lahir sebagai wanita bukanlah pilihan seseorang, menjadi kuat juga bukanlah pilihan seorang wanita, kebahagiaan adalah harapan bagi seorang anak perempuan yang di dipersunting lelaki pilihan hati.
kisah ini menceritakan kehidupan rumah tangga empat saudara perempuan, yang punya banyak impian menikah adalah kebahagiaan, namun kisah pernikahan jauh dari ekspektasi air mata selalu hadir dalam setiap permasalahan, jatuh bangun ke empat saudara ini mempertahankan rumah tangganya, ada begitu banyak harapan dalam setiap air mata yang menetes dalam doa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGAKUAN
Novi kini menatap wajah Kakak-kakaknya, Ia pun sudah tak tahan ingin menceritakan perlakuan suaminya terhadap dirinya.
"Kak.. Bolehkah Aku bercerai?"
Semua ikut kaget mendengar hal itu begitu juga dengan Arif yang ikut nimbrung dalam perbincangan itu.
"Apa yang Kamu katakan Novi?"
"Aku ingin bercerai saja Kak dari A Erwin"
"Tunggu Kamu Ini bicara apa? Coba jelaskan pada Kakak, sebenarnya kenapa Kamu ingin bercerai"
Namun saat Novi ingin menceritakan apa yang Ia alami, Pak RT meminta untuk segera menguburkan jenazah.
"Novi, Kamu berhutang penjelasan Pada Kami semua, setelah memakamkan Ibu, Kamu harus jelaskan apa yang sebenarnya terjadi"
Novi pun mengerti, Irna sebagai adik bungsu Kakaknya mengusap-usap pundak Novi sambil tersenyum hangat.
Kemudian Arif menelpon kedua orangtuanya untuk memberitahukan kabar duka ini.
"Meninggal, innalilahi Ami turut berdukacita Arif, tapi Kami bisa kesana pagi nanti tidak apa kan?"
"Gak apa-apa kok Ami, yang penting Ami dan Abi kesini, datang berbelasungkawa dan memberi semangat pada Irna, lagi pula ada kabar bahagia di balik kabar duka ini"
"Kabar apa itu Arif?"
Tanya Ami Annisa merasa penasaran dengan kabar bahagia itu.
Kini semua orang telah berada di tempat pemakaman umum, waktunya memulangkan Bu Nasya pada sang pemilik bumi, Arif sebagai menantu ikut membantu membopong jenazah Ibu mertuanya masuk ke dalam liang lahat.
Arif juga membukakan ikat tali kafan itu, Ia pun bersedih, dan Ia berjanji tidak akan membuat Irna bersedih, kalaupun pernikahan keduanya terjadi, Dia akan tetap selalu mencintai Putri Bu Nasya, begitulah kiranya janji Arif dalam hatinya.
Begitu banyak suara isak tangis terdengar, selesai sudah akhir hidup Bu Nasya, kini Ia telah di kebumikan dengan baik dan tenang. Setelah itu Mereka kembali pulang ke rumah dan Mai duduk merenung di atas ranjang Ibunya memandangi semua barang milik Ibunya.
"Bu.. Baru saja Mai kesini, tapi Ibu sudah pergi meninggalkan Kami, padahal Mai saat ini hanya butuh Ibu disini menghibur luka hati Mai"
Asri yang melihat Kakaknya diam termenung Ia pun menghampiri dan berkata,
"Gak terasa ya Kak, Ibu baru saja pergi tapi rasa rindu sudah mulai terasa"
Mai menghapus air matanya, Lalu Ia memeluk sang Adik dengah erat.
"Kak... Ada apa?"
Isak tangis Kak Mai, mengusik hati Asri.
"Adik-adik mana?"
"Kami disini Kak"
Ucap Irna dan Novi kini mendatangi kedua Kakaknya.
"Kalian sini"
Ajak Mai kepada Mereka untuk mendekat padanya.
"Cuma Kalian yang Kakak punya sekarang, Kakak minta Kalian jangan pernah menyembunyikan apapun, Kita bersaudara harus saling bantu, masalah hidup apapun yang sedang Kalian alami"
Novi lah yang pertama Kali menangis tersedu-sedu mendengar nasihat sang Kakak, dan Mai baru ingat jika tadi Novi belum menjelaskan masalah apa yang sedang Ia hadapi hingga Ia mengatakan kata cerai dalam pernikahannya.
"Novi, Kamu kenapa Dek?"
Novi pun melepaskan jaket yang sering Ia gunakan, dan betapa terkejutnya saudari-saudarinya saat melihat banyak luka lebam di pundak, di leher, dan punggung belakang.
"Kamu kenapa Dek? astagfirullah"
"Ini Kak yang mau Aku ceritakan, Aku sudah gak kuat Kak, Erwin kini memperlakukan Aku bukan lagi seperti istrinya, Aku sering kena marah, dan Dia tak segan memukul Aku Kak, bahkan Ia sering menarik rambut Ku, dan mendorong Ku dengan kuat"
Mereka semua terkejut mendengar cerita Novi, hingga Asri pun tak menyangka bahwa Erwin lebih kejam dari pada suaminya.
"Sampai segitunya Novi, jadi Erwin melakukan KDRT terhadap Kamu?"
"Iya Kak"
Jawab Novi dengan raut wajah bersedih sambil menangis tersedu-sedu.
"Aku sudah merasa curiga sewaktu Aku melihat luka di bibir Kamu, itu pasti tamparan bukan?"
Novi menganggukkan kepalanya dan Ia kini menangis terenyuh membuat semua saudarinya berempati.
Mai pun sebagai Kakak tertua kini merasa marah, karena Adik yang sudah di rawat dengan baik oleh Ibunya malah di hancurkan fisik dan mentalnya oleh laki-laki yang kejam.
"Kakak tidak bisa terima semua ini, Erwin tidak pantas untuk Kamu"
Arif yang mendengar dari balik pintu pun kini terkejut jika perlakuan Erwin kepada Kakak iparnya sekejam itu.
"Coba katakan dengan Kakak, bagaimana perlakuan suami Kalian apakah sama dengan Erwin yang melakukan kekerasan dalam rumah tangga"
Semua saling melirik, lalu Asri mengucapkan kata.
"Fery tidak kasar Dia tidak kejam, tapi.... Dia sangat perhitungan dengan masalah uang, hingga untuk biaya ibu sakit kemarin saja, Aku sampai harus menjadi kuli cuci untuk mengganti uang itu"
"Astagfirullah.. Segitunya suami Kamu, Dia membiarkan Kamu bekerja dan tidak menafkahi Kamu betul-betul Asri"
Asri hanya tersenyum sedih Ia juga kini mengatakan, jika setiap harinya pekerjaan rumah dan mengurus anak Ia lakukan sendiri, tanpa suami ikut andil di dalamnya.
"Kaka benar-benar tidak menyangka, Kalian begitu menderita, maafkan Kakak ya Asri, Novi yang tidak bisa menjadi garda terdepan untuk Kalian"
Semua bersedih terenyuh mendengar kata-kata yang Mai ucapkan, lalu Mai bertanya pada Irna, apakah suaminya sifat dan perilakunya ada di antara salah satu suami Kakak-kakaknya.
Namun Irna menggelengkan kepalanya tanpa bicara.
"Baguslah kalau Arif tidak seperti Erwin dan Ferry"
Irna terdiam dalam hatinya berkata apakah dirinya harus menceritakan soal poligami ini, melihat kesedihan dan pengakuan para Kakak-kakaknya tentang kehidupan rumah tangganya, kini Irna memberanikan diri berkata yang sesungguhnya.
"Suami Ku tidak kejam, Suami Aku tidak perhitungan soal nafkah apapun itu, hanya saja Arif sangat patuh terhadap perintah kedua orangtuanya".
Mereka semua menjadi bertanya-tanya lalu di mana letak salahnya.
"Jadi dimana letak kesalahan Suami Kamu Dek?"
Tanya Asri yang begitu penasaran.
"Aku..."
Irna begitu gugup, begitupun Arif yang ikut tengang karena mendengarkan semua pembicaraan dari balik pintu.
"Bicara yang betul Irna jangan buat Kami penasaran"
Ungkap perasaan Asri juga Mai.
"Arif akan menikah lagi Kak"
Mereka semua kaget sejadi-jadinya dengan pernyataan Irna.
"Apa...?, menikah lagi, tapi untuk apa Dek?"
Tanya Mai yang kini mulai merasa marah.
"Itu semua perintah dan keinginan kedua Mertua Aku Kak, Mereka ingin mendapatkan keturunan dengan cepat, karena Aku hampir satu tahun ini belum juga di berikan hamil"
"Tapi Kamu saat ini sedang hamil, Kamu sudah hamil dek"
Irna pun bersedih hingga air matanya menetes jatuh.
"Rencana ini sudah di siapkan dua bulan yang Lalu, dan Aku di kabarkan hamil baru kemarin Kak, Aku juga berharap pernikahan kedua Suamiku, tidak pernah terjadi ketika Kedua Mertua Aku telah mendengar kabar bahagia ini"
Lalu Mai memegang pundak adiknya, dan berkata,
"Kamu tenang, Kakak akan bantu Kamu meminta pada kedua Mertua Kamu untuk mengurungkan niatnya menikahkan Arif lagi"
Lalu datanglah Arif yang ingin juga menjelaskan bahwa sebenarnya Dia pun tak menginginkan pernikahan itu.
"Maafkan Aku Kak Mai, Kak Asri, Kak Novi, Aku sudah mengecewakan Kalian semua, sungguh Aku sangat mencintai Irna, dan Aku tidak ada niat untuk menikah lagi"
Mai menatap tajam wajah Arif, lalu Ia berkata,
"Kalau Kamu tidak ada niat menikah lagi, mengapa Kamu tidak menolak keinginan kedua orangtua Kamu"
"Aku tidak bisa Kak, Aku sudah berjanji pada Ami dan Abi jika Aku akan patuh terhadap perintahnya, biarpun Aku telah menikah"
"Omong kosong apa ini, kalau kedua orangtua Kamu menyuruhmu dalam keburukan Kamu berhak menolak Arif, jangan Kamu pasrah begitu saja, Kamu harus punya sikap"
Kak Mai marah sejadi-jadinya, lalu Asri ikut bicara dengan mengatakan,
"Kamu siap menikah artinya Kamu juga punya janji pada Irna untuk selalu membahagiakannya benar kan?, Kakak sedih sekali mendengar hal ini, Kakak merasa bangga akan sifat Kamu yang mengenal Allah lebih dalam dari pada suami Kakak, tapi ternyata Kamu masih dalam ketiak kedua orangtua Kamu, sungguh Kakak salah dalam menilai Kamu"
Arif hanya terdiam saat semua Kakak Irna menasihati dan memarahinya, Ia merasa pantas mendapat semua ini, karena telah melukai hati adiknya.
"Sungguh Kakak tidak terima Arif, dari pada Kamu menduakan adik Kakak, lebih baik Kalian bercerai saja"
Semua merasa tercengang akan mendengar pertanyaan Kak Mai berbicara tentang perceraian.
"Apa Kak, bercerai.. Tapi Kak Aku tidak ingin berpisah dari Irna"
"Kalau begitu ambilah sikap, dan tolak permintaan kedua orangtua Kamu"
Irna kini bingung mengapa Kakak nya malah menginginkan perceraian dalam rumah tangganya, Irna pun menyahuti berkata,
"Kak tapi perceraian bukan solusinya, Aku tidak ingin bercerai Kak, perceraian sangat di benci Allah, Aku tidak ingin seperti itu"
"Lalu Kamu siap di madu?, Irna jangan munafik, sesungguhnya di hati Kamu yang terdalam Kamu tidak ingin kan di madu oleh suami Mu"
Irna terdiam tak menjawab, karena itu semua memang benar adanya.
Erwin, hrsnya terus terang dg Novi ttg Citra. dan janji gk akan mengulang. Agar video itu tdk dijadikan Citra sbg alat utk mengancam