Arini dituduh melakukan penganiyaan terhadap atasannya. Dipecat secara tidak hormat hingga nyaris membuatnya dipenjara.
Seolah takdir buruk itu belum cukup untuknya. Ia harus menikahi lelaki yang terang-terangan mencintai wanita lain tapi mengambil keuntungan darinya.
Akankah takdir baik menghampiri kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laylatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi Pertama Setelah Menikah
Hatiku bergemuruh. Jantung seakan memompa lebih cepat. Aku menghela nafas. Meringsut ketepi ranjang sambil membetulkan piyama yang aku gunakan. Bersyukur kancing baju tidak ada yang terbuka.
Setelah selesai dari kamar mandi aku menghampiri Riski yang masih terlelap, sesekali ia mengeluarkan dengkuran meski sangat halus. Lelaki itu memiliki kulit wajah yang putih bersih. Ada bulu-bulu halus yang tumbuh di bagian dagunya, dan alisnya, entah sejak kapan aku mulai menyukai alisnya yang tebal juga hitam legam.
"Sampai kapan kamu akan menatapku seperti ini?" lelaki itu membuka mata tiba-tiba.
Aku terperanjat. "Kau! Kapan aku memandangmu? Cepat bangun, waktu subuh hampir habis." jawabku ketus sambil membalik badan. Mencoba menyembunyikan perasaan malu yang baru saja menguar.
****
Pagi ini cuaca sangat dingin. Angin menghembus semilir melewati celah-celah jendela. Pagi masih terlalu muda sementara Bi Nur sudah sangat sibuk di dapur. Ia berjalan ke sana kemari untuk mempersiapkan sarapan pagi.
"Saya bantu goreng ya, Bi" ucapku ketika sampai di sisinya.
"Oh! Baguslah kamu sudah bangun. Memang seharusnya begitu, wanita itu harus gesit, bangun pagi harus awal jangan mau kalah dengan ayam jantan." ucapnya sambil membidikku dengan ekor mata.
Aku tersenyum menanggapinya sambil mencelupkan ayam ke dalam minyak panas. Sejenak pandangan kami beradu, dari sorotan matanya sangat terlihat ia tidak menyukaiku.
"Pasti beruntung sekali bisa menjadi istri dari Tuan Muda." ucapnya dengan nada mengejek.
Aku menoleh ke arah Bi Nur sejenak sambil menyuguhkan senyuman. "Ini di goreng semuanya, Bi?" ucapku mengalihkan pembicaraan.
***
"Lho, apa ini? Kenapa ada pengantin baru di dapur?" ucap Oma Dwi, pandangannya mengarah kepadaku.
"Eh, Nyonya! Ia, Nyah. Padahal saya sudah melarangnya, tapi Nak Rini ngotot mau bantu-bantu, katanya." timpal Bi Nur tanpa rasa bersalah.
Aku mendecih menatap wanita yang masih menggunakan celemek hitam tersebut.
Lantas mengangkat wadah yang berisikan ayam yang baru saja siap di goreng kemudian menatanya di atas meja.
"Selamat pagi semuanya!"
Kami semua menoleh kearah suara yang baru saja menggema. Tubuh Riski muncul dari balik skat yang memisahkan antara ruang kelyarga dengan dapur. Lelaki itu membidik ke arahku dengan senyuman yang aku tidak tau apa maksudnya. Segera aku membuang muka. Lama-lama menatapnya membuat hatiku gugup.
"Oma bersyukur, Allah mengabulkan keinginan Oma sebelum kembali padanya." ucap Oma memecahkan kesunyian. Kemudian ia menyuapkan makananan ke mulutnya.
Aku menghentikan suapan, begitu juga dengan Riski. Kini kami saling beradu pandangan.
"Jika Oma harus pergi, Oma sudah siap. Terima kasih Ri--"
"Oma! Tidak akan ada yang kemana-mana. Rini mohon, Oma jangan ngomong seperti itu lagi." aku menyela, lalu menggenggam tangan Oma. Sungguh terlepas dari apapun, aku sangat ingin Oma Dwi memiliki umur yang panjang.
Setelah selesai sarapan pagi, aku menuju halaman belakang. Ada kolam ikan hias di sana yang membuatku sering menghabiskan waktu luang. Suara gemericik air pancuran yang terletak di tengah-tengan kolam membuatku membayangkan suasana pegunungan. Di tambah lagi dengan puluhan tanaman berbunga yang siap memanjakan pandanganku.
Matahari baru saja merambat tinggi saat lelaki yang telah sah menjadi suamiku tiba-tiba saja muncul tepat di belakangku. Entah bagaimana caranya ia melangkah, hingga tak ada suara apapun yang terdengar.
"Ngapain kamu disini? Bukankah kamu harus berangkat ke kantor?" ucapku dengan pandangan masih tertuju pada kumpulan ikan yang sedang berebutan makanan.
"Kau benar, seharusnya aku berangkat kekantor sekarang." ia membalik badan lalu melangkah meninggakanku.
Dasar. Aku berdecak kesal menatap punggungnya sebelum akhirnya menghilang di balik dinding.
***
Di dalam kamar, untuk mengusir kejenuhan, aku memilih untu menonton acara gosip yang di suguhkan oleh salah satu station TV swasta, sambil berseloyoran kaki. Aku membuka aplikasi WhatsApp lalu membaca kembali pesan dari Dokter Bayu yang belum sempat terhapus.
[Lagi ngapain] Tiba-tiba saja pesan baru dari Dokter Bayu, masuk.
Tanpa membutuhkan waktu lama, aku segera mengetik balasan. Sejak kesibukanku mempersiapkan pernikahan yang berlangsung mendadak, aku jadi tidak punya waktu untuk menyapa dirinya.
[Saya Lagi nonton TV, Dokter lagi ngapain]
Aku menatap layar menunggu centang biru dua. Beberapa waktu telah berlalu, namun centang dua tersebut belum juga berubah warna. Mungkin saja Dokter Bayu sedang sibuk dengan pasien sehingga ia tidak punya waktu untuk membuka pesan dariku.
Ting! Pesan dari kontak baru masuk.
[Bisakah kita bertemu sebentar?]
Aku mendelik sesaat, mencoba menerka pemilik dari kontak tersebut. Sejurus kemudian mengirim balasan.
[Ini siapa?]
Tak butuh waktu lama, pesan tersebut langsung centang biru. Lalu terlihat ia mengetik balasan.
[Aku, Ruka. Sekretarisnya, Mas Riski]
Aku tertawa geli membaca kata--Mas Riski di kalimat pesan tersebut. Lalu kembali mengetik balasan.
[Kenapa mau bertemu denganku, apa yang ingin kau bicarakan]
***
Kini aku telah berada di alamat yang di kirimkan Ruka. Sebuah kafe yang terletak tak jauh dari kantor tempat ia bekerja. Suasana kafe cukup ramai membuatku kesulitan mencari sosok wanita tersebut.
Aku melangkah pelan memasuki area terbuka. Terlihat meja-meja semuanya telah berpenghuni namun tak ada yang mirip dengan Ruka.
Aku merogoh tas, mengambil ponsel lalu mengecek kembali alamat yang wanita itu kirimkan tadi. Memang benar alamatnya di sini. Lalu di mana wanita itu? Lirihku berbicara sendiri.
"Rini!" seseorang memanggilku dari arah belakang.
Aku membalik arah, mendapati wanita seksi itu menatap ku dengan ekpresi datar, kemudian ia berjalan menuju meja paling sudut, meja yang letaknya agak jauh dari meja lainnya. Aku mengikuti ia dari belakang.
Seorang pramusaji datang menghampiri kami. Aku memesan satu jus alpukat dengan kudapan stik kentang keju sedangkan Ruka, wanita itu sepertinya sangat menghindari kalori berlebihan, aku bisa menebak saat melihat menu pesanannya. Ia memilih seporsi salad tanpa saus juga jus jeruk tanpa gula. Beberapa saat kemudian pesanan kami datang.
"Ok, langsung pada hal yang ingin saya bicarakan denganmu." ucapnya sambil bergidik menatapku.
Aku membalas tatapannya, kedua tangan menyilang di atas perut. "Silahkan!" ucapku dengan ekpresi datar.
"Kau tau, kan. Jika antara aku dan Riski itu punya hubungan yang khusus."
Aku tersenyum kecut sambil menyeruput jus alpukat dengan pipet. "Terus!" ucapku sambil memperbaiki posisi duduk sementara pandangan masih mengarah kepapanya.
"Aku mau kamu jaga jarak dengan dia, anggab saja aku sedang meminta tolong kepadamu." tangannya sibuk mengaduk salad.
"pecel tanpa bumbu, apakah ada rasa?"
Wanita itu terkekeh namun tangannya masih sibuk mengaduk. "Bahkan untuk membedakan antara pecel dengan salad pun, kau belum bisa."
Kini giliranku yang terbahak sambil mengedarkan pandangan ke sekitar. Wanita itu ternyata tidak seimut yang aku pikirkan sebelumnya, aku harus berhati-hati.
"Jadi bagaimanan?"
"Apanya yang bagaimanan?"
"Kau harus jaga jarak dengan Riski. Jika kamu tidak mau rahasia yang sedang engkau tutupi di ketahui oleh Bu Dwi."
Aku berhenti mengunyah lalu menatap lekat wanita yang duduk di hadapanku. Sepertinya ia sedang tidak bercanda. Ada perasaan cemas yang mulai bertunas di sanubari. Ah! Aku jadi teringat dengan perkataan orang tua dulu bahwa sepandai-pandainya menyimpan bangkai, akhirnya akan terbongkar juga. Bagaimana jika ... Om, ah tidak. Aku harus berhati-hati.
"Selamat siang semuanya."
Aku menoleh ke arah suara sementara Ruka, wanita itu tersenyum tanpa menoleh. Ia sepertinya mengenal betul pemilik dari suara tersebut.
"Dokter Bayu." seruku kaget, hampir saja aku memekik.
Lelaki itu mengumbar senyuman bahkan kedua lesung pipi miliknya terlihat melengkung jelas. Dia sungguh sangat tampan hari ini.
gmn kbr keluargga galuh
Maaf ya author, aku jadi ikutan kesel sama Riski 🙏