Aisyah, seorang gadis yang memilih berhijrah dan menutup wajah nya dengan selembar kain (cadar) semenjak SMA. Gadis yang membuat banyak laki-laki ingin menikahi nya, namun lagi-lagi ditolak oleh nya.
Kemudian, hatinya terperangkap oleh seorang pemuda bernama Fatih, yang ternyata adalah dosen baru di Kampusnya. Meneguk manisnya rumah tangga, hingga akhirnya harus berpisah dengan Fatih suaminya dengan cara yang sangat menyakitkan.
Cerita lengkapnya akan temen-temen baca di novel "MADU" ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noktafia Diana Citra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
H-2 sebelum acara pernikahan dan akadku dengan ustadz Fatih. Aku masih aktif kegiatan dikampus. Masih seperti biasa kuliah dan bertemu dengan teman dekatku Azizah. Rasanya rindu juga dengannya, setelah beberapa hari libur kuliah. Rindu jahilnya, cerewetnya, dan rindu kebaikan serta perhatiannya kepadaku.
Tanggal pernikahanku sudah ditetapkan akan dilaksanakan dihari Jumat pula, tanggal 6 April 2018. Aku belum sempat bercerita apapun kepada Azizah. Niatnya nanti sepulang kegiatan dikampus, aku ingin menceritakan kepadanya. Aku takut dia salah paham dan marah kalau aku tidak memberikan info mengenai lamaran dan pernikahanku padanya.
Seperti kebiasaanku sebelumnya, aku duduk dibangku sambil menunggu jam kuliah dan tidak langsung menuju keruang kelas. Aku masih menanti sosok Azizah nongol menghampiri ku. Tapi hampir 30 menit aku duduk disini, Azizah belum terlihat juga batang hidungnya. Apa dia tidak masuk kuliah hari ini?,". Tanyaku menerka.
Jam kuliah sebentar lagi akan dimulai. Aku memutuskan untuk beranjak masuk kedalam ruang kelas. Benar saja, sampai disana pun, aku tidak mendapati Azizah disana. Kemana dia?. Koo ngga kuliah?. Aku khawatir.
To Azizah WA :
"Assalamualaikum Zah, kamu dimana?, ngga kuliah hari ini?, kamu kenapa?, sakit?,". Aku memutuskan untuk mengirimkan chatt lewat WhatsApp ke Azizah. Ngga biasanya dia tidak masuk tanpa mengabariku.
Bangku sampingku kosong. Sampai perkuliahan selesai belum ada tanda-tanda balasan chatt WhatsApp yang masuk keponselku. Kemana anak itu pergi?, aku semakin khawatir.
Jam 9:00 jam mata kuliah kedua akan dimulai. Sekarang baru jam 8:45. Masih ada 15 menit, lumayanlah untuk kekoperasi sebentar. Tenggorokan rasanya kering, ditambah kecemasanku kepada Azizah yang tidak masuk kuliah dan tidak ada kabar. Aku berjalan sendirian menuju koperasi. Sepi rasanya tidak ada anak itu, batinku.
Di tengah jalan, aku berpapasan dengan calon suamiku, eh maksudku ustadz Fatih. Entahlah, masih asing dan canggung rasanya menyebut dia dengan sebutan calon suami, meskipun sudah lamaran dan dua hari lagi kami akan menikah.
Dia terlihat akan mengajar disalah satu kelas.
Jantungku berdegup sangat kencang, keringat dingin keluar semua. Aku sama sekali tidak berani melirik apalagi memandang. Aku seperti anak yang tertuduh, menunduk.
Aku merutuki diriku, yang keluar kelas untuk kekoperasi. "Astaghfirullah Syah, harusnya kamu tahan hausnya. Jangan keluar kelas, jadi ngga akan ketemu dengan dia, maksudku calon suami, eh maksudnya ustad Fatih,". Gerutuku dalam hati.
Aku menunduk dan berjalan sangat cepat, sampai aku merasakan menabrak seseorang. "Astaghfirullah'haladziim....,". Pekiku.
"Hahaha...., kenapa si lu, jalan nunduk kek terdakwa gitu,". Ucap orang yang kutabrak barusan. Aku sangat mengenal suara itu. Azizah...., itu suara Azizah. Aku langsung mengangkat kepalaku dan melihat orang yang barusan kutabrak.
"Azizah... !,". Aku memasang ekspresi kesal kepadanya. Sudah tidak masuk kuliah, hilang tanpa ada kabar, dan sekarang malah ditabrak tertawa-tawa.
"Sstt. Syah, pak Fatih melirik kearah elu dan tersenyum bahkan tertawa kecil saat tau elu nabrak gue,". Ucap Azizah berbisik.
Apa..., berani-beraninya dia menertawakan aku, sedang aku gemetar di buat nya. Awas ya, kalo udah sah. Akan aku balas, ucapku dalam hati. Tapi sepertinya gumammanku tadi hanya sebatas angin lalu saja. Mana mungkin aku berani balas. Berpapasan saja aku sudah mati kutu. Aku menghela nafas panjang.
Aku menarik tangan Azizah mengikutiku kedalam koperasi. Aku sudah tidak tahan, haus sekali rasanya.
"Eehh mau kemana, gue ga mau beli apa-apa Syah,". Ucap Azizah bingung.
"Siapa yang suruh kamu beli, anterin. Aku pengen minum,". Jawabku datar.
"Yaelaahh ini anak. Gue baru dateng udah disuruh-suruh,".
"Lagian, siapa suruh ga berangkat kuliah tanpa kabar, aku hubungin juga ga ada respon. Bikin khawatir orang aja,". Gerutuku.
"Lah, ngambek. Ciee..., elu khawatir juga ternyata Syah. Hahaha... gue emang ngangenin,". Jawab Azizah sambil cengar-cengir.
"Pede amat,". ucapku sambil meninggalkan Azizah.
"Elaahhh, Syah. Udah di anterin malah gue ditinggal gitu aja,". Ucap Azizah membuntutiku.
Aku dan Azizah sampah ke ruang kuliah. Sebentar lagi kuliah akan di mulai. Aku bahkan belum menanyakan ke Azizah, kemana dia pergi saat jam kuliah pertama.
"Zah, kamu dari mana si?!,nkok ngga ikuti kuliahnya Bu Indarti?,". Tanyaku sambil meminum teh manis dingin yang tadi kubeli dikoperasi
"Hehehe..., sejujurnya gue tuh telat bangun Syah. Kedua kalinya, tugas Bu Indarti sama sekali belum gue kerjain. Jadi yaudahlah gue bolos aja,". Jawab Azizah sambil cengar-cengir.
"Astaghfirullah zah-zah, aku khawatir. Kirain kamu kenapa, dihubungi juga ngga ada respon,". Gerutuku.
"Ya sorry ukhtykuu, kan gue juga siap-siap mandi buat berangkat kuliah sekarang,".
"Tumben,". Balasku datar.
"Tumben?, apanya yang tumben?,". Tanya Azizah penuh selidik.
"Ya tumben mandi, kan biasanya ngga mandi kamu, hahaha,". Aku terkekeh meledek Azizah.
"Enak aja lu, gini-gini masalah mandi mah gue ga kalah sama elu Syah,". Azizah juga tertawa kepadaku.
"Iya-iya aku percaya,". Aku nyengir.
"Eh Zah, nanti sore setelah kegiatan kampus selesai kamu ga ada acara kan y,". Tanyaku pada Azizah. Aku ingin menceritakan semuanya padanya.
"Kaya nya si engga ada. Kenapa Syah?,". Tanya Azizah sambil membuka tasnya.
"Ada yang ingin aku omongin sama kamu Zah,". Jawabku pendek.
"Tentang?,".
"Ada deh, rahasia. Nanti kamu bakal tahu kok apa yang ingin aku ceritakan ke kamu,".
Jawabku terkekeh, karena melihat ekspresi bingung dari wajah Azizah.
"Yaelah elu, pake rahasia-rahasia segala, udah kaya kek dokumen negara lu,". Jawab Azizah kesal.
"Sstt, diem. Pak Hendro sudah masuk,". Bisikku. Syukurlah dosen ilmu resep sudah masuk ke kelas. Nasibku terselamatkan dari cecaran pertanyaan bertubi-tubi dari Azizah. Aku melirik kearah Azizah dan terkekeh.
Kegiatan perkuliahan hari Rabu ini, selesai pukul 15:00. Aku mengajak Azizah untuk ke masjid. Kebetulan tadi baru saja terdengar adzan. Alhamdulillah masih bisa berjamaah pikirku.
Seusai shalat ashar berjamaah, aku mengajak Azizah ketaman kampus. Azizah menurut saja denganku. Kami duduk dibawah pohon mangga yang sedang tidak berbuah. Tapi daun-daunnya sangat lebat, hingga rasanya adem apalagi sore-sore begini. Angin sibuk berhembus kesana kemari menerpa kami berdua.
"Syah, elu mau ngomong apa si?,". Azizah membuka percakapan sore itu.
Aku meliriknya dan tersenyum.
"Zah, dua hari lagi aku akan jadi milik seseorang,". Jawabku menerawang kedepan.
"Maksudnya?, kan emang sekarang elu milik seseorang, milik Abi sama Umi elu," Jawab Azizah polos.
"Bukan Zah, maksudku dua hari lagi aku akan jadi istri orang,". Jawabku.
"Apa!!. Lu mau ngeprank gue ya?!, maksud elu apa si bercanda kaya gini, ngga lucu!?. Jawab Azizah yang begitu kaget dan tak percaya pada apa yang barusan aku ucapkan.
Aku tersenyum, aku tak tersinggung. Wajar jika reaksi Azizah seperti itu, apalagi dia juga belum tau bahwa aku sudah dilamar. Pantas saja jika dia tidak percaya dan sangat kaget, saat aku langsung mengatakan bahwa aku akan menikah dalam waktu dua hari lagi.
"Zah, kamu masih ingat percakapan yang pernah kita lakukan dibecak, sore itu saat akan membeli jajan dipasar jajanan. Waktu itu kamu pernah bilang kepadaku, apa aku tidak ada niatan untuk menikah muda?, dan ternyata Allah dengan cepatnya mengirimkan seseorang untukku,". Aku mengingat percakapan yang pernah aku obrolkan dengan Azizah kala itu, aku melamun.
"Jadi?, elu beneran?, elu ga ngeprank gue?!,". Tanyanya lagi yang masih tak percaya.
"Coba kamu lihat ini,". Aku mengangkat tangan kiriku.
"MasyaAlloh Syah, ini cincin tunangan elu?,". Tanya Azizah sambil mengangkat tangan kiriku yang tersemat cincin dijari manis.
"Iyah Zah,". Aku menganggukkan kepala,". Seminggu yang lalu, aku dikhitbah (dilamar) oleh seorang laki-laki,". Lanjutku.
"Kok elu tega ga ngasih tau aku Syah,". Jawab Azizah ngambek.
"Maaf ya Zah, bukannya ga mau ngasih kabar ke kamu, aku pikir sekalian bikin kejutan untuk kamu. Makanya aku kasih tau setelah tanggal pernikahanku sudah ditentukan,". Aku mencoba menjelaskan ke Azizah, agar dia tidak salah paham.
"Yasudah, lalu siapa laki-laki yang akhirnya bisa memenangkan hati elu Syah?, secara elu sering banget nolak laki-laki bahkan yang menurut gue itu sempurna pun, elu tolak juga,". Tanyaku pada Aisyah penuh dengan rasa penasaran.
"Orangnya, yang tadi kamu bisikin ke aku. Yang katanya dia senyum dan tertawa ketika aku menabrak kamu Zah,". Aku menjawab rasa penasaran Azizah, tapi tak langsung menyebutkan nama.
"Sebentar-sebentar, maksud lu pak Fatih Syah?!,". Tanya Azizah seakan tak percaya.
"Kamu ga percaya kan Zah?, aku sampe detik ini pun ngga percaya, kalau ternyata ustadz Fatih yang Allah kirimkan untuk menyempurnakan separuh agamaku Zah,". Aku melirik Azizah yang masih melongo dan shock.
"Ya Allah Zah, masyaAlloh. Elu tau gue gemeteran Syah, kok bisa Syah?, gimana ceritanya Syah..?,". Tanya Azizah penasaran.
"Kapan-kapan saja ya akan kuceritakan kronologinya. Dampingi aku ya Zah pas aku akad dan nikahan nanti,". Pintaku pada Azizah seraya memeluk nya. Aku menangis dipelukan Azizah.
"Pasti Syah, gue akan datang. Bakal dampingin elu dihari bahagia elu. Gue sampe nangis Syah, bentar lagi kita bakal jarang ketemu Syah. Gila lu ya, tau-tau udah mau nikah aja. Padahal baru gue suruh beberapa hari yang lalu, elu langsung manut aja sama gue,". Candanya disela Isak tangis dan masih dalam posisi memelukku.
"Enak saja. Aku nikah bukan karena disuruh kamu atau manut sama kamu. Hahaha, tapi udah takdirnya aku jadi istri diusia muda,". Jawabku terkekeh sambil melepaskan pelukanku.
"Selamat ya ukhty ku, akhirnya kamu normal juga, hahahah,". Ledek Azizah kepadaku.
"Hahaha..., astaghfirullah, enak aja aku dikatain ngga normal," Aku terkekeh sambil memasang muka cemberut.
"Haha..., bercanda Syah. Ya elaahhh calon pengantin sensi amat,". Dia masih terkekeh.
"Hahahaha..., jangan gitu dong. Aku malu. Yok ah pulang. Udah sore,". Ajakku pada Azizah.
"Haha.., ayok,".
Aku dan Azizah berjalan beriringan, bergandengan tangan. Dan tertawa kadang saling pukul. Aku bahagia memiliki sahabat seperti Azizah. Semoga Allah memberikannya hidayah. Ucapku dalam hati.
author semangat menulis dan readers semangat membaca./Smug/
kata ibu mertua, harus poligami
dasar novel, bikin greget.
lanjut aku baca