Aina, istri dari Aji seorang pelaut yg beroperasi di perairan Srilangka terpaksa harus menelan kepahitan.
karena, sejak dua tahun pernikahannya dengan aji, dia harus menerima kenyataan jika aji memberikannya nafkah yang sangat tidak layak.
di tahun dua ribu satu sampai tahun dua ribu lima, aji hanya memberikannya nafkah sebesar tiga ratus ribu rupiah untuk setahun.
kemudian, di tahun dua ribu enam sampai dua ribu sepuluh, aji memberikannya nafkah sebesar lima ratus ribu untuk setahunnya.
dan mulai tahun dua ribu sebelas sampai dua ribu dua puluh dua, aji memberikannya nafkah untuknya dan untuk ketiga anak anaknya sebesar satu juta untuk setahun.
lalu, bagaimana caranya aina bertahan hidup sampai saat ini dengan nafkah yang tidak layak itu?
ikuti terus ceritanya ya guys, bantu suport terus cerita aku, dan bantu beri kritik dan sarannya agar cerita yg aku buat semakin menarik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aqidatul izaz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 18
"Lauraaa!!" Sentak ayah sembari melambai lambaikan telapak tangannya di depan wajahku.
Saat itu seketika lamunanku tentang masa lalu langsung buyar sudah gara gara teriakan ayah.
"Kenapa malah ngelamun? Ini udah sampai loh, di panggil nggak jawab jawab." Tanya ayah sembari menggerutu kesal lantas dia terlebih dahulu keluar dari mobil dan berjalan memutar ke sebelah kiri mobil, lalu dia membukakan pintu untukku.
"Silahkan turun tuan putri," Ucapnya terbahak-bahak kala membuka pintu mobil.
Aku segera turun dari mobil, dengan kesal aku melangkah kasar ke dalam bengkel tersebut.
"Ada yg bisa saya bantu bu?" Tanya salah satu pegawai tersebut sembari tersenyum ramah ke arah ku.
Tapi entah kenapa aku merasa jengkel dengan panggilan yg dia sebutkan, yang benar saja, aku masih muda begini sudah di panggil bu.
"Eeh, itu pak, mobilnya mau di bawa mudik jauh, jadi tolong di periksa secara keseluruhan ya pak, dan tolong di service sebaik mungkin. " Tanpa di minta tiba-tiba ayah datang dari belakang dan menjelaskan maksud tujuan ku ke sini.
"Ooh, iya mas, silahkan tunggu di sana," Sahut pegawai tersebut sembari menunjukkan kursi tunggu di teras bengkel.
Mendengar pegawai bengkel tersebut memanggil ayah dengan sebutan "mas" Aku jadi semakin bingung di buatnya.
Aku yg baru memasuki usia dua puluh dua tahun di panggil "ibu"
Sedangkan ayah yg umurnya udah memasuki empat puluh empat tahun di panggil "mas"
Matanya minus kali itu orang.
Dengan kesal aku membuntuti ayah yg melangkah ke kursi tunggu.
Kebetulan bengkel masih sepi karna masih jam sembilan pagi.
Aku merogoh ponsel di saku dan menyalakan kameranya mode selfie, lalu aku mengamati garis garis wajahku.
"Ah, masih terlihat muda juga, lalu kenapa aku di panggil ibu?" Batin ku kebingungan.
"Kamu kenapa?" Tanya ayah sembari mengerutkan keningnya, pastinya dia bingung melihat tingkah ku saat ini.
"Sini yah, foto bareng sama Laura, " Ucapku sembari mendekatkan wajahku ke sisi wajahnya, hingga pipiku bersentuhan dengan pipi ayah.
"Cekrek..." Aku menekan kamera, lalu melihat lihat hasilnya.
Aku mengamati wajahku dan wajah ayah di dalam kamera.
Jika di perhatikan secara seksama, wajah ayah memang masih terlihat sangat muda.
Di usianya yg sudah memasuki kepala empat, dia masih terlihat sangat muda seperti seumuran denganku, ah pantas saja pegawai tadi memanggilnya dengan sebutan "mas".
Aku mengalihkan pandanganku ke wajah ayah yg tengah sibuk dengan ponselnya.
Ya ampun, kenapa aku baru menyadari ini, ternyata wajah real ayah terlihat lebih muda dari foto yg baru saja aku ambil.
Alis tebal, hidung mancung, mata tajam, bibir seksi dengan kumis tipis-tipis, dagunya terbelah, uuuhh ternyata setampan itu ayahku.
"Kenapa?" Tiba-tiba ayah menatapku tajam kala memergoki diriku yg tengah menatap lekat.
Aku segera memalingkan pandanganku ke arah lain, sembari membuang nafas kasar.
"Nggak!" Jawabku singkat sembari menjauhkan posisi dudukku darinya, itu semakin membuatnya mengerutkan keningnya, dia segera mendekatkan dirinya padaku dan menyambar tanganku.
"Kamu kenapa sih?" Kali ini ayah menatapku dengan tatapan sendu, aku kembali membuang pandanganku ke arah lain.
"Kamu marah sama ayah?" Tanya ayah sembari merangkul bahuku.
Aku menggelengkan kepalaku lemah, karna memang aku begini bukan karena marah, aku begini malu, karna ketahuan tengah memperhatikannya.
" Iya iya, nanti setiap bulan ayah temenin kamu buat service mobil sama nyuci mobil, nggak kamu sendiri kok." Ucap ayah terdengar mengalah, padahal aku tidak sedang memikirkan hal itu.
Tapi, sedetik kemudian aku tersenyum penuh kemenangan, karna aku tidak akan sendiri datang ke bengkel dan ke tukang cucian mobil.
Jurus yg baru saja aku keluarkan ternyata mampu mengubah keputusan ayah, aah memang pandai sekali aku ini.
"Ayah, kok servicenya lama ya?" Tanyaku yg sudah mulai merasa bosan duduk menunggu mobil yg sedang di service itu.
"Baru juga tiga puluh menit. " Sahut ayah cuek.
Aku berkali-kali membetulkannya posisi dudukku tapi hal itu tak mampu mengusir rasa bosanku, hingga aku memutuskan untuk beranjak dari dudukku dan memilih berjalan mondar mandir seperti setrika.
"Ayok, ikut ayah! " Ucap ayah sembari menyambar lenganku dan membawaku ke dalam kedai bakso yg berada tepat di sebrang bengkel ini.
"Kamu kalau bosan itu ke sini, jangan malah kayak setrika, memalukan!" Gerutu ayah setelah mendudukkan pantatnya di barisan paling belakang.
"Aku kan nggak tau di sini ada kedai bakso. " Sahutku kesal sembari memukul meja lesehan di depanku.
"Kedai bakso segede ini kamu nggak lihat?" Ujar ayah sembari membuang nafas kasar.
Sesaat aku terpanah melihat gaya ayah yg tengah membuang nafasnya dengan kasar, dia terlihat begitu lelah tapi menggemaskan.
"Mas bakso uratnya dua, sama es teh dua," Ucap ayah sembari melambaikan tangannya ke arah pelayan bakso tersebut.
"Bakso urat?" Tanya pelayan tersebut dengan mengulang bakso yg di pesan ayah, membuatku gemas saja.
"Iya, urat malu!, udah tau emmm...." Belum sempat aku menyelesaikan omelanku, ayah sudah membekap mulutku dengan tangan kanannya.
"Iya mas, bakso urat, maafkan anak saya yg suka sembarangan ngomel ya," Ucap ayah cepat sembari meminta maaf atas perkataan ku baru saja.
"Ah,, nggak apa apa mas. " Pelayan tersebut mengangguk ramah lalu pergi meninggalkan kami.
"Mulutmu itu kalau mau ngomong di jaga!" Tegur ayah sembari mencomot bibirku yg tengah manyun, membuatku semakin kesal saja.
"Kesel, abisnya jadi pelayan lola banget" Umpat ku kesal membuat ayah menyenggol lenganku kala melihat pelayan tadi sudah berjalan menghambat kami sembari membawa dua gelas es teh yg di pesan ayah tadi.
"Silahkan mas, " Ucap pelayan tersebut sembari meletakkan dua gelas berisi es teh ke atas meja, lalu beranjak pergi meninggalkan kami.
"Masuk!" balas
jagan lupa koma sebelum di tutup petik 2
atau tnda seru setelah kta perintah
Bagus ceritanya 👍☺️
Penulisannya juga rapi, jadi enak bacanya 😊
Ini sih kayaknya author dah pengalaman😂
Soalnya beda banget sama yang masih belajar😁😁🤭
aku mampir nih
salam dari langit 😊
btw judulnya serem amat yak😂
1 juta utk setahun😂