Baru beberapa jam menginjakkan kaki di kota kelahirannya, Sienna sudah harus menerima perlakuan tidak mengenakkan dari orang yang dicintainya.
Malam itu jadi malam yang panjang dan tak terlupakan baginya, juga bagi Akshan yang merupakan kakak dari sahabat baiknya.
Gadis itu pun menghilang bagai ditelan bumi. Hingga suatu malam pula, Akshan menemukannya dalam keadaan sangat berbeda. Dan oh, siapa lelaki dan 2 anak itu?
Mohon dukungannya, ini karya pertamaku. Kritik dan saran yang membangun terbuka lebar di kolom komentar. Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adalynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konsultasi
"Mas, sebenernya orang hamil itu pasti gak sih ngerasain mual?
"Enggak juga, gak setiap ibu hamil mengalami mual atau muntah. Tapi hal itu memang banyak dialami dan rata-rata hanya di pagi hari. Tapi ada juga sih kasus yang cukup parah, banyak diantaranya yang bahkan minum air putih pun dia muntah"
"Hah?" Aku reflek bersuara karena keterkejutanku karena ucapan Arie. Bagaimana jika hal itu terjadi pada Sienna?
Tanpa ku sadari, Arie terlihat kebingungan dan mungkin ia sudah mulai curiga padaku dan pada pertanyaan Tania terkait kehamilan.
"Kalau air aja gak masuk, gimana makanan yang lainnya? Terus anaknya dapet nutrisi dari mana buat pertumbuhannya?" celetuk Tania, membuatku juga berpikir demikian. Ku tatap muka sahabatku untuk mencari jawabannya sesegera mungkin.
"Itu lah salah satu penyebab yang bikin anak cacat, entah fisik maupun mental, atau mungkin bahkan keduanya. Dengan kata lain ya fisik dan mental si anak jadi kurang dan terganggu. Akibat pada saat di kandungan ibunya, ia tak mendapatkan gizi dan nutrisi yang cukup untuk perkembangannya"
Aku langsung mengusap kasar wajahku, frustasi mulai melingkupiku. Sienna dan anakku, apakag mereka baik-baik saja? Apakah Sienna akan mengalami hal yang seperti itu dan membuat anakku kekurangan? Aaarrrght, aku harus segera menemukannya!
"Makanya, sebisa mungkin setiap ibu hamil harus diawasi, karena setiap tindakannya akan memengaruhi kondisi janin yang ada dalam kandungannya. Uhmmm.. wait, kamu kok tanya-tanya soal kehamilan? Jangan bilang kamu hamil!?"
Aku dan Tania tersentak, kami sempat bertukar pandang lalu Tania mulai tertawa.
"Hahhahaha.. ya kaaaliiii.. hamil sama siapa? Nikah aja belum.. mas nih ada-ada aja!"
"Terus? Atau jangan-jangan Rana yang hamil yah?" aku langsung terhenyak mendengar tuduhan Arie, aku bahkan tak semoat memikirkan wanita itu.
"Waaaahhh.. gila lu, kalian kan baru nikah kemaren!" ucap Arie sambil menunjuk-nunjuk wajahku, tapi dengan ekspresi tengilnya.
"Lu yang gila! Gue nidurin dia aja belum pernah!"
"Eh iyah, lu kan baru nikah kemaren. Gue sampe lupa. Kok lu malah ke sini? Sama Tania lagi... Terus bukannya berangkat honeymoon, malah mau berangkat ke Jerman ngejar cinta yang gak kesampean! Parah luuu..."
Aku menarik dan membuang nafasku yang berat dengan kasar. Mengacak rambutku dan menghentak-hentakkan tanganku ke meja kerja milik Arie. Aku bingung bagaimana cara menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Arie melihatku dengan tatapan yang semakin bingung.
"Kenapa sih?" bisik Arie ke Tania.
Tania tak berani menjawab, ia mengalihkan pandangannya ke arahku, meminta persetujuanku untuk mulai menjelaskan duduk perkaranya. Alu menarik nafasku dalam-dalam dan mengeluarkannya sambil memejamkan mataku, berharap ketenangan menghampiriku.
"Sienna hamil" ucapku singkat dengan suara yang cukup lemah.
Aku kembali memejamkan mata dan menarik nafas sedalam mungkin. Ku buka mataku dan terlihat lah Arie sedang menahan keterkejutannya. Matanya membelalak, mulutnya menganga lebar, keningnya berkerut dan jari-jari tangannya mulai memijat-mijat dahi sampai ubun-ubunnya.
"Terus lu mau ngejar dia ke Jerman?" aku mengangguk.
"Buat apa? Laki-laki yang hamilin dia gak mau tanggungjawab emang?"
"Justru karena dia mau tanggungjawab mas" Tania akhirnya membuka suara.
"Ya bagus kalau gitu!" Arie melepas tangannya dari dahi kemudian memainkan bulu-bulu tipis yang ada di dagunya.
"Eh wait, gue masih gak ngerti.. terus apa hubungannya lu harus nemuin dia ke Jerman...?"
Lalu sedetik kemudian dia menggebrak meja dengan keras.
"Jangan bilang lu yang hamilin dia, Shan!?!!"
Rasa sesak mulai menggerayangi tubuhku, dadaku sakit, jantungku berdebar dengan kencang, mataku seketika berkabut. Ku tundukkan kepalaku untuk mengurangi sakitnya, tanganku menopang kening yang terasa seperti ditusuk ribuan jarum.
"Waaaaahhh.. gila lu bro! Sejak kapan lu jadi pria brengsek!? Mana Akshan yang gue kenal, yang walau digoda puluhan wanita telanjang tetep teguh gak tergoda?! Sekarang lu malah hamilin temen dari adik lo sendiri?! Gila, gak habis pikir gue!"
Aku tahu betapa kecewanya Arie padaku, sejak dulu aku selalu memintanya agar ia tak mempermainkan wanita, ya Arie dulu adalah seorang playboy cap kapak. Perempuan mana yang tak mau padanya? Sudah tampan, pintar, kaya pula!
Kini Arie sudah berhasil merubah sifat buruknya itu, namu aku yang terus menerus menekannya untuk berubah itu malah melakukan hal yang berbanding terbalik dengan ucapan-ucapanku. Aku memang sudah gila rasanya!