Liburan seharusnya menjadi pelarian bagi Cassandra Evans setelah dipecat secara tidak adil dari pekerjaannya. Ia hanya ingin menjauh dari masalah, melupakan tuntutan keluarganya yang terus mendesaknya untuk segera menikah, dan menikmati sedikit kebebasan di Roma, Italia. Namun, siapa sangka? Satu kesalahan kecil justru menyeretnya ke dalam dunia yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan—dunia mafia. Rafael “Rafe” Montenegro bukan sekadar pria kaya dan berpengaruh. Di balik ketampanannya yang dingin, ia menyimpan rahasia gelap. Duda dengan seorang putra kecil ini menjalankan bisnisnya dengan tangan besi, menyingkirkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Tidak ada tempat untuk kelemahan dalam hidupnya—terutama setelah dikhianati oleh istri dan sahabatnya sendiri. Ketika Cassandra tanpa sengaja masuk ke dalam kehidupannya, Rafe tidak punya pilihan selain menahannya di sisinya. Awalnya, hanya untuk mengasuh putranya. Namun, semakin lama, Cassandra bukan sekadar pengasuh biasa. Ia menantang, membangkang, dan menghadirkan sesuatu yang sudah lama hilang dalam hidup Rafe—kehangatan. Tapi dunia Rafe bukan dunia yang aman. Dan Cassandra? Ia terlalu polos untuk terjebak dalam kekacauan ini. Namun, semakin ia mencoba melepaskan diri, semakin dalam ia jatuh ke dalam genggaman sang mafia. Di antara bahaya, rahasia, dan batas-batas yang tak boleh dilanggar, Cassandra harus memilih: tetap berjuang untuk keluar, atau menyerahkan hati pada pria yang bisa menghancurkannya kapan saja. Karena ketika mafia menginginkan sesuatu, mereka tidak akan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Matahari masih cukup tinggi di langit saat Cassandra dan Ana berjalan menuju gerbang utama. Udara siang itu terasa gerah, tapi entah kenapa, ada semacam hawa aneh yang menyelinap di antara angin yang bertiup pelan. Langkah mereka berdua terdengar jelas di atas jalan berbatu, menciptakan ritme yang monoton di tengah kesunyian yang tiba-tiba terasa mencolok.
Biasanya, di sekitar sini masih ada beberapa orang berlalu lalang. Para pekerja taman yang sibuk menyiram tanaman, bodyguard yang berjaga di beberapa titik, atau bahkan satpam yang setia berdiri di pos keamanan sambil bersenda gurau dengan rekan-rekannya. Tapi sekarang?
Kosong.
Yang ada hanya suara gesekan dedaunan yang diterpa angin.
Cassandra mengedarkan pandangan ke sekeliling. Rumah keluarga Montenegro terlalu luas untuk dibiarkan sesepi ini. Rasanya seperti sedang berada di tengah lapangan terbuka yang ditinggalkan penghuninya, padahal ini masih siang hari.
Dia menarik napas dalam.
"Gila, gede banget rumah ini. Mau olahraga nggak perlu ke luar, cukup bolak-balik gerbang ke pintu utama, dijamin turun sekilo!" batinnya, mencoba menghibur diri sendiri.
Di sebelahnya, Anna tampak santai saja, berjalan dengan ayunan langkah ringan. Sementara Cassandra, entah kenapa, merasa sedikit tidak nyaman. Ada sesuatu yang menggelitik nalurinya, seperti firasat buruk yang samar tapi tidak bisa diabaikan.
Ketika mereka hampir sampai di gerbang utama, Cassandra mulai menyadari sesuatu yang semakin jelas.
Tidak ada bodyguard yang berjaga.
Biasanya, ada dua orang berseragam hitam berdiri tegak di dekat pintu gerbang. Mereka jarang berbicara, hanya sesekali berkomunikasi lewat radio. Tapi sekarang, tidak ada seorang pun di sana.
Bahkan, satpam tua yang biasa menyapanya setiap kali dia membuang sampah pun tidak terlihat.
Cassandra menoleh ke Ana dengan alis berkerut.
"Lho, kok sepi banget? Biasanya ada orang di sini."
Anna hanya melirik sekilas sebelum menjawab, "Oh, tadi sih aku lihat anak buahnya Tuan Rafael pergi naik mobil. Nggak tahu ke mana."
Anna mengangkat bahu santai. "Terus, satpam di sini katanya ke dapur sebentar. Mau bikin kopi, gitu."
Cassandra memperhatikan ekspresi Ana. Tidak ada yang terlihat aneh dari wajahnya, tapi tetap saja, sesuatu terasa tidak beres.
Namun, Cassandra bukan tipe yang gampang panik.
"Ya udahlah, mungkin mereka memang lagi sibuk," pikirnya.
Ana kemudian mengambil sebuah paket hitam dari pos keamanan dan menyerahkannya ke Cassandra.
"Nih, paketmu."
Cassandra menerima paket itu dengan kening berkerut. Paketnya tidak terlalu berat, tapi cukup padat. Tangannya secara refleks mulai memeriksa bagian atas dan bawah, mencari nama pengirim atau alamat asalnya.
Namun...
Kosong.
Tidak ada nama. Tidak ada alamat pengirim.
Hal itu membuatnya semakin bingung.
Siapa yang mengirim paket ini?
Dan kenapa dikirim ke rumah Rafael Montenegro, padahal Cassandra hanyalah seorang pekerja sementara di rumah ini?
Cassandra mengerutkan dahi dan terus meneliti paket itu, terlalu fokus hingga tidak menyadari sesuatu yang sangat penting.
Dia sendirian.
Anna tidak lagi ada di sampingnya.
Terlalu sunyi bulu kuduknya berdiri.
Dia menelan ludah dan mencoba bersikap tenang.
"Anna?"
Tidak ada jawaban.
Cassandra menoleh ke kanan dan kiri, mencari sosok temannya.
Tapi yang dia temukan hanyalah kesunyian.
Hatinya mulai berdegup lebih cepat.
"Jangan bercanda, Anna..." Sekali lagi, dia mencoba memanggil.
"Anna?!"
Masih tidak ada jawaban.
Jantungnya mencelos. Dia mulai merasakan hawa aneh yang membuat punggungnya berkeringat dingin.
Dan saat dia hendak berbalik masuk kembali ke dalam rumah...
"Cassandra..."
Sebuah suara pelan terdengar di belakangnya.
Suara Anna, tapi ada sesuatu yang aneh dalam nada suaranya.
Cassandra ingin langsung menoleh, tapi ada sesuatu dalam dirinya yang menahan. Seperti instingnya berteriak agar dia tidak menoleh.
Namun, tubuhnya tetap bergerak secara refleks. Perlahan, dia mulai memutar tubuhnya untuk melihat ke belakang...
Tapi sebelum dia sempat melihat wajah Anna—
BRUK!
Sebuah pukulan keras menghantam tengkuknya pandangannya langsung berputar.
Dunia seolah bergoyang, tubuhnya kehilangan keseimbangan kesadarannya mulai memudar.
Sebelum semuanya menjadi gelap, hal terakhir yang dia lihat adalah dua pria berpakaian hitam berlari mendekatinya.
Mereka ingin menolongnya?
Atau...
Mereka bersekongkol dengan Ana?
Sebelum pertanyaan itu menemukan jawabannya, kegelapan akhirnya menelannya sepenuhnya.
...➰➰➰➰...
Suara tetesan air.
Itulah hal pertama yang Cassandra sadari saat kesadarannya perlahan kembali. Ada sesuatu yang menetes berulang kali di suatu tempat—mungkin dari langit-langit—dan gema kecilnya terdengar di sekelilingnya.
Kepalanya terasa berat, seperti dihantam batu besar. Tengkuknya masih berdenyut nyeri, efek dari pukulan yang dia terima sebelumnya. Matanya terasa berat, tapi dia memaksakan diri untuk membuka kelopak matanya yang terasa lengket.
Gelap.
Tidak, tidak sepenuhnya. Ada cahaya redup dari sebuah lampu kecil di sudut ruangan, cukup untuk membuatnya bisa melihat bahwa dia berada di tempat yang tidak dikenalnya.
Dia mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba memahami situasinya.
Lantai di bawahnya terasa dingin, keras, dan kasar—bukan ubin halus seperti yang ada di rumah Rafael. Temboknya juga terlihat kusam, dengan bercak lembap di beberapa bagian. Bau apek bercampur dengan aroma logam yang samar memenuhi udara.
"Sial... aku di mana?"
Cassandra mencoba bergerak, tapi saat ia mengangkat tangannya, sesuatu yang kasar menahan pergerakannya.
Tali.
Tangannya diikat.
"Anjing..." bisiknya dengan suara serak. Panik mulai menyebar dalam tubuhnya, tapi dia mencoba mengendalikan napasnya.
Jantungnya berdebar kencang. Ini bukan bercanda. Ini bukan mimpi buruk biasa.
Ia mencoba mengingat kejadian terakhir sebelum semuanya menggelap.
Paket misterius.
Ana yang menghilang.
Dua pria berpakaian hitam.
Dan pukulan di tengkuknya.
"Anna..." gumamnya. Apakah dia juga diculik? Atau justru dia bagian dari semua ini?
Telinganya mulai menangkap suara lain.
Bukan hanya tetesan air, tapi juga langkah kaki.
Seseorang—atau mungkin lebih dari satu orang—sedang berjalan mendekat.
Suara sepatu keras menghantam lantai, semakin lama semakin dekat.
Cassandra menahan napas. Dia masih tidak bisa melihat wajah siapa pun, tapi dari bayangan yang terpantul samar di dinding, dia bisa memastikan satu hal: orang itu laki-laki.
Cahaya dari lampu redup di sudut ruangan mulai menyoroti sosoknya sedikit demi sedikit.
Pria itu mengenakan setelan gelap, dengan bahu tegap dan postur yang menunjukkan dominasinya.
Saat wajahnya mulai terlihat, Cassandra merasakan gelombang ketakutan aneh menjalari tubuhnya.
Karena dia pernah melihat wajah itu sebelumnya.
Bukan secara langsung, tapi... di rumah Rafael.
"Akhirnya bangun juga," suara pria itu terdengar rendah, nyaris seperti gumaman.
Cassandra menggigit bibirnya, tidak ingin menunjukkan ketakutan yang mulai merayapinya.
"Siapa kamu?" suaranya masih serak, tapi dia berhasil membuatnya terdengar cukup tegas.
Pria itu tidak langsung menjawab. Dia hanya berdiri di sana, mengamati Cassandra seolah sedang menilai sesuatu.
Kemudian, sudut bibirnya terangkat sedikit.
Sebuah seringai.
Pria itu tidak langsung menjawab. Dia hanya berdiri di sana, mengamati Cassandra seolah sedang menilai sesuatu.
"Aku tidak sabar bagaimana reaksinya saat mengetahui orang terkasihnya berada dalam genggamanku."
Suara rendahnya terdengar dingin, nyaris seperti bisikan yang disengaja untuk menusuk ke dalam kepala Cassandra.
Seketika bulu kuduknya berdiri.
Napasnya tercekat, tapi ia memaksa dirinya tetap tenang, meskipun kepanikannya mulai menggigit perlahan.
Bersambung...
Mari kita berdoa berjamaah semoga dapat suami yg kaya, gagah, setia dan mencintai kita selamanya. Amin🤔🤗🥰👏