NovelToon NovelToon
Istri Imutku

Istri Imutku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:122.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Nagyta Salma Ramadhani

Pertemuan pertama kami hanya di dasari oleh menolong sesama. Menolong gadis kecil yang sedang di kejar - kejar oleh pria hidung belang. Dan menolong diriku yang sudah di tagih menikah oleh orang tuaku.

Siapa sangka akan ada hadirnya cinta di antara kami berdua. Aku tak pernah memperlakukannya dengan kasar. Karena aku tahu gadis ini sudah sangat tertekan dengan kehidupannya.

Dari awal pertemuan kami, gadis itu telah merebut sebagian hatiku. Melihatnya menangis tersedu - sedu membuat hatiku perih.

Namaku Muhammad Devan Melviano. Aku adalah seorang CEO di perusahaan keluargaku yang bergerak di bidang real estate yang bernama Melviano Corporation. Di usiaku yang ke 24 tahun ini aku sudah di suruh menikah oleh orang tuaku.

Gadis yang cantik itu bernama Chalista Indriana Safitri. Gadis cantik yang di jual oleh ibu tirinya sendiri kepada pria hidung belang.

Aku selalu berharap agar selalu bahagia bersamanya.

Chalista Indriana Safitri, aku mencintaimu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nagyta Salma Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch 18 - Sekertaris Ganjen

"Ya Ampun, Papa ini bicara seperti itu. Seperti sedang bekerja sama dalam bisnis saja" batin Devan sembari tersenyum geli.

Serena dari tadi hanya terdiam saja. Entah apa yang dia pikirkan. Sepertinya sangat serius.

Dylan dan Chandra masih saja asyik bercengkrama seputar bisnis. Sementara Dewi hanya terdiam memandang Chalista dengan tatapan yang penuh dengan kebencian.

"Kenapa Nyonya Dewi memandang Lista dengan tatapan yang penuh dengan kebencian? Sebenarnya bagaimana hubungan Chalista dengan Ibu tirinya?" batin Serena yang menerka - nerka.

Chalista tahu apa maksud dari tatapan Ibu tirinya. Bagi Chalista, omelan dan tatapan penuh amarah dari Ibu tirinya itu sudah menjadi makanan sehari - hari untuk dirinya.

"Hmmm" deheman Serena yang bertujuan untuk memecah obrolan seputar bisnis yang di bicarakan oleh sang Suami dan Calon Besannya.

Sontak saja Dylan dan Chandra menghentikan

"Eh Mama" ucap Dylan dengan senyuman kikuk yang terpasang di wajahnya.

Serena langsung menatap sang Suami dengan tatapan menyeramkan seperti singa betina yang hendak menerkam mangsanya.

"Haduh, tamatlah kali ini riwayatmu Dylan" batin Dylan sembari bergidik ngeri melihat sang Istri yang menatapnya dengan tatapan mengerikan seperti singa betina yang hendak menerkam mangsanya.

Dylan langsung mencari siasat untuk merayu sang Istri agar tidak ngambek dengannya lagi. Bisa - bisa nanti tidur di luar gara - gara di cuekin sama Istri. Malangnya nasibmu Dylan jika mengalami hal yang seperti itu.

Usut punya usut, rupanya bakat merayu yang di miliki oleh Devin turun dari gen sang Papa. Haduh, kalau banyak perempuan yang di rayu namanya buaya darat dong. Ih, seram.

"Kenapa sayang?" tanya Dylan dengan nada yang sangat lembut.

"Haish, Papa ini. Sudah membuat Mama ngambek, merayunya seperti orang yang belum makan saja. Sangat lembek. Dasar payah" umpat Devan di dalam hatinya.

Serena memalingkan wajahnya dari yang semula menatap lekat sang Suami kini menatap lekat wajah cantik Calon Menantunya.

"Ayo kita berbelanja untuk hantaran lamaran nanti malam. Kalau Mama tidak berbelanja sekarang, nanti yang ada Mama kerepotan sendiri" ucap Serena sembari menatap lekat wajah cantik milik sang Calon Menantu.

Sebelum menjawab, Dylan justru menghembuskan nafas dengan kasar. Bagaimana tidak? Orang sang Istri menyuruhnya untuk menemaninya berbelanja hantaran untuk lamaran nanti malam. Dylan sudah membayangkan betapa lama dan rempongnya para Wanita jika sudah melakukan hal yang bernama berbelanja.

Tentu saja Dylan adalah tipikal lelaki yang tidak suka menunggu. Para Wanita jika sedang berbelanja bisa lupa waktu. Kadang - kadang sampai 3 jam lamanya berbelanja. Kebayang kan bagaimana lelahnya menunggu para Wanita yang sedang berbelanja.

"Haish, cobaan apa lagi ini Ya Allah? Sebenarnya aku tidak ingin melakukannya. Tapi mau bagaimana lagi, nanti yang ada Istriku ngambek dan aku di suruh tidur di luar. Gagal kan dapat jatahnya" gerutu Dylan di dalam hatinya.

"Iya Mama sayang. Ayo kita berbelanja. Ajak Manda dan Lista juga. Jadi Mama sayang tidak kerepotan karena berbelanja sendirian" ucap Dylan dengan lembut sembari tersenyum getir.

Serena tampak menimbang - nimbang ucapan sang Suami. Setelah lama menimbang - nimbang, Serena pun akhirnya membuka suaranya.

"Emmm, betul juga kata Papa" ucap Serena sembari tersenyum senang.

"Istri senang, Suami tersiksa" gerutu Dylan di dalam hatinya.

"Manda, Lista, nanti kalian temani saya berbelanja untuk hantaran lamaran nanti malam. Oke?" ucap Serena sembari tersenyum senang.

"Oke Kak" ucap Amanda sembari membalas senyuman dari Kakak Iparnya.

"Oke Ma" ucap Chalista sembari tersenyum lembut kepada Calon Mama Mertuanya.

Ada satu orang yang masih tidak mengerti dengan semua ini. Kata - kata Lamaran dan Calon Besan masih terngiang - ngiang di kepalanya.

"Ya ampun. Apa maksud dari semua ini? Lamaran dan Calon Besan? Ada apa dengan semua ini? Kenapa aku tidak mengerti" teriak Dewi di dalalm hatinya.

"Lista sayang, nanti kamu sekalian pilih baju yang buat di pakai lamaran nanti malam ya" ucap Serena sembari mengelus lembut puncak kepala Chalista.

"Baik Ma" ucap Chalista dengan senyuman lembut yang tersungging di wajahnya yang cantik.

"Apakah si anak sialan itu yang akan di lamar malam ini?" batin Dewi yang menerka - nerka.

"Ah, aku rasa tidak mungkin. Mana mungkin ada yang jatuh cinta dengan manusia semacam dia" batin Dewi yang menepis pemikirannya tentang Chalista yang akan di lamar nanti malam.

"Devan, sekarang kamu bisa bekerja. Mama, Papa, Aunty, dan Chalista akan berbelanja untuk hantaran lamaran nanti malam. Sekarang kamu bekerjalah dengan benar dan baik" ucap Dylan dengan tegas.

"Baik Pa" jawab Devan dengan ekspresi dan nada bicaranya yang datar.

"Kak Dylan dan Kak Rena, aku akan kembali ke perusahaan lagi ya" ucap Demian sembari beranjak dari duduknya.

Dylan dan Serena pun menganggukan kepalanya sebagai jawaban dari ucapan Demian tadi.

Demian pun beranjak pergi dari aula perusahaan Melviano Corporation untuk menuju ke perusahaan miliknya sendiri yang bernama DA Corporation.

"Tuan Dylan dan Nyonya Serena, saya dan Istri saya pamit kembali ke perusahaan saya ya" ucap Chandra dengan senyuman hangat yang tersungging di wajahnya.

"Iya Tuan Chandra dan Nyonya Dewi. Hati - hati di jalan ya" ucap Dylan sembari tersenyum lembut.

Chandra hanya membalas ucapan rekan bisnisnya sekaligus Calon Besannya dengan menunjukkan kedua jempolnya kepada Dylan dan Serena.

"Chalista, kamu baik - baik ya sama Calon Mertuamu. Ayah ke perusahaan dulu ya" ucap Chandra sembari mengelus lembut puncak kepala Chalista.

"Oke Ayah" ucap Chalista dengan ekspresi lucunya.

"Apa! Apakah telingaku salah dengar? Kenapa dia mengucapkan kata Calon Mertua kepada si anak sialan itu?" batin Dewi yang masih menerka - nerka.

Chandra dan Dewi pun berjalan untuk keluar dari aula perusahaan Melviano Corporation.

Kini hanya tersisa Devan, Chalista, Dylan, Serena, Amanda, Devin, dan Aurel.

"Kak Devan, Calon Kakak Ipar, Pa, Ma, Aunty, Devin mau mengantar Aurel pulang dulu. Sekalian Devin mau jalan sama pacarnya Devin" ucap Devin sembari tersenyum seperti kuda.

Devan, Chalista, Dylan, Serena, dan Amanda pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari ucapan Devin tadi.

Devin pun segera melenggang pergi dari aula perusahaan Melviano Corporation dan di ikuti oleh Aurel yang berjalan di belakangnya.

"Mama, Aunty, Lista, sama Papa mau pergi berbelanja untuk hantaran lamaran nanti malam. Kamu kerja yang benar" ucap Dylan dengan tegas.

Devan pun hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas ucapan sang Papa tadi.

Dylan, Serena, Amanda, dan Chalista pun segera melenggang pergi dari aula perusahaan Melviano Corporation untuk berbelanja hantaran untuk lamaran nanti malam.

Selepas kepergian Dylan, Serena, Amanda, dan Chalista, Devan langsung berjalan menuju ke arah lift yang di khususkan untuk petinggi perusahaan.

Devan pun segera memasuki lift yang di khususkan untuk petinggi perusahaan tersebut. Devan menekan angka 25 yang merupakan lantai di mana beradanya ruangan khusus CEO.

Tak butuh waktu lama, kini lift telah sampai di lantai 25, lantai di mana beradanya ruangan khusus CEO serta merupakan lantai paling tinggi di gedung perusahaan Melviano Corporation.

Devan segera berjalan menuju ke ruangan khusus CEO dengan langkah yang tegap dan wajah tampannya yang memancarkan kharismanya.

Sesampainya di sana, Devan langsung di sambut oleh seorang wanita yang mengenakan pakaian seksi dengan rok di atas lutut dan baju yang rendah sehingga terlihatlah sedikit gunung kembarnya.

"Astagfirullah, ini sekertaris atau wanita penghibur sih?" gerutu Devan di dalam hatinya.

"Selamat datang Tuan Muda Devan. Perkenalkan saya Audy, Sekertaris Tuan" ucap Audy dengan nada yang menggoda.

"Iya" jawab Devan dengan singkat.

Karena merasa di acuhkan oleh sang Bos, Audy pun langsung mencari cara agar mendapatkan perhatian dari Bosnya.

"Emm, apakah Tuan Muda menginginkan secangkir kopi? Saya bisa membuatkannya untuk anda Tuan" ucap Audy dengan nada yang menggoda.

"Tidak perlu" ucap Devan dengan datar yang langsung memasuki ruangan khusus CEO.

"Dingin banget sih jadi CEO. Aku suka banget sama yang dingin - dingin. Kan lebih menantang. Tunggu aku Tuan Muda Devan, aku akan mendapatkanmu" batin Audy sembari tersenyum senang.

Sementara itu Devan merasa sangat kesal. Devan yakin ini adalah ulah Mamanya sendiri. Siapa lagi yang suka menjahili dirinya selain Mamanya sendiri? Menyebalkan sekali.

"Dasar Mama, jadi orang kok jahil banget sih" umpat Devan di dalam hatinya.

Devan langsung mengeluarkan ponsel pribadinya. Devan pun langsung mendial nomor telepon sang Mama.

Tuut

Tuut

Tuut

Tak butuh waktu lama, kini sang Mama pun telah mengangkat panggilan telepon dari Devan.

"Halo" ucap Serena dari seberang sana.

"Apakah Mama yang mengirim Sekertaris yang penampilannya seperti wanita penghibur untuk di jadikan sebagai Sekertarisku?" ucap Devan kepada sang Mama tanpa basa - basi.

"Hehehe, iya" ucap Serena sembari tertawa kecil.

Tuut

Devan langsung mematikan sambungan teleponnya dengan sang Mama. Devan sekarang merasa sangat kesal dengan ulah sang Mama yang sangat kelewatan.

"Sekertaris ganjen" umpat Devan di dalam hatinya.

1
Sukri Ani
mana kelanjutanya
Suroso
terlalu lebae critanya.kenapa hnya kluarga dewan aja yg jd tomik. crita kluarga calon ipar mana
Suroso
seharusnya bisa disingkat sedikit biar ceritanya cepat terarah.sayang crita keluarganya calon ipar ngak pernah di ambil
Suroso
ceritanya kok lain arah.persiapan lamaranya mana
Dewiiqbal
kok gk lnjut
Mhina Odonk
mna lnjutanx
Mhina Odonk
lanjut
Thanty
lanjut donk
Pengghosting novel T_T
Keluarga somplak plus absrud😂😂😂
Pengghosting novel T_T
Virus bucin lebih parah dari pada virus korona virus bucin berakibat nya yaitu pelet pasangan biar deket samanya😂😂😂😁
Marni Sumarni
lanjutkn dong cerita ya
Marni Sumarni
lanjutkn doongg cerita ya
Marni Sumarni
lnjutkn dong
Marni Sumarni
lanjutkn doonng cerita ya
aristo
no
Tutay
kashan papa dylan kena jewer
Tutay
kasihan pada rebuti kk ipar
Dwi Harti
Lanjut thor
IntanhayadiPutri
Aku mampir nih kak, udah 5 like dan 5 rate juga.. jangan lupa mampir ya ke ceritaku

TERJEBAK PERNIKAHAN SMA

makasih 🙏🙏
Fitri (。•̀ᴗ-)✧
lanjut dong kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!