Ini gila!
Tak pernah terlintas sedikit pun di benak Gea bahwa setelah kematiannya, ia tidak pergi ke alam baka. Sebaliknya, ia justru terbangun kembali di tubuh orang lain. lebih parahnya lagi tubuh itu adalah milik Rena siswi terkenal di sekolah sebagai pembuat onar dan tokoh antagonis yang dibenci banyak orang.
Rena dikenal sebagai gadis yang gemar membully siswi lain yang berani mendekati pria yang ia sukai. Dengan sombong, ia juga sering mengeluarkan siswa dari sekolah hanya karena mereka menentangnya, berlindung di balik statusnya sebagai anak dari pemilik yayasan sekolah.
Sekarang Gea harus hidup di dalam tubuh gadis yang memiliki reputasi buruk itu.di mata semua orang, ia tetaplah Rena si pembully kejam.tak ada yang tahu bahwa jiwa di dalam tubuh itu telah berubah.
Akankah Gea mampu memperbaiki kesalahan Rena di masa lalu?
Satu hal yang pasti…
Mulai hari ini, hidup Gea tidak akan pernah sama lagi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kymocyy01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Suara bisik-bisik masih memenuhi koridor.
Nama Rena disebut-sebut dengan nada rendah, sebagian penuh sindiran, sebagian lagi terang-terangan menghakimi. Tatapan yang mengarah padanya semakin tajam, seolah-olah semua orang sudah sepakat—tanpa perlu penjelasan lebih lanjut.
Di tengah semua itu Rena hanya berdiri diam.
Matanya perlahan menyapu kerumunan di depannya. Satu per satu wajah yang menatapnya… penuh prasangka.
Lalu berhenti sejenak pada Galaksi.
Ada jeda di sana.
Sangat singkat.
Namun cukup untuk memperjelas sesuatu yang tidak pernah ia ucapkan.
Kecewa.
Bukan karena dimarahi.
Tapi karena… tidak dipercaya.
gadis itu menghela nafas pelan, ada sedikit rasa sesak di dadanya, tanpa mendengarkan penjelasannya mereka langsung berfikir begitu saja.
Tangannya yang sejak tadi mengepal perlahan mengendur. Bahunya yang sempat tegang kini turun sedikit, seolah ia baru saja menyerah pada sesuatu yang sudah terlalu lama ia hadapi.
kedua bola mata itu beralih pada maya, ia menatap diam menatap maya
Yang masih berada di lantai, dengan tangisan yang terdengar lirih… tapi terlalu “rapi” untuk seseorang yang benar-benar hancur.
Dan di situlah
Sesuatu dalam diri Rena benar-benar habis.
Bukan amarah.
Bukan juga keinginan untuk melawan.
Tapi… rasa muak,Muak dengan situasi,Muak dengan akting. Bagaimana mungkin pemilik tubuh ini selalu bersikap cuek saat menghadapi hal seperti ini, ia rasa dulu rena pemilik tubuh ini selalu melawannya dengan cara yang sadis sehingga banyak yang terang terangan tak menyukai dirinya.
Gea raga asli Muak dengan semua orang yang lebih memilih percaya pada apa yang terlihat… daripada apa yang sebenarnya terjadi.
Sudut bibir Rena terangkat tipis.
Senyum kecil.
Bukan karena lucu.
Tapi karena… tidak ada lagi yang bisa ia lakukan.
“Capek…” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.
Ia menggeleng kecil.
Satu kali.
Seolah menertawakan keadaan.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Rena mengambil satu langkah ke depan.
Kerumunan sedikit terbelah, beberapa siswa refleks mundur memberi jalan. Entah karena takut… atau karena tidak nyaman dengan tatapan dingin yang dibawanya.
Langkah Rena tenang.
Tidak terburu-buru.
Tidak juga ragu.
Saat melewati Galaksi, langkahnya sempat melambat sepersekian detik.
Namun ia tidak menoleh.
Tidak juga berhenti.
Seolah keberadaan pria itu… sudah tidak lagi perlu ditanggapi.
Hal itu justru membuat Galaksi sedikit tersentak Alisnya berkerut.
“Rena!” panggilnya, nada suaranya campuran antara kesal dan… sesuatu yang tidak jelas.
Gadis itu tidak menoleh atau bahkan untuk sekedar menghentikan langkahnya saja tidak.
Ia tetap berjalan.
Tenang.
Datar.
Seakan suara itu tidak pernah ada.
Dio menghembuskan napas kasar, tangannya mengepal melihat sikap Rena. "masih seperti sebelumnya."
Maya yang masih berada di lantai, diam-diam mengangkat sedikit wajahnya.
Matanya mengikuti punggung Rena yang semakin menjauh.
Untuk sesaat...
Tangisnya terhenti.
Tatapannya berubah.
Bukan sedih.
Bukan juga lemah.
Tapi… kesal,Karena ini bukan reaksi yang ia inginkan.
Ia ingin Rena marah.
Ia ingin Rena meledak.
Ia ingin semua orang melihat sisi “buruk” Rena dengan jelas.
Tapi yang ia dapatkan justru sebaliknya.
Rena pergi.
Tanpa melawan.
Tanpa drama.
Seolah semua ini… tidak cukup penting untuk diperjuangkan.
Dan itu....Jauh lebih menyebalkan.
Maya kembali menunduk cepat, melanjutkan tangisnya saat menyadari Galaksi masih memperhatikannya.
Namun kali ini...Ada sedikit kegagalan dalam aktingnya.
Terlalu cepat berubah.
Terlalu dipaksakan.
Dan entah kenapa...
Galaksi yang masih memandang ke arah lorong tempat Rena pergi, mulai merasakan sesuatu yang janggal.
Sangat kecil.
Hampir tidak terasa.
Langkah Rena tidak berhenti sampai gerbang sekolah.
Ia terus berjalan.
Melewati satpam yang sempat melirik heran, melewati deretan motor di parkiran, hingga akhirnya keluar dari area sekolah tanpa sekali pun menoleh ke belakang.
Angin siang menerpa wajahnya, membawa sedikit kesejukan di tengah panas yang menyelimuti, namun tetap tak mampu mengusir sesak yang menekan dadanya... perlahan gadis itu menghela napas panjang, mencoba meredakan beban yang terasa menggantung, meski dalam diam ia tahu,tidak semua hal bisa hilang hanya dengan satu tarikan napas.
“Bising banget…” gumamnya pelan, lebih ke dirinya sendiri.
Tanpa tujuan yang jelas, kakinya terus melangkah—sampai akhirnya berhenti di depan sebuah gedung tua yang cukup familiar, berada di samping gedung sekolah masih fasilitas sekolah hanya saja jarang di gunakan.
Lapangan basket tertutup.
Tempat yang jarang dipakai saat jam sekolah berlangsung.
Sepi.
Tenang.
Dan… cukup jauh dari semua drama.
Rena mendorong pintu besi yang sedikit berdecit saat dibuka.
KREEEKK—
Suara itu menggema di dalam ruangan yang luas.
Kosong.
Hanya ada pantulan cahaya dari celah ventilasi, dan garis-garis lapangan yang sedikit pudar.
kakinya melangkah masuk membawanya lebih jauh menyusuri ruangan, matanya menelisik setiap sudut ruang kosong itu.
Bola basket yang tergeletak di dekat ring ia ambil tanpa ragu. Senyum kecil terbit dari wajahnya ia kangen masa masa menjadi dirinya sendiri sebagaimana dirinya menjadi seorang gea agatha bermain basket adalah caranya melepas rasa sepi dan sekarang ia rasa dirinya perlu kegiatan ini.
Tangannya memantulkan bola itu ke lantai.
Duk.
Duk.
Duk.
Suara pantulan bergema, memenuhi ruangan yang sunyi.Dan untuk pertama kalinya sejak tadi
Ekspresi Rena berubah.
Fokus.
Matanya tajam, tubuhnya sedikit merendah,Ia mulai bergerak.
Dribble cepat.
Kanan—kiri—putar.
Langkahnya ringan, seolah tubuhnya sudah hafal setiap ritme permainan. Sepatu yang ia pakai berdecit halus di lantai, mengikuti pergerakan yang lincah dan presisi,tanpa ragu, ia melompat.
shoot..
Bola melayang sempurna di udara.
Swish.
tepat dan sempurna bola yang di lempar rena masuk tanpa menyentuh ring,
Rena tidak berhenti.
Ia kembali mengambil bola, kali ini lebih cepat.
Gerakannya semakin agresif.
Seolah semua emosi yang ia tahan tadi… diluapkan lewat setiap dribble, setiap lompatan, setiap tembakan.
Keringat mulai muncul di pelipisnya.
Napasnya sedikit memburu,Namun matanya tetap tajam.
Fokus.
Dan hidup.
Di saat yang bersamaan pintu ruangan di buka dari luar,beberapa suara langkah kaki masuk, diiringi obrolan santai.
“Anjir panas banget hari ini…”
“Cepetan lah, gue udah pengen main.”
Sekelompok laki-laki masuk ke dalam lapangan, membawa bola masing-masing.
Di antara mereka...
Dion.
Ia berjalan paling depan, tangannya memainkan bola basket dengan santai, sesekali memantulkannya ke lantai.
Namun langkahnya terhenti.
“Eh…” gumamnya pelan.
Matanya langsung tertuju ke satu arah.
Ke tengah lapangan.
Di sana—
Rena baru saja melakukan crossover cepat, lalu berputar melewati bayangan lawan yang tidak ada, sebelum melompat dan melakukan lay-up dengan gerakan yang bersih.
Duk—swish.
Masuk lagi.
Dion menyipitkan mata.
Perhatiannya langsung penuh.
“Siapa tuh…” bisiknya pelan.
Teman-temannya ikut menoleh, melihat siapa yang tengah bermain basket sendirian di lapangan.
“Cewek?”
“Gila… gerakannya…”
Rena tidak menyadari mereka, masih tetap asik pada permainannya.
Ia kembali mengambil bola, kali ini menggiringnya lebih rendah, lebih cepat. Kakinya bergerak gesit, tubuhnya condong ke depan, lalu tiba-tiba berhenti.....
Step back.
Shoot.
Bola melengkung indah di udara.
Masuk lagi.
Hening sejenak.
Dion tersenyum tipis.
Bukan senyum biasa.
Tapi senyum seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang menarik.
“Menarik…” gumamnya.
Ia melangkah maju, memantulkan bolanya sekali ke lantai.
Duk.
Suara itu cukup keras untuk menarik perhatian, rena menghentikan bermain nya.
Ia menoleh.
Tatapannya langsung bertemu dengan Dion.
Beberapa detik...
Diam.
Tanpa kata.
Namun dari cara mereka saling menatap, sudah cukup jelas...Ini bukan pertemuan biasa.
Dion memiringkan kepalanya sedikit, masih dengan senyum tipis.“Main sendirian?” tanyanya santai, tapi nadanya penuh tantangan terselubung.
Rena menatapnya datar,Keringat di pelipisnya ia usap dengan punggung tangan.
“Kenapa?” jawabnya singkat.
Dion tertawa kecil.
Ia melangkah lebih dekat ke garis tengah lapangan.
“Lawan gue.”
Langsung.
Tanpa basa-basi.
Teman-temannya langsung bersorak kecil.
“Wih…”
“Seru nih…”
Rena terdiam sejenak,Matanya menyipit sedikit, menilai.
Lalu—
Sudut bibirnya terangkat tipis,bukan senyum ramah,Tapi… tertarik.
Ini cukup menarik
Untuk pertama kalinya sejak kejadian di sekolah,Ada sesuatu yang mengalihkan pikirannya.
“Boleh,” jawabnya singkat.
Ia memantulkan bola sekali.
Duk.
Tatapannya berubah.
Fokus.
Tajam.
“Jangan nyesel.”ucap dion yang tak di gubris sama sekali oleh gadis itu
TBC....