Aurora Monique Ragnhild Nicandro, gadis berusia dua puluh delapan tahun yang ingin mempunyai anak, tapi dia tidak mau menikah.
Apakah yang akan dilakukan oleh Aurora.??
Apa dia akan mengadopsi seorang anak, atau memilih akan melakukan donor sp3rma.??
Ide gila tiba-tiba muncul dari dalam otaknya, ketika takdir mempertemukannya dengan seorang laki-laki yang bernama Enzo.
Mau tahu, apa yang akan di lakukan Aurora kepada Enzo.??
Dan bagaimana reaksi dari Enzo, ketika tahu jika Aurora hanya memanfaatkannya saja demi mendapatkan anak darinya.
Yuk, simak kisah mereka berdua di novel saya yang ke sekian, maaf jika nanti banyak typo🤗😉.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maria_azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAKAN MALAM
Setelah bisa menyelesaikan itu semua, Aurora merasa lapar sekali, karena seharian itu, dia cuma makan makanan yang tadi dibeli oleh Dickie, selebihnya dia hanya minum air putih saja.
Aurora tubuhnya sudah mulai lemas, karena seharian membersihkan rumah Dickie.
" Perutku lapar sekali ," kata Aurora.
" Aku akan mencari di dalam kulkas, apakah ada yang bisa aku makan ," kata Aurora lagi.
Aurora lalu beranjak menuju ke dalam dapur, untuk mengecek kulkasnya Dickie.
Aurora melihat ada cukup banyak bahan sayuran dan makanan yang tersedia di dalam kulkas.
" Aku bisa memasak ini semua, kira-kira Dickie pulang jam berapa ya,?? aku jadi ingin memasakkan untuknya ," kata Aurora berbicara sendiri.
" Emm, lebih baik aku mengisi perutku dulu, rasanya sudah melilit sakit, karena menahan lapar ," kata Aurora lagi.
Aurora lalu mengeluarkan secukupnya bahan makanan yang ingin di masaknya untuk dia makan, tidak lama, cuma sekitar dua puluh lima menit, akhirnya makanan itu pun sudah jadi dan siap dia santap.
Baru saja ingin menyuapkan satu sendok makanan ke dalam mulutnya, telinga Aurora mendengar suara Dickie yang sudah pulang dari rumah sakit.
" Aku pulang, Aurora ," kata Dickie.
" Aku ada di sini ," kata Aurora sedikit berteriak.
" Rumahnya bersih sekali ," kata Dickie sambil memperhatikan rumahnya.
" Aurora, rumahnya bersih, apa kamu yang membersihkannya?? ," tanya Dickie.
" Waaah, sepertinya enak tuh makanannya?? ," kata Dickie lagi, ketika melihat sepiring makanan yang ada di depan Aurora.
" Eh maafkan aku Dickie, aku memasak bahan makanan yang ada di dalam kulkas ," kata Aurora kepada Dickie.
" Iya tidak apa-apa, emm, bolehkah aku memintanya sedikit ," kata Dickie.
" Iya, ini makanlah, ini baru saja matang belum aku makan sama sekali ," jawab Aurora kepada Dickie.
Dickie yang sudah duduk di kursi makan sebelah Aurora, dia langsung meminta makanan yang tadi ingin Aurora makan, padahal Aurora sudah sangat lapar sekali.
" Hmm, enak Aurora, kamu sepertinya pandai memasak ," kata Dickie ketika sudah mencicipi masakan Aurora.
" Syukurlah jika kamu suka ," jawab Aurora sambil menelan air liurnya.
" Habiskanlah, aku mau masak yang lainnya lagi, jika kamu mau, aku bisa memasakkannya lagi untukmu ," kata Aurora kepada Dickie.
" Iya, aku mau, masaklah yang banyak, nanti jika sayuran yang ada di dalam kulkas habis, aku akan menyetok yang lebih banyak lagi ," jawab Dickie.
" Baiklah, tunggu sebentar ," kata Aurora.
Dickie hanya mengangguk saja kepada Aurora, setelahnya, Aurora pun mulai memasak lagi dengan bahan-bahan yang masih ada di dalam kulkas.
Dickie memandang Aurora dengan terpesona, ketika dia melihat Aurora memasak dengan begitu lihainya.
Bibirnya menyunggingkan senyum tipis, sambil melamun memikirkan pertemuannya tadi dengan Mama Paulita dan Ayah Bogy.
Sebenarnya Dickie jam prakteknya tidak pagi sekali, namun sekitar jam sepuluh pagi, akan tetapi Dickie sengaja pergi pagi-pagi sekali, karena dia ingin mengunjungi kampung halaman Aurora, yang sudah Aurora ceritakan kepadanya.
Sesampainya di desa tersebut, Dickie langsung mencari rumah seperti yang sudah pernah Aurora ceritakan.
Di saat sudah yakin, jika rumah yang ada di depannya adalah rumah Aurora, Dickie pun mencoba bergeser ke rumah sebelah untuk menemui Mama Paulita dan Ayah Bogy.
Mama Paulita dan Ayah Bogy merasa sangat terkejut sekali kedatangan tamu yang sangat tampan dan juga mapan, yang pagi-pagi sekali datang ke rumah mereka.
" Maaf, anda mencari siapa ya Tuan?? ," tanya Mama Paulita kepada Dickie pada saat itu.
" Apakah benar anda yang bernama Nyonya Paulita dan Tuan Bogy?? ," tanya balik dari Dickie.
" Benar Tuan ," jawab Ayah Bogy.
" Bolehkah saya masuk ke dalam?? ," tanya Dickie.
" Oh, silahkan Tuan, maaf rumah kami jelek ," jawab Ayah Bogy.
" Tidak masalah bagi saya ," jawab Dickie sambil tersenyum ramah.
Dickie pun lalu masuk ke dalam rumah, dan duduk di ruang tamu bersama Ayah Bogy dan Mama Paulita.
Ayah Bogy dan Mama Paulita, lalu bertanya lagi tentang kedatangan Dickie ke rumahnya.
" Apakah anda mengenal Aurora?? ," tanya Dickie.
" Iya, kami sangat mengenalnya, dia tinggal di sebelah, tapi sejak kemarin dia belum pulang, dan hal itu membuat kami sangat khawatir sekali ," jawab Mama Paulita.
Ada guratan kesedihan yang terlihat di wajah Mama Paulita, ketika menjawab pertanyaan dari Dickie.
" Anda tenang saja Nyonya, Aurora ada di rumah saya, dia aman sekarang, dan kedatangan saya ke sini, karena suruhan Aurora, untuk menyampaikan kepada kalian supaya jangan khawatir kepadanya ," kata Dickie kepada Mama Paulita dan Ayah Bogy.
Ayah Bogy dan Mama Paulita merasa sangat terkejut sekali, dan tidak menyangka dengan apa yang tadi mereka dengar.
" Sungguh Tuan, anda tidak berbohong kan kepada kami?? ," tanya Ayah Bogy.
" Sungguh Tuan, saya tidak berbohong, percayalah, saya bukan orang jahat ," jawab Dickie dengan ramah.
" Ada sesuatu hal yang tidak bisa saya ceritakan kepada kalian, kenapa Aurora pergi menghindar dari desa ini, tapi percayalah, dia saat ini baik-baik saja, dan dia juga menitipkan rumah, ladang beserta semua domba-dombanya kepada kalian ," kata Dickie lagi.
" Sebagai tanda terimakasih, Aurora juga berpesan, hasil dari ladang dan dombanya, untuk memenuhi kebutuhan kalian saja ," kata Dickie.
" Tapi Tuan, Nyonya, saya dan Aurora ada satu permintaan kepada kalian berdua ," kata Dickie lagi dan lagi.
" Apa itu Tuan?? ," tanya Mama Paulita.
" Jika ada yang datang ke sini, dan bertanya di mana keberadaannya Aurora, jangan pernah kalian memberitahukannya kepada siapapun jika dia bersama saya, atau nyawa Aurora akan terancam, apa kalian mengerti Tuan, Nyonya ," jawab Dickie kepada Mama Paulita.
" Mengerti Tuan, kami sangat mengerti sekali ," jawab Ayah Bogy kepada Dickie.
" Baiklah, hanya itu yang ingin saya sampaikan, kalau begitu saya permisi dulu Tuan, Nyonya ," kata Dickie lagi.
" Baik Tuan, tolong jaga Aurora, dia anak yang baik, hanya saja nasibnya yang kurang baik ," pesan Ayah Bogy kepada Aurora.
" Pasti Tuan, saya akan menjaganya, selamat pagi ," kata Dickie.
Ayah Bogy dan Mama Paulita hanya mengangguk dan tersenyum ramah saja kepada Dickie yang ingin masuk ke dalam mobilnya.
Setelah berpamitan pergi, Dickie pun langsung tancap gas menuju ke rumah sakit tempatnya bekerja.
Dickie teringat itu semua, dan dia semakin merasa kasihan sekali dengan Aurora, yang ternyata kehidupannya lebih menyedihkan dari yang sudah dia bayangkan.
" Hei Dickie ," panggil Aurora kepada Dickie.
" Dickie ," teriak dari Aurora.
" Eh iya Ra, ada apa?? ," tanya Dickie akhirnya tersadar dari masa melamunnya.
" Ini masakannya sudah jadi, kamu bukannya di habiskan makannya, malah melamun saja, sudah dingin kan jadinya makanan itu ," kata Aurora.
" Kamu sudah selesai masaknya Ra?? ," tanya Dickie.
" Iya, ayo, kita makan lagi ," jawab Aurora.
" Sepertinya aku akan mengijinkanmu untuk tinggal di sini selamanya Aurora, karena aku bisa menjadi sehat dan gemuk ," kata Dickie menggoda Aurora.
" Kamu bisa saja Dickie, bagaimana enak tidak masakan sederhanaku ," kata Aurora.
" Enak Ra, aku suka ," jawab Dickie dengan sangat senang sekali.
Malam itu, mereka berdua untuk pertama kalinya begitu akrab sambil menikmati makan malam mereka, dengan diiringi canda dan tawa dari mereka berdua.
...✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️...
...***TBC***...