Pythia Andromeda Alexa, terdampar di sebuah pulau dalam dunia paralel. Ia mengalami hilang ingatan sampai kedatangannya dikaitkan sebagai titisan Dewi Yunani karena warna kulit putihnya yang bercahaya. Mereka percaya jika dengan menikahi Pythia bersama sang raja, akan membawa cinta dan kebahagiaan untuk alam semesta.
Pertemuan pertama memberikan kesan menarik saat bermalam bersama di dalam gua, di tengah badai besar, Pythia dan Xavier merasakan kehangatan.
Dapatkah ramalan kebahagiaan itu benar-benar terjadi saat cinta diantara keduanya mulai bersemi? Atau kehancuran yang akan tiba. Lalu bagaimana dengan kehidupan Pythia yang sebelumnya, yang jelas-jelas ia sudah bertunangan? Simak kisahnya yang penuh misteri dan cinta bergelora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meldy ta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Rumit
Xavier terluka cukup berat sampai tangan juga kakinya mengeluarkan darah. Baron berserta yang lain membawa Xavier pulang, namun ketika sampai Pandora menjerit histeris saat melihat suaminya tiba.
Ia berlari ketika mendengar teriakan Baron saat memberitahu bahwa keadaan Xavier sedang kritis. Membuat kepanikan seisi istana, tetapi tidak dengan Frederick yang justru merasa cemburu ketika kekasihnya—Pandora sangat memberikan perhatian kepada Xavier.
"Apa yang sudah terjadi? Kenapa kau sampai membiarkan Xavier terluka seperti ini? Baron, jika suamiku tidak selamat, maka kau orang pertama yang akan aku salahku," ancam Pandora dengan berlinang air mata.
"Maafkan saya, Ratu Pandora. Tapi, saya juga tidak menginginkan hal ini terjadi kalau seandainya saja Pythia tidak pergi dari istana kita," bantah Baron demi membela diri.
"Pythia, kau penyebab dari semua ini," gerutu Pandora dalam batinnya.
Menunggu Xavier yang sedang diobati oleh dokter, namun dengan tiba-tiba Frederick menarik tangan Pandora untuk menjauh dari semua orang.
"Apa-apaan kau ini?" tanya Pandora sembari berusaha berontak.
"Kau yang apa-apaan, Pandora? Kenapa harus menangis histeris seperti itu? Dia hanya terluka, tapi tidak mati."
"Enteng sekali ucapanmu, Frederick. Kau pikir aku akan berdiam diri melihat suamiku sendiri terluka? Meskipun dia akan baik-baik saja, tapi Xavier tetaplah suamimu, dan kau hanya sebagai kekasihku. Jadi tolong, jangan minta Aku untuk tidak menangis ataupun memberi perhatian," tegas Pandora sembari menunjuk dengan tatapan tajam.
"Tapi, aku cemburu, Pandora, kau tahu itu? Tolong! Jangan berikan perintah saat di depanku."
"Maaf, tapi keadaannya sangat berbeda, Frederick. Saat ini Xavier terluka, dan aku sangat mencemas dia walaupun aku tahu sifatnya terkadang membuatku naik darah. Hanya saja jika ini terjadi padamu, aku pun akan melakukan hal yang sama. Tenanglah, kita akan bersama-sama walaupun aku memberi perhatian untuk suamiku. Jadi sekarang, ayo kita ke sana. Jangan sampai Baron curiga dengan tidak adanya keberadaan kita di tempat itu."
"Pandora, tapi aku-"
"Cukup, Frederick. Sekarang bukan waktunya untuk bertengkar. Ayo ke sana," paksa Pandora dalam ajakannya hingga menarik tangan Frederick dengan keras.
***
Terbangun dari tidurnya dalam penuh ketakutan saat Pythia merasa ada mimpi buruk yang ia sedang. Terlihat Xavier sedang ditimba batu besar yang cukup mengerikan, hingga Pythia tidak sanggup untuk kembali mengingat semua mimpi buruknya itu.
Merasakan sentuhan saat William mengusap wajahnya yang dibasahi keringat dingin karena bermimpi buruk, namun kehadirannya William membuat Pythia begitu terkejut.
"Ada apa, Sayang? Kau bermimpi buruk di siang hari?"
"Bagaimana kalau masuk setelah aku mengunci pintu kamarnya, William?"
"Apa kau lupa? Jika ini apartemen mu, dan aku memiliki kunci cadangan. Lagi pula kenapa kau tidak mau menjawab saat aku selalu bertanya padamu? Jawab aku, apa barusan bermimpi buruk? Terkadang aku merasa kalau kau mengabaikan diriku, Pythia." William mulai mengeluh.
"Um, maafkan aku. Tapi, aku tidak begitu fokus, dan ya mimpinya aneh."
"Katakan mimpi apa, Sayang?"
"Entahlah, mimpinya tidak begitu jelas. Tapi, William, apa kau marah padaku karena aku mengunci pintunya?"
"Tidak. Hanya saja ... aku sedikit heran kenapa setelah kau kembali begitu banyak perubahan yang aku lihat padamu, Pythia. Padahal, kau menghilang dua Minggu, tapi rasanya sifatmu berubah seperti dua tahun."
"Aku ... tidak berubah. Aku masih sama," sahutnya dengan perlahan. "Maafkan aku, tapi aku belum berani untuk memberitahukan tentang mimpiku ini padamu, William. Semoga saja Xavier baik-baik saja," batinnya.
"Ya sudah. Maafkan aku kalau sudah menaruh curiga padamu, Sayang. Sekarang bersikaplah, dan ganti bajumu. Kita akan ke rumahmu, pasti Mama Hera sudah sangat mencemaskan kita, dan tadi aku sudah sempat mengunjungi Irene. Kau masih ingat dengannya, kan?"
"Ya, dia sahabatku. Mana mungkin aku lupa. Ya sudah aku mandi dulu."
"Aku akan tunggu di luar."
***
Pythia keluar dengan gaun merah lengan sebelah, ditambah helaian rambut pirangnya yang semakin terlihat menggoda. Membuat kecantikannya semakin terlihat, dan William tersenyum manis.
"Kau siap? Mamamu pasti akan sangat senang melihat kita, dan ini janjiku untuk membawamu kembali dalam keadaan baik-baik dan selalu cantik seperti ini," puji William sebelum akhirnya memberikan kecupan tepat di bibir Pythia, saat dirinya mulai semakin tidak tahan untuk hanya sekedar menatap.
"Ya, aku siap." Pythia membalas dengan menggenggam tangan kekasihnya.
Kedatangan Pythia disambut dengan penuh rasa ceria dan penuh kebahagiaan oleh Mama Hera dan Irene. Mereka saling memeluk dengan begitu erat sampai berlinang air mata.
"Sayang, kau kembali. Mama sangat senang melihatmu. Tolong jangan lagi pergi tinggalkan Mama."
"Tentu tidak, Ma. Aku akan tetap di sini untukmu."
"Baguslah, sekarang Mama sangat lega dan hanya memikirkan tentang pernikahanmu dengan William. Terlebih aku sudah sangat bersalah sudah memusuhi calon menantuku sendiri," ucap Mama Hera sembari melirik ke arah William.
"Jangan cemas, Bu. Aku tidak pernah menaruh dendam atas sikapmu, kau pantas melakukannya. Tapi mulai sekarang, aku tidak akan membiarkan Pythia pergi jauh lagi tanpa diriku," sahut William dengan hati mulai.
"Kalian sangat cocok sekali," puji Mama Hera sembari mengusap kedua pipi Pythia dan William secara bergantian. Namun tiba-tiba, pandangannya tersadar saat melihat leher putrinya polos tanpa ada kalung liontin mahkota.
"Tunggu. Di mana kalung mu, Nak?"
"Um, entahlah, Ma. Sepertinya terjatuh saat kecelakaan kapal itu. Lagi pula itu hanya kalung biasa, kan? Aku pasti akan mencarinya ke toko lain."
"Ya sudah tidak apa-apa. Yang terpenting sekarang kau sudah di sini dan selamat. Mama sangat senang."
"Walaupun kalung itu hanya ada satu-satunya yang asli karena dibuat langsung dari dunia paralel, tapi mana mungkin bisa lepas dan jatuh sendiri, Pythia. Sedangkan aku sudah mengunci kalung tersebut dengan mantra ku, dan hanya pihak keluarga atau yang terikat dengan darah yang bisa melepaskan kalung tersebut. Sebenarnya aku heran, ke mana kau pergi menghilang selama ini? Tapi, ini bukanlah waktunya untuk aku bertanya," batin Mama Hera yang merasa ada yang aneh.
"Ayo sekarang kalian berdua makan dulu, pasti belum makan, kan?"
"Sudah, Ma. Kebetulan tadi William mengajakku ke apartemennya, dan kami makan bersama di sana."
"Baguslah kalau begitu. Jadi karena kalian berdua sudah di sini, aku ingin agar pernikahan kalian langsung saja disegerakan. Aku takut terjadi sesuatu padamu lagi, Pythia. Mama tidak ingin kau pergi lagi."
Seketika Pythia terdiam karena terus-menerus ia mendengar tentang pernikahan. Hati kecilnya rasanya tidak ingin, namun tidak ada pilihan lain.
Berbeda dengan William yang justru tersenyum penuh ceria sembari berkata. "Kita akan segera atur tanggal pernikahannya, Bu. Yang pasti bagian tempat dan semua persiapan akan diatur oleh keluargaku. Mereka akan terbang ke mari dari Paris, kebetulan Papa di Paris sudah libur kerja. Jadi mungkin besok malam kita bisa memastikan tanggalnya."
"Ide yang bagus, Mama juga setuju, Nak William. Kalau begitu malam ini kalian berdua menginap lah di apartemen. Apalagi pasti kalian sama-sama saling rindu, kan? Jadi, aku tidak akan memaksa untuk putriku tidur denganku, pastinya yang sangat merindukannya juga, William."
"Aku setuju saja, Bu. Hanya saja ... semua itu kembali lagi kepada keputusan Pythia sendiri. Apa kau setuju jika malam ini tidur di apartemenku, Sayang?" tanya William sampai membuat Mama Hera dan Irene menatap Pythia.
aduh ga sabar sayaa
eh rupanya udah up thor