Semua cerita yang ada di dalam adalah hasil imajinasi dan kecerdasan penulis,harap bijak dalam membaca.
Ketika alena masih kecil, ibunya selalu di pukul oleh ayah tirinya hingga bercucuran darah, namun ayah tirinya tidak pernah di penjara walaupun sudah beberapa kali ibunya melapor ke polisi, kini alena sudah tumbuh dewasa dan ia melihat bahwa mantan ayah tirinya tidak berubah sama sekali. Alena mengambil tindakan sendiri dan memukulinya dengan brutal.Setelah menjalani kehidupan nya di kampus sebagai mahasiswi teladan fakultas seni Alena akan kembali ke apartemen nya dan di malam hari ia akan mulai menjalankan misinya, melakukan keadilan ketika hukum tidak menghukum dengan adil, akankah Alena bisa melakukannya? Apakah sisi gelapnya tidak akan pernah di ketahui oleh orang lain? Simak kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Livi Neghe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penuntasan Kasus
Angin malam masuk berhembus ke sela-sela jendela, bulan tampak menerangi bumi dengan cahayanya yang terang, suara melodi menemani mereka yang sedang menikmati makan malam di jam 02.30,hampir subuh.
"Kamu melakukan nya dengan sangat baik lagi" ujar Zean sambil tersenyum ke arah Vernon
"Omong-omong bagaimana kamu membuatnya hingga dia mengaku?" ujar Kian
"Aku membawa banyak tumpukan berkas dan , aku membawa flashdisk kosong dan berkata bahwa itu rekaman dari kamera tersembunyi di rak buku di ruangan para dosen, saat dia mendengar hal itu, ekspresi wajahnya berubah secepat kilat" ujar Vernon
"Jadi dia percaya bahwa ada kamera lain di sana? Itu sebabnya dia takut" ujar Kian
"Benar" ujar Vernon
"Kakak yang akan menjadi hakim persidangan besok? " ujar Zean sambil menatap Kian
"Iya kenapa? " ujar Kian
"Wah luar biasa, Kedua kakakku terlibat dalam penuntasan kasus ini, aku akan memberi tahu ibu agar ibu bisa memberi penghargaan anak teladan" ujar Zean yang membuat Kian dan Vernon tertawa
"Tunggu, sepertinya bukan hanya kita berdua, kamu juga sebagai saksi di sana, kamu memberi pernyataan yang sangat membantu, jadi mintalah tiga penghargaan" ujar Vernon sambil tertawa
"Tapi bukankah kalian masih mencari natan?" ujar Kian yang membuat Zean tiba-tiba berhenti mengunyah
"Benar, saat memasuki gang kosong aku melihatnya di tarik oleh seseorang masuk ke dalam gedung tua, tapi saat masuk kami tidak melihatnya bahkan mendengar suara saja tidak" ujar detektif
"Zean" ujar Kian yang membuat Zean panik
"Ada apa?" ujar Zean
"Kamu bersekolah di tempat yang sama dengannya, cari tahu apa saja tentangnya sebagai imbalan aku akan memberikan Black cardku" ujar Kian sambil tersenyum
"Benarkah?" ujar Zean kaget
"Lihat jika mendengar sesuatu yang berbau uang matanya langsung membesar" ujar Vernon sambil tersenyum
"Itu di namakan respon aktif, pupil mata akan membesar jika melihat atau mendengar sesuatu yang mereka sukai" ujar Zean
"Wah sepertinya kamu belajar dengan rajin" ujar Kian sambil mengelus kepala Zean
"Tentu saja kedua kakakku pintar, jadi aku tidak ingin terlihat bodoh" ujar Zean sambil tersenyum
"Baiklah, makan dan cepat tidur" ujar Vernon
Di sisi lain beberapa mobil polisi tiba di sebuah gedung tua terpencil, banyak petugasnya polisi dan detektif yang datang untuk mencari keberadaan Natan, mereka berhasil melacaknya melalui ponsel Natan.
"Masuk dan berpencar" ujar kepala detektif
Ketik masuk mereka menyalakan senter untuk menerangi jalan karena gedung itu tampak sangat gelap dengan banyak lorong di dalamnya, hingga tiba-tiba kepala detektif memberi kode untuk berhenti kepada beberapa polisi di belakang nya karena dia melihat cairan seperti darah di lantai.
Mereka saling bertatapan dalam beberapa detik lalu melanjutkan pencairan mereka, hingga tiba-tiba mereka juga melihat cairan darah di lantai.
"Mereka pasti di dekat sini, minta bantuan dan cari sekeliling" ujar kepala detektif
"Baik" ujar polisi
"Kenapa kamu terus merumitkan keadaan" ujar kepala detektif
Setelah beberapa menit mencari mereka tidak menemukan nya, bahkan setelah berkomunikasi dengan pihak pelacak sinyal ponsel, mereka kehilangan petunjuk yang akhirnya mereka kembali ke kantor polisi.
Ke esok kan paginya langit tampak cerah, angin berhembus dengan tenang menemani seorang gadis yang baru saja bangun. Ia menatap ke arah alarm yang ada di atas meja samping kasurnya.
"Kenapa belum berbunyi? Apa aku tidak menyetel nya?" ujar Alena bingung
Kini jam menujukan pukul 08.30 pagi alena sudah berada di dalam kelas bersama beberapa mahasiswa lain, di saat Alena sedang duduk ia terus menatap ke arah tempat duduk Natan.
"Kamu tahu di mana dia?" ujar Zean sambil masuk ke dalam kelas
"Aku tidak tahu, seperti nya hari ini dia tidak akan masuk" ujar Alena
"Tentu saja tidak, bagaimana dia bisa masuk kampus dengan keadaan seperti itu" ujar Zean
"Keadaan apa?" ujar Alena bingung
"Keadaan sekarang, dia tidak akan menujukan dirinya selagi menjadi buronan" ujar Zean
"Benar, tapi aku tidak menyangka dia akan melakukan nya sejauh ini" ujar Alena
"Hampir saja" guman Zean dalam hati lalu berjalan menuju tempat duduknya
Di saat Alena sedang fokus membaca buku tiba-tiba luna datang sambil berteriak membuat mereka terkejut.
"Ada berita mengejutkan" ujar luna
"Apa yang terjadi?"ujar Alena
" Rektor Hugo di tangkap polisi akibat perencanaan pembunuhan terhadap Pak Danu, dan jabatannya akan di ambil alih oleh seseorang" ujar luna
"Benarkah? Wahh ini benar-benar gila" ujar Zean
"Mereka bersekongkol" ujar Alena
"Lalu siapa orang itu?" ujar Alena
"Orang yang akan menggantikan rektor Hugo? Entahlah aku hanya mendengar rumor yang beredar, jika orang itu adalah seorang pengusaha paling kaya di kota ini, dia di lantik langsung oleh Menteri Pendidikan karena peran dan sikapnya bagus, dan satu lagi, dia memiliki tiga anak laki-laki, anak yang pertama adalah seorang hakim, anak yang kedua adalah seorang detektif dan anak yang ketiga masih menempuh pendidikan di sebuah universitas" ujar luna panjang lebar
"Wahh dia luar biasa" ujar Alena kagum
"Dan yang paling penting beliau adalah orang yang jujur dan melakukan segala program secara transparan" ujar luna
Setelah mendengar cerita Luna, zean tampan tersenyum, kini mereka bertiga duduk sambil membicarakan Natan yang tengah menghilang serta hubungan mereka dengan Rektor dan Dekan baru.
"Jadi dia adalah dalangnya, itu berarti Natan adalah kaki tangan mereka" ujar Alena
"Bisa jadi, ini sudah hampir jam sembilan tapi kenapa belum ada dosen yang datang"ujar luna
" Mereka masih fokus menyelesaikan masalah ini dengan pihak berwenang "ujar luna
" ada yang tahu di mana Natan berada? " ujar Zean.
"sepertinya dia bersembunyi di suatu tempat dan ponselnya di matikan, polisi tidak bisa melacaknya karena tiba-tiba ponsel nya di matikan" ujar Zean.
"Bagaimana kamu tahu?" ujar luna bingung
"kakakku memberitahu ku" ujar nya
"Kakaknya seorang detektif di kantor polisi selo" ujar Alena yang membuat luna terkejut
"benarkah? wahh kamu bisa kaya di usia muda" ujar luna kagum
"aku akan mengecek keadaan di kantor para dosen dan dekan"ujar Alena
"aku akan ikut denganmu" ujar Zean lalu mengikuti Alena dari belakang
"itu ulahmu bukan?" ujar Zean
"yang mana?" ujar Alena
"wahh aku tidak bisa berkata kata, aku bingung" ujar zean
"Kamu menembak ban motor ku yang di pakai oleh Jun, tidak apa-apa jujurlah kita bisa menjadi teman" ujar Zean sambil tersenyum
"jadi itu adalah milikmu? aku hanya membantu mereka" ujar Alena sambil terkekeh lalu di ikuti oleh suara tawa zean
Alena dan Zean turun ke bawah menuju ruang dosen namun mereka tidak masuk karena ada begitu banyak tamu di dalam. Mereka terus menggali informasi tentang Natan, apakah Natan akan di temukan?
mari kita saling support author baru
tq
jgn lpa feedback baiknya di secretly sorry mksh kakak.
jgn lpa mmpir jg ya d secretly sorry 🙏
jgn lpa mampir di secretly sorry
thx