Uranus dan sang Hakim saja tidak serta Merta di katakan takdir abadi. Tapi mereka tetap berharap di kala melihat bintang jatuh. Demikian pula aku berjuang tanpa lelah mencintaimu.
-Bisik Naga Api mitologi -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSY AL FAZZA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyali Besar
Rumi belum sanggup meminta permohonan kebebasan menimbang keadaan negeri yang sedang berduka. Banyu pasti sangat merasa terpukul atas kepergian orang tuanya. Di dalam peristirahatan dedaunan, Rumi duduk berdiam diri dengan di penuhi pikirannya yang kacau. Gen yang semula menunggu agar bisa ikut pergi terhalang sang naga api yang menggelengkan kepala.
“Jangan halangi aku Naga api. Aku mau bicara sama Rumi..”
“Gen. meminta ijin keluar dari negeri ini di saat Banyu berkabung adalah sikap yang kejam. Kita tunggu saja sampai dia mulai berasa baikan..”
“Rumi, bukannya aku tidak mempercayai Banyu. Tapi, dia tetap anak Lincau__”
“Gen, aku tau. Bahkan stelah kepergian ketua, Banyu yang mengambil alih posisi itu dan pasti memberontak mengubah pendapat menahan ku agar tidak pergi. Tapi, bukan kah dia telah berjanji pada ku?”
(Hening)
Rumi menuju ke Altar kebesaran, di luar terpasang segel dan kekuatan spiritual kuat. Rumi memanggil banyu, memintanya agar segera keluar dan menguatkan dirinya. Hal itu telah dia lakukan kedua kali, sewaktu Banyu kehilangan ibunya di samping itu pula Rumi menghiburnya.
“Banyu, aku tau kau adalah pria yang kuat. Sekarang kau adalah penguasa pemimpin negeri. Aku akan selalu menjadi adik mu. Aku akan membantu mu..”
Suara Rumi terdengar dari luar, Banyu duduk menatap pintu. Dia tau sedari tadi Rumi telah datang di depan Altar kebesaran. Sebagai orang yang terdekat, Banyu ingin menumpahkan semua luapan dan tangisnya yang tidak terbendung. Air matanya belum mongering menetes, lingkar mata menghitam, wajah pucat fasih. Tangannya masih bergetar, dia tidak pernah membayangkan sang ayah meninggalkannya. Seza ikut pergi, kesetiaannya sang utusan pendamping mewakili penumpahan kesetiaan budi baktinya memperjuangkan apapun yang di kehendaki Lincau.
“Banyu, dahulu sewaktu kau kehilangan ibu mu juga aku yang menghiburmu. Walau aku baru saja tiba di negeri dedaunan. Aku tau pasti kau sangat terpukul. Tapi percaya padaku, aku akan tetap di samping mu kak..”
Mendengar bujukan Rumi, dia menyeka air matanya lalu membukakan pintu. Rambunya acak-acakan sudah tiga hari dia mengurung diri. Kali ini, banyu mengangkat sedikit bibirnya. Dia mengepalkan tangan, berdiri menatap Rumi yang membalas senyumannya.
“Jadi, apa rencana mu selanjutnya?”
“Kakak senior Banyu, aku tetap berpegang teguh pada pendapat ku. Pergi meninggalkan negeri ini Bersama naga api dan Gen.”
“Baik. Aku tidak akan menghalangi niat mu. Tapi aku hanya mengingatkan, kau akan jadi buronan tersangka kejahatan. Melanggar aturan dari sang putri dan kemungkinan besar akan terbunuh.”
“Di saat hari itu, aku mohon kakak berbesar hati untuk membebaskan ku.”
“Sebelum kau pergi, aku mengundang mu menghadiri upacara ku besok.”
“Kesepakatan di setujui, aku hanya perlu meminta sedikit bantuan membuka segel dan pintu ujung pembatas negeri. Kakak, semoga kau tetap kuat dan menjalani hidup dengan baik..”
Sepulang dari Altar, Rumi menyampaikan persiapan akhir sebelum benar-benar pergi. Naga api yang khawatir semalaman tidak bisa memejamkan mata dengan menatap langit. Kehilangan jiwa naga api sama saja menghancurkan diri sendiri. Dia tidak menyesali itu, sang naga mengusap bagian atas kepala Rumi dan memastikan dia aman di dekatnya.
Keesokan harinya, di Altar kebesaran semua penghuni negeri dedaunan padang hijau menyaksikan upacara pengangkatan ketua negeri yang baru. Banyu berdiri di singgahsana, dia menatap semua para penjaga dan sepuh dengan tatapan yang tajam.
“Salam hormat kepada ketua Banyu” ucap Rumi dan semua penjaga yang serentak membungkuk.
“Simpan semua rasa hormat kalian. Aku berharap kalian semua bisa membantu ku menjaga, membangun dan menyejahterakan negeri. Hari ini aku menentang siapapun penjaga yang menentang aturan. Siapapun yang meninggalkan negeri tanpa seijin ku. Maka akan mendapatkan hukuman yang sangat berat.”
“Perintah di laksanakan ketua” jawab semua sepuh dan penjaga.
Rumi terkejut mendengar ucapan Banyu. Seusai upacara, Rumi menghampiri Banyu menanyakan semua maksud yang dia tujukan mengarah padanya. Banyu mengangkat tongkat ketua, memberikan perintah penangkapan sang naga api. Dia juga menyuruh Gen secara langsung membawa Rumi k peristirahatan dedaunan. Menyegel Rumi dan mengarahkan pedang merupakan sebuah pengkhianatan.
“Kenapa kau memihak pada Banyu? Apakah dari awal kau berpura-pura baik pada ku? Lepaskan aku tau aku tidak menimbang lagi untuk menganggap mu musuh terbesar ku.”
Amarah Rumi meledak, dia mengeluarkan pedang mengayun ke atas. Gen membuka segel membiarkan Rumi berlari mencari sang naga. Berpikir sang naga di kurung di gua bebatuan, Rumi semakin marah karena tidak menemukannya di dalam. Dia berlari ke Altar kebesaran mencari Banyu yang masih menghadiri pertemuan dengan para sepuh.
“Lancang kau penjaga Rumi. Apakah kau tidak melihat ada banyak para sepuh berdiri di depan Altar?” bentak sepuh kiri melototinya.
“Maafkan saya. Tapi saya harus berbicara dengan ketua.”
“Semua para sepuh. Pertemuan hari ini kita akhiri hari ini.”
Banyu mengeluarkan mereka yang berjalan tergopoh-gopoh. Rumi membanting meja memberikan peringatan bahwa dia tidak takut apapun yang menghalanginya. Banyu membatalkan rencana dan malah mengurung Kembali naga.
“Kau tau tempramen ku kan? Aku akan berjuang sampai titik darah penghabisan jika kemauan ku tidak di turuti.”
“Ikut aku, aku akan menunjukkan semuanya.”
Banyu membimbing Langkah memasuki ruangan rahasia milik sang hakim. Ada catatan Rasi Bintang disana mengenai Nasib dan garis ketentuan setiap penjaga negeri. Bagi yang melanggar hukum alam, akan mendapatkan penderitaan. Semua peraturan yang tertera di tambah oleh sang putri pembatas langit tanpa sepengetahuan sang kaisar langit.
“Ayah ku dan Seza mengorbankan semua kekuatannya demi melindungi jiwa mu. Dari awal, kau memang terlahir di bumi. Namun, garis darah yang kau miliki terdapat bagian langit. Putri atau ketua pavilion pembatas langit yang mempermainkan biduk catur ini. Seluruh penghuni negeri tidak akan bisa terlepas dari jeratan mereka.”
“Jadi, aku hanya mangsa atau umpan daging mentah? Kenapa aku tidak di tangkap putri seutuhnya sebagai tawaran pembebasan sang naga api raksasa.”
“Beijing? Dia sudak tidak berharga lagi Dimana putri setelah dia memberikan jiwa miliknya yang lain tertanam di tangan dan tubuh mu. Kini kau terhubung dengan naga itu. Putri menginginkan tubuhnya untuk menjadi serbuk abu, terus__ “
“Terus apa? Apa tujuan utamanya?”
“Aku mendengar pembicaraan Seza dan ayah waktu itu. Naga api akan di gadaikan menggunakan kekuatan di dalam tubuh mu supaya menerbangkan serbuk kematiannya setelah menjadi abu agar Kerajaan pembatas antara langit dan bumi miliknya patuh terhadapnya.”
“Cara yang licik dan murahan. Kau perlu tau, Beijing mengatakan sang putri telah lama menyebarkan kerusakan di dunia. Akku merasa bersalah mematuhi perintah putri. Dia harus membayar semuanya.”
“Rumi, aku tidak akan membiarkan mu mati!”
“Gawat! Aku menerima laporan dari penjaga gerbang utama. Sang putri dan pengikutnya menuju wilayah padang dedaunan” ucap Gen terburu-buru.
Hubungan antara Rumi dan Beijing yang kompleks, dari ketidakpastian hingga kedekatan emosional, membuat pembaca terikat dengan karakter-karakter ini. Bagaimana mereka saling memengaruhi dan berkembang bersama sangat menyentuh
Rencana Banyu dan Seza untuk mengelabui putri iblis menambahkan elemen ketegangan dan strategi yang membuat pembaca penasaran. Bagaimana mereka akan menghadapi tantangan ini? Sangat menarik untuk dinantikan.
Naga api sangat lembut dan baik memperlakukannya. Dia memberikan semangkuk madu segar dan memijat telapak kaki Rumi. Terdiam tanpa kata, perasaan yang tidak akan pernah menghilang. Naga api merasakan dirinya mendapatkan hadiah dan anugerah terbesar. Kembalinya sang kekasih yang sangat dia cintai.
Banyu sangat Bahagia berhasil melakukan uji coba dari panduan buku kuno para makhluk spiritual. Di menggendong singa sambil mengusap tubuhnya. Di dedaunan hijau tempat tinggal Rumi dahulu, banyu mengubahnya menjadi bentuk dedaunan raksasa dan di kelilingi berbagai macam bunga yang indah. Dia menyegel tempat itu, sehingga dari pandangan luar hanya tampak berbentuk batu usang.
Meskipun ada banyak adegan aksi yang seru, saya juga berharap ada lebih banyak momen kecil antara karakter untuk mengembangkan kepribadian mereka secara lebih mendalam. Itu akan membuat saya lebih terhubung dengan mereka.
. nggak cocok dia hidup di negeri perbatasan langit dan menjabat kedudukan tinggi.
perjalanan karakter utama, terutama Uranus dan sang Hakim. Bagaimana mereka akan mengatasi semua rintangan dan konflik yang dihadapi? Saya harap ada pembahasan lebih lanjut tentang perasaan dan hubungan mereka.