Titik balik kehidupan Biandra berada pada saat ia mengalami kehilangan. Semua arus hidupnya diputar paksa dengan skala 180 derajat. Nominal yang akan ditujunya bukan lagi sebuah kilasan anak abg yang galau akan patah hati, lebih dari semua itu dia harus mengalami fase mengenal yang namanya gila. Gila yang benar-benar gila. Harafiahnya ia harus gila. Disisi lain misteri terkuatnya keadaan suatu kondisi rumah sakit kejiwaan yang ternyata memiliki biaya menginap yang lebih fantastis dari hotel berbintang ditemani dengan seorang dokter yang memiliki vitalitas yang terlalu dominan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amaterasu yuki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sel 18
Setelah pertemuan dengan dokter Rayhan dan juga pertengkaranya dengan Levin. Disinilah ia berakhir! Biandra sebenarnya masih ragu untuk melangkahkan kaki lewat dari garis pintu apartemen yang menjulang didepannya.
"Apa yang kau risaukan! Aku menyuruhmu masuk bukan untuk melihatmu terlihat bimbang didepan pintuku. Jangan membuat image ku buruk dilingkungan tempat tinggalku sendiri"
Mendengar itu Biandra masuk!
"Kenapa dokter tidak membiarkan aku berada dirumah sakit jiwa saja"
"kita sudah membahas itu. lagipula yang ku ketahui berada dirumah sakit jiwa untukmu adalah tempat yang kau anggap tepat untuk bersembunyi yang sebenarnya salah total. Kau membuka akses terbuka lebar untuk siapa saja yang berniat melukaimu"
"Tapi tidak dengan apartemen dokter juga"
"Lalu kau ingin aku membawamu kemana? Kerumah oragtuaku. Mereka pasti mengira aku membawa pulang calon istri dan mereka juga tidak berharap anaknya bersama wanita yang divonis akan kesialan yang mengancam nyawanya sendiri"
Biandra diam. Perkataan dokter Rayhan benar! Tapi setelah semua penjelasan itu dia tetap saja merepotkan dokter Rayhan.
"Tidak perlu merasa tidak enak denganku. Sudah kutegaskan kau dapat menghilangkan rasa tidak enakmu dengan menjadi asisten di apartemenku. Lagi pula apartemenku tidak bisa bersih tanpa dibersihkan. Jadi disini kita sama-sama menguntungkan"
"Kau butuh tempat untuk perlindungan dan aku mendapatkan asisten untuk apartemenku" lanjut dokter Rayhan. Setelah itu tidak ada percakapan lagi. Dokter Rayhan sibuk dengan buku-buku tebalnya. Sedangkan Biandra tengah membereskan tempat tidur yang akan menemainya untuk entah beberapa malam kedepan.
***
Biandra masih merasa tidak enak ketika dia menghubungi nomor sahabatnya tak ada balasan apapun dari Levin. sebenarnya ia jarang bahkan hampir tidak pernah bertengkar selama ini dengan Levin. jadi dia memutuskan untuk menemui Levin.
"Kamu hendak kemana" Biandra tidak tahu dokter Rayhan sudah berada diapartemennya. Biasanya jarum jam menunjuk angka 10 dokter itu masih belum berada dirumah. Jadi Biandra tidak perlu repot menyiapkan alasan apapun untuk kepergiannya menemui Levin.
"mmm, aku ingin menemui Levin" dokter Rayhan menghampiri Biandra.
"Kamu, masih belum boleh pergi kemanapun. Aku bukan bermaksud mengurungmu disini. Hanya saja pamammu tadi datang ke rumah sakit jiwa. Dan menanyakan keberadaanmu."
Biandra merasakan panik melanda seluruh pusat kontrol dirinya "Apa dokter mengatakan dimana saja" setelah ia dapat menguasai dirinya perkataan itu yang keluar dari mulutnya
"Tidak! Aku tidak perlu membuang waktuku untuk seseorang yang lebih gila dari pasienku"
"pamanku bukan orang yang bisa dokter hindari begitu saja! Apa yang terjadi sebenarnya" dokter Rayhan tersenyum
"Ya, kau mengenali pamanmu dengan hebat. Tentu saja aku mendapat tonjokkan disekitar daguku oleh anak buahnya"
Biandra tanpa sadar meletakkan tangannya digaris rahang dokter Rayhan. Doketr Rayhan membiarkan interaksi kulit yang tengah mengelus dagunya.
"apa mereka menyakiti dokter"
"tidak, mereka tidak kuizinkan untutk bisa menyakitiku! Tapi sepertinya aku harus meminta maaf padamu"
"Minta maaf? Memang apa kesalahan dokter! Seharusnya aku yang meminta maaf"
"permintaan maafku ini hanya basa basi sebenarnya. Tapi lebih baik kukatakan kan. Aku sengaja melempar bogemanku kearah pamanmu"
Biandra membentuk mulut terbuka dengan mengatup kedua tangan kearah tersebut, memulatkan kedua matanya kearah doketr Rayhan dengan berita kaget yang dibawanya.
"Doketr benar-benar melakukannya"
"Ya. tapi aku harus mendapatkan hadiah untuk itu"
Semenjak beberapa hari menginap disini, Biandra menemukan dokter Rayhan yang lebih dua kali lipat menjengkelkan ditambah dengan skinship dokter itu. seperti sekarang. Ia menunjuk pipinya -minta dicium- yang malah dihadiahi Biandra dengan toyoran dipipi si dokter yang dibalas dokter Rayhan dengan kekehan recehnya.
Biandra mendengus lalu tertawa. Serius menurut Biandra dokter Rayhan adalah manusia unik dengan segala sikap didirinya. Istilah moody tidak cocok untuk doketr satu ini , tapi lebih kearah eum apa ya! ah! Lebih kearah memiliki kepribadian.
"Dokter apa serius melakukan itu?" Biandra masih harus membuktikan kebenaran dari bukti yang didengarnya
"Ya, dan aku sepertinya akan mendapat surat panggilan sebentar lagi. Tapi kau tenang saja, aku sudah menyiapkan tuduhan yan lebih menakutkan"
"Dokter, saya tau dokter ingin membantu saya. Tapi jangan terlibat terlalu jauh. Saya memang merasa senang karena dokter melempar pukulan pada orang sialan itu. Tapi saya tidak menyukai jika dokter terlibat lebih jauh dari ini"
"Aku tidak akan bermasalah Biandra. Percaya padaku"
"Tapi-"
"Ah sepertinya curhatku membuatmu melupakan pekerjaanmu. Sebaiknya kau lekas kembali bekerja, bukannya kau tidak menyukai segala macam pemberian tanpa timbal balik?"
Biandra menatap lama dokter Rayhan, lalu kembali pada aktivitas menjengkelkannya.
***
Biandra sedang berada di minimart sekitar apartemem dokter Rayhan, mengingat persedian bahan makanan mereka sudah menipis. Dokter Rayhan penggila sayuran! Terdengar freak! Dan laki-laki itu benar-benar prima menjalankan hidup sehat.
Selama Biandra tinggal disana, hampir selalu ia mendapati dokter Rayhan telah selesai berolahraga ketika dia bangun. Dirinya memang tidak terbiasa untuk terbangun dipagi hari. Semoga saja dokter Rayhan dapat mentolerir sifatnya yang satu itu.
Dokter Rayhan hanya mengatakan ia membutuhkan secangkir teh hangat dan sarapan pagi di meja makan. Tentu saja itu memperingatkan Biandra untuk bangun lebih pagi dari biasanya. Tapi tetap saja ia telat dari jadwal yang di haruskan.
Bangun pagi itu bukan keahliannya. Jika itu terjadi dokter Rayhan hanya menghela nafas. Dan menjatuhkan hukuman. Hukumannya itu yang menyesakkan! Fokus biandra! Saat ini jangan memikirkan hal tersebut. Saat ini harus berbelanja.
Biandra menuju ke arah kasir ketika bahan dilist sudah terambil, namun dari arah depan ia melihat seseorang mengenakkan pakaian gelap dengan tudung, masker tak lupa kacamata menutupi keseluruhan wajah orang tersebut. Biandra bergidik menyadari arah tatapan orang tersebut kedirinya yang langsung beralih ketika biandra menatap kearah orang tersebut.
Dia merasa suhu tubuhnya meningkat, Biandra tidak mampu menahan rasa pening menyebabkan pandangan kearah depannya buram dengan pandangan yang mengabur biandra terhuyung sesaat dia tidak lagi dpat melihat dengan jelas ketika pandangannya menyeruput kehitaman.
lanjutkan
wkwkw