jatuh cinta~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NadiraBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17 - Aturan
"Hanya tidak etis rasanya melihat ada orang lain yang berdiri di depanmu. Tidak ada alasan, hanya tidak etis saja." ~Rey Lueic.
.
.
.
"Rey yang menyuruhmu menjemputku?"
Luana melepas high heels-nya saat ia duduk di salah satu sofa. Gaun berwarna merah muda itu masih tersemat di tubuhnya, dan ia beserta Mare baru saja naik ke kamar.
Mare mengangguk.
"Apa yang terjadi di sana, Nyo-Luana?"
Luana menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Hal terakhir yang dia cicipi di jamuan makan malam itu adalah sepotong cake berperisa buah-buahan, yang ternyata sungguh sangat lezat.
"Aku hampir jatuh tadi," Luana mulai bercerita. "Tuanmu begitu saja meninggalkanku dan bergabung dengan kolega bisnisnya mungkin, jadi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan di sana."
Mare mendengarkan dengan seksama. Wanita muda itu masih berdiri di ambang sofa dan memperhatikan Luana dengan lekat.
"Lalu tiba-tiba saja, aku tidak menyadari ada kabel yang menjuntai di lantai," Luana melanjutkan. "Kau tahu Mare, kupikir aku akan terjatuh dan menyebabkan kekacauan di jamuan makan malam itu. Tetapi beruntungnya, ada seorang pria dengan bola mata yang berwarna hitam legam, membantuku dan menahan tubuhku hingga aku tetap bisa berdiri tegak."
Mare belum bersuara. Dia masih ingin mendengarkan penjelasan dari Luana, sebab kini nyonya Lueic itu tampak menerawang dengan senyum yang mulai terukir di sudut bibirnya.
"Lengannya terasa gagah sekali, dan dia dengan begitu sopannya mengulurkan tangan untuk menyapaku."
Luana semakin tampak menerawang, dengan kerjapan mata yang terlalu tampak jelas.
"Lalu?" pancing Mare lagi.
Luana berdehem pelan, tidak menyadari seutas senyuman sudah menjadi lebih lebar di wajahnya yang cantik menawan.
"Lalu ya apa?" lirih Luana. "Aku mengulurkan tangan untuk menyambut salamnya. Hanya itu saja."
Sebagai pelayan yang telah mendedikasikan kehidupannya untuk mengabdi kepada para keluarga bangsawan, Mare tentu saja tahu bagaimana tata cara pemberian salam di antara lelaki dan perempuan.
Dan jika Luana baru saja berkata dia menyambut uluran tangan lelaki asing itu, maka itu berarti satu kecupan telah mendarat di punggung tangan istri tuan mereka.
"Namanya juga terdengar gagah sekali, Mare," kata Luana lagi. "Pedro... Pedro siapa--"
"Apa Tuan melihatnya?" Mare memotong kalimat Luana, menyebabkan perempuan muda itu refleks menoleh dengan gerakan super cepat.
"Apa Tuan Rey melihat ketika kau menyambut uluran tangan lelaki itu?" Mare memperjelas kalimat tanyanya.
Mengerucutkan bibir, Luana mengangkat bahu seraya menggeleng kemudian.
"Entahlah," sahut perempuan itu malas. "Kurasa tidak. Karena si bangsawan terhormat itu terlalu sibuk berbicara dengan tamu yang lain, hingga mungkin saja tidak menyadari tentang apa yang terjadi padaku tadi."
Mare hening lima detik saat dirinya mencoba berpikir. Jovi tidak mungkin memberi perintah dengan tergesa-gesa seperti ini, jika bukan permintaan dari tuan mereka.
Dalam hati Mare berhasil menarik kesimpulan, bahwa mungkin saja Luana tidak menyadari kalau Rey melihat itu semua.
Lelaki itu melihat dengan jelas bagaimana istrinya disapa oleh lelaki lain, bahkan lelaki asing itu sempat mengecup tangan Luana saat Rey saja belum melakukan apa-apa pada istrinya itu.
"Lain kali, jangan pernah menyambut uluran dari lelaki lain jika tuan tidak berada di sampingmu, Luana," Mare kini memberi peringatan.
Luana membesarkan bola mata, menata pada Mari dengan tatapan yang cukup dalam.
"Apa maksudmu?"
Mare tersenyum tipis.
"Kini kau harus tahu bahwa kau adalah milik dari suamimu," lanjut Mare lagi. "Aku tahu ini adalah sesuatu yang klise dan mungkin saja aneh, tetapi ketahuilah bahwa tidak ada satu wanita pun di keluarga Lueic yang menyambut uluran tangan lelaki lain tanpa suami di samping mereka. Kau bahkan harus meminta izin lebih dulu, apakah suamimu keberatan atau tidak jika kau bersentuhan dengan lelaki lain."
Luana memicingkan mata tidak percaya. Dari mana peraturan itu berasal? Sepertinya itu tidak disebutkan ketika dia menempa sekolah bangsawan kala itu.
Mendapati kerutan di kening nyonya besarnya, Mare berusaha untuk memperbaiki keadaan.
"Aku memberitahu ini demi kebaikanmu, Luana," kata perempuan itu lagi. Nadanya terdengar pelan dan lembut, sama sekali tidak berusaha untuk mengintimidasi atau membuat Luana merasa terpojok.
Meski status mereka adalah nyonya dan pelayan, tetapi Mare benar-benar menghargai bagaimana Luana memintanya untuk menjadi teman beberapa saat lalu.
Dan di sanalah dia kini, bersikap untuk memastikan Luana tidak lagi salah langkah pada tindakan selanjutnya.
Luana menarik napas dalam-dalam. Jika memang hal yang dibilang Mare itu benar, maka sepertinya dia harus menghadapi sesuatu yang telah menunggunya di depan sana.
"Jika memang begitu, maka apakah aku akan mendapatkan hukuman?" tanya Luana asal.
Mare mengangkat bahu.
"Semua itu tergantung pada tuan," katanya jujur. "Lelaki di keluarga Lueic memiliki akses sepenuhnya pada istri mereka, dan merekalah yang menentukan apakah mereka akan menghukum wanitanya atau tidak."
Luana sempat terkesiap, menatap tidak percaya pada Mare seakan-akan kalimat yang dia dengar baru saja hanyalah isapan jempol belaka.
Tetapi Mare malah menganggukkan kepala, memberi tahu bahwa itu semua bukanlah kebohongan melainkan kebenaran.
Memikirkan hal itu tiba-tiba membuat Luana bergidik ngeri. Dalam hati dia berharap semoga tindakannya tadi tidak memercikkan kemarahan untuk seorang Rey Lueic.
Mare mendekat, berniat untuk membantu Luana mengganti bajunya.
"Jovi berkata kau bisa memesan makanan dari restoran untuk makan malam. Apa yang ingin kau makan sekarang?"
Luana tidak langsung menjawab, tetapi malah menyandarkan kepalanya untuk mengamati langit-langit kamar mewah itu dalam satu tatapan lurus.
"Aku tidak ingin makan," desahnya pelan. "Aku hanya ingin agar lelaki itu tidak datang malam ini."
.
.
.
~Bersambung~
sekarang tanya pada diri kalian jika ada sosok Pedro versi wanita dan menyukai suami kalian, apakah kalian juga akan kagum wanita lain yang itu
pakai ajala biar tidak jadi wanita jablay yang lebih melebih pria lain dari pada suami sendiri
coba dibalik Thor suami mu nyaman duduk dan ngobrol berduaan dengan wanita lain apakah kau anggap itu hal benar juga
pakai akal sehat biar bisa bedakan mana salah mana benar