~NOVEL KE 12~
Namaku Imelda Molly. Orang biasa memanggil ku Imel atau Meli. Usia ku 19 tahun. Dan ini adalah tahun kedua ku di Universitas. Dengan jurusan Pendidikan Kimia yang menjadi prodi pilihan ku.
Aku tak menyangka, kalau hidup ku akan berubah sejak aku menyelamatkan seseorang dari aksi bunuh diri. Karena setelahnya, aku malah memiliki seorang penguntit (stalker). Dan penguntit nya adalah hantu!
Apa sebenarnya alasan hantu itu mengikuti ku ?
Apa hantu itu juga yang sudah meneror keseharian ku kemudian?
Bisakah kalian membantu ku memecahkan semua misteri yang menghantui hidup ku ini?
Terima kasih!
Aaahhh! Lihat!!! Apa itu di belakang kalian?!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meli meilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nomor Telepon
"Kamu memanggil ku, Nona?" tanya lelaki menyebalkan yang telah membuat ku jadi pusat perhatian beberapa pasang mata di sekitar kami.
Aku langsung merutuk sebal dalam hati.
'Uughhh!! Dia memang super nyebelin gak ketulungan!' umpat ku tanpa suara.
Setelah berada sekitar satu meter di depan lelaki itu, barulah aku menjawab pertanyaannya tadi.
"Itu.. bisakah kita bicara sebentar...Kak?" aku berusaha bersikap sesopan mungkin.
Ku lihat dahi lelaki itu mengerut sedikit. Dengan wajah tak bersalah, ia malah menyahut.
"Bukankah memang itu yang sedang kita lakukan sedari tadi?" sahutnya terdengar begitu dingin.
Aku langsung mengepalkan tangan di samping tubuh. Berharap andai saja aku bisa mengacak-acak rambut lelaki itu yang kini tertutupi oleh hoodie.
Lagipula, panas terik begini, siapa juga yang tetap memasang hoodie nya untuk menutupi kepala?
'Apa dia gak takut kepalanya gosong karena kepanasan disekap?' Pikiran ku mulai melantur ke mana-mana.
"Hh.. Nona. Cepat katakan yang ingin kau katakan. Karena aku harus kembali ke kelas ku lagi segera!" tegur lelaki di depan ku itu.
Aku tersentak kaget saat menyadari teguran halus tersebut.
"Jam masuk masih cukup lama. Setengah jam lagi kan?" Komentar ku semakin meracau.
Lelaki itu memandangku dengan tatapan yang seperti bermakna, 'Kau ini kenapa sih?'
Aku langsung mengalihkan tatapan ku ke tempat lain. Meski itu hanya untuk sebentar saja. Aku juga bingung sendiri. Kenapa setiap kali berhadapan dengan lelaki ini, aku malah seringnya mempermalukan diriku sendiri?
'Dan kenapa juga dengan komentar bodoh yang ku ucapkan tadi? Kenapa aku tak langsung bertanya saja tentang kemampuannya melihat hantu?'
Lagi-lagi aku sibuk berpikir sendiri.
"Nona, apa kau masih di sini?"
Mata ku langsung mengerjap beberapa kali, usai telapak tangan lelaki itu mengayun di depan mata ku. Seketika itu pula wajah ku langsung merah padam menahan malu. Malu karena tertangkap basah telah sibuk dnegan pikiran ku sendiri. Alias sibuk melamun.
"Jadi, bisa aku boleh tahu. Apa yang sebenarnya ingin kau katakan, Nona? Tolong cepatlah!"
"Kamu bisa melihat setan di kolong meja tadi?" tanya ku spontan tanpa disaring.
Sebelah alis lelaki itu pun seketika terangkat.
"Kau juga bisa kan, Nona?" tanya lelaki itu balik.
"Ya.. maksud ku, kamu juga tadi bisa mengusir setan nya? dengan tangan mu?" cecar ku lagi.
"Apa hanya itu yang ingin kau tanyakan, Nona?"
Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, lelaki itu kembali berkata.
"Jawabannya adalah ya. Maaf, jika kau menganggap ku ikut campur dnegan urusan mu. Tadi itu aku hanya refleks saja melakukannya. Ku pikir setan itu tadi bermaksud untuk mengganggu ku. Jadi, lain kali aku akan berhati-hati untuk tidak mencampuri urusan mu lagi!" jawab lelaki itu dengan nada dingin.
Setelah berkata sepeti itu, lelaki itu langsung saja berbalik dan melanjutkan langkahnya kembali. Melihat itu, spontan saja aku kembali mengejarnya.
"Tunggu sebentar! aku belum selesai bicara!" aku memanggilnya sambil berlari kecil.
Dan secara tiba-tiba lelaki itu berhenti dan kembali berbalik. Aku yang tak sempat mengerem langkah ku akhirnya harus menahan malu saat tubuh ku menubruk bagian depan tubuh nya.
Bruk!
Beruntung bagi kami, tubrukan itu tak terlalu kencang. Namun kemudian aku harus menahan rasa malu kembali karena kini jarak kami berdua jadi sangat-sangat dekat.
Mata ku membulat lebar saat melihat wajah tampan lelaki itu. Namun keterpukauan ku itu hanga berlangsung sekejap saja. Karena detik berikutnya lelaki itu langsung melangkah mundur dan memberi jarak di antara kami kembali.
"Ehem! Apa yang ingin kau katakan lagi, Nona?" tanya nya tanpa memandang ke dalam mata ku.
"Mm.. anu.. Bisakah kau mengajari ku agar aku bisa seperti mu?" ucap ku dengan begitu gugup.
Pandangan kami kembali bertemu.
"Maksud mu apa, Nona?"
Menyadari kalau permintaan ku tadi bisa membuatnya salah kaprah. Akhirnya aku memperjelas kembali permintaan ku sebenarnya.
"Aku ingin bisa membela diriku sendiri saat menghadapi kejadian-kejadian ganjil seperti tadi. Maksud ku.. Sering kali makhluk halus muncul tiba-tiba fan mengganggu ku. Sementara seringnya aku hanya bisa melarikan diri aja darinya. Jadi.."
"Jadi..?"
"Jadi, apa kau juga sering mengalaminya? Menghadapi gangguan makhluk halus seperti tadi misalnya? Lalu bagaimana caramu bisa melawan gangguan-gangguan itu?"
Lelaki itu tak segera menjawab pertanyaan ku. Ia agak lama terdiam dan hanya menatap ku saja lekat-lekat. Setelah beberapa lama, tiba-tiba saja ia bertanya.
"Hh.. berikan aku nomor ponsel mu!" Pintanya kemudian.
"Hah?" aku terkejut dengan permintaannya itu.
"Nomor ponsel mu, Nona? cepat lah! Aku harus segera kembali ke kelas ku!" ucap lelaki itu kembali.
"Ee.. Ba.. Baiklah! Kosong delapan...bla..bla..bla.."
"Aku akan menghubungi mu nanti. Terkait pertanyaan mu tadi. Nona. Kalau begitu, kita akhiri sampai di sini dulu ya. Permisi.."
Tanpa berkata apa-apa lagi, lelaki itu kemudian berlalu pergi begitu saja.
Aku hanya bisa mematung di tempat ku berdiri selama beberapa waktu. Setelah lama terdiam di tempat, aku telat menyadari adanya hal mengganjal yang dilakukan oleh lelaki itu tadi.
Sambil memikirkan hal aneh tersebut, ku putuskan untuk kembali ke warung soto ayam Bang Oman. Tempat di mana Rona pasti sedang kesal menunggu ku saat ini.
"Kenapa dia tak menanyakan nama ku? Bagaimana caranya menyimpan nomor ponsel ku kalau ia tak tahu nama ku? Atau.. apa jangan-jangan dia sudah tahu nama ku? Tapi.. kami kan belum berkenalan.." gumam ku sambil berjalan pelan.
Sesaat kemudian aku kembali teringat hal lainnya.
"Ah! ya!Aku lupa menanyakan namanya! Iishhkk.. Mel.. Mel.. bisa-bisanya kamu se ceroboh ini! Lagipula, kenapa setiap kali berada di dekat lelaki itu aku mendadak jadi bodoh begini ya? huuhh.. dasar payah kamu, Mel!" gumam ku masih terus berlanjut.
Sesampainya di warung soto ayam Bang Oman, ternyata benar. Rona sudah kesal menunggu ku.
"Lama banget sih? Udah tukeran nomornya?" Tanya Rona meledek ku.
Aku hanya menjulurkan lidah ku ke arah nya tanpa memberikan penjelasan lebih tentang pertemuan ku dengan lelaki tadi.
"Aku habisin soto ayam ku dulu ya? Nanggung sedikit lagi tuh!" tunjuk ku ke arah mangkok pesanan ku.
Biar kata sedikit dan sudah dingin, aku paling pantang meninggalkan sisa di piring makan ku. Karena itu namanya mubadzir! Dan Emak selalu memperingatkan ku agar tidak mubadzir sedari aku masih kecil dulu.
"Ya udah. Ku tunggu deh. Tapi gol ya! Gak Pake Lama!" Rona memberikan ultimatum nya.
Yang ku jawab dengan jawaban santai.
"Iya, Neng..hihihi.."
***
Ry Benci Pakpol Mampir