Masa-masa SMA memang masa-masa yang tidak bisa dilupakan. Mulai dari percintaan, persahabatan, bahkan perseteruan diantara sesama teman.
Bagaimana jadinya jika para anak-anak sultan berkumpul menjadi satu? banyak suka duka, canda tawa, yang akan mereka rasakan.
Yuk, simak keseruan mereka dalam masa-masa remaja yang sangat menyenangkan dan dibalut dengan kisah komedi yang akan mengocok perut kalian semua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Curi-curi Pandang
Setengah jam pun berlalu, Alea dan Gavin tampak menghembuskan napasnya.
"Akhirnya selesai juga, apa kamu baik-baik saja?" tanya Gavin.
"Iya Kak, aku baik-baik saja kok."
Alea hendak melangkahkan kakinya hendak masuk ke dalam kelasnya tapi lagi-lagi Gavin menahannya.
"Tunggu, Al."
"Ada apa, Kak?"
Gavin menghampiri Alea dan berdiri di depan Alea membuat jantung Alea berdetak tak karuan. Perlahan Gavin mengulurkan tangannya dan menyeka keringat yang muncul di kening Alea.
"Kamu berkeringat."
"Ah, iya terima kasih, Kak."
Alea segera menyeka keringatnya sendiri dengan tangannya.
"Kalau begitu, aku masuk kelas dulu ya Kak."
Alea berlari dengan cepat masuk ke dalam kelasnya membuat Gavin terkekeh melihatnya.
"Permisi Bu, maaf saya terlambat," seru Alea.
"Iya, tadi Pak kepala sekolah sudah memberitahukannya. Jangan diulangi lagi, dan silakan duduk."
"Terima kasih, Bu."
Alea segera duduk dengan memegang jantungnya yang masih saja berdetak tak karuan.
"Kamu kenapa sampai kesiangan?" bisik Aleena.
"Aku bangun kesiangan, soalnya tadi malam aku chatan sama Kak Gavin sampai larut malam," sahut Alea dengan senyumannya.
"Astagfirullah."
Sementara itu, di dalam kelas Gavin...
"Lo itu permisi ke toilet apa permisi ke kantin? atau jangan-jangan Lo malah ketiduran di toilet karena gak mau mengikuti pelajaran Pak Budi," ledek Garra.
"Diam Lo, memangnya apa urusannya sama Lo? kepo aja kaya emak-emak komplek," sahut Gavin.
"Garra, Gavin, diam kalian! kalau kalian mau berantem, keluar dari kelas saya!" bentak Pak Budi.
Gavin langsung terdiam, sedangkan Ghani mencoba menenangkan Garra.
"Sudah Garra, jangan cari gara-gara sama mereka," seru Ghani.
Garra dan Gaza menatap Ghani bersamaan, mereka merasa aneh dengan sikap Ghani yang seperti itu.
"Jangan lihatin gue kaya gitu, sekarang fokus saja pada pelajaran," seru Ghani.
Waktu berjalan dengan sangat cepat, bel istirahat berbunyi. Genk Gavin dan Genk Alea keluar dari dalam kelas mereka secara bersamaan, seketika Alea tersenyum ke arah Gavin begitu pun dengan Gavin.
Tiba-tiba, Gaza datang dan menarik tangan Alea.
"Al, aku mau bicara sebentar sama kamu," seru Gaza sembari membawa Alea pergi.
"Nah Lo, si kutu buku ngapain tarik-tarik si Alea," seru Langit.
Gavin segera mengejar mereka, begitu pun dengan ketiga teman-temannya yang ikut mengejar.
Gaza membawa Alea ke taman sekolah, Gavin menyuruh teman-temannya untuk diam dan mengintip dari balik pepohonan.
"Ada apa Kak? Kakak mau bicara apa sama aku?" tanya Alea.
"Al, maaf sebelumnya karena aku sudah membawa kamu paksa seperti ini, soalnya tadi di sana banyak teman-teman kamu dan aku malu."
Alea mengerutkan keningnya, dia masih bingung dengan Gaza. Perlahan Gaza menggenggam kedua tangan Alea membuat Alea tersentak kaget, begitu pun Gavin yang mulai tersulut emosi.
"Kurang ajar."
Gavin hendak menghampiri Gaza, tapi teman-temannya menahan Gavin.
"Tenang Vin, kita lihat saja apa yang akan si kutu buku itu bicarakan," seru Putra.
"Tapi gue gak suka dia pegang-pegang tangan Alea," sentak Gavin.
Ketiga teman-temannya kaget dan mengerutkan keningnya. "Lo suka sama Alea?" tanya ketiganya secara bersamaan.
Gavin menjadi gugup, dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Sudahlah, jangan berisik nanti kita ketahuan," seru Gavin mengalihkan pembicaraan.
Keempat pemuda itu kembali fokus kepada Alea dan juga Gaza.
"Al, sebenarnya semenjak pertama kali aku melihatmu, aku sudah suka sama kamu. Apa kamu mau menjadi pacarku?" seru Gaza.
Gavin sudah sangat emosi, dia sudah mengepalkan tangannya, dia takut kalau Alea akan menerima cinta Gaza.
Alea melepaskan tangan Gaza. "Maaf Kak, aku tidak bisa menerima Kakak," seru Alea.
"Kenapa?" tanya Gaza.
"Maaf, aku tidak bisa mengatakannya."
Alea hendak pergi tapi Gaza menahan lengannya membuat Putra pun tersulut emosi.
"Woi, ngapain si kutu buku ngalang-ngalangin Alea pergi!" sentak Putra.
"Diam Put, kita ingin lihat akhirnya seperti apa?" seru Arsya.
"Tunggu Al."
"Ada apa lagi, Kak?"
"Kenapa kamu nolak aku? apa kamu sudah punya pacar?"
"Belum Kak, aku belum punya pacar."
"Terus kenapa kamu menolak aku? kalau kamu menjadi pacarku, aku bisa memberi apa pun yang kamu mau, dan aku jamin akan membuatmu bahagia."
"Lepaskan Kak, aku tidak bisa menerima Kakak."
"Apa semua ini gara-gara si Gavin?" seru Gaza dengan kesalnya.
Alea terlihat kaget, karena memang sebenarnya tebakan Gaza benar kalau Alea memang menyukai Gavin. Sementara itu, Gavin yang mendengar itu merasa penasaran juga dengan jawaban Alea.
Alea menghempaskan tangan Gaza. "Kakak tidak perlu tahu apa alasannya, karena itu adalah urusan pribadi aku," kesal Alea.
Alea pun langsung berlari meninggalkan Gaza, sedangkan Gaza tampak sangat emosi karena cintanya di tolak mentah-mentah oleh Alea.
"Pasti si Gavin sudah mengancam Alea untuk tidak dekat-dekat dengan laki-laki lain, awas Lo Gavin," geram Gaza.
Gavin dan yang lainnya tersenyum setelah melihat Alea menolak cinta Gaza. Alea segera menghampiri teman-temannya di kantin.
"Kamu tadi dibawa ke mana sama Kak Gaza?" tanya Alexa.
"Ke taman," sahut Alea.
"Mau ngapain? pasti dia mau nembak kamu kan, Al?" seru Vina.
Alea menganggukkan kepalanya. "Terus, kamu menerimanya?" tanya Aleena.
Alea menggelengkan kepalanya sembari menundukkan kepala.
"Kenapa?" tanya Dira.
"Aku gak suka sama Kak Gaza."
"Ya iyalah, orang yang kamu suka Abang aku kan?" celetuk Gabby dengan santainya.
"Apa?"
Semuanya serentak menatap Alea, sehingga Alea melotot saking kagetnya.
"Serius kamu suka sama Kak Gavin?" tanya Aleena.
Alea menutup wajahnya dengan kedua tangannya, sungguh dia merasa malu. Sedangkan teman-temannya hanya tertawa melihat tingkah Alea.
Tidak lama kemudian Gavin, Putra, Langit, dan Arsya memasuki kantin. Vira langsung berlari menghampiri Arsya dan merangkul lengan Arsya.
"Kak Arsya, boleh kan aku makan bareng sama Kak Arsya?" seru Vira dengan centilnya.
"Apaan sih Lo, makan aja sendiri sana!" sentak Arsya dengan menghempaskan tangan Vira.
Vira kembali merangkul lengan Arsya. "Pokoknya aku tidak akan melepaskan tangan Kak Arsya sampai Kak Arsya mau makan bareng sama aku," rengek Vira.
"Apaan sih, Lo."
Gavin dan yang lainnya tidak memperdulikan Arsya dan Vira, mereka langsung duduk sedangkan Arsya mau tidak mau terpaksa membawa Vira duduk bersama mereka.
Dira menundukkan kepalanya, dia cemburu melihat Vira dekat-dekat dengan Arsya tapi dia juga tidak bisa melakukan apa-apa.
"Kecentilan banget sih!" teriak Vina.
"Apaan sih, sirik bilang Bos," sahut Vira.
Vina ingin membalas ucapan Vira tapi Alea menahannya. "Jangan diteruskan, biarkan saja," seru Alea.
"Tapi Al, aku gemas tahu sama cewek itu. Giliran sama kita-kita dia sombongnya minta ampun, tapi kalau sama cowok aja kecentilan banget," kesal Vina.
"Sssttt...kata Abi aku, biarkan saja orang-orang yang berbuat jahat kepada kita jangan dilawan, kalau dilawan, berarti kita tidak ada bedanya dengan dia," seru Aleena.
"Noh, dengerin tuh kata Aleena anaknya si Abi, sudahlah ngurusin si Vira itu hanya bikin darah tinggi saja," seru Alexa.
Akhirnya mereka pun melanjutkan makan, Alea perlahan membalikan tubuhnya dan ternyata Gavin juga sedang melihat ke arah Alea.
Seketika Alea memalingkan wajahnya dan senyum-senyum sembari makan mie ayam, ternyata kelakuan Alea tidak luput dari perhatian Gabby dan Gabby hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabat dan Abangnya itu.