"Zahra hanya ingin menikah jika dengan kak Rafif, Abi" ucap Zahra yang membuat semua orang di ruangan itu terkejut mendengarnya
Zahra adalah anak tunggal dari pasangan Abi Ahmad dan Umi Khadijah. Kedua orangtuanya sepakat untuk menjodohkan putri satu-satunya itu dengan anak sulung sahabatnya. Tapi siapa sangka, pada akhirnya Zahra menikah dengan Rafif anak kedua dari sahabat Abinya.
Mereka menikah setelah seminggu menjalani proses ta'aruf yang batal di lakukan oleh Zahra dan anak sulung dari sahabat Abinya. Zahra memilih jalan itu untuk membantu Daffa, orang yang seharusnya di nikahkan dengannya karena Daffa saat itu juga memiliki masalah lain yang tidak memungkinkan dirinya untuk menikah dengan Zahra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memulai Semua Dari Awal
Ponsel Rafif berbunyi dengan nyaring, membuatnya terbangun ditengah malam begitupun dengan Zahra yang merasa bising dengan dering ponsel Rafif. Ia segera meraih ponselnya yang terletak di atas nakas samping tempat tidurnya
"Maaf aku lupa mengubah mode silent di ponselku sebelum tidur, dering ponselku pasti mengganggu istirahatmu" ucapnya saat melihat Zahra yang tidur disampingnya ikut bangun, ia merasa tidak tega pada istrinya yang terlihat sangat lelah
"Tidak apa-apa kak" jawabnya tersenyum kecil dengan wajah yang terlihat sangat mengantuk, ponsel Rafif kembali berdering membuat Rafif segera bergeming melihat siapa yang menelponnya tengah malam seperti ini. "Telpon dari siapa kak?" tanya Zahra penasaran
"Kak Daffa" jawabnya setelah mengetahui siapa yang menelponnya di jam ini, "Aku terima telponnya sebentar" ucap Rafif yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Zahra. Ia lalu beranjak turun dari tempat tidur dan duduk di sofa yang ada dikamarnya
"Halo, kak Daffa" sapa Rafif dengan suara yang berat khas orang yang baru bangun tidur
"Maaf mengganggumu tengah malam seperti ini Rafif, aku dan Zeline ada di depan rumahmu sekarang"
"Didepan rumah? Kenapa tidak langsung masuk saja kak? Sekarang masuklah, aku akan turun ke bawah"
"Baiklah" setelah mematikan telponnya, Daffa segera menyetirkan mobilnya untuk masuk ke halaman rumah adiknya itu, tentu saja setelah melapor kepada satpam bahwa ia adalah kakak Rafif dan juga sudah berbicara dengannya tadi
Sementara itu, Rafif juga bersiap turun ke bawah menyambut kakaknya setelah membasuh wajahnya di kamar mandi
"Telpon dari siapa kak?" tanya Zahra penasaran
"Dari kak Daffa, katanya dia ada dibawah bersama Zeline" jawabnya "Aku turun ke bawah sebentar yah"
"Aku ikut kak" ucap Zahra merasa penasaran dengan kedatangan kakak iparnya itu
"Ya sudah, ayo" ajak Rafif tidak keberatan dengan permintaan Zahra
"Turunlah duluan, aku ingin membasuh wajahku dulu"
"Baiklah, jangan lupa kenakan hijabmu" perintah Rafif mengingatkan istrinya itu yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Zahra
Rafif segera turun terlebih dahulu membukakan pintu untuk Daffa dan juga Zeline. Ia lalu mempersilahkan mereka berdua masuk ke dalam rumahnya
"Ada apa kakak kemari semalam ini?" tanya Rafif langsung pada intinya karena lelaki itu memang type orang yang tidak suka berbasa basi
"Aku ingin pamit padamu dan juga Zahra, Rafif. Aku dan Zeline akan meninggalkan negara ini, kami ingin memulai semuanya dari awal dan membangun keluarga kami sendiri" jawab Daffa yang membuat Rafif terkejut
"Maksud kak Daffa apa?" tanya Rafif khawatir jika yang ada dipikirannya saat ini benar
"Kak Daffa, kak Zeline kalian datang?" sapa Zahra yang baru saja turun dan menghampiri mereka. Daffa dan Zeline melemparkan senyum ke arah Zahra seraya menganggukkan kepalanya. "Sebentar Zahra buatkan minum untuk kalian" Zahra berlalu ke dapur membuatkan minuman untuk kakak iparnya itu dan juga kekasih kakak iparnya tersebut
"Silahkan diminum kak" Zahra meletakkan dua cangkir teh hangat dihadapan Daffa dan juga Zeline, lalu ia sendiri duduk di samping Rafif
"Terima kasih Zahra" ucap Zeline sembari tersenyum hangat melihat gadis yang sudah dianggap adiknya sendiri
"Kak, tolong jelaskan maksud kakak tadi. Kakak ingin pergi kemana? Lalu bagaimana dengan pekerjaan kakak di perusahaan Papa?" tanya Rafif mendesak Daffa
"Kak Daffa ingin pergi?" Zahra pun turut kebingungan dengan pembicaraan mereka ini
"Rafif, kakak minta maaf padamu karena selama ini kakak menyimpan begitu banyak rasa iri terhadapmu. Benar yang dikatakan Mama, kakak ini tidak berguna, selalu mengecewakan orangtua kita" ucap Daffa membuat Rafif merasa tidak enak hati pada kakaknya itu
"Kenapa kak Daffa berpikiran seperti itu, aku menghormati dan juga menyanyangimu kak"
"Maafkan kakak Rafif, tapi kakak harus pergi. Kakak harus bertanggung jawab atas Zeline. Kakak ingin berjuang membangun keluarga kakak sendiri dan berusaha mendapatkan restu dari Mama"
"Kenapa harus seperti ini kak?"
"Kakak minta maaf padamu, hari ini kakak kesini untuk berpamitan padamu dan juga Zahra. Malam ini juga kakak dan Zeline akan melakukan perjalanan untuk memulai semuanya dari awal. Tapi sebelum ke bandara, kakak ingin melihat kalian berdua terlebih dahulu"
"Kak Daffa, lalu bagaimana dengan Mama kak?" tanya Zahra yang terlihat sedih melihat kesulitan dari kakak iparnya itu
"Aku titip Mama dan Papa pada kalian berdua yah, aku bukan anak yang baik untuk mereka, aku harap dengan kepergianku ini aku bisa belajar untuk menjadi orang yang lebih baik lagi"
"Kak, tolong jangan seperti ini" Rafif masih berusaha untuk menahan Daffa, berharap kakaknya itu bisa merubah keputusannya
"Maafkan kakak Daffa, tapi kakak harus pergi" rasanya percuma saja, Rafif melihat tatapan mata kakaknya yang terlihat begitu serius. Ia yakin Daffa sudah memikirkan ini dengan sangat matang hingga akhirnya memilih jalannya ini. Rafif juga tidak bisa menghalangi kakaknya karena ia tau Daffa saat ini memang sedang dihadapkan pada masalah yang serius
"Berhati-hatilah kak, jangan sampai kakak memutuskan komunikasi denganku. Aku tidak akan pernah memaafkan kakak jika kakak sampai melakukan hal itu" Pada akhirnya Rafif membiarkan kakaknya itu pergi tetapi dengan syarat ia harus tetap berkomunikasi dengannya. Setidaknya ia bisa tau kabar kakaknya itu di tempat barunya nanti
"Iya, kakak janji padamu"
"Zahra, jaga adikku yah. Dia lelaki baik dan bertanggung jawab" pinta Daffa pada Zahra yang menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca
"Iya kak, semoga kak Daffa dan kak Zeline selalu dalam lindungan Allah"
"Terima kasih Zahra" ucap Daffa dengan tulus
"Aku pergi dulu, jaga diri kalian" Daffa segera berdiri diikuti dengan Zeline, begitu juga dengan Rafif dan Zahra
"Zahra, terima kasih karena melepaskan Daffa dan membantu kami agar tetap bisa bersama" ucap Zeline yang sedari tadi hanya terdiam mendengarkan percakapan mereka
"Jaga diri kak Zeline dan bayi kakak dengan baik. Aku akan sangat merindukan kalian"
Pada akhirnya Daffa dan Zeline pergi meninggalkan rumah Rafif dan Zahra yang masih setia menatap mobil yang dikendarai oleh Daffa dan Zeline dengan perasaan khawatir dan sedih.