Aku tidak suka jalan cerita cintaku di samakan oleh fiksi-fiksi romantis atau film-film yang berujung bahagia. Nyatanya dalam kehidupan nyata tidak semua kisah cinta akan berujung bahagia. Kehidupan cintaku tidak seseru yang kalian bayangkan. Benci menjadi Cinta adalah hal lazim yang biasanya mencumbui hati manusia. Tapi bagaimana denganku? Aku juga tidak tahu. Karena aku masih dalam proses menuju ujung dari sebuah cerita. Sedih senangnya akhir dari sebuah cerita adalah hal yang selalu di nantikan, aku pun juga sedang menantikan bagaimana akhir ceritaku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon srizqya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Aku melangkahkan kakiku keluar ruangan, jam telah menunjukkan pukul 7 malam. Ternyata hujan telah basah mengguyur bumi. Aku yang tidak membawa payung atau jas hujan terpaksa menunggu di depan pintu masuk rumah sakit sambil menunggu hujan reda.
Aku menggosok-gosokkan kedua tanganku untuk menghangatkan tubuhku. Beberapa suster-suster yang ingin pulang juga terpaksa menunggu hingga hujan reda. Aku sempat ber-say hi pada meraka. Satpam di depan sana juga tengah sibuk dengan kopi hangatnya.
"Duluan ya dok..," sapa seorang suster.
"Iyaa." aku membalas singkat.
Lama-lama aku merasa bosan juga hanya dengan berdiri dan menatap hujan yang turun. Kucoba untuk mendekat kearah hujan dan merentangkan tanganku untuk merasakan hujan. Basah, itu sudah jelas.
Aku memejamkan mataku sejenak untuk merasakan nikmatnya guyuran hujan di tanganku. Hingga saat aku membuka mata kudapati dari kejauhan sosok yang sedang berlari menembus derasnya hujan. Bajunya telah basah total.
Makin lama sosok itu makin dekat, dan aku mengetahui bahwa itu adalah Rafa.
"H-hai." sapa Rafa, nafasnya masih satu dua akibat berlari.
"Lo ngapain?" tanyaku heran.
Tak menjawab pertanyaanku, ia lantas merogoh saku celananya dan mengeluarkan potongan kertas yang sudah menguning dan basah oleh air hujan.
"Ini angka yang lo tulis dibawah puisi yang lo kumpulin ke Bu Irma kan?" tunjuknya padaku. Aku yang tak mengira ia akan menunjukkan kertas itu hanya terdiam kaku.
Terlihat jelas deretan angka yang tertulis disana.
12618161
Bagaimana ia bisa ingat? Apa ia sengaja melakukannya saat diam-diam membaca puisiku waktu itu?
"Iya kan?" desaknya.
Aku tergagap, "G-gue, gue gatau."
"Gamungkin lo gatau."
"Gue lupa." aku masih mencoba menyangkal. Baru aku akan pergi tangannya sudah menarik tanganku agar merapat ketubuhnya. Kulihat sekelilingku yang sudah kosong. Hanya tinggal aku berdua dengannya.
"Gue pernah bilang kan kalo ngomong sama orang tatap mukanya?"
"Gue ga lagi merasa ngomong sama lo."
"Caramel!"
"Rafa!"
"Sial!" ia terlihat frustasi. "Terserah lo mau ngaku apa ngga, yang jelas gue udah tau maksud dari angka-angka ini,"
"M-maksud lo?"
"Yang lo maksud AZRAFA kan? Nama depan gue?"
"Itu—itu bukan gue."
"Tatep mata gue dan bilang kalo bukan lo yang nulis angka ini waktu itu!" ia mengancam. "Caramel!" ia semakin mengeratkan pegangannya pada tanganku.
Aku tak berani sama sekali menatapnya. Jadi aku hanya memandangi lantai dibawah. "Gue ngaku, itu gue." jawabku lirih, diikuti dengan helaan nafas lega dari Rafa dan pegangannya terlepas.
"Lo gatau kan seberapa berartinya pengakuan lo itu buat gue?" ujarnya. "Lo juga gatau kan daridulu gue suka sama lo?" lanjutnya.
Deg!
Rafa suka sama gue?
"Dari pertama kali kita MOS, bahkan dari pertama gue liat nama lo diantara murid-murid Nusa Bangsa waktu pembagian kelas."
"Lo gatau seberapa susahnya buat nyapa lo, kenalan sama lo. Sampe akhirnya Pak Darmawan ngasih titik terang buat gue?"
"Lo gatau seberapa senengnya gue waktu itu. Tapi lo malah keliatan gasuka sama gue, itu yang bikin gue sedih."
"Dengan sikap gue yang suka ngeselin sama lo, itu Cuma buat narik perhatian lo doang. Biar gue selalu di inget sama lo."
"Lo gapernah tau seberapa tersiksanya gue nahan perasaan lo selama 9 tahun. Lo gapernah tau seberapa frustasinya gue waktu tau ternyata lo dapet beasiswa ke Jerman—dan gue terlambat waktu ngejar lo, pesawat lo udah take off."
Berarti...kalau aja Rafa ga terlambat buat nyamperin gue. Fix cerita cinta hidup gue bakal berakhir kaya cerita di ftv-ftv.
"Lo gapernah tau seberapa sukanya gue sama lo. Bahkan mungkin cinta—atau buat gue lebih. Atau terserah lah. Lo gapernah tau, Mel."
Ada jeda beberapa saat diantara pernyataannya.
Aku mulai membuka mulutku, "Tapi sekarang gue udah tau," lirihku.
"Lo bener, lo udah tau—semua."
"Fella siapa?"
"Fella? Dia anak dari adek nya nyokap gue, kenapa?"
Hah? Sepupu? Sialan banget Rafa bikin gue-----cemburu?
"Sekarang apa?" tanyaku lebih seperti gumaman.
"9 tahun gue mendem perasaan gue ke lo dan kalo hari ini gue ga nemuin kertas itu mungkin gue ga akan pernah bilang ke lo," katanya. "Sekarang, gue mau lo jadi tempat pemberhentian gue, bukan Cuma sekedar tempat peristirahatan gue. Gue mau lo jadi rumah gue, tempat gue pulang dan kembali, selamanya."
Tak kusangka seorang Rafa bisa berkata seperti itu dan ia sukses membuatku diam seribu bahasa dibuatnya. "Lo mau, kan?" tanyanya melihatku yang terdiam.
"Hari ini lo banyak omong," kalimat itulah yang pertama meluncur dari bibirku tanpa aba-aba.
"Gue seri—"
"Gue juga cinta sama lo."
Setelah pernyataan cinta yang maha dahsyat lebaynya sebulan yang lalu. Ia benar-benar membuktikan ucapannya untuk menjadikan aku tempat pemberhentiannya. Ia datang bersama kedua orangtuanya ke rumahku untuk melamarku.
Dan yep, pernikahan itu akan berlangsung sebulan lagi. Aku yang paling disibukkan dengan persiapan sana sini. Dari mulai mengurus baju pernikahan hingga gedung yang akan dipakai untuk acara resepsi. Rafa sibuk dengan pekerjaannya di kantor jadi hanya sesekali ia menemaniku untuk masalah seperti itu.
Hari ini adalah hari minggu , aku berencana untuk pergi ke bagian dekor-dekor acara pernikahan. Barusan Rafa menelponku dan mengatakan padaku bahwa ia akan ikut denganku.
"Putih kayanya bagus deh." aku melihat-lihat buku-buku dekor yang tersedia disana, mbak-mbaknya sedang izin sebentar kedalam dan tinggal aku berdua dengan Rafa.
"Merah marun aja Mel."
"Bagusan putih tau!"
"Merah marun elegan, putih mah udah biasa."
"Putih itu natural."
"Tapi cepet kotor."
"Ganyambung!"
"Hehehe, merah marun aja ya."
"Putih aja iss!"
"Merah marun!"
"Putih!"
"Merah marun!"
"Yaudah terserah lo! Nikah aja sendiri gausah ngajak-ngajak gue!" dengan kesal kuambil tas genggamku lalu bangkit dari dudukku dan meninggalkannya.
Kurasakan sebuah tangan melingkar diperutku dari belakang, dan kurasakan juga hembusan nafas di sekitar telingaku. "Kayanya kamu harus belajar buat cara ngomong ke calon suami kamu deh."
"Apaansih."
"Buang tuh jauh-jauh 'lo-gue' diantara kita."
"Bodo."
"Iyaa iyaa warna putih, puas?"
Detik itu juga aku membalikkan tubuhku agar berhadapan dengannya. "Beneran ya?"
"Iya sayang."
"Caramel aja kenapa sih! Guasah sayang-sayang!"
"Kenapa? Mau aku panggil istriku tercinta, hmm?"
"Jijik!" ujarku sambil berlalu meninggalkannya dan masuk kembali ke ruangan tadi diikuti suara tawa Rafa di belakangku.
*