Bilqis aulia aulfa gadis yang berusia 17 tahun ia mengalami hal yang
tidak di inginkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elva erviana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harus kembali ke pasantren
?Gus Yusuf hanya tersenyum saat istri keduanya ngomel kepada dirinya.
"Abang, Rara kok jalannya aneh kaya gini bagaimana mau berangkat sekolah. Kalau jalannya juga susah." Ucap Rara dengan begitu polos.
"Ya udah jangan dulu sekolah, kan itunya masih sakit." Jawab Gus Yusuf.
"Ini, gara-gara abang. Rara kan gak bisa jalan" ucap Rara cemberut.
Gus Yusuf melotot ketika mendengarkan ucapan polos istri keduanya itu.
"Stttt.. jangan keras-keras nanti ada yang dengar kan kamu sayang masih pelajar." Jawab Gus Yusuf mencium lembut sang istri.
"Ih, udah abang Rara kehabisan nafas." Ucap Rara memukul dada bidang Gus Yusuf.
Gus Yusuf tersenyum sambil mencium kening Rara. Dia mengerti betapa polos dan lucunya istri keduanya itu.
"Maafkan Abang, Rara. Abang hanya ingin membuatmu tersenyum. Ayo, istirahat dulu dan biarkan Abang membantu kamu. Jangan khawatir, kita akan menyelesaikan permasalahan jalananmu bersama-sama," ucap Gus Yusuf dengan penuh kelembutan.
Rara masih cemberut, tetapi perlahan menjadi tenang saat merasakan kelembutan dari Gus Yusuf. Dia menggenggam tangan suaminya dengan penuh kasih sayang.
"Terima kasih, Abang. Aku tahu kamu selalu berusaha untuk membuatku bahagia. Aku bersyukur memiliki suami seperti kamu," ucap Rara dengan senyuman di wajahnya.
Gus Yusuf merasa bahagia mendengar kata-kata Rara. Dia merangkul Rara erat-erat dan memberikan ciuman lembut di pipinya.
"Kita akan melewati setiap masalah bersama-sama, sayang. Ayo, beristirahat sejenak dan nanti kita akan mencari solusi untuk masalah jalananmu. Abang akan selalu mendukungmu," ucap Gus Yusuf dengan penuh tekad.
Rara merasa terlindungi dan dicintai oleh Gus Yusuf. Dia merasa yakin bahwa bersama-sama mereka bisa mengatasi setiap rintangan dalam pernikahan mereka.
Dalam kebersamaan dan dukungan, Rara dan Gus Yusuf bersiap untuk menghadapi tantangan dan menjaga kebahagiaan dalam pernikahan mereka. Mereka berdua siap memberikan yang terbaik satu sama lain, melengkapi kekurangan mereka dan tumbuh bersama sebagai pasangan yang kuat dan penuh cinta.
Sedangkan Gus Yusuf hanya tersenyum melihat wajah cantik sang istri berubah menjadi merah merona karena ulahnya.
"Ih Abang kenapa kaki rara, pada merah semua sih?" Tanya Rara pada suaminya.
"Biar gak pakai baju sexy terus. Abang tidak suka kamu memperlihatkan tubuh indah kamu ke pada orang lain." Ucap Gus Yusuf menatap serius sang istri.
Gus Yusuf melihat wajah kaget dan merah merona Rara saat mendengar perkataannya. Dia menyadari bahwa ucapan yang dilontarkan terdengar sedikit tidak tepat.
"Maaf, sayang. Aku tidak bermaksud untuk menyindir atau membuatmu merasa tidak nyaman dengan komentar tadi. Aku hanya khawatir tentang privasimu dan ingin melindungimu," ucap Gus Yusuf dengan suara lembut, mencoba menjelaskan niat baiknya.
Rara masih terkejut oleh reaksi Gus Yusuf, tetapi dia mengerti bahwa tujuan Gus Yusuf adalah untuk menjaga privasinya. Dia mengangguk dan menatap suaminya dengan penuh pengertian.
"Terima kasih, Abang. Aku menghargai perhatianmu dan usahamu untuk melindungiku. Aku mengerti bahwa kamu hanya ingin yang terbaik untukku," kata Rara dengan senyuman lembut.
Gus Yusuf tersenyum lega melihat reaksi positif dari Rara. Dia merangkul Rara dengan penuh kasih sayang.
"Kita saling melengkapi, sayang. Kita akan terus belajar dan tumbuh bersama dalam pernikahan kita. Aku berjanji akan selalu menjaga privasimu dan menunjukkan rasa hormatku padamu," ucap Gus Yusuf dengan tekad yang bulat.
Bersama-sama, Rara dan Gus Yusuf siap mengatasi setiap perbedaan dan tantangan dalam hubungan mereka. Mereka saling mendukung dan mencintai, berusaha untuk selalu memperhatikan kebutuhan dan kenyamanan satu sama lain. Dalam perjalanan yang terus berlanjut, mereka bertekad untuk membentuk hubungan yang kuat, bahagia, dan penuh rasa hormat satu sama lain.
Rara yang di tatap seperti itu langsung menundukan kepalanya. Rara sangat takut ketika memandang wajah tampan Gus Yusuf, berubah menjadi dingin begitu saja.
"Abang" panggil lirih Rara menundukan kepalanya.
"Ya"
"Abang Rara, mau pakai baju kaya mbak Husna" ucap Rara.
Rara memilih pergi ke arah lemari mengambil baju yang sudah tersedia di dalamnya. Rara lalu berlalu dari hadapan Gus Yusuf ia pergi ke kamar mandi, segera mungkin memakai pakaian yang ia bawa.
Gus Yusuf langsung merasa kaget dan bersalah mendengar perkataan Rara. Dia menyadari bahwa kejadian tersebut telah membuat Rara merasa takut dan tidak nyaman di dekatnya.
"Maafkan aku, sayang. Aku tidak bermaksud membuatmu takut atau merasa tidak aman. Aku akan menghormati permintaanmu," ucap Gus Yusuf dengan suara lembut, penuh dengan penyesalan.
Rara pergi ke kamar mandi dengan perasaan campur aduk. Dia ingin menjauh sejenak untuk menenangkan diri dan merasa lebih nyaman dengan mengenakan pakaian yang ia pilih sendiri.
Setelah beberapa saat, Gus Yusuf memberanikan diri untuk menghampiri Rara yang sedang keluar dari kamar mandi. Dia melihat wajah Rara yang masih menunduk, mencerminkan perasaan takut dan ketegangan.
"Maafkan aku, sayang. Aku benar-benar tidak bermaksud membuatmu merasa tidak nyaman," ucap Gus Yusuf dengan suara yang tulus.
Rara mengangkat wajahnya dan menatap Gus Yusuf. Dia melihat kecemasan dan penyesalan di wajahnya. Rara mencoba menghibur suaminya dengan senyuman lembut.
"Abang, tidak perlu terus meminta maaf. Aku tahu bahwa Abang hanya ingin melindungiku. Aku mencintaimu, Gus Yusuf," kata Rara dengan suara lembut, mencoba memberikan kelegaan pada suaminya.
Gus Yusuf merasa sedikit lega mendengar kata-kata Rara. Dia menjawab dengan senyuman dan melangkah mendekati Rara dengan penuh kelembutan.
"Aku juga mencintaimu, Rara. Aku berjanji akan tetap menjaga dan menghormati batas-batasmu. Kita akan menjalani pernikahan ini dengan saling mencintai dan saling melindungi," ucap Gus Yusuf dengan penuh tekad dan kebaikan.
Dalam kebersamaan dan pengertian, Rara dan Gus Yusuf siap untuk memperbaiki hubungan mereka dan membangun kepercayaan yang lebih solid. Mereka berdua saling mendukung untuk melewati setiap rintangan dan menjalani kehidupan pernikahan yang bahagia dan penuh cinta.
'ya Allah Rara ingin pulang ke rumah kakek dan juga nenek, Rara gak mau tinggal di rumah ini, Rara serba salah di sini. Rara mau pulang.' ucap batin Rara menatap langit kamar mandi.
Rara mengambil ponselnya. Langsung menelepon sang nenek. Ia hendak berbicara tapi sayang itu semua gagal. Ke datangan seseorang membuat Rara melangkahkan kakinya.
'ya Allah Tantenya Abang mau apa lagi ke sini. Rara sangat takut ya allah.' ucap dalam hati.
Rara memilih bersembunyi ia sangat takut kalau tantenya Gus Yusuf, menyakiti hatinya lagi.
"Tante" ucap gus Yusuf.
"Iya, lagi ngapain kamu Yusuf di sini sendiri? Dimana istri batumu gak keliatan.!! Apa dia pergi tidak peduli lagi denganmu?"
"Jaga ucapan Tante istriku lagi mandi maka dia gak keliatan di kamar!! Buka dia kabur atau pergi dari ke hidupan ku" Gus Yusuf menatap dingin Tantenya.
"Kenapa Tante harus jaga bicara Tante? Kenapa kamu Yusuf tidak suka??" Tanya Tante Maria.
"Iya, Tante, Yusuf gak suka apa yang Tante ucapkan tadi!! Itu otomatis Tante menghinaku. Asal Tante tau Yusuf tidak terima apa yang tante ucapkan barusan." Jawab Gus Yusuf tersenyum kecut.
"Yusuf harap Tante gak usah ikut campur dalam, rumah tangga Yusuf lagi!! Yusuf tau Tante sangat sayang ke Ning Husna, tapi Tante jangan sakiti istri kedua Yusuf lagi." Sambung Gus Yusuf.
"Abang, Rara mohon jangan tidak sopan ke Tante yah. Rara gak papa kok, Rara gak mau buat keluarga ini hancur! Atau Abang menjadi orang yang tidak sopan kepada orang tua." Ucap Rara melangkah ke arah Gus Yusuf dan Tante Maria.
"Sayang tapi Tan" ucap Gus Yusuf terputus lagi oleh sang istri.
"Rara, gak suka lihat abang kaya gini. Abang itu pria baik jangan suka membangkang ucapan orang yang udah dewasa dari kita. Rara yang akan selalu di salahkan di sini kalau Abang kaya gini" jawab Rara menangis di depan wajah Gus Yusuf.
"Ayang apa yang kamu katakan sih, Abang kaya gini! Karena ingin melindungi istri Abang emang salah hmm? Gak kan, sayang kamu sekarang istriku, kamu juga berhak mendapatkan kasih sayang dari Abang. Sama seperti Husna." Ucap Gus Yusuf menyakinkan istri keduanya.
Gus Yusuf menyadari bahwa ketegangan antara Rara dan Tante Maria mulai memanas. Dia merasa sedih dan bersalah melihat Rara menangis di depannya.
"Maafkan aku, sayang. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih atau mengecewakanmu. Aku akan melakukan yang terbaik untuk mendamaikan situasi ini dan melindungimu," ucap Gus Yusuf dengan suara lembut, mencoba menenangkan Rara.
Rara mencoba menghentikan tangisannya dan menatap Gus Yusuf. Dia tahu bahwa Gus Yusuf mencintainya dan ingin melindunginya. Dia mencoba memahami situasi dan mengikuti arah yang Gus Yusuf tunjukkan.
"Gus, aku tahu bahwa kamu mencoba melindungiku dan menjaga harmoni dalam keluarga kita. Aku akan mencoba menjaga komunikasi yang baik dengan Tante Maria. Mari kita berusaha bersama sebagai pasangan suami istri yang saling mendukung dan saling mencintai," kata Rara dengan suara lembut.
Gus Yusuf tersenyum lega mendengar kata-kata Rara. Dia memeluk Rara erat dan mencium keningnya dengan penuh kasih sayang.
"Terima kasih, sayang. Aku berjanji akan terus melindungimu dan berjuang untuk kehidupan pernikahan yang bahagia. Kita akan saling mendukung dan berkomitmen untuk menjaga keharmonisan keluarga kita," ucap Gus Yusuf dengan tekad yang bulat.
Rara merasakan kehangatan dan kelembutan dalam pelukan Gus Yusuf. Dia merasa lega dan percaya bahwa mereka akan menghadapi segala rintangan bersama-sama.
Dalam kebersamaan dan cinta, Rara dan Gus Yusuf siap untuk memperbaiki hubungan dengan Tante Maria dan menjalani kehidupan pernikahan yang penuh dengan kedamaian dan kebahagiaan. Mereka memberikan yang terbaik satu sama lain dan bertekad untuk selalu saling mendukung dengan penuh kasih sayang.
Rara tetap saja menggelengkan kepalanya, ia tidak mau jadi penghalang kebahagiaan orang lain. Ia akan tetap meninggalkan Gus Yusuf . Ia berniat untuk pergi dari sini udah gak sanggup lagi di salahkan dalam berbagai masalah.
"Abang, jaga diri baik-baik yah. Maafin Rara harus pergi sekarang juga" jawab Rara pergi meninggalkan Gus Yusuf, Tantea Maria di kamar
Gus Yusuf terkejut dan bingung melihat Rara meyakinkan keputusannya untuk pergi. Dia merasa sedih dan kecewa, tetapi dia juga mengerti bahwa Rara memiliki alasan dan pertimbangan sendiri.
"Sayang, tunggu sebentar. Mari kita bicarakan ini dengan tenang. Aku tidak ingin kamu pergi begitu saja," ucap Gus Yusuf mencoba memanggil Rara yang sudah berjalan meninggalkannya.
Rara berhenti sejenak, tetapi tetap berdiri tegar. Ia menatap Gus Yusuf dengan mata penuh keputusan.
"Gus, aku harus pergi. Aku sudah mencoba untuk menjaga kebahagiaan kita, tapi kami terus mengalami masalah yang sulit diatasi. Aku tidak ingin menjadi penghalang kebahagiaanmu atau membiarkan diriku terus disalahkan. Aku perlu mencari kebahagiaan dan kedamaian diri sendiri," ucap Rara dengan suara tetap tegar.
Gus Yusuf merasa hancur dengan keputusan Rara. Namun, dia menghormati keputusannya dan tidak ingin memaksanya untuk tinggal jika itu bukan kehendaknya.
"Sayang, jika ini adalah pilihanmu yang terbaik, maka aku akan menghormatinya. Tapi, ingatlah bahwa aku masih mencintaimu dan akan selalu membuka pintu untukmu kembali jika kamu memutuskan untuk kembali," ucap Gus Yusuf dengan suara penuh pengertian.
Rara mengangguk dengan penuh kesedihan dan ketegasan. Dia memberikan senyuman namun air mata masih terjatuh dari matanya.
"Terima kasih, Gus. Aku juga masih mencintaimu, tapi aku perlu menemukan jalan hidupku sendiri. Semoga kita berdua bisa menemukan kebahagiaan masing-masing," ucap Rara sambil melangkah pergi meninggalkan Gus Yusuf.
Gus Yusuf merasakan rasa kehilangan yang mendalam. Dia hanya bisa melihat Rara pergi dengan hati yang hancur, berharap dia akan menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang dicari.
Dalam kesedihan dan kehilangan, Gus Yusuf berjanji akan menjaga cintanya untuk Rara dan menghormati keputusan yang diambilnya. Meskipun mereka berpisah, dia berharap yang terbaik untuk Rara dan berharap akan ada kemungkinan pertemuan mereka di masa depan.
Dari luar kamar, Husna mendengarkan pertengkaran hebat antara Gus Yusuf dan Tante maria. Sedangkan di ruangan tengah ummi dan Abi juga mengatakan pertengkaran ke duannya.
"Ummi, ada apa dengan Yusuf? Dia gak akan marah seperti ini kalau tidak ada yang memancing ke marahannya."
"Ummi, juga tidak tau Abi, mari kita lihat"
"Ayo, kita lihat"
Ummi, dan juga Abi berjalan ke arah kamar utama Yusuf, tapi sayang gak ada. Ummi dan Abi berjalan ke arah kamar pribadi Yusuf. Di sana sudah ada Gus Yusuf dan Tante Maria.
Ummi dan juga Abi segera masuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Assalamualaikum, nak, Maria" ucap keduanya.
"Walaikumsallam" jawab keduannya.
"Yusuf ada apa?" Tanya sang Abi Anton.
"Yusuf kecewa sama Tante Maria Abi" jawab Gus Yusuf.
"Kecewa kenapa nak ? Katakan yang jelas" ucap ummi Anita menatap sang putra.
"Yusuf sangat kecewa kepada Tante Maria, kenapa Tante gak bisa menerima Rara sebagai istri kedua Yusuf ummi, Abi. Kenapa Tante selalu menyalahkan Rara? Dalam banyak hal dia tidak tau apa-apa. " Jawab Gus Yusuf melangkah pergi meninggalkan ke dua orang tuanya bersama Tante Maria.
Ummi Anita dan Abi Anton saling pandang, terkejut mendengar penjelasan Gus Yusuf. Mereka melihat ekspresi kecewa dan frustrasi di wajah putra mereka.
"Yusuf, apa yang terjadi sebenarnya? Ada masalah apa antara Rara, Tante Maria, dan kamu?" tanya Ummi Anita dengan suara penuh kekhawatiran.
Gus Yusuf menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan ibunya.
"Ummi, Rara dan Tante Maria terlibat dalam beberapa pertengkaran yang mempengaruhi harmoni keluarga kami. Tante Maria seringkali menyalahkan Rara tanpa sebab yang jelas, membuatnya merasa tidak nyaman dan disalahkan dalam banyak hal. Ini telah menyebabkan kecemburuan dan ketegangan antara Rara dan Tante Maria," jelas Gus Yusuf dengan suara yang sedikit gemetar.
Abi Anton dan Ummi Anita saling memandang, mencoba memproses informasi yang diberikan oleh Gus Yusuf. Mereka tahu betapa pentingnya menjaga harmoni keluarga dan mencari solusi dari masalah ini.
"Yusuf, kita harus mencari jalan untuk mengatasi masalah ini dengan bijaksana dan dengan hati yang lapang. Komunikasi yang jelas dan saling mendengarkan adalah kunci untuk meredakan ketegangan ini," kata Abi Anton dengan penuh kebijaksanaan.
Ummi Anita menambahkan, "Kami akan mendampingimu, Yusuf. Kita akan mencari solusi yang terbaik untuk keluarga kita. Jangan biarkan perbedaan dan pertengkaran merusak hubungan yang telah kita bangun selama ini."
Gus Yusuf mengangguk dan merasa lega mendapat dukungan dari orang tuanya. Dia berharap bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik dan mengembalikan harmoni dalam keluarganya.
Dengan tekad yang bulat, Ummi Anita, Abi Anton, dan Gus Yusuf siap untuk menyelesaikan masalah yang ada dan mencari solusi yang terbaik untuk memperbaiki hubungan antara Rara dan Tante Maria. Dalam kebersamaan dan kerja sama, mereka bertekad untuk merestorasi ketentraman dan kebahagiaan dalam keluarga mereka.
*
*
*
Di tempat yang sama Bilqis bersama Gus all udah siap untuk kembali lagi ke pasantren. Ikut serta menyambut ke pulangan sang kakak.
"Gus, harus sekarang ya kita ke san" tanya Bilqis memandang lurus ke depan.
"Iya sayang, kita harus segera kembali agar bisa ikut dalam penyambutan ke pulangan kakak"ucap Gus all menatap wajah cantik sang istri tanpa menggunankan cadarnya.
Gus All mengangguk mengerti dan melihat keberanian serta semangat Bilqis. Dia merasa bangga memiliki istri seperti Bilqis yang selalu siap mendukung dan ikut serta dalam acara keluarga.
"Ya, kita harus segera berangkat, sayang. Aku juga tidak sabar untuk menyambut kedatangan kakak kita. Mari kita berangkat sekarang," ucap Gus All dengan semangat, menggenggam tangan Bilqis dengan penuh kelembutan.
Bilqis tersenyum dan merasa bahagia melihat Gus All begitu mendukungnya. Mereka berdua berjalan keluar rumah dengan penuh semangat dan semakin dekat dengan tujuan mereka.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju pasantren dengan hati yang penuh kebahagiaan dan harapan. Mereka siap untuk bergabung dengan keluarga lainnya dalam menyambut pulang sang kakak dan menciptakan momen yang spesial dan penuh kehangatan dalam keluarga mereka.
"Iqis, sedih harus berpisah lagi dengan kak Nova Gus. Tapi iqis gak bisa membantah ucapan suami iqis" jawab Bilqis memandang wajah tampan suaminya.
"Sayang maafin saya, harus memaksa kamu ikut dalam penyambutan kakak saya! Kalau kamu sayang mau di sini gak papa kok disini dulu" ucap lirih Gus all.
"Mana mungkin iqis, di sini sedangkan Gus pulang ke pasantren seorang diri!! Ummi pasti akan menanyakan kalau iqis gak ikut pulang. " Jawab lembut Bilqis.
"Gak, usah maksain untuk ikut pulang sayang, kamu di sini saja. Nanti kalau udah selesai saya akan jemput kamu di sini" ucap Gus all
"Gus, izinkan iqis ikut bersama Gus pulang, iqis takut berada di sini tanpa Gus all. Tolong bawa iqis pergi Gus" pinta Bilqis langsung menangis di dalam dekapan Gus all.
"Sayang saya mohon jangan menangis lagi yah" ucap Gus all mengusap air mata Bilqis.
"Iqis, gak mau Gus All pulang sendirian iqis mau ikut" jawab Bilqis.
"Iqis juga ingin taat pada suami iqis sendiri"
Gus All melihat keputusan yang teguh dan keinginan yang tulus dari Bilqis. Dia mengerti betapa besar cinta dan kepedulian Bilqis padanya. Gus All mengusap lembut pipi Bilqis yang masih basah oleh air mata.
"Sayangku, aku mengerti keinginanmu. Aku tidak bisa membantah keteguhan hatimu untuk ikut bersamaku pulang. Aku akan merasa aman dan bahagia memilikimu di sampingku," ucap Gus All dengan suara lembut.
Bilqis tersenyum di tengah air mata yang masih mengalir di pipinya. Dia merasa lega dan dicintai karena Gus All menghargai keputusannya. Mereka saling berpegangan tangan, siap menghadapi apa pun yang ada di depan mereka.
"Dengan kepatuhan dan rasa cinta kita pada Allah dan satu sama lain, mari kita pergi bersama dan menghadapi masa depan dengan saling mendukung dan mencintai," ucap Bilqis dengan keyakinan.
Gus All mengangguk dengan penuh pengertian. Mereka berdua pergi bersama, bersiap untuk bertemu dengan keluarga dan menghadapi apa pun yang ada di depan mereka. Dalam perjalanan mereka, mereka akan saling menguatkan dan saling mencintai, membawa kebahagiaan yang baru dalam kehidupan mereka yang dipenuhi dengan cinta dan taat pada Allah.