~Disarankan untuk membaca 365 Days Wedding dulu yaa😉~
Tragedi kelam membuat Danu harus menikah dengan bocah yang telah ia anggap adik sendiri, bagaimana lagi? itu ulah nya sendiri.
lebih menyedihkan nya lagi, wanita itu adalah adik dari musuh abadi nya.
"Aku Terima tanggung jawab mu, kak.. tapi, kita menikah kontrak saja seperti kakak ku." ajak bocah yang telah membuat hidup Danu menjadi rumit.
"tak sudi!" tolak Danu.
Ayo mampir😉 jangan lupa Vote yaaa.. agar novel ini bersinar🤩eh iya, jangan lupa follow akuu😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haasaanaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Kala Danu sudah pergi dengan Bima menuju Perusahaan nya, Lovie baru bisa tenang. Hanya dirinya sendiri di Apartemen seluas ini, dan tidak ada siapapun. Lovie bisa menangis kencang, tanpa takut didengar siapapun.
Lovie kecewa dengan kenyataan bahwa Danu tidak mengejar nya, atau hanya sekedar mengatakan maaf yang mungkin tidak tulus. Hal sederhana seperti itu saja, sudah membuat Lovie bahagia.
“Memang apa yang harus aku harapkan dari orang tengil seperti nya? Selain tengil, ternyata juga ngga ada peka nya jadi cowok.” Umpat Lovie kepada Danu, ia kesal sekali kala mengingat kelakuan Danu tadi.
Lovie teringat dengan bentak kan Danu tadi, ia tidak pernah dewasa dimata pria itu. Hanya bocah kecil yang tidak tahu apa-apa kecuali menangis, benar-benar menyedihkan.
Lovie menyeka air mata nya, ia tidak mau terus menangis. “Dari pada sedih terus, lebih baik aku jalan-jalan.” Ide brilian itu membuat Lovie tertawa bahagia.
Tapi, sebelum itu Lovie mengambil roti dimeja dan memakannya hingga perutnya merasakan kenyang yang mungkin tidak akan tahan lama. Lalu Lovie berlari menuju kamar,untuk bersiap-siap.
Lovie membersihkan diri dengan gerakan cepat, ia takut kalau Danu pulang karna ada barangnya yang ketinggalan. Ia terburu-buru sampai tidak sempat untuk bermake-up tipis-tipis saja, hanya sekedar lipstik saja.
Setelah merasa penampilan nya cukup, Lovie juga menyempatkan mengambil uang yang selalu Danu siapkan untuk nya. Kalau mengambil salah satu kartu, ia tidak tahu pin nya. Dan tak mungkin menanyakan nya kepada Danu, bisa gagal rencana dari Lovie.
Lovie menaruh uang itu didalam dompet nya, lalu bersiap-siap pergi. Memakai flatshoes dan dress selutut berwarna merah maroon, semakin membuat kulit nya kelihatan cerah.
Kala membuka pintu, Lovie baru ingat jika pintu ini memiliki password. Dan dirinya tidak tahu apa password pintu itu, Danu tidak pernah mengatakan nya.
“Apa mungkin tanggal pernikahan kami?”
Lovie mencoba nya saja, sekalipun ia sangat ragu.
Dan benar saja, pintu langsung terbuka. Lovie sampai terdiam sebentar karena benar-benar terkejut, password dari pintu itu adalah tanggal pernikahan mereka.
Lovie segera menyadarkan dirinya, ia langsung melanjutkan niat nya untuk pergi. Sekalipun tidak tahu mau kemana, yang terpenting pergi untuk menenangkan pikiran atas kekecewaan nya kepada Danu.
~
Disisi lain, Danu meeting bersama dengan ayah nya. Ntah kenapa Jake kali ini sedang memerhatikan kinerja nya, dan itu terjadi setelah dirinya menikah seperti yang dikatakan Bima.
Setelah meeting selesai, kini Jake duduk bersebelahan dengan Danu.
“Apa kabar soal pernikahan mu?” Tanya Jake, ia takut kalau Danu tidak sabar menghadapi Lovie.
“Baik, ayah. Aku sudah dewasa, tidak perlu khawatir seperti itu.” Jawab Danu, ia keliahatan tenang seperti tidak ada masalah yang telah terjadi.
“Begini, Danu.. Lovie memiliki sifat yang sama seperti mendiang ibu mu, manja dan suka menangis. Kau harus sabar menghadapi nya, karena terkadang mereka menangis.. Karena ada satu hal yang tidak kita mengerti.” Jelas Jake, Danu hanya diam mendengar kan saja.
Pikiran Danu melayang jauh kepada Lovie yang mungkin masih menangis di Apartemen nya. Danu langsung membuang pikiran itu jauh-jauh, ia tidak mau terlalu memikirkan Lovie yang suka sekali membicarakan perceraian.
Jake memerhatikan Danu yang sedang sibuk dengan pikiran nya sendiri, ia tahu betapa keras kepala putra nya itu.
“Ibu mu meminta kau dan Lovie untuk menginap di Mansion, bagaimana lagi? Kau belum mengenalkan Lovie kepada keluarga Pratama.” Ucap Jake, Danu langsung menatap kearah ayahnya.
“Tidak bisa, ayah. Aku sibuk, belum lagi ada masalah sedikit di Rumah Sakit.”
“Kalau begitu antar Lovie untuk menginap, kau suka hati mau melakukan apa.” Ucap Jake dengan kesal, selalu ada saja alasan putra nya untuk menginap di Mansion.
“Kejam sekali.. Baiklah besok aku dan Lovie akan datang.” Ujar Danu mengalah saja, barulah Jake tersenyum puas.
Jake membicarakan banyak hal tentang pekerjaan nya, dan Danu malah memikirkan Lovie yang ntah sedang apa di Apartemen.
Setelah puas berbicara dengan putra nya, Jake pergi kembali menuju Mansion. Tinggalah Danu seorang diri di ruangan nya, ia melihat Bima yang masuk kedalam ruangannya.
“Ini berkas yang harus kau tandatangani siang ini, Tuan. Setelah itu pekerjaan selesai, dan bisa pulang.” Ucap Bima, ia meletakkan tumpukan berkas itu di meja Danu.
Danu melepas tuxedo nya, hanya menyisakan kemeja putih polos nya saja. Danu menggulung bagian lengannya separuh, agar lebih mudah mengerjakan pekerjaan nya.
Bima membantu memeriksa dokumen nya sebelum ditandatangani oleh Danu, hal yang selalu ia lakukan. Danu fokus dengan dokumen itu, disaat seperti inilah ia bisa tidak memikirkan Lovie.
Sementara itu, Lovie sedang asyik bermain seorang diri di Mall. Ia tidak berbelanja, hanya membeli makanan manis yang membuat hatinya menjadi bahagia.
“Wah, baru deh mood baik ku kembali lagi.” Ujar Lovie, ia tersenyum saja sekalipun hatinya masih merasakan kesedihan.
Langkah Lovie terhenti kala melihat Radit dan Ghea serta keponakan nya yang sedang berbelanja pakaian bayi. Lovie bersembunyi, ia mengintip Ghea yang seperti nya hampir melihat nya.
Lovie cepat-cepat pergi menjauh, dan keluar dari Mall ini. Seperti nya tidak bagus berada lebih lama lagi, karena akan sulit urusan nya kala Radit dan Ghea menemui nya.
“aku harus kemana?”
Lovie melihat jam sudah hampir malam, ia tidak ingin pulang ke Apartemen secepat ini. Dan Lovie juga yakin, karna ini malam minggu pasti sepulang kerja Danu akan berkencan dengan kekasih nya.
Lovie pun mengambil keputusan untuk pergi ke taman bermain, naik biang lala atau bermain capit boneka. Lovie sangat senang, hanya disaat seperti ini ia bisa bepergian seorang diri tanpa takut dengan kemarahan sang ibu dan Radit.
Lovie memanggil taxi, dan langsung pergi menuju tempat yang ia inginkan. Lovie benar-benar bahagia, bahkan sampai tidak bisa berkata kata lagi. Ia tidak memiliki ponsel, belum beli yang baru.
Jadi, Lovie pergi tanpa gangguan dari siapapun. Dan tidak memikirkan Danu, ia bahagia sekali sepanjang perjalanan. Bahkan supir taxi sampai heran melihat nya, karena senyum manis tidak pudar dari bibir Lovie.