Vita Kavita dan Dimas Ahmadin merupakan sepasang suami istri yang sangat harmonis dan bahagia. Usia pernikahan mereka sudah hampir 10 tahun. Namun walaupun begitu, belum ada kehadiran malaikat kecil titipan tuhan pada mereka. Itu bukan berati karena ada masalah dengan mereka. Hingga suatu ketika, Ada suatu kejadian tepat di anniversary mereka, Suaminya tak kembali semalaman yang menyebabkan Vita menunggu semalaman di udara malam yang dingin itu. karena kejadian itu, Vita berfikir bahwa suaminya berselingkuh. namun kecurigaan itu Vita singkirkan karena di saat yang sama dia berhasil mengandung, mereka pun berbahagia. Bahkan sangat bahagia, namun di saat itulah dia mengetahui semua kebenaran bahwa suaminya memiliki istri lain bahkan mereka juga telah memiliki 2 orang putra di belakang Vita.
Apa yang di lakukan oleh Vita? Bagaimanakah kelanjutan ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18. Rahasia Suamiku.
"Baiklah, besok aku akan meminta jadwal itu pada dion. Sekarang aku harus relax baru bisa tidur,” ucap ku mengatur nafas ku.
Namun nyatanya pikiran ku masih aktif dan sangat penasaran mengenai hal itu.
“Jangan pikirkan itu dulu Vita.. Tidur sekarang tidur … Kamu harus tidur, kasihan boo,” gumam ku lagi.
Ku teringat akan obat dari dokter untuk resep kan padaku. Setelah ku minum, memang benar tak lama kemudian ku merasa mengantuk.
Keesokan harinya,
Aku terbangun karena dingin nya Ac yang membuat lengan ku merinding dan dengan mata terpejam, aku mencari-cari selimut ku.
“Dingin, dimana sih selimut ku" Ucapku mencari selimut ku.
“Dingin? Kalau begini masih dingin?" aku merasakan pelukan dan suara mas Dimas.
Aku pun membuka kedua mataku dan melirik ke arahnya.
"Siang sayang, muah. Dingin ya, Mm selimutnya disini nih. Mas peluk juga biar nggak dingin lagi,”
“Hmm? Kok kamu di sini mas?” ucapku dengan kaget.
“Loh mas dari pagi tidur peluk kamu sayang. Memang nya nggak terasa?” ucap nya lalu mencium ku lagi.
"Hah? Ih lepas, lepasin … udah nggak dingin"
“Loh kok gitu? Kenapa mas merasa istriku marah ya. Sayang.. mas kangen banget sama kamu sayang,”
Aku diam saja, entah kenapa aku enggan menjawab nya.
“Sayang, tadi mas buru-buru loh pulang dari pagi jam 3, muah. Mas juga bawain ice cream strawberry loh kesukaan istriku yang cantik ini, siapa tau boo juga suka. Dimakan sore-sore enak sayang,” ucapnya.
Ku hanya diam lagi mendengar semua imajinasi nya. Ya, aku memang menyukai ice cream itu namun aku enggan untuk memakan nya seperti apa yang dia pikirkan.
“Sayang, kenapa diam aja? Ayo mau mandi tidak? Sudah siang nih,”
“Siang?” jawabku lalu menengok arah jam dinding.
Ku terkejut melihat angka 11 yang artinya aku tidur sangat pulas.
“Lepasin mas, apa kamu nggak ke kantor?” tanya ku.
“Mas libur dong sayang, kan baru lembur"
“Hmm, ya sudah. Terserah kamu"
Aku pun turun dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri ku.
“Sayang, mas ikut,” ucapnya yang mengikuti ku.
“Nggak mas,” Aku masuk dan hendak mengunci pintu nya.
"Kok gitu? Istriku enggak marah kan. Sayang.." ucapnya dengan menarik pintu nya.
Aku dan mas Dimas saling tarik-menarik pintu namun aku dengan cepat meraih semprotan air yang kebetulan ada di depan wastafel. Aku ambil itu lalu menyemprotkan air ke wajah suamiku. Setelah dia melepaskan tangannya dari pintu, aku dengan cepat menutupnya dan melanjutkan aktivitas ku yaitu mandi.
"Aamiin sayang.. Sayang kenapa mas disemprot si. Sayang, mas kan juga pengen mandi. Sayang.. Maafin mas..biarkan mas masuk." dia mengetuk pintu berulangkali namun aku acuhkan dia.
"Sayang.. Buka.." ucapnya lagi mengetuk pintu.
Lama kelamaan aku tak dengar lagu suara suamiku itu. Ku lanjutkan mandi dan lainnya.
**
Setelah selesai, aku keluar dan kaget karena melihat makanan di meja depan televisi. Ku dekati makanan itu, chicken sandwich dan spaghetti?
Tiba-tiba Mas Dimas datang dengan membawa gelas, “Sayang sudah mandi nya?”
“Iya,” jawabku singkat.
“Sini makan dulu sayang, Mas nih yang masak, hehe. Sini sayang duduk, duduk dulu. Oke, mas suapin ya,” ucap nya menarik ku untuk duduk.
“Ini coba spaghetti nya dulu, aaaa,” dia menyuapiku makanan seperti anak kecil.
Aku membuka mulutku dan memakan itu karena ku lapar. “Gimana sayang? Enak ngga? Dari kemarin mas belajar ini loh dari video,”
“Lumayan,”
“Syukurlah, ini sandwich nya aaaa,”
“Aku aja mas,” ucap ku mengambil sandwich itu dari tangan nya.
Tak sadar aku memakan semua makanan yang ada sampai ku terasa kenyang. “Lumayan juga masakan nya untuk seseorang yang tak pernah memasak,” ucap ku dalam hati.
“wah, mas seneng. Besok mas buatkan lagi mau?”
“Mm, nggak usah mas, takut ngerepotin,”
“Ya ampun sayang, ngerepotin apa sih? Mas kan suami kamu,”
“Ya tetap aja jangan mas. Nggak papa kok,”
“Ya sudah, kalau istriku mau mas buatkan lagi, pokoknya bilang aja oke?”
Aku mengangguk saja setelah selesai makan, aku melanjutkan aktivitas ku sehari-hari. Mengenai rasa penasaran ku itu akan ku pendam sampai besok, tepatnya Ketika mas ilham menelpon ku lagi bahwa dia akan pergi ke luar kota lagi.
Keesokan harinya,
Seperti biasa hari ini ku bangun pagi, menyiapkan baju untuk mas ilham lalu ku pergi ke dapur untuk buat makanan.
“Ini bekal nya mas,” ucapku setelah dia selesai sarapan.
“Makasih ya sayang,”
“Iya,” ucapku lalu berbalik dengan membawa piring ke wastafel untuk ku cuci.
Tiba-tiba sepasang tangan mas ilham melingkar di pinggang ku, mengelus perutku yang mulai buncit ini, lalu mas ilham berkata.
“Sayang, mas minta maaf ya, seperti nya hari ini mas harus ke luar kota lagi, tiba-tiba ada masalah di kota ciasmas itu, Maaf ya sayang, mas tinggalin kamu lagi,”
Ku menghela nafas ku, lagi-lagi alasan nya itu. Apa masalah nya hampir merata di seluruh cabang yang ada? Namun setelah ku pikir itu kesempatan bagus untuk mencari tau kebenaran nya setelah tau lebih mudah untuk selanjutnya mencari keberadaan mas ilham yang sebenarnya.
"Terserah mas" Jawabku.
“Sayang, Maaf ya. Sayang, mas minta maaf,, mas janji ini yang terakhir kali nya sayang,” ucapnya degan mencium ku berulang kali.
“Mm, iya mas. Nggak papa kok. Kamu hati-hati ya,” jawab ku tersenyum dan melepaskan kedua tangan nya.
“Sayang,”
“Iya mas, kamu tenang aja. Udah, ku bantu siapin baju mu sekarang"
“Beneran sayang? Marah nggak sama mas?”
“Engga mas,” jawab ku memberi senyuman palsu.
Aku pun membantu nya mengemas barang-barang nya. Sesudah itu, aku pun mengantar nya ke depan hingga mobil nya tak terlihat lagi oleh kedua mataku.
“Sebenarnya kamu kemana mas? Apa kamu benar-benar membohongi ku?”
Aku pun masuk kedalam dan menunggu suamiku berkabar bahwa dia akan berangkat. Sampai di siang hari. Aku yang sedang menonton televisi terkejut merasakan ponselku bergetar. Ku lihat itu mas Dimas. Ku angkat telpon nya.
“Halo mas?”
“Sayang, sudah makan siang?”
“Belum nanti saja,”
“Kenapa sayang? Nanti boo laper loh,”
“Bentar mas, habis ini,”
“Ya sudah jangan lupa makan ya? Oh ya mas mau berangkat sekarang nih sayang,”
“Ya mas, hati-hati ya,”
“Iya sayang, nanti setelah sampai mas kabari lagi ya? bye sayang ku, muahh,”
“Ya ya"
"Kok begitu responnya sayang?" ucapnya.
"Memangnya harus bagaimana? Sudah ya mas, aku ngantuk. Aku tutup dulu"
"Sayang..." Sebelum dia berbicara,aku menutup telpon nya.
Setelah itu ku menunggu hampir setengah jam, aku mulai menelpon Dion yaitu asisten mas Dimas lagi.
“Halo selamat siang bu?”
“Sore, suami saya ada di kantor?”
“Pak Dimas sudah keluar bu dari kantor,”
“Oh begitu, kemana dia?”
“Tadi beliau berkata ada urusan bu,”
“Urusan? Apa keluar kota?”
“Tidak bu, beliau tidak ada jadwal kunjungan ke luar kota bu"
“Bisa minta tolong kirimkan jadwal suami saya bulan ini?”
“Mm, mohon maaf bu. Tapi kalau boleh saya tau untuk apa ya bu? Soalnya jadwal ini sewaktu-waktu akan ditambah atau di kurangi bu sesuai permintaan pak Dimas"
“Benarkah? Lalu hari ini dan kemarin hari Senin apa ada tambahan jadwal ke luar kota?" tanyaku lagi.
"Sebentar Bu saya lihat dulu. Tidak ada Bu, tidak ada. Sepanjang Minggu ini pak Dimas melempar tanggungjawab pada pak Bambang selaku direktur utama."
"Benarkah? Lalu, apa pak Bambang itu sibuk ke luar kota dan cabang di luar kota hampir semua bermasalah?" tanyaku lebih lanjut.
"Cabang? Semua allhamdulilah lancar bu. Di cabang jujur saja tidak ada masalah bu."
Aku kaget mendengarnya, dan seketika kabar itu membuat ku sedikit pusing.
"Bu? Bu Vita? Maaf Bu, apa ada yang bisa saya bantu?"
"Tidak, tidak.. Emmm, kamu tetap kirimkan jadwal suamiku saja bisa? Begini saja, kalau suami saya tiba-tiba merubah jadwal nya bisa kamu beritahu saya?”
“B-baiklah bu, saya kirim ke mana ya bu?”
“Ke wa saja,”
“Baik bu,”
Setelah ku menerima soft file jadwal mas Dimas, aku tak lupa berterimakasih pada asisten nya itu.
“Ok, sudah. Terimakasih ya"
“Sama-sama bu"
“Oke, saya tutup dulu,”
“Baik bu,”
Setelah menutup telpon, aku pun membuka file itu dan mencari tanggal 13 hari rabu yaitu pada hari ini. Ku terkejut karena di hari ini memang dia tak ada jadwal kunjungan ke luar kota bahkan kemarin lusa juga tidak ada jadwal kemanapun. Hampir kerataan dari awal bulan ini memang kosong bahkan mas Dimas hanya lembur sekali saja, itupun tak sampai ke luar kota.
“Kenapa kamu membohongi ku mas? Kemana sebenarnya kamu? Apa yang kamu lakukan?”
Tak terasa air mataku akhirnya pecah dan mengalir deras. Dada ku terasa sesak dan nafas ku tak teratur.
Bersambung,,
lanjuttt Thor ❤️